NovelToon NovelToon
DARI TUKANG PAKIR HINGGA LEGENDA

DARI TUKANG PAKIR HINGGA LEGENDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan besar, berdiri seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun.
Tubuhnya ramping, kulitnya agak gelap karena sering terpapar sinar matahari, namun sorot matanya memancarkan keteguhan yang jarang dimiliki anak-anak muda seusianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Pertemuan Dua Sungai

Cahaya matahari pagi baru saja menyelinap masuk melalui celah-celah daun pohon ketika Rian melangkah keluar dari gubuk tua itu. Udara pagi terasa sangat dingin, menusuk hingga ke tulang, dan kabut putih tebal masih menggantung rendah di sepanjang lembah, seolah menyembunyikan segala sesuatu yang ada di balik selubungnya.

Ia menoleh sebentar ke arah pintu gubuk, tempat Pak Harun berdiri diam menatapnya dengan pandangan penuh harap namun juga sedih. Lelaki tua itu adalah satu-satunya orang yang masih hidup yang mengenal ayahnya—Raka, yang gugur bertarung demi melindungi rahasia ini bertahun-tahun lalu.

"Jadilah kuat seperti ayahmu, Rian," pesan Pak Harun tadi malam, saat menyerahkan lempengan batu kuno itu. "Apa yang tidak bisa diselesaikan Raka, kini menjadi tugasmu."

Rian meraba saku jubahnya, merasakan benda keras dan dingin itu ada di sana—peninggalan berharga, satu-satunya kunci dan warisan yang ditinggalkan ayahnya sebelum meninggal. Tanpa menunda lagi, Rian mulai berlari kecil menuruni lereng, menembus kabut yang semakin pekat. Ia bertekad tidak akan membiarkan pengorbanan ayahnya sia-sia.

Perjalanan menuju tempat di mana dua sungai bertemu bukanlah jalan yang mudah. Medannya terjal, penuh semak belukar yang mencakar kulit, dan akar pohon raksasa yang menjulur melintang seolah sengaja menghalangi langkahnya. Sepanjang jalan, ia terus waspada. Kata-kata Pak Harun masih bergema di telinganya:

"Mereka ada di mana-mana, mengawasi setiap gerak-gerikmu. Mereka tahu kau anak Raka, dan mereka mengincarmu lebih dari siapa pun."

Setelah berjam-jam berjuang menembus hutan lebat, suara gemuruh air yang deras mulai terdengar, semakin lama semakin nyaring. Angin membawa aroma air yang segar bercampur dengan bau tanah basah dan lumut tua. Saat ia akhirnya menembus batas hutan dan sampai di tepian, pemandangan yang terhampar di hadapannya membuatnya terpaku.

Di bawah kakinya, dua aliran sungai besar berkelok-kelok turun dari arah yang berlawanan. Satu sungai berair jernih dan tenang, memantulkan cahaya langit, sementara sungai lainnya berwarna keruh dan berarus deras, seolah membawa sisa-sisa tanah dan bebatuan dari tempat yang jauh. Di titik pertemuan keduanya, terjadi benturan hebat—arus yang saling berlawanan menciptakan pusaran air raksasa yang berputar kencang, menghasilkan buih putih dan suara gemuruh yang menggetarkan tanah.

"Ini dia... tempat yang dicari Ayah..." bisik Rian pelan, matanya meneliti sekeliling tebing batu yang mengelilingi pertemuan itu.

Sesuai petunjuk yang terukir di lempengan batu milik ayahnya, jalan masuk tidak ada di permukaan tanah, melainkan tersembunyi di balik dinding tebing di sebelah kanan, tepat di atas garis air tertinggi.

Namun untuk mencapainya, Rian harus melewati jalur sempit berbatuan licin yang mengelilingi tebing curam, dengan jurang berisi air berarus deras di bawahnya. Satu langkah salah, dan ia akan tersapu arus yang mematikan itu, sama seperti bahaya yang pernah dihadapi ayahnya dulu.

Dengan napas yang teratur, Rian mulai melangkah perlahan. Tangannya meraih akar dan celah batu untuk menahan berat badannya, sementara matanya tak lepas dari pijakan kakinya.

Angin semakin kencang bertiup di celah tebing, hampir saja menyeret tubuhnya jatuh ke bawah. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, bukan hanya karena bahaya yang dihadapinya, tapi juga karena rasa berat di dada—ingatan tentang bagaimana ayahnya akhirnya gugur melawan orang-orang ini.

Tepat saat ia hampir mencapai celah gelap di dinding tebing itu, suara langkah kaki berat terdengar di atasnya. Rian mendongak kaget. Di atas batu besar yang menjorok ke luar, berdiri tiga sosok bertubuh besar, mengenakan jubah hitam dengan lambang ular melilitkan pedang—tanda yang sama persis dengan yang dipakai musuh yang membunuh ayahnya.

"Jadi benar kata ketua kami..." suara salah satu dari mereka terdengar serak dan berat, bergema di antara dinding tebing. "Anak dari Raka itu ternyata benar-benar datang. Kau mewarisi kebodohan ayahmu, Rian. Dia mati karena terlalu berani, dan kau akan menyusulnya hari ini."

Rian berhenti melangkah, tangannya mengepal kuat menahan amarah dan kesedihan yang meluap. Ia terjebak. Di depannya ada tebing curam dan dinding batu, di belakangnya ada jurang berarus deras, dan di atasnya ada musuh yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya.

"Kalian tidak akan mendapatkan apa-apa," jawab Rian, suaranya bergetar namun penuh ketegasan, persis seperti nada bicara ayahnya yang sering ia dengar dalam cerita. "Kekuatan yang kalian cari itu bukan milik kalian, dan kalian sudah membunuh banyak orang sia-sia demi hal yang tidak kalian pahami."

Sosok itu tertawa sinis. "Kau masih muda dan naif, sama persis seperti ayahmu dulu. Kami sudah menunggu ratusan tahun untuk saat ini. Kami tahu kau membawa kunci peninggalan Raka. Serahkan saja, dan kami mungkin akan membiarkanmu mati dengan cepat."

Salah satu dari mereka mulai turun perlahan, membawa sebilah pisau panjang yang berkilau tajam terkena sinar matahari. Jarak mereka semakin dekat. Rian melirik ke celah gelap di dinding tebing itu—masih berjarak sekitar lima langkah lagi. Lima langkah yang terasa seperti mil.

Ia sadar, tidak ada jalan lain selain mengambil risiko besar, sama seperti yang pasti dilakukan ayahnya jika berada di posisinya. Dengan napas panjang, Rian tiba-tiba melompat ke samping, melepaskan cengkeramannya, dan menjatuhkan diri ke arah celah batu itu. Di saat yang sama, pisau itu melesat dan menancap tepat di tempat ia berdiri sedetik sebelumnya.

Tubuhnya terhantam dinding batu dengan keras, namun tangannya berhasil mencengkeram pinggiran celah itu dengan kuat, meski jari-jarinya terasa nyeri dan kulitnya tergores parah. Dengan sisa tenaga yang ada, Rian menarik tubuhnya masuk ke dalam kegelapan gua itu tepat saat batu-batu besar mulai jatuh dari atas, dilemparkan oleh para pengejarnya.

Di dalam sana, gelap gulita menyelimuti segalanya. Hanya suara gemuruh air sungai yang samar terdengar dari kejauhan. Rian terengah-engah, bersandar di dinding batu yang dingin dan lembap. Ia selamat untuk saat ini, tapi ia tahu musuh-musuhnya tidak akan berhenti sampai di sini. Mereka pasti akan mencari jalan masuk lain atau menungguinya di luar.

Ia mengeluarkan kembali lempengan batu itu, dan kali ini, simbol-simbol di atasnya mulai bersinar redup dengan cahaya keemasan, seolah merespons keberadaannya di tempat ini dan mengenali darah yang mengalir di tubuhnya—darah Raka. Di depan matanya, lorong batu itu perlahan terbuka, menampakkan jalan setapak yang menurun ke dalam kedalaman bumi, jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Tempat di mana ayahnya gagal mencapai ujungnya.

"Ayah... aku di sini sekarang. Aku akan menyelesaikannya," gumam Rian, mengusap darah di pelipisnya, lalu melangkah masuk lebih dalam ke dalam kegelapan itu, mengikuti cahaya samar dari lempengan batu yang menuntun jalannya. Di ujung lorong ini, rahasia terbesar dan jawaban atas semua kematian yang terjadi akhirnya akan terungkap.

1
Indra P.
lanjutkannnn
Indra P.
mantappp.....inspirasi yg hebatt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!