NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Tidak butuh waktu yang lama hingga badai itu datang.

Alma baru saja melangkah keluar dari kelas ketika dua siswi dengan wajah tanpa ekspresi tiba-tiba mencengkeram kedua lengannya. Mereka menariknya paksa, tanpa memberinya kesempatan untuk bertanya atau bahkan berteriak. Jemari mereka mencengkeram kuat, kuku-kuku tajam seperti sengaja menyakiti kulit Alma yang halus. Ia tersentak, berusaha melepaskan diri, namun tenaga mereka terlalu kuat.

"Lepaskan! Ada apa ini?" serunya panik, namun tak ada jawaban.

Tatapan para siswa lain di lorong hanya mengikuti tanpa ikut campur. Beberapa bahkan menunduk cepat, berpura-pura tidak melihat. Di sekolah ini, siapa yang menjadi incaran, artinya sedang tidak dalam posisi dilindungi siapa pun.

Mereka membawanya ke sebuah toilet perempuan yang terletak di ujung lorong lantai tiga. Tempat yang jarang dilewati siswa karena bangunannya sebagian dalam renovasi. Pintu toilet telah diberi tanda rusak dan penghalang kecil agar tidak ada yang masuk, namun jelas penghalang itu hanya alasan agar mereka bisa melakukan sesuatu tanpa gangguan.

Di dalam sudah ada empat siswa lain yang menunggu. Dua di antaranya adalah Violet dan Luci, gadis-gadis yang sempat mendatanginya di kafetaria siang tadi.

Pandangan keenam siswa itu tajam, menghakimi, dan tanpa belas kasihan. Mata mereka menatap Alma seperti menatap domba yang hendak disembelih. Tidak ada ampun, tidak ada belas kasih.

Tanpa peringatan, Alma didorong ke tengah ruangan. Ia tersandung dan jatuh berlutut, lututnya membentur keras lantai dingin yang sedikit basah. Rasa sakit menjalar hingga ke tulang, namun sebelum ia bisa mengeluh, satu dari gadis yang menunggu langsung menampar pipinya keras.

Suara tamparan itu menggema di ruangan kecil, meninggalkan bekas merah di pipi Alma. Kepalanya terpelintir ke samping karena kerasnya pukulan itu.

Belum cukup.

Gadis lainnya membawa ember besar. Air di dalamnya keruh, berbau busuk seperti air got. Tanpa aba-aba, ia menyiramkan seluruh isi ember itu ke tubuh Alma yang masih tersungkur.

Air dingin dan kotor meresap cepat ke pakaian Alma, membuat rambutnya menempel ke wajah, seragamnya lepek, dan tubuhnya menggigil. Bau menjijikkan menusuk hidungnya, membuat perutnya bergejolak.

Sementara itu, Violet dan Luci hanya berdiri diam, menyaksikan semuanya dengan ekspresi puas. Seolah mereka sedang menonton pertunjukan yang memang sudah mereka rancang sejak awal.

Luci mengeluarkan ponselnya dari saku blazer dan dengan tenang mengabadikan momen mengenaskan itu. Bunyi klik kamera terdengar seperti lonceng kematian.

"Kau rasa Grace akan puas?" ucap Luci setelah melihat hasil jepretannya, bibirnya melengkung sinis.

"Ya, lumayan. Sebagai pembukaan," jawab Violet dengan nada acuh tak acuh, seolah ini hanya awal dari sesuatu yang lebih besar. Suaranya terdengar dingin, bahkan lebih dingin dari air yang membasahi tubuh Alma.

Alma menunduk. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena dingin, tapi juga karena shock dan rasa tidak percaya. Kedua tangannya mencengkeram erat ujung roknya, berusaha mencari pegangan agar tidak roboh sepenuhnya.

Lalu, dalam diam yang menyayat, akhirnya ia bersuara. Suaranya serak, nyaris tak terdengar, namun penuh luka.

"Apa aku melakukan kesalahan pada kalian? Aku rasa... bahkan kita tidak saling mengenal…"

Matanya memerah saat ia menatap dua gadis yang berdiri dengan angkuh di hadapannya. Pandangan itu bukan pandangan takut, tapi penuh luka yang belum sempat ia pahami asalnya.

"Ya, memang. Tapi Grace tidak menyukai tingkah kau yang menggoda kekasihnya," ucap Violet tajam, tanpa ragu.

"Grace…" gumam Alma. Nama itu terdengar asing di telinganya. Ia bahkan tidak tahu siapa itu Grace, apalagi menggoda kekasihnya. Otaknya berusaha mengingat, mungkin ia pernah tak sengaja menatap seseorang? Tapi tidak. Tidak ada apa-apa.

"Aku rasa ini kesalahan. Aku tidak mengenal Grace, apalagi menggoda kekasihnya…"

Suara Alma pecah di akhir kalimat. Ia berusaha tetap tenang, tapi getarannya tak bisa disembunyikan. Ia berjuang keras menahan air mata, namun pipinya tetap terasa panas, bukan hanya karena tamparan, tapi karena kehinaan yang tak beralasan.

Violet mendengus pelan, seolah sudah bosan mendengar penyangkalan.

"Ya, kau memang tidak mengenalnya. Tapi keberadaanmu… membuatnya terancam."

Kata-kata itu membuat Alma terdiam. Apa maksudnya? Mengapa hanya karena keberadaannya, seseorang merasa terancam?

"Violet!" Luci menyela dengan cepat, nada suaranya terdengar tajam namun khawatir. "Jangan bicara terlalu jujur. Kalau Grace dengar…"

Violet memutar bola matanya, jelas tak peduli. Ia menatap Alma lagi dengan dingin yang menusuk.

"Jadi nikmatilah neraka yang baru datang padamu. Mungkin besok… kejutannya akan lebih menyenangkan."

Ucapan itu bukan ancaman biasa. Itu janji. Janji bahwa penderitaan Alma baru saja dimulai.

Tanpa menunggu tanggapan, Violet berbalik dan pergi, langkahnya ringan seperti baru saja menyelesaikan tugas kecil yang menyenangkan. Luci mengikutinya dari belakang, memandangi Alma sekali lagi sebelum ikut melangkah keluar. Empat gadis lainnya menyusul, meninggalkan Alma sendirian di lantai kamar mandi yang pengap dan basah, bersama rasa malu, takut, dan kesedihan yang tak tertahankan.

Begitu pintu toilet tertutup kembali, keheningan kembali menyelimuti.

Dan di sanalah Alma terdiam .....Grace ya.

🥀🥀🥀

Pintu toilet kembali terbuka, disertai suara engsel yang berderit pelan. Tubuh Alma refleks menegang. Ketakutan yang masih mengendap membuatnya yakin mereka kembali untuk melanjutkan teror tadi. Tangannya bergetar, tubuhnya memeluk diri sendiri dengan gemetar, bersiap menerima kemungkinan terburuk.

Namun yang mengejutkan, bukan kekasaran yang datang.

Sebuah blazer perlahan menutupi kepalanya. Hangat, lembut, dan beraroma samar sabun maskulin yang asing namun entah kenapa menenangkan. Alma mendongak dengan ragu. Di sana, berdiri seorang lelaki dengan postur tegak dan sorot mata dingin yang seolah tak terganggu oleh dunia. Kaiden.

Ekspresi wajahnya masih sama. Acuh tak acuh, seperti tak peduli pada siapa pun, termasuk dirinya. Tapi gerakannya barusan... bertolak belakang dari itu semua.

"Penampilanmu berantakan," gumam Kaiden datar. Namun suaranya tak terdengar mengejek. Justru terdengar seperti peringatan, atau barangkali... keprihatinan yang disamarkan dengan sikap dinginnya.

Ucapan itu membuat wajah Alma merona. Dadanya menegang oleh rasa malu yang menggulung seperti ombak. Dengan cepat, dia menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang berantakan dan memar yang belum kering. Ingin rasanya dia menghilang, lenyap dari pandangan siapa pun, apalagi Kaiden.

Dia tak ingin dilihat dalam kondisi seburuk ini. Rapuh, kotor, dan hancur.

Namun tanpa sepatah kata pun, Kaiden tiba-tiba mendekat. Dengan gerakan tenang, ia merendahkan tubuhnya, lalu mengulurkan kedua lengannya.

"Eh..."

Alma terperangah saat tubuhnya terangkat dari lantai. Kaiden mengangkatnya, menggendong dengan hati-hati seolah dia sesuatu yang mudah retak. Seolah... dia bukan gadis yang penuh luka dan bekas hinaan barusan, melainkan seseorang yang perlu dijaga.

"Aku bisa jalan sendiri," bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.

Namun Kaiden tak menjawab. Pandangannya lurus ke depan, tatapannya tajam tapi bukan pada Alma. Melainkan pada dunia yang terlalu kejam untuk gadis sepertinya.

🥀🥀🥀

Kaiden membawa Alma menuju ruang peristirahatan dewan sekolah. Langkahnya mantap, namun gerakannya tetap hati-hati, seolah ia tengah membawa sesuatu yang rapuh. Di hadapan pintu kamar mandi yang berada di dalam ruangan itu, dia berhenti dan menurunkan Alma dengan perlahan.

"Masuklah, bersihkan dirimu." Suaranya rendah tapi tegas, tidak meninggalkan sedikit ruang untuk penolakan.

Alma hanya mengangguk, tangannya refleks menggenggam ujung rok yang sudah lusuh dan kotor. Sebelum pintu benar-benar menutup, ia sempat menoleh, matanya bertemu dengan tatapan Kaiden yang sulit dibaca. Campuran dingin dan sesuatu yang tak bisa ia namai.

Kaiden berbalik, merogoh ponsel dari saku celananya. Suaranya terdengar rendah saat dia membuat panggilan.

"Bawakan aku seragam siswi ukuran M, pakaian dalam yang baru, dan kotak obat." Panggilan terputus tanpa menunggu balasan. Ia jarang memberi kesempatan orang untuk bertanya.

Tak sampai sepuluh menit, salah satu bodyguardnya datang mengetuk pintu, menyerahkan sebuah paper bag berwarna krem dan kotak obat berwarna putih. Kaiden menerima tanpa banyak bicara.

Ketika Alma keluar, rambutnya masih sedikit basah, pipinya pucat dengan sisa kemerahan. Dia tertegun melihat Kaiden berdiri di sana, tatapannya tetap, namun kali ini di tangannya ada paper bag berwarna krem.

"Ganti dengan yang ini," ujarnya sambil menyerahkan tas itu.

Alma meraihnya dengan ragu. Jemarinya menyentuh permukaan kertas yang hangat, mungkin karena baru saja digenggam lelaki itu. Tanpa berkata apa-apa, ia kembali masuk.

Di dalam, Alma duduk di dudukan toilet yang sudah ia tutup sebelumnya. Perlahan ia membuka paper bag tersebut. Begitu isi di dalamnya terlihat, wajahnya sontak memanas. Bukan hanya seragam sekolah yang ada di sana, tapi juga pakaian dalam yang baru. Rasa malu dan bingung bercampur jadi satu, membuatnya terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengganti pakaiannya.

Ketika Alma keluar lagi. Ia melihat Kaiden sudah duduk di sofa panjang di tengah ruangan, membelakanginya, satu kaki disilangkan di atas lutut.

"Kemari," suara Kaiden terdengar, tanpa menoleh.

Helaan napas pelan lolos dari bibir Alma. Dengan langkah hati-hati, ia berjalan mendekat. Kaiden menepuk kursi di sebelahnya, isyarat untuk duduk. Alma menurut, namun tetap menjaga jarak aman. Meski entah kenapa jarak itu terasa konyol.

Kaiden memandangnya. Tatapannya tak setajam sebelumnya, tapi masih datar… Alma bisa merasakan kehangatan samar di dalamnya.

"Lihat aku."

"Oh…" Alma terkejut, bingung, namun matanya otomatis menatapnya.

Tanpa aba-aba, Kaiden menyelipkan helaian rambut basah yang menempel di pipi kanannya. Pipi itu bengkak, merah, jelas bekas tamparan keras. Rahangnya menegang sesaat, tapi ia cepat mengendalikannya. Tanpa berkata apa-apa, ia membuka kotak kecil berwarna putih, mengambil salep, lalu mengoleskannya perlahan pada pipi gadis itu.

Sentuhan jemari Kaiden ringan, tapi cukup untuk membuat tubuh Alma sedikit menegang. Refleks akibat sensasi dingin yang menempel di kulitnya.

"Sakit?" tanya Kaiden, lirih namun penuh perhatian.

Alma menggeleng, suaranya hampir tak terdengar. "Dingin..."

Sudut bibir Kaiden terangkat tipis, senyum kecil yang jarang terlihat. Ia melanjutkan olesannya dengan hati-hati, seolah takut menyakiti. Setelah selesai, tatapannya turun pada kedua lutut Alma yang lebam kehijauan. Ada goresan kecil di sana. Ia bergeser, lalu berlutut di hadapannya.

Alma terperanjat, hampir saja mundur. "A-aku… aku bisa sendiri. Kau tidak perlu seperti ini…" gumamnya. Dalam hatinya, ia merasa aneh sejak kapan Kaiden Luis Harrington ini berlutut di depan orang lain?

"Aku sedang mengobatimu," jawab Kaiden santai, seolah posisi itu adalah hal paling wajar di dunia.

Ia kembali fokus, mengoleskan salep pada lutut Alma. Jemarinya mantap, tapi gerakannya tetap penuh kehati-hatian. Usai mengobati, ia tidak langsung berdiri. Matanya menatap lurus ke arah Alma.

"Kau tahu kenapa mereka membuatmu jadi target?"

Alma terdiam sesaat, lalu menjawab pelan. "Mereka bilang… seseorang bernama Grace mengatakan aku menggoda kekasihnya. Dia merasa terancam karena aku. Tapi… aku tidak mengerti maksudnya."

"Leon." Kaiden menyebut nama itu dengan nada yang sulit dibaca. "Kekasih yang mereka maksud adalah Leon."

Tubuh Alma menegang tanpa sadar. Hanya mendengar namanya saja sudah cukup membuat hatinya kacau.

"Grace sudah lama menyukai Leon. Kedekatanmu dengannya tentu saja membuatnya tidak nyaman," lanjut Kaiden.

"Aku… kami hanya bertemu dua kali. Berbincang sebentar. Tidak seharusnya sampai seperti ini…" suara Alma bergetar, air mata mulai menggenang.

"Ini juga tidak akan terjadi kalau mereka tahu identitasmu yang sebenarnya," ucap Kaiden pelan. "Haruskah aku memberitahukannya pada Tuan Morrison?"

Alma tersentak. Tangannya spontan memegang ujung lengan kemeja Kaiden. "Jangan… aku tidak ingin Ayah khawatir…" Suaranya melemah, dia menunduk, matanya berkaca-kaca.

Kaiden mengangkat tangannya, mencubit dagu Alma dengan lembut, memaksanya menatap. Jemarinya bergeser, mengusap pipi kiri gadis itu—halus, kontras dengan pipi kanan yang memar.

"Terus menyembunyikan identitasmu… bukan hal yang baik."

"Aku tahu…" bisik Alma.

Keheningan menggantung. Mata mereka saling bertaut, tanpa kata. Dalam jarak sedekat itu, Alma bisa merasakan aroma segar dari tubuh Kaiden, dan denyut nadinya sendiri yang berdegup terlalu cepat. jemarinya tetap di wajah Alma, mengusap sisa tetesan air di pipinya.

"Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi," ucapnya rendah, nyaris seperti janji pribadi.

Di ambang pintu yang terbuka sedikit, sosok Leon berdiri membeku, kedua tangannya terkepal rapat hingga buku-bukunya memutih. Setiap kata yang terucap di antara keduanya, termasuk alasan mengapa Alma menjadi sasaran perundungan, telah menyusup ke telinganya tanpa terlewat.

Untuk saat ini, ia memilih menahan diri untuk tidak menuntut penjelasan tentang bagaimana Kaiden dan Alma bisa saling mengenal. Pertanyaan itu masih bisa ia simpan untuk waktu yang lebih tepat.

Prioritas utamanya kini hanyalah satu. Menghadapi orang yang berada di balik penderitaan yang sedang membelit Alma, dan memastikan rasa sakit itu tak lagi terulang.

1
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!