NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Beda Usia / CEO
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Garis Lurus dan Titik Balik

​Suara derit roda ranjang yang didorong dengan kasar beradu dengan teriakan panik para perawat. Namun, di telingaku, semuanya terdengar seperti kaset kusut yang diputar di bawah air. Berdengung. Menyakitkan.

​Tit... tit... tiiiiiiiiiiit.

​Bunyi konstan dari monitor jantung itu adalah suara paling menakutkan yang pernah diciptakan manusia. Aku melihat Bumi berlari mendahuluiku, kemeja batiknya yang rapi kini kusut berantakan. Langkah kakinya yang panjang menghantam lantai linoleum rumah sakit dengan putus asa. Hajah Fatimah nyaris pingsan di pelukanku, membuatku harus memapahnya dengan sisa tenaga yang kumiliki.

​Kami tiba di depan pintu kaca geser ruang ICU tepat saat seorang dokter melompat ke atas ranjang Sifa, menempelkan alat kejut jantung ke dada gadis kecil yang terlihat semakin ringkih itu.

​"Sifa! Sifa!, ini Mas, Dek!"

​Bumi menghantam kaca ruangan itu dengan kedua tangannya. Suaranya pecah, sebuah raungan purba dari seekor serigala yang sedang melihat kawanannya dibantai. Dia mencoba menerobos masuk, namun dua orang satpam menahannya dari belakang.

​"Pak, tolong tenang! Biarkan dokter bekerja!" teriak salah satu satpam, mencoba menarik Bumi menjauh.

​Namun Bumi meronta hebat. Tenaganya berlipat ganda oleh adrenalin dan keputusasaan. "Lepaskan! Dia adik saya! Sifa, bangun! Kamu sudah janji mau lihat Mas nikah, kan?! Sifa!!"

​Ulu hatiku seolah diremas oleh tangan tak kasatmata. Udara di sekitarku mendadak habis. Aku, Aruna Wiratmadja, yang terbiasa melihat angka miliaran rupiah menguap di pasar saham tanpa berkedip, kini mendapati kedua lututku bergetar hebat hanya karena melihat air mata seorang pria.

​Aku menyerahkan Hajah Fatimah yang sudah terkulai lemas kepada Sarah, lalu melangkah maju. Tanpa mempedulikan tatapan orang-orang, tanpa memikirkan citra diriku, aku menerobos kedua satpam itu dan memeluk Bumi dari belakang.

​Aku melingkarkan kedua lenganku di dadanya yang naik turun dengan liar. Aku menyandarkan sisi wajahku di punggungnya yang keras dan bergetar.

​"Bumi, istigfar... istigfar," bisikku di sela isak tangisku sendiri, entah dari mana aku mendapatkan kosakata itu. "Biarkan dokter menolongnya. Kamu suamiku sekarang. Kamu tidak sendirian. Kita tunggu di sini, ya? Tolong... demi Sifa."

​Tubuh Bumi menegang seketika saat mendengar kata 'suamiku'. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti berputar. Rontaannya mereda. Perlahan, tenaganya mengendur, dan tubuhnya yang besar merosot jatuh ke lantai. Aku ikut bersimpuh di belakangnya, masih memeluknya erat, menolak untuk melepaskannya.

​Di detik ini, aku menyadari satu hal yang mengerikan sekaligus indah: aku bukan lagi bosnya. Aku bukan lagi janda yang sedang mencari perlindungan. Aku adalah istrinya. Dan rasa sakit pria ini, adalah rasa sakitku juga.

​Di dalam ruangan, bunyi alat kejut jantung terdengar berdengung. Tubuh kecil Sifa tersentak ke atas ranjang.

​"Tiga ratus joule. Clear!" seru dokter dari dalam.

​Tiiiiiiiiit. Masih garis lurus.

​Bumi menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya. Tangan besarnya meremas tanganku yang masih melingkar di dadanya. Genggamannya begitu erat, seolah aku adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak terseret badai kewarasan.

​"Ya Allah... jangan ambil dia sekarang," gumam Bumi parau, nyaris seperti rintihan. "Hamba mohon... tukar saja dengan nyawa hamba. Jangan dia..."

​"Ssst... jangan bicara begitu," bisikku, air mataku jatuh menetes ke punggung kemejanya. Aku mengelus dadanya yang sesak, mencoba memberikan ketenangan yang sebenarnya juga tidak kumiliki.

​"Satu kali lagi. Tiga ratus lima puluh joule. Clear!"

​Jedug. Tubuh Sifa kembali tersentak.

​Hening sejenak. Aku menahan napas hingga paru-paruku terasa mau meledak. Bumi mempererat genggamannya di tanganku, menyalurkan rasa dingin dari jemarinya yang kehilangan darah.

​Lalu... bunyi itu berubah.

​Tit. Tit. Tit.

​Iramanya lemah, lambat, namun itu bukan lagi garis lurus. Itu adalah detak kehidupan.

​Dokter di dalam menghela napas panjang, mengusap keringat di dahinya, lalu memberikan instruksi cepat kepada para perawat untuk memasang ventilator dan memasukkan cairan ke dalam infus.

​Aku merasakan napas panjang berembus dari tubuh Bumi. Dia menoleh ke arahku, wajahnya kacau balau, basah oleh air mata, namun matanya memancarkan kelegaan yang tak terlukiskan. Tanpa berpikir panjang, dia menarikku ke depan dan memelukku erat.

​Wangi kasturi dan keringatnya memenuhi indra penciumanku. Pelukannya begitu kuat, protektif, namun sangat rapuh di saat bersamaan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku dipeluk bukan karena tubuhku, bukan karena hartaku, melainkan karena kehadiranku.

​"Alhamdulillah," bisiknya di telingaku, suaranya bergetar. "Terima kasih... terima kasih karena tidak pergi, Aruna."

​Aku membalas pelukannya, menenggelamkan wajahku di ceruk lehernya. "Aku istrimu sekarang, Bumi. Aku tidak akan ke mana-mana."

​Tiga jam berlalu. Pukul dua dini hari.

​Hajah Fatimah sedang beristirahat di kamar rawat kosong yang disewakan oleh pihak rumah sakit berkat campur tangan Sarah. Sifa sudah stabil, namun dokter terpaksa menempatkannya dalam kondisi koma induksi medis agar jantung dan otaknya bisa beristirahat dari trauma cardiac arrest yang baru saja ia alami. Setidaknya, dia hidup.

​Aku dan Bumi duduk berdampingan di kursi besi koridor ICU yang dingin. Bumi sudah mencuci wajahnya dan menggulung lengan kemejanya hingga siku. Dia menatap kosong ke lantai, memutar-mutar cincin kawin perak murah—yang tadi dibeli Sarah dari satpam rumah sakit—di jari manisnya.

​Sementara itu, pikiranku yang sempat lumpuh oleh kepanikan, perlahan mulai bekerja kembali sebagai seorang CEO. Peringatan bahaya kembali berdering di kepalaku. Aku teringat pada ponselku yang masih kumatikan sejak insiden di musholla tadi.

​Sarah muncul dari ujung koridor. Langkah kakinya terdengar terburu-buru. Wajah sekretarisku itu terlihat seperti baru saja melihat hantu.

​"Bu Aruna," panggilnya lirih, melirik sekilas ke arah Bumi dengan ragu.

​"Bicara saja, Sarah. Dia berhak tahu," kataku, meluruskan punggungku. Zirah CEO-ku perlahan mulai terpasang kembali, namun kali ini, ada tangan Bumi yang menggenggam tanganku di sisiku.

​Sarah menelan ludah. "Berita itu... sudah menjadi headline nasional, Bu. 'Skandal Wiratmadja Tech'. Saham kita anjlok lima belas persen pada pembukaan pasar di New York beberapa jam lalu. Investor panik."

​Bumi menoleh, keningnya berkerut. "Berita apa yang kalian bicarakan?"

​Aku memejamkan mata sejenak, lalu memberikan isyarat pada Sarah untuk menyerahkan tabletnya. Kuulurkan tablet itu pada Bumi.

​Bumi membaca layar itu dalam diam. Matanya menyusuri setiap kata, setiap kalimat fitnah yang dirangkai dengan sangat rapi oleh tim public relation sewaan Lukman. Foto saat kami berhadapan di koridor diubah narasinya menjadi adegan di mana aku sedang 'mengancam' karyawan miskin untuk menikahiku demi menutupi jejak pembunuhan Adrian. Semuanya diputarbalikkan.

​Aku bersiap melihat kemarahan di wajah Bumi. Aku bersiap jika dia merasa muak, merasa dimanfaatkan, atau bahkan menyesali ijab kabul yang baru saja ia ucapkan beberapa jam yang lalu.

​Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

​Bumi tidak melempar tablet itu. Dia meletakkannya dengan tenang di atas kursi kosong di sebelahnya. Dia menoleh ke arahku, dan matanya tidak memancarkan ketakutan atau rasa jijik. Matanya memancarkan kilat peperangan. Sebuah insting melindungi yang belum pernah kulihat dari pria mana pun.

​"Lukman yang melakukan ini?" tanya Bumi, nadanya sangat datar, jenis kedataran yang mendahului sebuah ledakan.

​Aku mengangguk pelan. "Dia sengaja membocorkan ini bertepatan dengan waktu pasar saham Eropa dan Amerika buka. Tujuannya satu: menciptakan krisis kepercayaan global. Jika dewan direksi panik, mereka akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB)."

​"Dan mencopot posisi Anda secara tidak hormat," sahut Bumi, menyambung logikaku. Dia terdiam sejenak, tampak berpikir keras. Otak analitisnya sebagai seorang peretas dan programmer mulai bekerja. "Mereka menyerang titik terlemah Anda, Aruna. Opini publik."

​"Apa yang harus kita lakukan, Bu?" Sarah bertanya dengan suara bergetar. "Pak Lukman baru saja mengirim email massal ke seluruh direksi. Beliau meminta sidang RUPSLB darurat besok pagi jam sembilan. Jika Anda tidak hadir dan tidak bisa mengklarifikasi... hak veto mereka akan turun."

​Aku melihat jam di pergelanganku. Pukul 02.30 pagi. Kami hanya punya waktu kurang dari tujuh jam untuk membalikkan keadaan.

​Rasa lelah yang amat sangat menghantam bahuku. Aku ingin menyerah. Aku ingin meringkuk di ranjang dan membiarkan Lukman mengambil semuanya. Tapi saat aku melihat ke arah ruang ICU tempat Sifa berjuang untuk hidup, dan merasakan genggaman tangan suamiku, aku tahu mundur bukanlah pilihan.

​"Kita akan hadir," kataku akhirnya, suaraku kembali dingin dan tajam. "Sarah, siapkan gaun terbaikku. Hubungi Head of Legal kita, minta dia menyiapkan semua dokumen pernikahan ini yang sudah dilegalisir malam ini juga. Kita akan tunjukkan pada mereka bahwa ini bukan pernikahan paksa."

​"Aruna," suara Bumi menginterupsi. Aku menoleh padanya.

​Dia menatapku dengan intens. "Dokumen saja tidak cukup untuk melawan fitnah pembunuhan. Publik tidak peduli pada kertas legal; mereka peduli pada drama. Jika Anda hanya datang membawa surat nikah, mereka akan mengira Anda benar-benar memaksa saya dan menyuap KUA."

​"Lalu aku harus apa?!" tanyaku frustrasi. "Aku tidak punya bukti konklusif kalau Lukman yang mensabotase mobil Adrian!"

​Bumi melepaskan tanganku, lalu berdiri. Dia merapikan kerah kemejanya yang berantakan, postur tubuhnya perlahan berubah dari seorang kakak yang hancur menjadi seorang pria yang siap melindungi wilayahnya.

​"Anda melupakan satu hal, Aruna," kata Bumi, suaranya kini dipenuhi otoritas yang membuatku merinding kagum. "Mereka menuduh Anda memaksa seorang karyawan bawahan yang lemah dan miskin. Mereka menjual narasi bahwa saya adalah korban dari kekuasaan Anda."

​"Itu benar, dan itu sangat merusak citraku," jawabku.

​Bibir Bumi melengkung membentuk senyum tipis yang mematikan. "Maka besok pagi... kita hancurkan narasi itu. Besok pagi, Anda bukan CEO yang sedang menyeret paksa bawahannya. Besok pagi, Anda adalah istri yang sedang dilindungi oleh suaminya."

​Aku dan Sarah saling berpandangan, bingung. "Bumi, apa maksudmu??"

​Bumi menatap Sarah dengan tajam. "Mbak Sarah, saya butuh laptop dengan spesifikasi tertinggi yang bisa Anda bawa ke mari dalam tiga puluh menit. Dan pastikan koneksi internetnya menggunakan jalur VPN perusahaan yang terenkripsi tingkat militer."

​Sarah menganga sejenak sebelum menatapku meminta persetujuan. Aku mengangguk tegas. "Lakukan apa yang dia minta, Sarah. Sekarang!."

​Setelah Sarah berlari pergi, Bumi kembali duduk di sebelahku. Dia menatapku dalam-dalam, mengangkat tanganku, dan mengecup punggung tanganku dengan lembut—sebuah gerakan yang sangat alami hingga membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat.

​"Pernikahan ini dimulai dari sebuah kode yang saya retas di komputer Anda, Aruna," bisik Bumi, matanya berkilat di bawah lampu koridor yang temaram. "Malam ini, biarkan saya menuliskan satu baris kode terakhir... untuk meretas balik seluruh kerajaan yang sedang dibangun oleh paman Anda. Malam ini, junior programmer itu sudah mati. Mulai besok, saya adalah suami dari Aruna Wiratmadja."

​Udara di sekitarku seolah ditarik paksa. Pernyataannya bukan sekadar janji kosong. Di balik kesederhanaan pakaiannya dan kelembutan hatinya, Bumi Arkan menyembunyikan sebuah pedang tak terlihat yang baru saja ia cabut dari sarungnya.

​Dan besok pagi, seluruh dewan direksi Wiratmadja Tech akan merasakan tajamnya bilah pedang itu.

​____________________________________________

​Pukul 08.45 pagi. Lobi utama gedung Wiratmadja Tech diblokade oleh puluhan wartawan. Saat mobil SUV hitam milik Aruna berhenti di depan lobi, lampu kilat kamera menyambar bertubi-tubi bak badai petir. Pintu terbuka, namun bukan Aruna yang keluar lebih dulu.

​Seseorang melangkah keluar dengan setelan jas hitam bespoke yang membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna. Dia bukan lagi pria ber-hoodie kusam. Bumi Arkan berdiri di sana, menatap tajam ke arah kamera, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Aruna keluar. Saat seorang wartawan meneriakkan pertanyaan tajam, "Apakah benar Anda diancam akan dibunuh jika tidak menikahi Ibu Aruna?!", Bumi berbalik, menatap langsung ke lensa kamera, dan memberikan jawaban yang membuat seluruh lobi itu seketika hening membeku.

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐡 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 😊😊😊😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐩𝐚𝐠𝐢😭😭😭

𝐮𝐩 𝐲𝐠 𝐛𝐧𝐲𝐤𝟐 𝐭𝐡𝐨𝐫 🤪🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
😭😭😭😭😭𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐲𝐚 𝐚𝐥𝐥𝐚𝐡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐦𝐧 𝐧𝐢𝐡 𝐬𝐢𝐡 𝐛𝐮𝐦𝐢, 𝐝𝐥𝐮 𝐛𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐧𝐲𝐚 𝐩𝐠𝐧 𝐬𝐞𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐫 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐥𝐠


𝐥𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐠𝐤 𝐦𝐚𝐮 𝐝𝐢𝐡𝐮𝐛𝐮𝐧𝐠𝐢 𝐥𝐠 😡😡😡😡


𝐦𝐞𝐦𝐛𝐢𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐡𝐚𝐝𝐞𝐡, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐠𝐫𝟐 𝐢𝐛𝐮𝐧𝐲𝐚, 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐛𝐞𝐧𝐜𝐢 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐢𝐛𝐮𝐧𝐲𝐚😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚 𝐝𝐩𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢😘😘😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐚𝐪 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐣𝐠 𝐬𝐞𝐧𝐲𝐮𝐦 😭😭😭 𝐲𝐚 𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐭𝐩 𝐢𝐧𝐢 𝐠𝐤 𝐥𝐮𝟐𝐬𝟐 𝐥𝐨 𝐤𝐚𝐤 😭😭😭
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐦𝐞𝐧𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐩𝐢𝐡𝐚𝐤 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 😭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
😭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐡𝐚𝐝𝐮𝐡 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐛𝐞𝐧𝐜𝐢 𝐬𝐦 𝐢𝐛𝐮𝐧𝐲𝐚 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐢𝐤𝐮𝐭 𝐬𝐞𝐬𝐚𝐤 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐡𝐧 𝐧𝐚𝐩𝐚𝐬 𝐬𝐞𝐩𝐧𝐣𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐛𝐚𝐛 𝐧𝐲𝐚 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐣𝐚𝐡𝐚𝐭 𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐢 𝐚𝐧𝐣𝐢𝐧𝐠 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐢𝐤𝐮𝐭 𝐭𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐧𝐚𝐩𝐚𝐬 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐣𝐠𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐝𝐥𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐥𝐦 𝐦𝐥𝐦 𝐩𝐫𝐭𝐦 😭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐢𝐤 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐚𝐠𝐚𝐤 𝐧𝐠𝐞𝐥𝐞𝐠 𝐚𝐪
𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐛 𝐬𝐞𝐛𝐥𝐦 𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐤𝐚𝐩 𝐦𝐮𝐥𝐮𝐭 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐮𝐚𝐫𝐚 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐲𝐠 𝐦𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐤 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐤𝐦𝐫 𝐦𝐫𝐤

𝐭𝐩 𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐛 𝐢𝐧𝐢 𝐤𝐨𝐤 𝐮𝐝𝐡 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐞𝐥𝐚𝐡𝐢 𝐝𝐢 𝐝𝐩𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐚𝐫, 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢 𝐝𝐩𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐚𝐫 𝐛𝐫𝐭𝐢 𝐩𝐬𝐬 𝐦𝐫𝐤 𝐤𝐚𝐧 𝐮𝐝𝐡 𝐦𝐚𝐮 𝐛𝐮𝐤𝐚 𝐤𝐮𝐧𝐜𝐢? 😊😊😊

𝐜𝐛 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐛 𝐬𝐛𝐥𝐦 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐚𝐠 𝐞𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠 𝐚𝐣𝐚

𝐟𝐨𝐤𝐮𝐬 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭😘😘😊😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐨𝐤 𝐬𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘
total 4 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐤 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐮𝐦𝐢, 𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐡 😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐚𝐣𝐚 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐝𝐮 𝐛𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐫𝐮𝐧 🤪🤪
Pardjan Yono
duh2 ..... aku liat bang Rendra senyum2 , saham nya kan 20%
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐧𝐞𝐠𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!