NovelToon NovelToon
Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.

Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.

Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

“Jadi orang yang Abi tolong itu seorang pengedar narkoba?” Suara Ummi Hafizah terdengar pelan dan sedikit terkejut. Ustadz Haidar mengangguk dan membuat ruangan itu mendadak terasa hening. Ummi Hafizah tampak menatap suaminya cukup lama seolah mencoba mencerna semuanya. “Dan sekarang dia tinggal di pesantren ini?” tanya ummi Hafizah dengan hati-hati.

“Iya.”

Jawaban itu singkat namun tegas dan membuat Ummi Hafizah langsung terlihat

cemas.

“Abi yakin dengan keputusan ini?” Ustadz Haidar diam mendengarkan. “Dia itu seorang pengedar narkoba, abi.” lanjut Ummi Hafizah pelan. “Bagaimana kalau dia membahayakan santri-santri dan semua orang yang ada di sini?”

Kekhawatiran itu wajar. Pesantren itu dipenuhi anak-anak muda yang sedang belajar agama dan sekarang seorang kriminal tinggal di sana. Siapa pun pasti akan takut. Ummi Hafizah menggenggam jemarinya sendiri dengan pelan.

“Bagaimana kalau polisi datang lagi? Atau bagaimana kalau dia ternyata berbohong?” Tatapan ummi Hafizah terlihat penuh kegelisahan. “Apa Abi tidak takut?”

Ustadz Haidar menatap istrinya dengan tenang.

“Abi mengerti kekhawatiran ummi. Tapi malam ini abi melihat sesuatu di mata anak itu.”

Ummi Hafizah terdiam.

“Dia tersesat ummi. Sangat tersesat.” Tatapan Ustadz Haidar berubah lebih dalam. “Tapi dia juga terluka. Abi tidak bisa membiarkannya kembali ke jalan dosa itu begitu saja.” Ummi Hafizah menatap suaminya lekat-lekat.

Perempuan itu mengenal lelaki di hadapannya dengan sangat baik. Jika suaminya itu sudah mengambil keputusan karena keyakinan hatinya, maka sangat sulit untuk mengubahnya.

“Abi yakin dia bisa berubah?” tanya Ummi Hafizah lirih dan membuat Ustadz Haidar tersenyum kecil.

“Abi tidak tahu pasti.” Jawaban jujur itu membuat Ummi Hafizah sedikit terdiam. “Tapi abi yakin Allah masih membukakan pintu untuknya.”

Suasana kembali hening. Angin malam terdengar samar dari luar rumah. Ummi Hafizah menunduk pelan. Jujur saja, hatinya masih dipenuhi rasa khawatir. Ia takut, takut jika keputusan ini akan membawa masalah, takut jika lelaki bernama Shaka itu ternyata berbahaya. Namun di sisi lain ia juga tahu siapa suaminya. Ustadz Haidar bukan orang yang mudah percaya pada orang lain. Jika malam ini ia memilih menolong pemuda itu, berarti ada sesuatu yang ia lihat. Dan selama bertahun-tahun hidup bersama lelaki itu, Ummi Hafizah tahu satu hal. Hati suaminya selalu lembut pada orang-orang yang tersesat. Perempuan itu akhirnya menghela napas kecil.

“Kalau itu memang keputusan Abi…” ummi Hafizah berhenti sebentar. “Ummi tidak akan melarang.”

Ustadz Haidar menatap istrinya dengan penuh rasa syukur meski terlihat berat hati, Ummi Hafizah tetap mencoba menerima keputusan tersebut. Karena selama ini ia percaya pada suaminya. Percaya bahwa lelaki itu tidak akan mengambil keputusan sembarangan.

“Terima kasih.”

Ummi Hafizah tersenyum tipis meski kecemasan masih terlihat jelas di wajahnya.

Beberapa saat kemudian, Ustadz Haidar perlahan berdiri dari duduknya. Namun sebelum melangkah pergi menuju kamar, ia kembali menoleh pada istrinya.

“Ummi.”

“Iya?”

“Besok tolong siapkan beberapa baju koko dan sarung.”

Ummi Hafizah mengernyit kecil.

“Untuk pemuda itu?”

“Untuk Shaka.” Nama itu akhirnya disebut. Ustadz Haidar melanjutkan, “Dia tidak punya pakaian yang layak untuk tinggal di sini.”

Ummi Hafizah perlahan mengangguk.

“Akan Ummi siapkan.”

Dan sebelum pergi, Ustadz Haidar kembali berkata pelan,

“Abi ingin membimbing anak itu." Tatapan ustadz Haidar terlihat serius. “Abi ingin membantunya menjadi manusia yang lebih baik.” Ummi Hafizah hanya bisa diam dan mendengarkan. “Abi tidak bisa melakukannya sendiri.” ia lalu menarik napas pelan. “Karena itu abi juga ingin meminta bantuan ustadz Ilyas.”

Nama itu membuat Ummi Hafizah sedikit mengangguk paham. Ustadz Ilyas, Calon suami putri mereka, Hanindya. Lelaki muda yang dikenal alim, sabar, dan sangat dihormati para santri.

“Abi ingin Shaka belajar di bawah bimbinganku dan juga ustadz Ilyas.” Tatapan Ustadz Haidar terlihat penuh harapan. “Semoga saja belum terlambat untuk menyelamatkan anak itu.”

Malam perlahan berganti menuju dini hari. Langit masih gelap ketika angin subuh mulai berhembus pelan menyusuri area pondok pesantren. Suasana masih sunyi. Lampu-lampu kecil di sepanjang lorong pesantren terlihat masih menyala redup, sementara suara jangkrik masih terdengar samar dari balik pepohonan. Di kediaman sederhana milik Ustadz Haidar, lampu ruang tamu sudah kembali menyala sejak beberapa menit yang lalu. Lelaki paruh baya itu sudah terbangun seperti biasanya meski malam tadi dipenuhi kejadian yang begitu menguras pikiran dan emosi, kebiasaan beliau untuk bangun sebelum subuh tetap tidak berubah.

Ustadz Haidar duduk di ruang tamu sambil membuka beberapa kitab di hadapannya dengan ditemani secangkir teh hangat yang masih mengepulkan aroma samar di atas meja kecil. Namun pagi itu pikiran ustadz Haidar tidak benar-benar fokus pada kitab yang sedang dibacanya. Pikirannya masih tertuju pada satu orang, Shaka. Entah bagaimana keadaan pemuda itu sekarang.

Apakah ia bisa tidur? Apakah ia masih ketakutan? Atau mungkin malah berniat kabur diam-diam sebelum pagi datang.

Ustadz Haidar menghela napas pelan. Perjalanan anak itu masih panjang dan untuk mengubah seseorang yang sudah terlalu lama hidup dalam kegelapan bukanlah perkara mudah.

Tok Tok Tok.

Suara ketukan pintu terdengar pelan dari luar rumah. Ustadz Haidar langsung menoleh, ia sudah tahu siapa yang datang bahkan sebelum membuka pintu. Memang hampir setiap pagi sebelum subuh, orang itu selalu datang ke rumahnya. Ustadz Haidar lalu bangkit dan membuka pintu. Di depan rumah berdiri seorang lelaki muda dengan pakaian koko putih dan sarung gelap yang terlihat rapi.

Wajahnya terlihat teduh dan tampan, Sorot matanya tenang sementara janggut tipis menghiasi rahangnya. Itu adalah Ustadz Ilyas, calon suami Hanindya.

“Assalamu’alaikum, Abi.”

“Wa’alaikumsalam.”

Ustadz Haidar tersenyum kecil lalu mempersilahkan ustadz Ilyas masuk.

“Silakan masuk, Ilyas.”

“Terima kasih, Abi.”

Ustadz Ilyas melangkah masuk dengan sopan. Sudah menjadi kebiasaan baginya mampir sebelum subuh untuk membahas kegiatan pesantren, termasuk siapa yang akan mengisi kajian pagi setelah salat subuh berjamaah nanti. Begitu duduk, Ustadz Ilyas langsung berkata,

“Hari ini kajian subuh siapa yang akan mengisinya, Abi?”

Ustadz Haidar tidak langsung menjawab. Ia justru terlihat diam beberapa saat. Hal itu membuat Ustadz Ilyas sedikit heran. Biasanya lelaki itu selalu langsung menjawab dengan tenang, Namun pagi ini terlihat berbeda.

“Apa ada sesuatu yang terjadi, Abi?” tanya ustadz Ilyas pelan.

Ustadz Haidar menghela napas panjang lalu perlahan ia berkata,

“Tadi malam ada seorang pemuda datang ke pesantren.”

Ustadz Ilyas langsung memperhatikan dengan serius sementara ustadz Haidar kemudian mulai menceritakan semuanya dan membuat Ustadz Ilyas mendengarkan tanpa memotong sedikit pun. Tatapannya terlihat serius sampai akhirnya Ustadz Haidar berkata,

“Sekarang dia tinggal di sini.” ustadz Ilyas sedikit terdiam. “Namanya Shaka. Dia pengedar narkoba,” lanjut Ustadz Haidar dengan jujur.

1
Yuni Avita
mending terlambat daripada nggak usaha sama sama sekali 👍
Yuni Avita
kl begini, aku jadi naksir sama Shaka thor🤣🤣🤣
Yuni Avita
ciee yang terpesona sama dirinya sendiri /Chuckle/
Suhadi Mulyo
ini baru yang dinamakan kacang yang nggak lupa sama kulitnya 👍
Yuni Avita: mending terlambat daripada nggak usah sama sekali 👍
total 1 replies
Suhadi Mulyo
terus maju ke depan Shaka, jangan menoleh ke masa lalu mu yang tidak bermanfaat.
Suhadi Mulyo
buat apa berubah jika kita masih mengenang masa lalu.
Khumaira Nur Rahma
Shaka jadi idola baru di pesantren setelah ustadz Ilyas 🤭
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Dalam hidup ini, kita sering dihadapkan oleh berbagai rintangan saat berusaha melakukan kebaikan.
Kadang, niat baik kita disalahpahami, usaha kita diremehkan, atau bahkan dihalangi oleh mereka yang tidak peduli dan membenci.
Namun, satu hal yang perlu kita garis bawahi adalah bahwa kebaikan tidak akan pernah sia-sia.
Berbuat baik, terutama untuk kemaslahatan orang banyak, adalah bentuk perjuangan yang membutuhkan keteguhan hati.
Tidak semua orang akan langsung memahami atau menghargai apa yang kita lakukan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti.
Setiap langkah kecil yang kita ambil untuk membantu sesama, sekecil apa pun, memiliki dampak yang besar di mata mereka yang menerimanya.

Mungkin terkadang kita merasa lelah, merasa perjuangan kita tidak berarti, tetapi ingatlah bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten.
Dunia ini membutuhkan lebih banyak orang yang tidak menyerah dalam menebarkan kebaikan.
Jadi, jangan pernah lelah berjuang. Teruslah menjadi cahaya di tengah gelap, tetaplah menjadi penggerak perubahan, dan yakini bahwa setiap kebaikan yang kita tanam akan berbuah pada waktunya...👍🤭
Putri_a_s
pake acara sumpah sumpahan lagi/Drowsy/
Yuni Avita
ozy ibarat musuh dalam selimut.
Yuni Avita
moga aja kamu cepat sadar dengan apa yang kamu lakukan, Ozy.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Biar ganteng Shaka 😁
Anyue: aslinya memang ganteng 🫣
total 1 replies
Suhadi Mulyo
jangan bawa nama tuhan dengan mulut kotormu itu Ozy, nggak usah sok suci lho/Panic/
Suhadi Mulyo
tega banget kamu ozy/Smug/
Suhadi Mulyo
punya salah apa Shaka sama kamu Ozy? sampai kamu tega banget fitnah dia /Scowl/
Khumaira Nur Rahma
jahat banget kamu ozy, udah lempar batu sembunyi tangan, sekarang malah fitnah Shaka /Panic/
Suhadi Mulyo
bagus banget, ada cuplikan ayat Al-Qur'an nya juga, jadi tambah ilmu.
Suhadi Mulyo
ustadz Ilyas beruntung bisa dicintai oleh perempuan seperti Hanin😍
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
bagus Shaka harus move on dong.
Anyue: kasihan Ozi nya harus melawan bosnya
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Selagi mau berubah, Allah selalu dekatkan dgn org yg baik bukan. Good morning aku sempetin baca sebelum kerja💙
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!