Namanya Anna.. Dia anak yang polos namun tangguh, berjiwa bebas dan baik hati.. ia terlahir di sebuah gubuk sederhana di dalam hutan yang jauh dari pemukiman warga, meski hidup sederhana, ia merasa hari harinya selalu dipenuhi kebahagiaan.
Hingga sampai suatu waktu, tragedi menimpa keluarga kecilnya dengan tragis.. Ternyata ayahnya adalah seorang putra mahkota, dan Anna pun tiba tiba menjadi seorang Putri.
bisakah Anna beradaptasi di kehidupan barunya??
Lika liku percintaannya dimulai..inilah kisah Princess Anna..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyah_ell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diana Angelos
"Ibu? Maksud Bibi Apa?" raut wajah Anna sudah terlihat risau.
"Ah.. Apa kau benar benar bodoh? Tentu saja itu adalah pesta pernikahan Ayahmu dan Lady Angelos!"
Sejenak wajah Anna tertunduk, tiba tiba air mata gadis kecil itu mengalir deras, ia menangis dalam diam tanpa mengeluarkan sedikitpun suara membuat Maria kebingungan.
"Ehh.. Jangan nangis! Kenapa kau menangis begini? Apa aku melakukan kesalahan?" ucap Maria yang panik.
Anna hanya terdiam dan terus menangis kemudian berlari pergi. Maria menatap punggung kecilnya dengan sedikit iba.
"Aku jadi merasa bersalah deh.." gumam Maria yang menjadi cemas.
Begitu sampai di kamarnya Anna menutup dirinya rapat rapat dengan selimut di atas tempat tidur. Daisy yang sedari tadi mencarinya pun dibuat kebingungan, tapi Daisy meyakini satu hal, Putri pasti sudah mengetahui situasinya.
"Tuan putri Sylvanna.. Saya sudah menyiapkan air mandi, bagaimana kalau kita mandi dulu kemudian makan?" ucap Daisy dengan lembut.
"Maaf Daisy.. Saat ini aku ingin tidur, pergilah" ucapnya lirih.
"Tapi Yang Mulia..saya akan mendapat masalah kalau anda tidak makan"
"Tolong pergilah Daisy.. Hiks..hiks.." Karena terus diajak bicara membuat Anna semakin tak bisa menahan suara tangisannya. Daisy turut bersedih karenanya.
"Baiklah.. Saya akan berada di depan pintu, panggil saya jika anda butuh sesuatu" Daisy pun berjalan keluar.
.
Hari sudah gelap, istana kembali sunyi karena pesta pernikahan kerajaan telah berakhir, Anna masih mengurung diri di dalam selimutnya.
Sesaat setelah pesta berakhir Maria berpapasan dengan Nicholas di depan aula.
"Selamat ya atas pernikahan Kakak" ucapnya dengan raut wajah meledek.
"Maria.. Bukankah kau masih dalam masa hukuman? Pergi ke kamarmu sana!" ucap Nicholas dengan wajah tak senangnya.
"Ahh brisik! Kusus hari ini aku bebas dari hukuman tahu! Aku mendapat hukuman ini juga karena kakak mengadukanku ke ayah! Dasar jahat!!"
"Sudahlaahh.. Sana menyingkir!"
"Oh ya Kak.. Apa kau tak mengatakan apa apa pada putrimu tentang pernikahanmu?"
"Kalau aku mengatakannya berarti aku sudah gila!"
"Hahh.. Dasar! Pantas saja tadi begitu mengetahui pernikahanmu dia menangis seperti keran bocor!"
"Apa katamu? Anna sudah tahu?" ucap tegas Nicholas yang terkejut.
"Tentu saja lah.. Dia tinggal di istana, pernikahanmu di istana, mana mungkin dia tak mengetahuinya! Ternyata kakak jauh lebih bodoh dari kelihatannya ya.. Ehhh?? Dasar tidak sopan!"
Nicholas pergi bahkan sebelum Maria menyelesaikan ucapannya. Ia berlari menghampiri Anna dengan perasaan campur aduk, langkahnya terhenti di depan pintu kamar putrinya. Disana ada Daisy dan seorang pengawal yang sedang berjaga.
"Salam Yang Mulia.." ucap Daisy memberi salam dengan menundukkan kepalanya.
"Kenapa kau berjaga di sini? Bukankah aku sudah bilang hari ini kau harus terus berada di samping Tuan Putri?" ucap Nicholas, ia berusaha keras menahan amarahnya.
"Maaf Yang Mulia.. Tuan Putri tidak ingin di temani, jadi saya hanya bisa berjaga disini?" jawabnya ragu ragu. "Lalu.. Saya khawatir karena seharian Tuan Putri tidak mau makan Yang Mulia"
"Ini semua salahmu yang tidak becus menjaga Putri!! Kan sudah kubilang jangan sampe Putri keluar kamarnya hari ini saja!!"
Daisy segera bersimpuh di atas lantai "Saya minta maaf Yang Mulia.. Tadi siang saat saya sedang mengambil air Tuan Putri diam diam pergi ke dekat aula pernikahan, sejak kembali Tuan Putri hanya mengurung diri di dalam selimutnya"
Tiba-tiba Nicholas mengeluarkan pedangnya yang panjang, menyodorkan pedang itu di leher Daisy dengan raut wajah di penuhi amarah.
"Mohon ampuni saya Yang Mulia.." Isak Daisy.
Saat itu Anna membuka pintu karena terdengar suara Daisy yang ketakutan.
"Apa yang sedang Ayah lakukan kepada orang yang tidak bersalah?"
Melihat wajah putrinya yang terlihat baik baik saja membuat Nicholas segera melupakan amarahnya, ia segera memasukkan kembali pedangnya.
"Pergilah Daisy!" ucap Anna.
"Baik Putri.."
Anna kembali masuk ke kamar dan Nicholas mengikutinya, Nicholas bersikap hati-hati karena raut wajah Anna yang dingin.
"Ayah datang untuk apa? Sekarang sudah malam, saya mau tidur!" ucapnya acuh.
"Pelayanmu bilang kau belum makan apapun seharian? Ayo makan dulu bersama ayah"
"Tidak! Pergilah Ayah.. Sekarang aku sangat tidak ingin melihat Ayah"
Kata kata Anna begitu menusuk nurani Nicholas, untuk pertama kalinya Putri kecilnya bilang seperti itu.
"Ayah minta maaf.. Ayah harus menikah karena suatu alasan, ayah harap kau bisa mengerti untuk sekali ini saja Sylvanna.."
"Tidak ada yang ingin kukatakan ayah.. Aku hanya kecewa.. Rasanya seperti Ayah sudah mengkhianati Ibu yang baru saja meninggal, apapun alasannya aku tidak akan bisa mengerti!" raut wajah Anna terlihat sangat sedih.
"Sylvanna.. Anggota keluarga raja harus menikah dengan orang yang sudah ditentukan oleh raja, ayah tidak bisa menghindarinya"
"Kalau begitu.. Kenapa ayah menjadi ayahku? Kenapa ayah menikahi Ibu?"
Deg.. Rasanya jantung Nicholas tertusuk oleh fakta yang berusaha ia sembunyikan dari dirinya sendiri.
Sylvanna berbaring di tempat tidur dengan membelakangi ayahnya yang masih duduk di sana, Nicholas yang tidak bisa lagi berkata kata itu akhirnya menyerah membujuk putrinya untuk mengerti, ia pergi dengan perasaan tidak tenang. Sementara Anna yang sendirian kembali menangis mengingat Ibunya.
Keesokan harinya Nicholas datang kembali saat Daisy sedang menyuapi Anna bubur di atas tempat tidurnya, begitu datang Nicholas menggantikan posisi Daisy namun seketika Anna menepis tangan Ayahnya dengan kasar.
"Bisakah Ayah membiarkanku makan dengan tenang bersama Daisy?"
Nicholas terdiam sejenak menatap wajah dingin putrinya "Baiklah.." Nicholas menyerahkan kembali mangkok bubur kepada Daisy, dan menyerahkan juga kursinya.
"Kenapa ayah datang pagi pagi?" ucapnya dengan dingin.
"Ayah ingin memastikan keadaanmu.."
"Aku baik baik saja! Kedepannya pun aku akan baik baik saja, aku sudah besar, jadi ayah tak usah mengurusiku lagi! Jangan menggangguku, aku akan pergi dari istana jika Ayah terus seperti ini!"
"Hah... Sylvanna.. Jangan mengancam ayah.. Kalau kau pergi memangnya kau akan kemana?"
"Aku lebih baik hidup di hutan atau dimanapun dari pada setiap hari melihat Ayah.."
"Jangan bicara begitu Sylvanna.. Kau menyakiti hati ayah.."
Anna terdiam.. Namun tiba tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Yang Mulia.. Putri Mahkota datang berkunjung" ucap pengawal yang berjaga.
Nicholas segera membuka pintu dengan raut wajah tak senang.
"Kenapa kau datang kesini lady Diana Angelos?"
"Apa saya tidak boleh datang kesini Yang Mulia? Tentu saja saya ingin menemui anak sambung saya kan??" wanita itu tersenyum dengan licik.
"Kau hanya akan mengganggunya yang sedang sarapan, kondisinya sedang tidak bagus"
"Ohh.. karena kondisinya sedang tidak bagus maka aku sebagai seorang Ibu harus menjenguknya" Diana menerobos masuk begitu saja.
Pandangan Diana dan Anna akhirnya bertemu, wanita cantik yang menjadi ratu pergaulan sosialita itu tersenyum menyapa Anna, perasaan Anna menjadi semakin buruk.
"Haloo.. Putri kecil.. Perkenalkan, aku adalah Ibumu yang baru!"
Bersambung