Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1# Dua garis
Hari itu Karin meringkuk di tempat tidur, dia tidak pulang ke rumah kelurga Darmawan. Melainkan pulang keapartemennya, bukan Rega tapi Aldo yang mengantar Karin pulang. Rega memang sengaja minta asistennya untuk mengantar Karin, karena dia harus menemui Rhea untuk minta maaf.
Setelah Aldo menurunkan di lobi apartemen, Karin tidak lansung naik keunit apartemennya. Dia berbalik menuju sebuah mini market yang ada di sekitar apartemen, beberapa kali dia menghela napas. Antara ragu atau harus membeli benda yang sedang dia tatap tersebut, dia memejamkan mata sejenak. Kemudian dengan yakin Karin mengambil benda itu, tidak hanya satu melainkan tiga dengan merek yang berbeda. Setelah membawa ke kasir dan membayarnya, Karin buru-buru kembali keapartemen. Dia harap apa yang di katakan dokter tadi saat di UGD tidaklah benar.
Karin menempelkan kartu akses hingga bunyi klik terdengar, dia bergegas masuk menutup kembali pintu dan melepaskan sepatunya. Dia menuju kamar dan langsung menaruh tasnya di sofa yang ada di kamarnya, bahkan Karin melepaskan blazer dan melemparnya asal kesembarang arah.
Karin masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa bungkusan berisi test pack, dia berdiri di depan wastafel. Tiga alat test kehamilan dia jajar diatas wastafel, dia berharap semuanya tidak benar. Meskipun Karin sendiri ragu, karena dia baru saja menyadari sudah telat datang bulan entah sejak kapan.
Dua garis, itulah yang Karin lihat. Ke tiga alat tes kehamilan menunjukkan semuanya dua garis, Karin keluar dari kamar mandi dengan pikiran yang kalut. Dia berjalan dengan gontai menuju tempat tidur, tubuhnya merosot terduduk di lantai. Dia menyandarkan punggungnya pada tepian bawah tempat tidur, Karin menyentuh perut datarnya.
“Kenapa? Kenapa kamu harus tumbuh di sini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Karin kacau, dia tergugu. Apa yang harus dia katakan pada mama Nirma dan papa Andi, tidak mungkin Karin bilang bahwa saat ini dia sedang hamil. Lebih parahnya dia tidak tahu di mana ayah dari janinnya saat ini, dia hanya tahu pria tersebut bernama Aiden.
Seharian itu Karin hanya meringkuk di tempat tidur, puluhan panggilan telepon dari sang mama dia abaikan. Tak ada satupun pesan maupun panggilan masuk Karin perdulikan, hari itu dia menghilang. Tak ada satupun dari keluarganya yang tahu jika Karin memiliki apartemen, kecuali Rhea sang kakak, Rega dan Aldo yang tadi sempat mengantarnya pulang.
Lelah menangis membuat Karin tertidur hingga petang menjelang, dia terbangun saat merasakan perutnya lapar. Dari sejak siang dia memang belum makan, mendapati kenyataan bahwa dia sedang hamil membuatnya kehilangan nafsu makan.
“Kamu lapar ya, nak?” monolog Karin tiba-tiba sambil mengusap perut datarnya.
Karin bangun dari tempat tidur, dia lebih dulu membersihkan diri dan setelah segar barulah keluar dari kamar. Karin menuju dapur berniat untuk membuat makanan, tapi sayangnya dia tidak bisa memasak dan di kulkasnya hanya ada minuman kaleng. Di lemari dapur dia hanya punya persediaan mi instan, akhirnya Karin mengambil ponsel untuk memesan makanan.
“Nasi kuah soto atau rawon sepertinya enak,” entah kenapa Karin jadi pengen makan yang kuah-kuah, akhirnya dia memesan satu porsi nasi soto dan nasi rawon beserta lauk pelengkap seperti tempe-tahu goreng dan telur pindang. “Es jeruk enak,” monolognya yang menambahkan dua es jeruk ke dalam pesanan.
Karin sejenak lupa dengan kegelisahannya saat makanan yang dia pesan sudah datang, dia kembali menghangatkan kuah soto dan rawon agar lebih terasa mantap saat uap panas masih terlihat mengepul dari mangkoknya.
Malam itu dia melupakan kata diet, perutnya sudah merajuk ingin segera menyantap nasi kuah soto dan rawon beserta kawan-kawan.
“Hmm, enak.” Ucapnya sambil menyeka sudut matanya yang berair, dia tiba-tiba ingat saat Rhea selalu menemaninya makan soto selelah apapun kakaknya tersebut karena jadwal koasnya dulu. “Maafin aku mbak Rhea,” lirihnya bermonolog.
***
“Ngapain kamu di sini?” kesal Rega saat mendapati Aiden yang tiduran di sofa ruang keluarganya.
“Ck...mungutin sampah, tidak lihat apa kalau aku sedang santai? Maklum, anak sulung dirumah ini kan jarang pulang. Sebentar lagi tukar tambah anak sulung,” kelakar Aiden, dia dan Rega sebenarnya tidak sekaku itu meskipun mereka sering berdebat. Itu adalah bentuk Aiden dan Rega saling perduli satu sama lain.
Rega lantas berlalu menuju kamarnya, meninggalkan Aiden yang masih rebahan dengan santainya di sofa.
“Kamu bicara dengan siapa, nak?” mama Indah baru saja masuk ke dalam rumah setelah dari taman belakang.
“Rega, tante. Baru saja naik keatas,” jawab Aiden, mama Indah langsung menghela napas.
“Sepupumu itu, Aiden. Heran tante, padahal hitungan hari pernikahannya. Tapi kelakuan seperti itu,” kesal mama Indah yang mulai curiga gelagat Rega, tante Aiden tersebut merasa ada yang putra semata wanyang nya sembunyikan.
“Tante tenang saja! Aiden yakin kalau ujung-ujungnya Rega akan terbucin-bucin sama Rhea nanti,”
Mama Indah mengaamiinkan ucapan Aiden. “Kamu sendiri bagaimana, nak? Berapa lama tinggal di Bandung?” lanjut mama Indah bertanya pada sang keponakan.
Aiden lantas bangun dan duduk, dia menghela napas berat. Mama Indah melihat itu, dia berpindah duduk di samping putra adik kandung suaminya tersebut. “Ada apa, hmm? Ceritakan apa yang menjadi kegundahanmu, nak! Itu pun kalau kamu bersedia berbagi cerita dengan tante,” mama Indah mengusap punggung Aiden.
“Aiden belum tahu berapa lama di Bandung, tante. Saat ini Aiden ingin mencari seseorang, beberapa waktu lalu Aiden sempat melakukan kesalahan. Aiden hanya ingin minta maaf dan memastikan sesuatu,” jawab Aiden.
“Perempuan?” tebak mama Indah diangguki Aiden. “Kalau begitu jadilah pria yang bertanggung jawab, nak. Apapun yang terjadi kamu harus menemukannya,” tanpa Aiden bicara lebih jauh, mama Indah nampaknya sudah paham apa yang menjadi kegelisahan Aiden.
Aiden memeluk mama Indah. “Terimakasih karena tante sudah jadi rumah ke dua untukku,” ucapnya dengan tulus, rumah mama Indah memang selalu jadi tempat Aiden pulang semenjak ke dua orang tuanya memilih berpisah.
“Kamu juga anak tante, nak. Bagi om dan tante, kamu tidak ada bedanya dengan Rega. Bahkan om minta kamu untuk membantunya di kantor karena dia percaya padamu,” begitulah mama Indah, dia selalu menyayangi dengan tulus meskipun Aiden hanya keponakannya.
“Aku tidak tahu harus bagaimana berterimakasih pada tante dan om, kalian berdua menyayangku melebihi papa dan mamaku. Om Harun bahkan memintaku untuk membantunya di perusahaan,” ucap Aiden tulus.
Mama Indah menepuk punggung tangan Aiden. “Cukup lakukan yang terbaik yang om kamu minta, Aiden. Saat ini harapan mas Harun ada padamu bukan pada Rega,”
Aiden hanya bisa mengangguk dan merasa haru, dia memang tumbuh dalam keluarga broken home. Dia memang kehilangan kasih sayang orang tua kandungnya, tapi di sisi lain dia juga mendapatkan kasih sayang dari om dan tante dari pihak papanya.
Aiden tidak memungkiri jika dirinya senang karena papa Harun mempercayainya untuk membantu di perusahaan, dia tahu benar jika Rega lebih dari mampu untuk membantu papanya. Namun papa Harun lebih memilih Aiden, meskipun saat ini Aiden juga sambil mengembangkan sayap untuk perusahaan miliknya.