NovelToon NovelToon
Mahendra'S Possessive Love

Mahendra'S Possessive Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: Sonya_860

Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Brak!

​Pintu UKS SMA Cakra Buana terbanting terbuka dengan kasar, menghantam dinding di belakangnya hingga menimbulkan dentuman yang menggema ke seluruh penjuru ruangan yang semula tenang. Seorang pemuda masuk dengan langkah lebar dan aura yang begitu dominan, menggendong seorang gadis cantik di lengannya.

​"Keluar!" suara itu rendah, namun ketajamannya melebihi mata pisau.

​Mahendra menatap tajam dua orang petugas PMR yang sedang merapikan kotak obat. Tak perlu kata-kata kedua, mereka yang melihat tatapan dingin Mahendra langsung bergegas keluar dengan terburu-buru, bahkan hampir tersandung kaki mereka sendiri. Mereka tidak ingin berurusan dengan singa yang sedang dalam mode protektif itu.

​Mahendra membawa Ziva menuju ranjang UKS yang paling ujung, membaringkannya dengan sangat perlahan seolah-olah gadis itu terbuat dari porselen yang mudah retak.

​"Hei-hei, sudah cukup. Jangan kamu gituin terus, nanti darahnya semakin banyak yang keluar!" Mahendra menggenggam tangan Ziva, menghentikan gerakan gadis itu yang terus-menerus mengusap hidungnya yang mimisan. Bukannya bersih, darah itu justru semakin berlepotan ke pipinya yang pucat.

​"Tunggu di sini, aku akan mengambil tisu," ucap Mahendra datar namun cekatan. Ia segera mengambil beberapa lembar tisu dan kotak P3K yang ada di meja petugas.

​"Awasin dulu tangannya," perintah Mahendra saat ia kembali ke sisi ranjang. Ziva menurut, ia melepaskan tangan yang semula menjepit hidungnya.

​Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Mahendra membersihkan sisa darah yang mengalir dari hidung mungil Ziva. Ia juga mengusap bercak merah yang menodai kerah baju putih gadis itu.

Jarak mereka sangat dekat, begitu dekat hingga

Ziva bisa merasakan hembusan napas Mahendra dan aroma mint yang segar bercampur wangi maskulin dari tubuh cowok itu. Di sisi lain, Mahendra sejenak tertegun saat mencium aroma vanila yang manis dan menenangkan dari tubuh Ziva.

​"Selesai," ucap Mahendra singkat.

​Tersadar akan suasana yang begitu intim, Ziva mengerjap dan segera menjauhkan wajahnya dengan gugup. Pipinya yang semula pucat kini sedikit merona.

"Em... terima kasih," bisiknya.

​"Hm. Gue Mahendra," ucap cowok itu sambil menyodorkan tangannya. Ia adalah siswa baru yang kehadirannya sempat menjadi buah bibir satu sekolah karena ketampanan dan sikapnya yang sedingin es.

​"Ah, ak—gue Ziva. Salam kenal," balas Ziva menjabat tangan Mahendra dengan sedikit canggung. Meskipun Ziva sering bermimpi bertemu pangeran berkuda putih, nyatanya berhadapan langsung dengan Mahendra yang "gantengnya kebangetan" ini membuatnya kehilangan kepercayaan diri.

​"Em, Kak... kalau Kakak mau kembali ke kelas dulu nggak papa. Nanti gu—Ziva bisa di sini sendiri," ucap Ziva merasa tidak enak.

Hari ini hari Senin, dan Mahendra harus terjebak di UKS demi menolongnya di jam pelajaran pertama.

​"Gue di sini," tolak Mahendra mentah-mentah.

​Ziva hanya bisa mengangguk pelan. Berada di ruangan yang sama dengan Mahendra yang irit bicara membuat Ziva merasa sedikit tertekan.

Namun, tiba-tiba rasa pusing yang luar biasa menghinggap di kepalanya. Dunianya seolah berputar, dan beban di matanya terasa sangat berat.

​"Em, Kak... Ziva tidur dulu ya. Kalau Kakak mau balik ke kelas, nggak papa kok," ucap Ziva lemah, tak sanggup lagi menahan rasa pening yang menusuk-nusuk.

​Mahendra tidak menjawab, ia hanya menatap Ziva yang kini mulai memejamkan mata dan berbaring menghadap langit-langit. Meskipun wajahnya tetap tanpa ekspresi, di balik sorot matanya yang tajam terselubung kekhawatiran yang mendalam. Ia segera memanggil dokter yang bertugas di ruangan sebelah.

​"Periksa!" perintah Mahendra pada Dokter Rini yang baru saja masuk.

​Dokter Rini, yang sudah delapan tahun bertugas di sekolah itu, tersenyum maklum. Ia sudah sangat mengenal Ziva karena gadis itu sering menjadikannya tempat curhat. Dengan telaten, Dokter Rini memeriksa denyut nadi dan suhu tubuh Ziva.

​"Ziva hanya mimisan biasa karena kelelahan dalam melakukan aktivitas, sehingga pernapasannya menjadi tak teratur. Apa sebelumnya dia mengeluh pusing?" tanya Dokter Rini.

​Mahendra diam. Ia hanya ingat Ziva meminta izin untuk tidur karena kelelahan. Dokter Rini menghela napas, maklum dengan sikap Mahendra yang "manusia kulkas" itu.

​"Sepertinya dia juga belum sarapan. Ziva punya maag," tambah dokter itu.

​"Maag?" beo Mahendra, matanya sedikit menajam.

​"Benar. Jadi nanti kalau dia sudah bangun, tolong ingatkan untuk segera mengisi perutnya ya."

​"Pergi," ucap Mahendra tanpa ucapan terima kasih sedikit pun. Dokter Rini hanya bisa geleng-geleng kepala dan keluar dari ruangan.

"Dasar anak muda zaman sekarang," batinnya.

​Mahendra kembali menatap wajah Ziva yang tertidur. Wajahnya yang pucat dan tenang justru terlihat menggemaskan di mata Mahendra. Ia membungkuk sedikit, membisikkan sesuatu di dekat telinga Ziva dengan suara yang hanya bisa didengar oleh angin.

​"Tu sei solo mio amore," bisiknya dalam bahasa Italia. (Kamu hanya milikku, sayang).

​Sementara itu, di ruang kelas 11 IPS 3, suasana sangat jauh dari kata tenang. Karlota sedang mencak-mencak di bangkunya, menghantamkan pulpennya ke meja berkali-kali.

​"Aaarrghhh! Kemana sih tuh bocah? Dari tadi nggak nongol-nongol! Di-telepon nggak diangkat, di-chat cuma di-read. Bener-bener bocah monyet!" gerutu Karlota kesal. Guru mata pelajaran jam pertama memang sedang izin, sehingga mereka hanya diberi tugas merangkum, yang tentu saja tidak dikerjakan oleh sebagian besar murid.

​"Aduh, Kar! Udah ngapa ngocehnya, kuping gue udah panas dengerin lo nyerocos kayak burung beo," protes Daniel yang duduk tepat di belakang bangku Karlota dan Ziva.

​"Ck, kurang ajar lo, Kudanil! Enak aja lo samain gue sama burung! Mau burung lo gue potong hah?" sentak Karlota garang.

​Daniel secara refleks menutupi area vitalnya. "Ck, ya jangan lah! Ini tuh penentuan masa depan. Kalau dipotong, gue nggak punya masa depan, Kar!"

​"Ya bagus dong, itu artinya lo nggak laku lagi!"

​"Astaga, jahat bener lo sama gue. Atit hati babang Daniel," ucap Daniel sambil memegangi dadanya, berlagak terzalimi.

​"Ck, kalian berdua bisa nggak sih diam? Bukannya nyatet malah ngerumpi kaya orang arisan," sela Anggara, sang ketua kelas, yang mulai jengah.

​"Ampun, Pak Ketua! Ini nih, anak marmut dari tadi ngoceh mulu!" adu Daniel sambil menunjuk Karlota.

​"Heh, Angga! Jadi orang tuh nggak usah rajin-rajin amat. Kalau orang rajin, kuburannya sempit pit pit pit!" celetuk Karlota asal.

​Anggara mengerutkan kening. "Sejak kapan pepatahnya berubah begitu?"

​"Sejak saat ini lah! Udah, sana lo lanjutin nyatet!"

usir Karlota.

​"Udah, udah. Lagian ada bagusnya Ziva nggak dateng, uang jajan gue aman hari ini," celetuk Demian dari bangku sebelah. Ziva memang bendahara yang sangat rajin menagih uang kas.

​"Nah, gue setuju sama lo, Bro!" timpal Daniel setuju.

​Karlota hanya bisa mendengus sinis. "Dasar kumpulan gaya elit, kas sulit!"

​Meski ia terus beradu mulut dengan teman sekelasnya, tatapan Karlota sesekali masih melirik ke arah pintu. Ia tahu Ziva tidak mungkin bolos tanpa alasan, apalagi setelah seminggu "menghilang". Ada sesuatu yang terasa tidak beres di hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!