NovelToon NovelToon
CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:30.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.

Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.

Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

Tristan mendekap tubuh Ananda yang masih sesenggukan dengan teramat erat. Di sela-sela tangis bahagia wanita itu, Tristan berbisik dengan nada penuh kepastian yang tak terbantahkan.

"Aku berjanji, Nanda... Secepatnya aku akan menikahimu secara resmi. Aku tidak peduli dengan status masa lalumu sebagai seorang janda, dan aku tidak peduli dengan apa pun kata orang di luar sana. Bagiku, kau adalah masa lalu, masa kini, dan masa depanku," ucap Tristan bersumpah dari lubuk hatinya yang terdalam.

Ananda mengangguk pelan di dalam pelukan Tristan, merasa seluruh beban yang selama enam tahun ini menggelayuti pundaknya akhirnya terangkat pasrah. Setelah tangisnya mulai mereda, Ananda perlahan melepaskan pelukan tersebut. Ia menghapus sisa air mata di pipinya, lalu menoleh ke arah area bermain mini kafe. Di sana, Elvano masih tampak anteng dan tertawa riang bermain balok susun bersama Gio.

Tristan dan Ananda kemudian berjalan beriringan menghampiri sang putra. Begitu Elvano menoleh dan mendapati ibunya sedang berjalan menuju ke arahnya, bocah kecil itu langsung melepaskan mainannya dan berlari kencang.

"Mamah...!" teriak Elvano riang, langsung menghambur dan memeluk erat pinggang Ananda.

Ananda mengusap rambut putranya dengan penuh kasih sayang, lalu berlutut di hadapannya. "El, ada hal yang sangat penting yang ingin Mamah ceritakan kepadamu sekarang."

Mendengar ucapan Ananda, Gio yang berdiri di dekat mereka tampak tahu diri. "El, aku masuk ke dalam dulu ya, mau menyusul Ibuku. Mari Om, Tante!" pamit Gio dengan sopan sebelum melangkah pergi.

"Iya, Gio. Terima kasih banyak, ya, sudah menemani El bermain dari tadi," sahut Ananda lembut.

"Sama-sama, Tante!" jawab Gio sambil membungkukkan badannya sedikit, lalu berlari masuk ke dalam area dapur kafe.

Kini, tinggalah mereka bertiga di sudut area bermain yang sepi itu. Tristan ikut berlutut di samping Ananda, membuat posisi mereka berdua kini sejajar dengan tinggi tubuh Elvano. Bocah kecil itu mengerutkan keningnya, menatap heran ke arah sang ibu dan juga ke arah Tristan. Di dalam benak kecilnya, ia masih bingung mengapa pria tampan yang tempo hari ia temui di rumah kontrakan kini terus berada di dekat ibunya.

"Mah, sebenarnya ada apa? Apa yang ingin Mamah bicarakan kepada El?" tanya Elvano dengan sepasang mata bulatnya yang menatap polos.

Ananda sempat menoleh ke arah Tristan, dan pria itu melemparkan senyum hangat yang seolah menyalurkan seluruh keberanian untuknya. Ananda menarik napas dalam-dalam, lalu memegang kedua pundak kecil putranya.

"El, dengar Mamah baik-baik ya, Sayang..." ucap Ananda, suaranya kembali bergetar menahan haru. "Mamah ingin mengatakan kalau... kalau Ayah kandung El yang sebenarnya adalah Om Tampan ini. Namanya Papah Tristan."

Deg!

Elvano seketika melongo. Mulut kecilnya sedikit terbuka dan sepasang matanya menatap tak percaya atas penjelasan yang baru saja keluar dari bibir ibunya. Ia menatap Ananda, lalu beralih menatap wajah Tristan dengan pandangan yang campur aduk.

"Jadi... jadi El... El masih punya Ayah, Mah?" tanya Elvano dengan suara yang mencicit, seolah takut jika apa yang didengarnya hanyalah sebuah mimpi di siang bolong.

"Iya, Nak. El masih punya Ayah yang sangat menyayangi El," jawab Ananda, air matanya kembali menetes melewati pipi. "Maafkan Mamah dan Nenek, ya, karena sudah menyembunyikan semua kenyataan ini dari kamu selama ini."

Tristan yang sejak tadi menahan gejolak di dadanya kini memajukan tubuhnya. Sepasang matanya berkaca-kaca menatap cetakan sempurna dirinya pada wajah Elvano. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mengulurkan kedua lengannya ke depan.

"El... maafkan Papah, ya, karena Papah baru bisa menemukan kamu dan Mamah sekarang," ucap Tristan dengan suara serak yang sarat akan penyesalan mendalam. "Apakah... apakah kamu mau memeluk Papah, Nak?"

Tanpa banyak bicara lagi, Elvano yang selama ini memang sangat merindukan sosok seorang ayah di dalam hidupnya, sosok yang selalu ia irikan saat melihat teman-teman sebayanya diantar sekolah oleh ayah mereka langsung menghambur ke depan. Tubuh mungilnya menubruk dada bidang Tristan, memeluk leher pria itu dengan teramat erat.

"Papah...! Jadi seperti ini rasanya memeluk seorang Papah!" ucap Elvano pecah dalam tangis kerinduan yang teramat dalam di pelukan ayah kandungnya.

Mendengar kalimat polos yang menyayat hati itu, air mata Tristan runtuh seketika. Ia mendekap erat tubuh mungil putranya, mengecup bahu dan kepala Elvano berkali-kali seolah ingin menebus enam tahun waktu yang terbuang sia-sia. Ananda yang menyaksikan pemandangan mengharukan itu pun tak kuasa menahan air matanya, ia membekap mulutnya sendiri agar isakannya tidak mengganggu momen sakral tersebut.

Perlahan, Tristan merentangkan satu tangan kekarnya yang bebas, lalu merangkul kokoh bahu Ananda. Ia menarik tubuh wanita itu untuk ikut masuk ke dalam pelukannya, menyatukan mereka bertiga dalam satu dekapan keluarga yang utuh.

Di dalam hati dan di hadapan Tuhan, Tristan bersumpah dengan sekukuh-kukuhnya. Mulai detik ini, ia tidak akan pernah membiarkan keluarga kecilnya ini terpisahkan oleh badai apa pun lagi. Ia rela jika harus kehilangan takhta, harta, dan segala kemewahan Bratadikara, asalkan ia tidak akan pernah kehilangan Ananda dan juga putra kandungnya, Elvano. Mereka berdua adalah seluruh napas hidupnya sekarang.

Setelah suasana haru di area bermain kafe mulai mereda, Tristan menghapus sisa air mata di pipi Elvano dengan ibu jarinya, lalu menatap Ananda dengan sorot mata yang penuh kebahagiaan.

"Nanda, sekarang juga kita harus menemui ibumu. Aku ingin menjelaskan semua kesalahpahaman ini langsung di hadapannya," ujar Tristan dengan nada bicara yang tegas namun lembut.

Ananda seketika menggelengkan kepalanya cepat, gurat cemas tampak jelas di wajahnya. "Jangan sekarang, Tristan. Ibu baru saja tahu kalau aku tidak masuk kerja. Kalau kamu tiba-tiba datang dan mengatakan semuanya, aku takut kondisi kesehatan Ibu akan drop karena syok."

"Tidak, Nanda. Kita tidak bisa menunda ini lagi," paksa Tristan, menggenggam erat jemari Ananda untuk menyalurkan keyakinan.

"Lebih cepat ibumu tahu kebenarannya, lebih cepat pula kita bisa memulai lembaran baru sebagai sebuah keluarga. Aku yang akan bertanggung jawab penuh atas reaksi ibumu nanti. Kumohon, izinkan aku."

Melihat kesungguhan dan binar mata Tristan yang tidak menerima bantahan namun sarat akan rasa tanggung jawab, Ananda akhirnya menghela napas pasrah. "Baiklah... kamu boleh menjelaskan semuanya kepada Ibu."

Tristan tersenyum lega. Ia segera menggendong Elvano yang tampak sangat senang berada di pelukan sang papah, lalu mereka bertiga berjalan menuju mobil mewah milik Tristan yang terparkir di depan kafe.

Beberapa menit kemudian, mobil sedan mewah mengkilap itu memasuki gang sempit pemukiman dan berhenti tepat di depan pagar rumah kontrakan sederhana milik Ananda. Kehadiran kendaraan roda empat kelas atas yang sangat kontras dengan lingkungan sekitar itu tak pelak langsung menarik perhatian beberapa pasang mata tetangga yang sedang berkumpul di teras rumah sebelah.

Apalagi saat pintu mobil terbuka, memperlihatkan Ananda dan Elvano yang turun dari dalam, disusul oleh sosok Tristan yang tampak sangat berwibawa dengan setelan jas mahalnya.

"Beuh, lihat deh, Jeng. Itu kan mobil mewah yang tadi muter-muter di depan gang? Wah... kayaknya itu mobil punya gebetan barunya si Nanda," bisik Surti, tetangga depan rumah Ananda yang memang terkenal hobi bergosip, sambil menyenggol lengan temannya.

"Hebat juga ya dia, janda anak satu tapi bisa dapat bos kaya raya begitu!"

"Alah, cowok kota begitu kalau gak dikasih umpan mana mau sama perempuan yang statusnya janda, Jeng!" balas Odah ikut menimpali dengan senyum sinis yang meremehkan. "Paling juga habis manis sepah dibuang. Udah kenyang 'makan' si Nanda, habis itu dicampakkan begitu aja, haaaa!"

Ananda sempat mendengar samar-samar perkataan menyakitkan yang menusuk telinganya itu. Dadanya berdenyut perih, namun ia memilih menundukkan kepala dan tidak menghiraukannya. Baginya, meladeni wanita-wanita itu hanya akan membuang waktu.

Bersambung...

1
Teh Euis Tea
kasian Kevin layu sebelum berkembang ya vin, udah sm aku aj ya 🤭🤭🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: berkembang jadi apa? /Applaud//Applaud//Applaud/
total 1 replies
Nar Sih
pasti sdh gk sbr ingin ketemu terus dgn putra mu juga pujaan hti mu ya tristan☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali kak🤭
total 1 replies
Nar Sih
kini satu maaf sdh kau dpt tristan dri ibu mila tinggal langkah selanjut nya💪
Nar Sih
gak usah dgr kata orang nanda ,yg penting diri kita
Nar Sih
alhamdulilah sdh terungkap semua☺️
Lilis Ilham
ahirnya tercapai juga cinta pertama😍😍😍
Lilis Ilham
aku ada disini tuan Tristan😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
tetangga kepo, tukang ngerumpi ga ada kerjaan bgt
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: berarti gk dimana-mana ya kak, malah sekarang sudah trend bapak-bapak ikut jadi tukang gosip juga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Ilfa Yarni
hahahaha terciduk kalian kasian kevin patah hati sebelum berkembang hahaha
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr 😘😘😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lanjut besok ya kak 😉
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh mulai dah pada julid, bilang aj iri sm Nanda ya ibu ibu
Teh Euis Tea
Nanda mirip ayu Ting Ting klu LG meluk Tristan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, kok bisa 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh lagi lagi si Bella biang keroknya, enaknya di gantung x ya biar kapok
Teh Euis Tea
ada rahasia apa si dre? jd penasaran ini
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kak gpp, ikh selow aja sama aku mah 😉😊
total 3 replies
Nar Sih
semoga dgn kejujuran dan terbongkar nya mslh ini nanda bisa memaaf kan semua
Nar Sih
mkin pensaran dgn rahasia yg kau simpan andre
Nar Sih
semoga ini pertemuan yg akan membawa ananda dan putra nya bahagia
Dartihuti
Ciieee...yang udah dapat sama" buka diri aaa ...lega,ttp ti ati cr bukti gimana busuknya si Bello😄🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
nyonya Mutia dengarin tuh kata tuan Surya, nyari pasangan tuh yang tulus jangan dilihat dari hartanya tuh kaya Bela walaupun kaya tapi hatinya jahat dan busuk,ayo Tristan selidiki lebih lanjut Bela dan hasilnya kasih tahu nyonya Mutia biar tahu betapa jahatnya Bella
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 👍🏼😉
total 1 replies
Nar Sih
ahir nya kmu tau kan tristan saat nya kmu lebih berusaha agar nanda memaaf kan mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!