Ara di jodohkan dengan Aib, bukan dengan laki-laki, Ia di tatap jijik oleh keluarga nya sendiri.
ini kisah tentang pernikahan Tampa pesta, Tampa restu dan Tampa wali, tapi ada Tuhan jadi saksi dan luka jadi maharnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delvi Binti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENDEKATAN
setelah mengatakan itu tante Rianti berbalik masuk ke rumah dengan wajah yang marah, Ia meninggalkan Dimas dan Ara di teras rumah,
" makasi ya kamu udah nolong saya, tapi itu memang salah saya kok, jangan laporin tante Rianti ke pak RT ya." ucap Ara berterima kasih kepada Dimas.
" hmm, iya sama -sama, sebenarnya saya tidak punya Video nya, saya cuma mau menakut-nakuti tante kamu aja, supaya dia berhenti narik - narik kamu." Jawab Dimas.
"Tante kamu emang sering gitu ke kamu. " tanya Dimas lagi.
"hmm engga kok, kamu mau mau mampir dulu engga. " jawab Ara mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan Ia tidak ingin ada yang tau tentang apa yang dia alami.
" makasih tawaran nya tapi aku harus lanjut ke rumah Doni, soalnya aku udah janji mau nemenin dia ngebajak sawah nya, yaudah aku pamit dulu ya takutnya si Doni udah nunggu. " ucap Dimas berpamitan, Ia tau bahwa Ara sedang menyembunyikan sesuatu namun Ia tidak ingin memaksa Ara untuk menceritakan nya, apalagi Ia dan Ara baru saja berkenalan.
Setelah Dimas pergi Ara masuk ke dalam rumah, di dalam Rumah ia harus kembali menghadapi tante Rianti dan nenek nya, yang kini tampak sangat marah.
" itu tadi siapa Ara?." tanya nenek Ara
" itu tadi teman Ara nek, nama nya Dimas dia dari kampung sebelah. " jawab Ara.
"Halah paling itu pacar nya, dia kan emang perempuan mu**han." timpal tante Rianti dengan mata yang menatap Ara dengan sinis. "
" bukan tante, Dimas bukan pacar aku, aku baru kenal dia kemarin, dan lagi aku bukan perempuan mu**han tante." jawab Ara yang sebenarnya sangat ingin marah mendengar perkataan tante Rianti.
" Diam kamu Ara, kamu udah mulai membangkang yaa, kamu itu harus tau diri, kalau bukan karna kami, kamu sekarang mungkin uda mati di luar sana." bentak nenek Ara.
Mendengar perkataan itu Ara hanya bisa terdiam, air matanya kembali jatuh di pipi nya, perkataan nenek nya sangat membuat Ara sakit hati, namun Ara hanya bisa diam, ia tidak ingin membantah nenek nya, ia tau nenek nya hanya termakan hasutan tante Rianti saja.
" bisa nya cuma nangis aja, dasar lebay. " ejek tante Rianti masih menatap Ara dengan tatapan sinis, juga ada tawa kemenangan di bibir nya,
" hari ini Renita mau pulang kamu sekarang ke pasar beli bahan makanan, terus masak yang enak buat Renita."
Renita adalah anak tante Rianti, Ia sangat di manja oleh tante Rianti dan juga nenek, Ara sering di banding - banding kan dengan Renita yang sekarang berkuliah di kota sedangkan Ara hanya bisa diam di desa nya merawat nenek dan juga tante Rianti. suami tante Rianti bekerja di papua di sebuah perusahaan tambang batu bara.
Hal itu yang membuat tante Rianti merasa sangat angkuh dan juga bisa mengontrol nenek dan juga Ara.
Ara sebenarnya sangat ingin kuliah seperti Renita, namun Ayah nya tidak memberinya uang untuk kuliah dan lagi nenek nya juga melarang nya untuk bekerja di kota.
"Udah sana pergi, malah bengong lagi . " suara tante Rianti membuyarkan lamunan Ara."
" iya tante, tapi uang nya."
" nih kamu beli Ayam, ikan, sayur, buah - buahan."
kata tante Rianti sambil melempar uang 200rb ke badan Ara.
sekali lagi Ara hanya bisa menarik nafas, karna kesabaran nya yang selalu di uji tante Rianti.
" tapi tante, uang nya engga cukup, mana lagi buat beli bumbu- bumbunya."
" aku engga mau tau uang itu harus cukup," ucap tante Rianti senyum kemenangan kembali terlihat di bibir nya.
Ara pun pamit, lalu pergi ke pasar yang jarak nya lumayan jauh, Ara memutuskan untuk berjalan kaki sebab jika Ia takut jika Ia naik ojek uang nya tidak akan cukup untuk membeli barang - barang yang di perintahkan tante Rianti.
untung saja cuaca hari ini tidak terlalu panas, jadi Ara tidak terlalu kepanasan saat berjalan, setelah beberapa menit berjalan Ara melewati Rumah Doni.
" Ee Dim itu ada Ara, kaya nya dia mau kepasar, " ucap Doni.
" mana ee iya, tapi kok dia jalan kaki, kenapa engga naik ojek aja, ini pasti ulah tante nya lagi." jawab Dimas
"Udah sana samperin sekalian anterin kepasar" Saran Doni
" Ee Ara, mau kenama," teriak Doni
" ini mau ke pasar, kk." jawab Ara
" pasar kan jauh Ra, kenapa engga naik ojek aja. " jawab Doni
" engga apa- apa, hitung- hitung olahraga."
" nih kebetulan Dimas mau ke pasar juga, katanya mau beli pakan ternak buat Ayam nya, iyakan Dim, yaudah sekalian aja sama dia, biar di Boncengin. " jawab Doni yang berbohong mengatakan kalau Dimas ingin pergi ke pasar juga.
mendengar itu kening Dimas berkerut karna kebingungan, sejak kapan ia memelihara Ayam, melihat tatapan kebingungan Dimas, Doni memberi kode dengan mata nya, yang langsung di mengerti oleh Dimas,
" iya engga apa - apa kamu bareng aku aja, kan arah nya juga sama, aku mau ke pasar kamu juga ke pasar. " timpal Dimas yang langsung berlari dan menghidupkan sepeda motor nya.
" tapi kk aku, " belum sempat Ara berbicara Dimas dan sepeda sudah berada di samping nya.
Ara ingin menolak namun Ia tidak enak hati, jadi dengan enggan Ara menaiki sepeda motor Dimas, melihat itu Doni tersenyum.
Dimas pun menarik Gas motor nya, namun sebelum benar-benar pergi, Dimas dan Doni saling menatap dan mengedit kan mata, saling memberi kode, Dimas dan Ara pun berlalu meninggal kan rumah Doni.
" kamu mau beli apa di pasar. " tanya Dimas basa basi."
" mau beli bahan makanan, soalnya nanti anaknya tante aku mau datang, "
" kenapa bukan tante kamu aja yang kepasar kan yang mau datang anak nya," jawab Dimas aga kesal dengan tante Rianti.
" aku kan juga engga ngapa- ngapain di rumah, engga apa- apa kalau aku yang ke pasar. "
" oo gitu ya. " jawab Dimas
Setelah itu keheningan menyelimuti perjalanan mereka, setelah beberapa menit mereka ahirnya sampai di pasar.
"makasih ya kk, tumpangan nya, aku mau lanjut beli bahan- bahan nya dulu."
" oyo barengan, aku juga mau kedalam kok, mau beli pakan ternak juga, kita jalan sambil ngobrol."
" hmm, yaudah kalau gitu ayo, keburu pasar nya tutup. " jawab Ara canggung, sambil melangkah masuk ke pasar.
" III Ara, kalian cocok deh ini pacar kamu ya. " tanya salah satu tetangga Ara.
" bukan tante, ini bukan pacar aku, kita cuma temen dong kok," jawab Ara malu
" hmm, teman apa demmen, engga apa- apa kok, dia ganteng kamu cantik jadi kalian cocok kok, udah ya tante mau ke sana dulu. " goda tetangga Ara.
Mendengar itu Dimas tersenyum, dan melirik ke arah Ara.
" maaf ya kk, jangan di ambil hati, omongan tetangga aku tadi, dia cuma bercanda kok." kata Ara meminta maaf ke Dimas
" engga apa- apa kok, beneran juga kan lebih bagus, " jawab Dimas dengan suara yang hampir tidak terdengar. "
" hmm, kk bilang apa aku engga dengar. " tanya Ara.
"Engak kok, ini jalan nya becek banget. " jawab Dimas ngeles.
mendengar itu Ara sebenarnya bingung, namun iya tidak ingin mengambil pusing.
" yaudah ayok kita lanjut. " ucap Dimas lagi.
Mereka pun kembali berjalan , memasuki lorong- lorong pasar.