NovelToon NovelToon
Kanvas Di Balik Baluwarti

Kanvas Di Balik Baluwarti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi / Kerajaan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di tengah kaku dan dinginnya protokol Keraton Amarta, Arya Wijaya, sang Raja muda, merasa hidupnya hanyalah pengabdian tanpa warna. Segalanya berubah saat ia bertemu dengan Sekar, seorang guru taman kanak-kanak yang juga seorang pelukis berbakat. Sekar adalah perwujudan dari keanggunan yang bersahaja—lembut dalam tutur kata, ceria dalam bersikap, dan memiliki jiwa bebas yang dituangkannya ke atas kanvas. Bagi Arya, Sekar adalah jendela menuju dunia yang lebih manusiawi. Namun, bagi tembok keraton, Sekar hanyalah rakyat jelata yang dianggap tak layak bersanding dengan takhta. Saat Arya dihadapkan pada tuntutan perjodohan politik demi stabilitas kerajaan, ia harus memilih: mempertahankan mahkota yang hampa, atau memperjuangkan cintanya pada sang pelukis yang telah mewarnai kembali hatinya. Sebuah kisah tentang benturan antara tradisi yang kaku dan cinta yang tulus, di mana keanggunan seorang wanita biasa diuji di hadapan kemegahan istana yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Racun di Cangkir Pualam

Gema titah Arya di balairung Agung sampai ke telinga Ibu Suri seperti sambaran petir di siang bolong. Di peraduannya, Ibu Suri menghancurkan cangkir keramik kesayangannya ke lantai marmer hingga berkeping-keping. Napasnya memburu, wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa kini tertutup awan gelap kemarahan yang tak terkendali.

“Dia berani…” desis Ibu Suri, suaranya parau oleh murka. “Dia berani menggunakan naskah usang itu untuk mengancam dewan adat dan menghina garis keturunannya sendiri demi seorang gadis pemetik melati!”

Raden Ajeng Nastiti masuk ke ruangan itu dengan langkah gontai. Rambutnya sedikit berantakan, dan matanya yang sembap menunjukkan bahwa ia baru saja melewati badai tangis yang hebat. Namun, saat mendengar kabar bahwa ayahnya, Adipati Cakraningrat, telah berlutut di hadapan Arya, kesedihannya berubah menjadi dendam yang pekat.

Nastiti bersimpuh di kaki ibu suri, mencengkeram kain jarik sang ratu tua dengan jemarinya yang gemetar.

“Gusti Kanjeng Ibu,” isak Nastiti, namun nadanya kini mengandung racun. “Ibu, jangan biarkan titah itu terlaksana. Jika Arya menjemputnya besok, maka habislah kita. Kita harus menggagalkannya malam ini juga, apa pun harganya. Jika Sekar tidak bisa disingkatkan dengan pedang, maka singkirkan dia dengan fitnah yang tak bisa dibantah!”

Ibu Suri menatap Nastiti dengan tatapan dingin yang perlahan berubah menjadi senyum sinis. Ia menyadari bahwa kekuasaan Arya kini terlalu kuat jika dilawan secara terbuka. Ia membutuhkan sesuatu yang akan membuat rakyat—Arya sendiri—berbalik membenci Sekar.

“Bangunlah, Nastiti,” perintah Ibu Suri. “Arya mungkin memenangkan hukum, tapi dia belum memenangkan takdir. Seorang Raja tidak boleh menikahi seorang wanita yang dianggap membawa sial, atau… yang terlibat dalam praktik ilmu hitam.”

Ibu Suri memanggil orang kepercayaannya, seorang abdi dalem tua yang ahli dalam memanipulasi kabar. Ia memerintahkan untuk menyebarkan fitnah bahwa kebaikan Sekar selama ini hanyalah kedok; bahwa keberhasilannya memikat hati Raja adalah hasil dari ‘guna-guna’ atau sihir yang terlarang.

“Kita akan membuat seolah-olah Sekar adalah penyihir yang meracuni pikiran Raja,” bisik Ibu Suri pada Nastiti. “Jika rakyat percaya bahwa kemakmuran Amarta terancam oleh keberadaan Sekar, mereka sendiri yang akan menyeretnya keluar dari istana, bahkan sebelum dia sempat duduk di kursi permaisuri.”

Nastiti tersenyum puas. Ia merasa memiliki kartu as terakhir. “Dan Hamba, Ibu… hamba akan memastikan ada ‘bukti’ yang ditemukan ditokonya. Beberapa jimat, rambut sang Raja, dan botol-botol ramuan yang akan membuat semua orang bergidik ngeri.”

“Lakukan dengan rapi,” ancam Ibu Suri. “Ini adalah pertunjukan terakhir kita. Jika gagal, maka kau dan keluargamu benar-benar akan habis.”

Malam itu, di bawah keremangan bulan yang tertutup awan, beberapa bayangan hitam bergerak keluar dari istana menuju arah Baluwarti. Mereka tidak membawa belati untuk membunuh, melainkan membawa fitnah yang lebih tajam dari mata pedang mana pun.

Sementara itu, di kediamannya, Arya tidak bisa tidur. Ia terus menatap langit-langit, merasa bahwa kemenangannya atas dewan adat terlalu mudah. Ia tahu ibunya dan Nastiti bukan tipe orang yang akan menyerah begitu saja.

“Seno!” Panggil Arya pelan.

Seno muncul dari balik tirai. “Dawuh, Gusti Prabu?”

“Perketat penjagaan di sekitar Sekar. Jangan biarkan siapa pun masuk ke tokonya malam ini, bahkan lalat sekalipun. Aku mencium aroma busuk yang lebih pekat dari biasanya,” perintah Arya dengan firasat yang kuat.

Perang urat syaraf kini mencapai titik nadir. Di satu sisi, ada cinta yang suci dan kebenaran kuno; di sisi lain, ada dendam wanita yang terluka dan ambisi ratu tua yang tak rela kehilangan kendali. Amarta tengah menahan napas, menunggu fajar yang akan menentukan apakah melati itu akan mekar di istana, atau layu di tangan fitnah yang keji.

Benteng Hati Nurani Rakyat

Fitnah yang disebar oleh kaki tangan Ibu Suri dan Nastiti awalnya merayap seperti kabut hitam di gang-gang pasar Baluwarti. Cerita-cerita tentang “ramuan pemikat” dan “jimat terlarang” dibisikkan dari mulut ke mulut. Namun, para konspirator itu meremehkan hal yang paling kuat di dunia: pengalaman nyata rakyat jelata.

Di sebuah warung nasi dekat toko Sekar, seorang telik sandi Ibu Suri mencoba menghasut para kuli panggul. “Kalian tidak takut? Gadis itu menggunakan ilmu hitam untuk memikat Raja agar dia bisa menguasai Amarta!”

Seorang kuli panggul tua berhenti mengunyah, menatap si penghasut dengan mata yang tajam. “Ilmu hitam? Aku melihat dengan mataku sendiri bagaimana Nimas Sekar memberikan obat herbal untuk cucuku yang sekarat tanpa minta bayaran. Jika kebaikan seperti itu kau sebut ilmu hitam, maka aku lebih suka dipimpin oleh penyihir daripada oleh bangsawan yang hatinya busuk seperti bualanmu!”

Suara penolakan itu menjalar cepat. Rakyat yang selama bertahun-tahun merasakan sentuhan lembut kebaikan Sekar—yang melihatnya mengajar anak-anak yatim dan membagikan sisa rotinya—merasa harga diri mereka ikut dihina. Mereka tahu siapa Sekar Arum; dia adalah wangi melati yang nyata, bukan sihir yang diciptakan dalam kegelapan.

Alih-alih ketakutan, rakyat justru bersatu dalam amarah yang luar biasa. Kabar bahwa istana mencoba memfitnah “Malaikat Baluwarti” mereka menyulut gelora perlawanan.

“Kita tidak akan membiarkan mereka menyentuh Nimas Sekar!” Teriak seorang pemuda desa.

Ribuan rakyat dari berbagai sudut kota mulai bergerak. Mereka tidak membawa senjata parang, melainkan membawa obor, alat-alat pertanian, dan spanduk sederhana. Mereka mengepung area toko “Warna Sekar”, bukan untuk menyerang, melainkan untuk membentuk pagar betis manusia yang tak tertembus.

Gelombang massa kian membesar hingga mencapai depan gerbang utama keraton. Suara teriakan mereka bergemuruh, memantul di dinding-dinding istana yang angkuh:

“KEADILAN UNTUK SEKAR ARUM!”

”BERSIHKAN FITNAH DARI MELATI KAMI!”

“KAMI SAKSI KEBAIKANNYA!”

Di dalam istana, Ibu Suri dan Nastiti gemetar saat mendengar deru suara rakyat yang bagaikan suara ombak samudera. Rencana mereka berbalik menjadi bumerang. Fitnah yang mereka harapkan akan menjauhkan rakyat dari Sekar, justru membuat rakyat menjadikan Sekar sebagai simbol perjuangan mereka melawan kesewenang-wenangan keraton.

Arya Wijaya berdiri di balkon istana, menatap lautan manusia di bawah sana. Ia tidak merasa terancam; sebaliknya, senyum tipis penuh kebanggaan muncul di wajahnya.

“Lihat itu, Ibu,” ucap Arya pelan saat Ibu Suri masuk keriangannya dengan wajah pucat. “Rakyat telah memberikan jawaban mereka. Kau bisa memanipulasi hukum adat, tapi kau tidak bisa memanipulasi hati nurani ribuan orang yang telah merasakan kebaikan Sekar.”

Para pemuka rakyat dan sesepuh desa maju ke depan gerbang, menuntut agar perwakilan keraton keluar dan mencabut fitnah keji tersebut. Mereka menyatakan bahwa jika keraton tidak segera membersihkan nama Sekar Arum, maka rakyat akan menarik seluruh dukungan mereka terhadap takhta.

Keadaan ini membuat para menteri yang sebelumnya ragu-ragu kini berbalik mendesak Ibu Suri. Mereka sadar bahwa jika keraton melawan rakyat demi seorang Nastiti, maka revolusi besar akan pecah dan Amarta akan runtuh dalam semalam.

Di dalam tokonya, Sekar menangis tersedu—bukan karena takut akan fitnah, melainkan karena ia tidak menyangka bahwa cinta yang ia berikan secara tulus kepada rakyat, kini kembali padanya dalam bentuk perlindungan yang begitu dahsyat. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi sendirian. Di belakangnya, ada ribuan jiwa yang siap menjadi perisai hidup bagi cintanya dan sang Raja.

Fajar yang dinanti hampir tiba, dan kali ini, ia akan menyinari Amarta dengan kebenaran yang tak terbantahkan.

1
Ganendra Dimitri
bagus banget thor ceritanya
NP: Makasih ya kak
total 1 replies
Ganendra Dimitri
ceritanya menyentuh banget thor.... kapan negriku punya pemimpin kayak di cerita ini😍😍
NP: Semoga ya kak, suatu saat nanti ada pemimpin negeri yg lebih mencintai rakyatnya
total 1 replies
Esti 523
sepertinya bagus nih
NP: Semoga suka ya kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!