NovelToon NovelToon
MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.

Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?

Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBENARAN YANG TERUNGKAP.

Mansion megah peninggalan Muzammil menyambut kepulangan mereka dengan suasana yang mengharu biru. Begitu pintu mobil dibuka, para pelayan dan penjaga keamanan langsung berhamburan mendekat. Wajah-wajah yang biasanya kaku itu kini basah oleh air mata, namun ada binar lega saat melihat sosok Assel turun dari mobil.

"Nyonya... Syukurlah Nyonya pulang dengan selamat," isak Mbok Ratmi, kepala pelayan di sana, sambil memeluk lengan Assel.

Maheer berdiri di samping mobil, memperhatikan pemandangan itu dengan kening berkerut. Ia melihat bagaimana para penjaga yang tempo hari ia maki karena kecolongan, kini justru membungkuk hormat dengan tulus pada Assel. Tidak ada rasa takut, yang ada hanyalah kasih sayang yang nyata.

"Hans, kenapa mereka bersikap seperti itu?" bisik Maheer saat Assel mulai melangkah masuk ke dalam rumah. "Mereka tampak seperti baru saja melihat malaikat penolong."

Hans mengangguk pelan. "Itu karena Nyonya memang sangat menyayangi mereka, Tuan Maheer. Beliau sudah menganggap semua pekerja di sini sebagai bagian dari keluarga sendiri."

Maheer mendengus sinis, teringat kejadian pelarian tempo hari. "Pantaskah mereka disebut profesional? Memberi kopi berisi obat tidur pun mereka tidak curiga."

"Sebab Nyonya memang sering memberikan mereka makanan atau minuman sebagai bentuk perhatian. Jadi, mereka tidak pernah punya alasan untuk curiga, Tuan," timpal Hans apa adanya.

"Hoo, jadi kalian semua begitu memuja majikan kalian, ya?" Maheer tersenyum miring, matanya menatap punggung Assel yang menjauh. "Pantas saja dia menganggap kalian saudara. Kastanya memang sama dengan kalian, dari kalangan bawah."

Hans terdiam sejenak, lalu menatap Maheer dengan keberanian yang jarang ia tunjukkan. "Maaf jika saya lancang, Tuan Muda. Tapi Anda salah. Nyonya Assel mungkin lahir dari keluarga sederhana, tapi beliau adalah wanita dengan pendidikan tinggi. Beliau adalah desainer fashion terkenal dan pemimpin di perusahaannya sendiri. Namun beliau tetap rendah hati tidak sombong. Itulah mengapa semua bawahannya sangat menghormatinya."

Maheer tertegun, langkahnya terhenti seketika. "Apa kau bilang? Desainer? Pemimpin perusahaan? Jangan bercanda, Hans. Dia langsung menikah setelah lulus SMA. Dia tidak punya pekerjaan, apalagi perusahaan."

"Tuan Muzammil menguliahkan Nyonya di universitas desain ternama di Jakarta segera setelah mereka menikah. Tuan Muda Muzammil jugalah yang menghadiahkan sebuah perusahaan pakaian sebagai mas kawin yang kini sudah berkembang pesat di tangan Nyonya," jelas Hans panjang lebar.

Maheer terpaku di tempatnya berdiri. Rasa malu menyengat dadanya. Ia teringat ucapannya di pemakaman yang merendahkan Assel sebagai wanita miskin, tak punya pekerjaan, wanita yang tak berdaya. Tapi ternyata, selama lima tahun ia menutup mata dan telinga, Assel telah bertransformasi menjadi sosok yang jauh di atas bayangannya.

Maheer melangkah masuk ke ruang makan dengan pikiran yang masih berkecamuk. Di sana, ia melihat Assel sedang menata piring dibantu Mbok Ratmi. Tidak ada pelayan yang melayaninya, Assel justru yang sibuk menyiapkan keperluan Razka.

"Ayo sayang, makan dulu sedikit ya," bujuk Assel lembut sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulut putranya.

Maheer duduk di kursi seberang, namun kehadirannya seolah dianggap angin lalu oleh Assel. Di sela-sela makannya, tiba-tiba Razka menatap Maheer dengan mata bulatnya yang polos, lalu beralih menatap kursi kosong di samping ibunya.

"Mama... Papa mana? Kenapa Papa tidak ikut makan bersama kita?" tanya Razka dengan suara mungil yang memecah keheningan.

Suasana mendadak kaku. Maheer merasa jantungnya seperti diremas. Assel terdiam, tangannya yang memegang sendok gemetar hebat. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang mulai mengenangi pelupuk matanya.

"Nak, Papa sekarang sudah berada di sisi Allah, Sayang," jawab Assel dengan suara yang diusahakan tetap tenang. "Allah sangat menyayangi Papa, karena Papa orang yang sangat baik terhadap siapa pun."

Maheer tertunduk dalam. Kata-kata "Papa orang yang sangat baik" terasa seperti tamparan keras baginya. Ia tahu, secara tidak langsung, egonyalah yang telah merenggut nyawa pria baik itu. Seandainya saja ia tidak memaki kakaknya di rumah sakit, seandainya ia berhenti sejenak untuk mendengar penjelasan Muzammil, dan seandainya saja ia mendengar teriakan kakaknya, mungkin kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi. Dan Assel tidak menjadi janda, sedangkan Razka tidak menjadi anak yatim.

"Setelah makan, kita Sholat Isya ya, Razka? Kita doakan Papa agar tenang di sana," ajak Assel tanpa menoleh sedikit pun pada Maheer.

Begitu selesai menyuapi Razka, Assel langsung menggendong putranya dan tanpa berbasa-basi ia berjalan menuju lantai dua, meninggalkan Maheer sendirian di meja makan yang penuh dengan hidangan yang menggugah selera. Namun, rasa lapar Maheer hilang seketika. Ia menyeka air matanya yang nyaris jatuh, lalu berdiri dengan gontai.

Maheer menaiki anak tangga menuju lantai dua, bermaksud beristirahat di kamar tamu. Namun, saat melewati kamar utama yang dulu ditempati Muzammil dan Assel, langkahnya terhenti seketika, karena ia melihat pintu kamar itu sedikit terbuka.

Dari dalam, terdengar suara merdu Assel yang sedang mengajarkan Razka mengaji. Maheer bersandar di dinding, mendengarkan lantunan ayat suci yang keluar dari bibir wanita yang ia benci itu. Suaranya terdengar sangat menenangkan, hingga akhirnya ia mendengar suara Razka yang mulai tertidur.

Tak lama kemudian, hanya terdengar suara Assel seorang diri. Ia sedang mengaji, melanjutkan bacaannya. Pada awalnya, suaranya terdengar sangat merdu dan stabil. Namun perlahan, nada suaranya berubah menjadi getaran yang pilu.

"Astaghfirullah... Mas Muzammil..." isak Assel di sela-sela bacaan ayatnya.

Suara isakan itu semakin jelas. Assel mengaji sambil menangis sesenggukan, menumpahkan segala duka yang selama ini ia tahan di depan semua orang. Dada Maheer terasa sesak sekali mendengarnya. Kesedihan itu begitu nyata, begitu dalam, hingga Maheer merasa dirinya adalah penjahat terbesar di rumah ini.

"Kau benar-benar menderita, Sel," gumam Maheer lirih.

Ia tidak sanggup mendengar lebih lama lagi. Dengan langkah berat, ia segera menuju kamar tamu yang terletak tepat di samping kamar Assel. Maheer mengempaskan tubuhnya ke tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan perasaan hancur. Kebencian yang selama ini ia pelihara mulai retak oleh kenyataan bahwa wanita yang ia anggap musuh, ternyata adalah korban paling terluka dari tragedi ini.

Malam itu, di bawah atap yang sama, dua jiwa yang terluka berada dalam keheningan yang menyakitkan. Maheer tersadar, menikahi Assel bukan hanya tentang menjalankan wasiat, tapi juga tentang menghadapi cermin kesalahannya sendiri setiap hari. Dan ia tidak tahu, apakah ia cukup kuat untuk melakukan itu.

1
Nana Biella
rasa percaya hilang setelah melihatmu her
Nur Halida
bukannya masih nikah siri??
Lia siti marlia
hehehe itu kan jurang yang kau ciptakan sendiri maher jadi nikmatilah 🤭🤭🤭
partini
hemmm see muncul jalangkung wkwkkk
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
Radya Arynda
semangaaat up up up💪💪💪💪
Rarik Srihastuty
ceritanya bagus
Radya Arynda
ceritqnya bagus👍👍👍👍
Radya Arynda
semangaat up
Lia siti marlia
swmoga saja 💪selamat berjuang maherr💪😍
Silvia
cerita nya bagus
partini
💯bayang masa lalu lah apa lagi nanti yg 7 tahun di luar negri ga mungkin ga punya something apa lagi pergi pas hati kesal ,,siap" aja si jaelnagkung datang minta pertanggungjawaban
Irni Yusnita
ceritanya menarik 👍 sekaligus enak dibaca, lanjut Thor 👍
Daulat Pasaribu
seru juga novelnya thor...lanjut dong thor😍
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪💪
Lia siti marlia
sedikit sedikit mulai mencair mulai saling menerima 😍😍🤭
Nur Halida
berarti maheer amat sangat bodoh banget sekali😁
Nur Halida
kok bisa langsung menikah ya bukannya nunggu masa iddah dulu baru boleh menikah??walau selama masa iddah gak akan di sentuh ..
apa aku yg kurang paham agama atau gimana ini??
karena setauku gitu nunggu massa iddah dulu baru menikah
Nana Biella
semangat untuk semuanya
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪
Lia siti marlia
mudah mudahan kedepannya baik santi mertua assel berubah mau menerima assel dengan tangqn terbukq begitu jugq si bayi kolot pasti bentar lagi bakalan bucin tuh bayi kolot🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!