NovelToon NovelToon
Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi Wajah Baru

Asha menatap langit-langit beton yang retak di dalam ruang operasi rahasia itu. Bau alkohol dan desinfektan yang menyengat memenuhi indra penciumannya, menciptakan rasa mual yang tertahan. Di atasnya, lampu bedah yang terang mulai menyala, membutakan pandangannya sesaat sebelum ia memejamkan mata dengan rapat.

Seorang dokter bedah plastik tanpa nama berdiri di sisi meja operasi sambil mengenakan masker medis. Tangan pria itu terlihat sangat stabil saat memeriksa beberapa foto wajah Asha yang diambil dari berbagai sisi. Ia tidak banyak bicara, hanya sesekali menyesuaikan letak pisau bedah yang berkilau di bawah cahaya lampu.

"Ini adalah prosedur minimalis, Nyonya. Saya tidak akan mengubah Anda menjadi orang lain sepenuhnya," ujar dokter itu dengan suara datar.

Asha mengangguk pelan, merasakan dinginnya meja logam di bawah punggungnya. "Aku hanya ingin bekas luka ini hilang dari wajahku. Arlan tidak boleh mengenali korbannya saat aku berdiri tepat di depannya nanti."

Dokter itu mengarahkan lampu bedah lebih dekat ke arah dagu dan pipi Asha yang memiliki bekas luka goresan. "Bagaimana dengan luka bakar di bahu Anda? Itu cukup dalam dan akan membutuhkan penanganan ekstra jika ingin mulus kembali."

"Jangan sentuh luka di bahu itu. Biarkan saja seperti itu," potong Asha dengan nada bicara yang tegas.

Pria bermasker itu menghentikan gerakannya sejenak, menatap Asha dengan dahi yang berkerut. "Luka itu akan terlihat sangat kontras dengan wajah cantik yang akan Anda miliki setelah ini."

Asha mengepalkan tangannya di bawah selimut operasi yang tipis. "Luka di bahu itu adalah pengingat. Aku membutuhkannya agar aku tidak pernah lupa betapa panasnya api pengkhianatan yang Arlan berikan."

Dokter itu akhirnya mengangguk paham dan mulai menyiapkan anestesi lokal untuk area wajah. "Baiklah. Jika itu keinginan Anda. Kita akan memulai rekonstruksi pada bagian hidung dan struktur pipi."

Asha merasakan tusukan jarum yang tajam di beberapa titik wajahnya. Perlahan, sensasi kebas mulai merambat, menghilangkan rasa perih yang selama ini menghantui bekas luka di pipinya. Ia membiarkan pikirannya melayang ke masa depan, membayangkan bagaimana wajah barunya akan menjadi senjata paling mematikan.

Suara denting alat medis yang saling bersentuhan menjadi irama latar yang menegangkan di ruangan itu. Asha tidak bisa merasakan pisau bedah yang mulai menyayat kulitnya, namun ia bisa merasakan tekanan saat dokter menarik jaringan lemak. Setiap detik yang berlalu adalah proses penghancuran sisa-sisa Asha Valeska yang malang.

"Berapa lama waktu pemulihan yang saya butuhkan sebelum bisa tampil di depan publik?" tanya Asha dengan suara yang sedikit tidak jelas.

"Dua minggu untuk menghilangkan bengkak utama. Satu bulan untuk benar-benar terlihat alami," jawab dokter itu sambil menjahit lapisan kulit dengan sangat teliti.

Asha menghitung waktu di dalam kepalanya, mencocokkannya dengan jadwal pertemuan bursa saham Neovault. "Itu sudah lebih dari cukup. Aku punya banyak hal yang harus dipersiapkan selagi menunggu luka ini mengering."

"Tolong jangan banyak bicara dulu. Saya sedang membentuk garis rahang Anda agar terlihat lebih tegas dan dingin," tegur si dokter dengan halus.

Asha terdiam, membiarkan kegelapan dan anestesi membawanya masuk ke dalam lamunan yang panjang. Ia membayangkan Arlan sedang berpesta di Menara Neovault, tidak menyadari bahwa di sebuah sudut gelap distrik Rust, predatornya sedang mengganti kulit. Setiap sayatan dokter adalah langkah menuju pembalasan dendam yang sempurna.

Operasi itu berlangsung selama beberapa jam yang terasa sangat lambat bagi Asha. Ia bisa merasakan sirkulasi udara yang dingin di ruangan itu, kontras dengan panas yang mulai terasa di area wajahnya. Dokter itu bekerja dengan sangat presisi, seolah-olah ia sedang memahat sebuah karya seni dari tanah liat.

Setelah proses penjahitan terakhir selesai, dokter itu mulai membalut wajah Asha dengan kain kasa yang tebal. "Semua sudah selesai. Anda akan merasa sangat tidak nyaman selama beberapa hari ke depan."

Asha mencoba duduk dengan perlahan, dibantu oleh seorang perawat yang sejak tadi diam di sudut ruangan. "Apakah hasilnya sesuai dengan apa yang aku inginkan?"

Dokter itu melepaskan sarung tangan karetnya yang berlumuran sedikit darah. "Anda akan melihatnya sendiri saat perban ini dibuka. Anda tetap cantik, tapi dengan cara yang jauh lebih berbahaya."

Asha meraba perban di wajahnya dengan ujung jari yang gemetar. Rasa sakit yang tumpul mulai muncul saat pengaruh anestesi perlahan menghilang. Namun, ia tidak peduli dengan rasa sakit itu, karena ia tahu bahwa kecantikan barunya akan menjadi topeng yang sempurna.

"Terima kasih, Dokter. Pastikan tidak ada catatan medis tentang operasi ini yang tersisa di sistem Anda," pesan Asha sebelum turun dari meja operasi.

"Jangan khawatir. Di tempat ini, privasi adalah komoditas utama kami," balas dokter itu sambil mulai merapikan peralatan bedahnya.

Asha melangkah keluar dari ruang operasi dengan tubuh yang masih sedikit lemas. Di ruang tunggu, si nelayan tua sudah menunggunya dengan sebuah mantel besar untuk menutupi kepala dan bahunya. Mereka berjalan menembus lorong-lorong sempit gedung tua itu menuju mobil yang sudah siap di luar.

Hujan rintik-rintik menyambut Asha saat ia menginjakkan kaki di trotoar yang retak. Ia menarik mantelnya lebih erat, menutupi bahunya yang sengaja dibiarkan membusuk dengan bekas luka bakar. Luka itu berdenyut, seolah-olah ikut merasakan kemarahan yang terus dipupuk oleh Asha di dalam hatinya.

"Bagaimana perasaanmu? Kau terlihat seperti mumi dengan perban sebanyak itu," ujar si nelayan sambil mengemudikan mobil menjauh.

Asha menyandarkan kepalanya ke jendela mobil yang dingin. "Rasanya seperti kulitku ditarik paksa. Tapi ini perlu dilakukan agar tidak ada lagi jejak Asha Valeska di cermin."

"Kau benar-benar keras kepala karena tidak mau menghilangkan luka di bahumu. Arlan mungkin akan mengenalinya jika kau tidak hati-hati," nelayan itu mengingatkan.

Asha tersenyum di balik perbannya, meskipun itu terasa menyakitkan. "Arlan tidak akan pernah melihat bahuku lagi. Dia hanya akan melihat wajah investor yang akan menghancurkan kerajaannya."

"Kau sudah menyiapkan nama baru untuk identitas barumu ini?" tanya nelayan itu lagi.

Asha menatap lampu-lampu jalan yang bergerak cepat di luar sana. "V. Singkat dan tajam. Seperti pisau yang akan aku tancapkan di jantung Neovault."

Mobil itu terus melaju menembus kabut malam Neovault, membawa Asha kembali ke apartemen persembunyiannya. Di sana, ia akan menghabiskan waktu dua minggu penuh dalam kesunyian, membiarkan luka-lukanya sembuh sementara dendamnya terus tumbuh. Ia akan belajar menjadi sosok V yang elegan namun mematikan.

Selama masa pemulihan, Asha menolak untuk melihat cermin sama sekali. Ia menghabiskan waktunya dengan mempelajari dokumen-dokumen internal Neovault yang berhasil didapatkan oleh jaringan informannya. Ia memetakan setiap hubungan bisnis Arlan, mencari tahu siapa saja yang pernah merasa dikhianati oleh pria itu.

Setiap kali rasa bosan atau frustrasi muncul, ia akan menyentuh luka bakar di bahunya. Rasa kasar dan kaku dari kulit yang rusak itu memberikan energi baru baginya. Luka itu adalah sertifikat kelahirannya sebagai seorang predator, sebuah tanda bahwa ia pernah dibakar namun menolak untuk menjadi abu.

"Dua hari lagi perban ini akan dibuka," gumam Asha suatu malam sambil menyesap air mineral dari sedotan.

Ia bisa merasakan kulit wajahnya yang mulai mengencang, menandakan bahwa proses penyembuhan sedang berjalan dengan baik. Tidak ada lagi bengkak yang berlebihan, hanya rasa sensitif yang perlahan mulai memudar. Ia sudah tidak sabar untuk melihat siapa wanita yang ada di balik perban itu.

Saat hari yang ditentukan tiba, dokter bedah itu datang ke apartemen Asha untuk membuka balutan kasanya. Suasana di dalam kamar itu terasa sangat tegang, hanya ada suara gunting medis yang memotong kain kasa lapis demi lapis. Si nelayan tua berdiri di sudut ruangan dengan ekspresi wajah yang serius.

Kain kasa terakhir jatuh ke lantai, membiarkan udara dingin menyentuh kulit wajah Asha yang baru. Dokter itu mengambil sebuah cermin tangan dan memberikannya kepada Asha dengan perlahan. "Silakan, Nyonya V. Sambutlah diri Anda yang baru."

Asha menerima cermin itu dengan tangan yang dingin. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya mengarahkan pandangannya ke arah pantulan di kaca tersebut. Ia terdiam cukup lama, matanya membelalak menatap sosok yang kini ada di hadapannya.

Wajahnya kini memiliki garis yang lebih tegas dan mata yang terlihat lebih tajam dari sebelumnya. Hidungnya sedikit lebih mancung dengan dagu yang memberikan kesan elegan sekaligus angkuh. Bekas luka yang dulu melintang di pipinya telah menghilang, digantikan oleh kulit halus yang tampak sempurna.

"Ini ... bukan aku," bisik Asha sambil menyentuh pipinya sendiri.

"Benar. Ini adalah V. Seorang wanita yang diciptakan untuk memimpin dan menghancurkan," sahut dokter bedah itu dengan nada bangga.

Asha menatap matanya sendiri di cermin, mencari sisa-sisa kelembutan Asha Valeska yang dulu selalu penuh dengan cinta. Namun, yang ia temukan hanyalah sepasang mata yang dingin dan penuh dengan perhitungan. Kelembutan itu sudah lama mati, tenggelam di dasar sungai bersama semua janji manis Arlan.

"Luar biasa. Kau terlihat seperti bangsawan dari luar kota yang sangat kaya," puji si nelayan sambil mendekat ke arah Asha.

Asha meletakkan cermin itu di atas meja dengan gerakan yang tenang. "Kecantikan ini hanya topeng. Yang terpenting adalah apa yang akan aku lakukan dengan wajah ini."

Ia berdiri dan berjalan menuju lemari, mengeluarkan sebuah gaun hitam formal yang sudah ia siapkan. Ia menatap wajah barunya sekali lagi, memastikan bahwa tidak ada cacat sedikit pun yang tertinggal. Operasi ini sukses besar, dan kini ia sudah memiliki alat yang paling penting untuk memulai permainannya.

"Dokter, Anda telah melakukan pekerjaan yang sangat baik. Sekarang, pergilah dan lupakan bahwa Anda pernah melihat wajah ini," perintah Asha dengan suara yang rendah dan berwibawa.

Dokter itu mengemasi peralatannya dan segera pergi meninggalkan apartemen. Asha kemudian menoleh ke arah si nelayan, memberikan isyarat bahwa pelatihan tahap selanjutnya akan segera dimulai. Tidak ada lagi waktu untuk memikirkan rasa sakit atau keraguan.

"Paman, hubungkan aku dengan peretas yang kita bicarakan kemarin. Aku ingin mulai memantau pergerakan Elena lebih dekat," ujar Asha sambil merapikan rambutnya.

"Kau benar-benar tidak akan membuang waktu sedikit pun, ya?" nelayan itu terkekeh pelan sambil mengambil teleponnya.

Asha menatap ke arah jendela, ke arah pusat kota yang penuh dengan lampu warna-warni. Di sana, di salah satu gedung tertinggi, Arlan mungkin sedang merayakan keberhasilannya. Namun, Asha tahu bahwa perayaan itu tidak akan berlangsung lama.

"V sudah lahir, Arlan. Dan dia jauh lebih cantik sekaligus mematikan daripada istri yang kau buang dulu," batin Asha dengan penuh dendam.

Ia menyentuh luka bakar di bahunya melalui kain mantelnya, merasakan kekuatan yang mengalir dari sana. Wajah baru, identitas baru, dan tujuan yang sangat jelas. Babak baru dalam hidupnya telah dimulai, dan kali ini ia tidak akan menjadi pihak yang kalah. Sang predator telah siap untuk keluar dari sarangnya.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
EsKobok: siaaappp kakk 💪💪
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
ingatlah Arlan, bahwa karma itu ada😁
𝐀⃝🥀Weny: nek kurma enak thor.. lha nek karma🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!