Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.
"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"
suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.
"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."
kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.
"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."
Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartemen Niko.
"bagaimana perjalanannya steve, lancar...?" tanya niko sambil mengemudikan mobilnya, sesekali niko menoleh ke arah steve.
"hmm... badan gue capek banget nik, lo tahu gue baru pulang kerja. dan lo lihat, ini sudah hampir tengah malam, dan gue belum istirahat sama sekali." keluh steve sambil meletakkan kepalanya di sandaran kursi penumpang.
"seorang CEO yang sudah sukses di usia muda, dan punya perusahaan di setiap negara. hmm... pantas jika kamu selalu bekerja keras, sampai tak mengenal waktu. dan kesalahan yang lo lakukan saat ini adalah, lo bawa anak lo kerja sama lo."
niko menolah ke arah belakang, melihat sekilas di mana eric tertidur nyenyak.
Helaan nafas tampak terdengar dari steve, niko yang tahu akan semua masalah yang di hadapi sahabat nya hanya bisa menatapnya dengan sendu.
Tangan niko terulur mengelus pelan kepala steve, merasakan elusan dari tangan niko, steve menoleh sambil tersenyum samar.
"lo kuat steve, dan gue yakin lo bisa melewati semuanya." ucap niko memberikan semangat ke steve.
"thanks bro." ucap steve membals niko.
Tak lama mobil niko berhenti di sebuah basemen apartemen mewah milik niko, steve yang tampak tertidur tidak menyadari jika dia sudah sampai di apartemen milik niko.
Niko perlahan mendekati steve, dia sengaja mendekatkan wajahnya melihat dengan intens wajah steve yang masih tampak sama seperti beberapa tahun yang lalu.
"steve..." lirih niko tepat di depan wajah steve.
Niko mendekatkan wajahnya secera perlahan, hembusan nafas steve dapat niko rasakan dengan jelas. hampir saja niko menempelkan bibirnya ke bibir steve, gerakkan nya terhenti saat mendengar lenguhan dari arah kursi belakang.
"papa..." panggil eric dengan suara seraknya, ciri khas bangun tidur.
Seperti biasa steve akan refleks terbangun mendengar suara eric, perlahan steve membuka kedua matanya. pemandangan yang pertama kali steve lihat adalah, wajah niko yang berada tak jauh dari nya.
"niko, apa yang lo lakuin..?" tanya steve penasaran.
"gue mau bangunin lo, tapi lo udah bangun duluan." kilah niko yang tidak ingin steve merasa cangung dan curiga.
"hmm... minggir nik, anak gue udah bangun."
steve segera mendorong tubuh niko pelan, dia ingin segera melihat keadaan eric.
"sayang, sudah bangun...?" tanya steve dengan suara yang di buat selembut mungkin.
"papa, kita di mana...?" tanya eric menatap ke sekeliling.
steve melihat ke arah niko, kemudian beralih melihat ke arah eric.
"kita ada di apartemen teman papa, ayo kita turun. nanti kamu bisa istriahat di dalam kamar om niko." bujuk steve agar eric tidak rewel.
Anggukan dari eric membuat steve merasa lega, dengan perlahan steve membuka pintu mobil. tapi gerakkannya terhenti saat tiba tiba eric sudah membukakan pintu untuknya.
"sejak kapan lo keluar dari dalam mobil nik...? tanya steve penasaran.
Niko tidak menjaawab pertanyaan niko, dia memilih membukakan pintu untuk steve keluar, dengan penuh perhatian tangan kanan niko dia letakkan di atas pintu mobil, dia ingin melindungi steve agar kepalanya tidak terbentur body atas mobil.
Steve yang sudah biasa dengan cara niko memperlakukannya hanya bisa diam, dia segera membuka pintu mobil di bagian belakang.
"ayo sayang, kita turun." ajak steve sambil mengarahkan kedua tangannya untuk menggendong eric.
Sedangkan niko memilih mengambil koper milik steve di bagasi belakang, tatapan mata steve tampak menelisik basemen apartemen. dia merasa tidak asing dengan tempat ini, niko yang merasa penasaran melihat reaksi steve segera mendekatinya.
"apa ada yang salah...?" tanya niko menatap ke arah steve.
"nik... ini apartemen lo...? bukannya lo bilang lo pindah ke apartemen blue sea...?" tanya steve yang
ingin mendengar jawaban dari niko.
"hmm... tadinya iya, aku pindah ke sana. tapi apartemen itu di tempati tari adik gue, jadi yah... akhirnya gue cari apartemen dan akhirnya memutuskan untuk pindah ke sini." jawab niko dengan santai.
Niko berjalan lebih dulu mendekat ke arah pintu lift, sambil membawa koper milik steve. langkahnya terhenti melihat pintu lift yang masih tertutup, steve yang mengendong eric memilih diam sambil mengikuti langkah panjang niko.
pintu lift yang tampak terbuka menyegerakan steve dan niko berjalan masuk ke dalam, lantai ke tiga puluh menjadi tujuan mereka. sedangkan eric yang kembali tertidur hanya diam tanpa bereaksi apapun, steve berulang kali mengelus rambut lembut dan wangi milik eric.
"sepertinya kamu sayang banget sama anak itu." tanya niko menatap steve.
"hmm... rasanya hidupku semakin hidup setelah dia ada di sampingku." jawab steve mencium lembut kepala eric.
Niko dapat melihat jika steve sesayang itu dengan eric, pintu lift yang sudah tampak terbuka segera membawa steve dan niko mengerakkan kakinya keluar dari kotak besi yang mengantarkan mereka ke tempat apartemen niko.
Suara tombol yang di tekan mengisi kekosongan dan kesunyian lorong apartemen Niko, bunyi nada kelik yang terdengar membuat Niko dapat segera menekan handel pintu.
Bau green tea menunjuk indra penciuman Steve, rasa tenang dan nyaman berada di dalam ruang apartemen Niko membuat Steve ingin segera merebahkan tubuhnya.
“Lo tidur sama gue, kebetulan kamar sebelah belum gue bersihkan. Besok biar petugas kebersihan apartemen yang membersihkannya, untuk malam ini lo nggak apa apa tidur bareng gue kan.” Niko menatap Steve penuh harap.
“Hmm… That’s okey… aku akan membersihkan diri dulu, rasanya lengket banget badan gue.” Ucap Steve yang ingin Niko segera memimpin jalannya menuju ke dalam kamar Niko.
“Oke, ikut gue.” Niko berjalan menunjukan kamar miliknya, ruangan dengan cat abu abu terlihat sangat elegan dan menawan bagi Steve.
“Lo masih sama nik, suka warna abu abu dan wangi ruangan dengan wangi green tea.” Ucap Steve segara menidurkan eric.
Niko tersenyum samar, dia melihat Steve yang perlahan membuka jas kerjanya setelah menidurkan eric.
“Gue pinjam kamar mandinya.” Steve berjalan ke arah dimana koper miliknya berada, dia mengambil beberapa baju dan celana santai miliknya.
“Lo pakai handuk gue yang ada di kamar mandi, dan malam ini lo enggak apa apa tidur satu ranjang sama gue.” Tanya Niko memastikan sekali lagi.
“Iya enggak apa apa, dulu kita juga pernah tidur bareng juga kan. Ngapain lo tanya…? Memang apa salahnya…? Kita berdua sama sama laki laki juga, beda cerita kalau gue cewek.” Canda Steve sambil melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Niko memilih menganti bajunya dengan piyama, malam ini dia akan langsung tidur. Niko yang hapal dengan sifat Steve, pasti tidak akan mau dia buatkan makanan atau minuman jika Steve sudah kelah seperti sekarang.
Pintu kamar mandi yang terbuka memperlihatkan Steve dengan penampilan santainya, Niko yang melihat Steve berusaha menormalkan detak jantungnya yang tiba tiba berdetak dengan kencang melihat penampilan Steve.
“Gue tidur tengah aja ya nik, gue takut jika eric bangun dia asing lihat muka lo.” Pinta Steve yang mendapat angukan dari Niko.
Dengan segera Steve membaringkan dirinya di atas ranjang Niko, sedangkan Niko segera menyusul Steve. Dia tidur tepat di samping Steve, tubuh Steve yang miring menghadap ke arah eric sedangkan Niko masih terjaga dengan kedua matanya yang masih terbuka.
Dengkuran halus dari Steve membuat Niko yakin jika Steve sudah tertidur pulas, Niko segera membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Steve. Perlahan tangannya memeluk perut rata milik Steve, rasa hangat dari tubuh Steve dapat Niko rasakan.
“Makasih eric, kamu sudah membantu om Niko.” Batin Niko sambil mencium punggung steve dalam.