Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.
Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...
Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.
Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 : ANTARA TRAUMA DAN RASA AMAN KIRANA
Malam itu terasa lebih dingin dari malam malam sebelumnya. Ditambah hujan yang mulai turun dengan derasnya mengguyur seisi kota, membasahi apapun yang ada dibawah nya.
Di Dalam kamar,
Kirana masih memunggungi Arga di kasur. Matanya terpejam
tapi dia belum tertidur. Sesekali masih mebuka matanya. Sedangkan Arga, Arga masih duduk di sofa dengan selimut yang tidak bisa menghangatkan dadanya.
Tiba-tiba, lampu seluruh rumah padam. Gelap. Hanya suara hujan deras yang menghantam jendela dan angin kencang yang mengaung di luar.
JDEERRR...
Suara petir menyambar tepat di atas atap rumah.
Tubuh Kirana langsung gemetar. Napasnya tiba-tiba sesak. Tangannya gemetar tanpa bisa Dia kendalikan.
“Kirana?” panggil Arga pelan dari sofa.
Tapi Kirana tidak menjawab. Dia langsung meringkuk di sudut kasur. Kedua tangannya menutup telinga erat-erat. Matanya terpejam rapat. Bibirnya bergetar. wajahnya berubah pucat.
“Ak..aku.. ta..kut.” gumam Kirana pelan. Suaranya hampir tidak terdengar.
“Hujan... petir... gelap...” pikir Kirana. Dadanya sesak seperti ada bongkahan batu besar yang menindihnya.
Flashback menyerang tanpa ampun.
Malam itu, malam yang tiba-tiba gelap. Lampu Rumah padam karenakan listrik rumah padam.
Kirana yang terbangun dari tidurnya karena suara petir yang menyambar. Dengan kondisi rumah yang gelap gulita, Dia mendatangi kamar orang tuanya. Tadi dia sempat mendengar suara Papanya. Saat dia sampai di pintu kamar dirinya terdiam. Yang dia lihat. Nyonya Anastasya terbaring di ranjang, Pak Harsono menangis pilu disamping tubuh istrinya. Detak jantung Kirana berdetak lebih cepat. Dia berjalan pelan mendekati Ranjang.
"Pah mama kenapa..? " akhirnya Kirana memberanikan bertanya.
"kenapa mama terbaring diam...?Kenapa tidak bergerak..?Kenapa Tidak bernafas..?" Bibir Kirana bergetar.
" Kirana sayang, maafin Papa nak. Papa gak bisa jaga Mama.. hiks.. hikss " ucap pak Harsono
seraya memeluk putrinya erat.
Saat itu juga... hujan turun sangat deras. Petir menyambar tanpa henti. Dunia terasa gelap gulita.
Kembali ke masa sekarang,
“MAAA...” Kirana hampir berteriak. Tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Air mata mengalir deras di pipinya. Dia menangis tanpa suara. Hanya tubuhnya yang menggigil hebat.
Arga langsung berdiri dari sofa. Dia merasakan ada yang tidak beres dengan Kirana.
“Kirana...?” panggil Arga lagi. Suaranya dipenuhi kecemasan.
Arga meraba-raba dalam gelap menuju kasur. Saat tangannya menyentuh bahu Kirana yang menggigil, Arga langsung mengerti.
“Kirana... kamu... kamu trauma...” gumam Arga pelan.
Arga ingat. Malam itu. Malam saat Nyonya Anastasya meninggal. Malam yang sama dengan malam ini. Hujan deras. Petir. Pemadaman listrik.
Tanpa pikir panjang, Arga langsung duduk di tepi kasur dan memeluk Kirana erat-erat.
“Kirana... tenang... aku di sini...” bisik Arga di telinga Kirana. Suaranya lembut, tidak dingin lagi.
“Tenang... ini aku, Arga. Aku ada di sini, aku tidak akan pergi.” Arga semakin mengeratkan pelukan nya. Tanganya mengusap punggung Kirana pelan, tangan satunya mengelus Kepala Kirana
dengan lembut.
Kirana semakin menggigil dalam pelukan Arga.
Dia ingin mendorong Arga. Ingin berteriak “Jangan sentuh aku Arga!” Tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Rasa takut itu terlalu besar. Akhirnya, Kirana malah membenamkan wajahnya di dada Arga.
“Arga...” panggil Kirana pelan. Suaranya bergetar penuh ketakutan.
“Aku... aku takut...”
Arga mengusap punggung Kirana pelan-pelan.
“Ssst... tenang...” ucap Arga sambil mengusap kepala Kirana.
“Tidak apa-apa. Aku di sini. Aku tidak akan biarkan kamu sendirian.”
JDEERRR....Petir menyambar lagi di luar.
Kirana semakin memeluk Arga erat-erat. Seolah Arga adalah satu-satunya tempat yang aman di dunia ini.
Arga merasakan baju di dadanya basah oleh air mata Kirana.
Dadanya mendadak sesak. Hatinya sakit.
“Maafkan aku, Kirana...” pikir Arga. “Maaf karena aku membuat kamu marah tadi. Maaf karena aku membuat kamu merasa sendirian.” Tiba-tiba perasan bersalah menyeruak di hati Arga.
Arga terus mengusap punggung Kirana. Terus membisikkan kata-kata penenang.
Pelan-pelan, gemetaran Kirana mulai berkurang.
Nafasnya yang tadi tersengal-sengal mulai teratur. Tangisnya yang tadi tanpa suara mulai reda.
“Sudah tenang...Kirana, Aku ada disini.” bisik Arga pelan. Kirana mengangguk kecil di dalam pelukan Arga. Matanya masih terpejam. Tapi dia sudah tidak takut lagi.
Beberapa menit kemudian, hujan mulai mereda. Petir sudah tidak terdengar lagi.
Arga merasa Kirana sudah mulai tenang.
Dia ingin melepaskan pelukannya. Dia Ingin berdiri dan kembali ke sofa.Karena dia takut Kirana akan merasa tidak nyaman setelah ini.
Tapi saat Arga hendak berdiri...
Tangan Kirana menahan pinggang Arga. Pelukan Kirana semakin erat.
DEG.
Jantung Arga berdetak kencang.Kirana tidak bicara apa-apa. Dia hanya memeluk Arga lebih erat. Matanya menatap Arga. Arga bingung, Tapi sorot mata Kirana jelas sekali memintanya untuk tetap disini.
“Jangan pergi, Arga...” pikir Kirana.
“Tolong... jangan tinggalkan aku sendirian di gelap ini...”
Arga terdiam. Dia menatap wajah Kirana yang masih basah oleh air mata. Wajah yang biasanya tegar sekarang terlihat sangat rapuh. Sangat membutuhkan.
“Arga...” bisik Kirana lagi. Hampir tidak terdengar. Arga menunduk. Dia menghela napas panjang.
Lalu Arga mengangguk pelan.
“Baiklah... aku tidak akan pergi.” ucap Arga pelan.Arga kembali mengeratkan pelukannya.
Dia membiarkan Kirana bersandar sepenuhnya di dadanya.
Malam itu tidak ada perdebatan.
Tidak ada kata “kontrak”.
Tidak ada jarak tiga langkah.
Hanya ada dua orang yang saling berpelukan di tengah gelap. Saling menghangatkan. Saling melindungi.
“Kirana... aku tidak akan pernah biarkan kamu merasa sendirian lagi.” pikir Arga sambil menatap wajah Kirana yang sudah terlelap di dadanya.
“Arga... kenapa pelukanmu bisa membuat aku merasa aman...” pikir Kirana sebelum akhirnya tertidur pulas di pelukan Arga.
Di luar, hujan sudah berhenti.
Tapi di dalam hati mereka, hujan emosilah yang baru saja reda.
Pagi tiba. Langit sudah tidak mendung lagi. Tetesan air hujan masih menempel di daun-daun pepohonan di luar jendela.
Pagi ini terasa berbeda untuk keduanya.
Udara dingin bekas hujan masih tersisa. Tapi kehangatan di dalam kamar itu jauh lebih kuat.
Kirana perlahan membuka matanya.
Yang pertama dia rasakan adalah sesak.
Sesak yang aneh. Bukan sesak karena takut. Bukan sesak karena marah.
Tapi sesak... karena ada sesuatu yang menekan dadanya.
Dia tidak tahu kenapa.
Dia mencoba menggerakkan tubuhnya. Tapi tidak bisa. Sedetik kemudian, matanya terbuka lebar.
Sekarang dia menyadari posisi tidurnya.
Dia tertidur di dalam pelukan Arga.Tubuhnya hampir menempel rapat di tubuh Arga.
Tidak hanya itu, tangannya sendiri juga melingkari pinggang Arga.
DEG.
Jantung Kirana langsung berdetak kencang.
“Apa... apa ini...” pikir Kirana. Kepalanya langsung panas.
“Kenapa aku bisa... di dalam pelukan Arga...?”
Malam tadi... Kirana ingat.
Hujan. Petir. Pemadaman listrik. Trauma Mama.
Lalu Arga memeluknya. Menenangkannya.
Dan entah kapan... dia tertidur di pelukan itu.
Kirana panik.
Dia mencoba bangun pelan-pelan. Tapi pelukan Arga terlalu kuat. Lengan Arga melingkari punggungnya erat. Seolah tidak ingin melepaskannya.
“Arga... bangun...” bisik Kirana pelan. Suaranya gemetar. Tapi Arga masih juga terlelap. Napasnya teratur. Wajahnya tenang.
Kirana akhirnya pasrah.
Dia tidak bisa bergerak.Tidak bisa melepaskan diri. Akhirnya dia hanya menatap wajah Arga yang masih tertidur.
Wajah Arga yang biasanya dingin sekarang terlihat sangat damai.
Alisnya yang biasanya berkerut kini melonggar.
Bibirnya yang biasanya kaku kini terlihat lembut.
“Arga... kenapa...kenapa kamu bisa terlihat... berbeda saat tidur?” pikir Kirana.Tiba-tiba jantungnya berdetak semakin cepat. Tidak beraturan. Pipinya terasa hangat. Sangat hangat.
“Astaga... aku... aku malu...” pikir Kirana.
“Apa yang aku lakukan? Kenapa aku memeluknya? Kenapa aku...Aku merasa nyaman di pelukannya?”
Kirana menutup matanya rapat-rapat.
Dia ingin melupakan semua ini. Ingin berpura-pura tidak terjadi apa-apa.Tapi tubuhnya masih menempel di tubuh Arga. Kehangatan itu masih terasa nyata.
Kirana mencoba melepaskan pelukannya lagi.
Pelan-pelan. Hati-hati. Dia tidak ingin membangunkan Arga.Dia tidak ingin membuat situasi ini semakin canggung.
Tapi tepat saat tangannya hendak dilepas...
ARGA BERGERAK.
Kelopak mata Arga bergetar. Lalu... mata itu terbuka.Tatapan mereka bertemu.
Dalam.
Dekat.
Hanya berjarak beberapa senti.
DEG.
DEG.
DEG.
Jantung Kirana seakan berhenti berdetak sejenak.
Arga menatap Kirana dengan mata yang masih sedikit mengantuk.Tapi tatapan itu... perlahan berubah menjadi terkejut.
“Kirana...?” gumam Arga pelan. Suaranya serak karena baru bangun.
“Kenapa... kamu...”
Kalimat Arga terhenti.
Karena sekarang dia juga menyadari posisinya. Dia memeluk Kirana. Erat. Dan Kirana juga memeluknya.
“Astaga...” pikir Arga. Dadanya tiba-tiba sesak.
“Kapan... kapan Kirana memelukku?” seolah lupa dengan kejadian semalam.
Udara di antara mereka tiba-tiba menjadi panas.
Tidak ada yang bicara. Hanya suara napas mereka yang terdengar saling bersahutan.
Kirana ingin melepaskan diri. Tapi kakinya terasa lemas. Arga ingin melepaskan pelukannya. Tapi tangannya terasa kaku.
“Kirana... aku...” ucap Arga pelan.Tapi dia tidak tahu harus bilang apa.Dia tidak tahu harus menjelaskan apa.
Kirana menunduk. Wajahnya merah padam.
“Arga... maaf... aku... aku tidak sengaja...” bisik Kirana pelan. Suaranya hampir tidak terdengar.
“Aku... aku tadi malam... takut...”
Arga mengerti.
Dia ingat malam tadi.Ingat bagaimana Kirana menangis dalam pelukannya. Ingat bagaimana Kirana memeluknya seolah dia adalah satu-satunya penyelamat.
“Ini bukan salahmu, Kirana...” ucap Arga pelan.
Arga mencoba melepaskan pelukannya. Tapi gerakan itu terasa berat.
“Ini... ini salahku. Aku yang memelukmu terlalu erat.”
Kirana menggeleng kecil.
“Tidak... aku yang... yang memelukmu duluan...” bisik Kirana.“Aku... aku takut sendirian...”
Kalimat itu membuat Arga terdiam.Dadanya terasa hangat. Ada sesuatu yang aneh berkecamuk di dalam hatinya.
“Takut sendirian...” pikir Arga.
“Jadi... Kirana butuh aku...?”
Arga menatap Kirana lebih dalam. Mata Kirana yang biasanya tegas sekarang berkaca-kaca. Bibir Kirana yang biasanya keras sekarang bergetar.
“Arga...” panggil Kirana lagi. Suaranya pelan.
“Apa... apa yang terjadi pada kita?”
Arga tidak menjawab.
Dia hanya menatap Kirana. Lama.
Lalu... Arga menghela napas panjang.
“Aku juga tidak tahu, Kirana...” ucap Arga jujur.
“Tapi... aku tidak ingin melepaskanmu sekarang.”
DEG.
Kalimat itu langsung menghantam dada Kirana.
“Arga...” bisik Kirana. Matanya melebar.
“Apa... apa maksudmu?”
Arga menggeleng.
“Aku tidak tahu maksudnya apa.” ucap Arga pelan.
“Tapi... saat kamu memelukku tadi... aku merasa... tenang.”
Kirana terdiam.
Hatinya berdebar lebih kencang dari sebelumnya.
“Tenang...?” pikir Kirana.
“Arga... pria dingin itu... merasa tenang karena aku?”
Suasana menjadi semakin canggung.
Tapi canggung itu... tidak terasa menyakitkan.
Justru terasa... hangat.
Arga akhirnya melepaskan pelukannya perlahan.Tapi tangannya masih menyentuh punggung Kirana. Seolah masih ragu untuk benar-benar melepaskan.
“Kirana... aku minta maaf...” ucap Arga pelan.
“Atas semua sikapku malam tadi. Aku... aku memang cemburu. Tapi aku tidak seharusnya menyalahkanmu.”
Kirana mengangkat kepalanya.Dia menatap Arga dengan tatapan yang aneh. Bukan tatapan marah.Tapi tatapan... yang mulai luluh.
“Arga... aku juga minta maaf.” ucap Kirana pelan.
“Aku... aku tidak seharusnya bilang kalau kamu tidak peduli.”
Arga tersenyum kecil.
Senyum tipis yang jarang sekali terlihat di wajahnya.“Jadi... kita damai?” tanya Arga pelan.
Kirana mengangguk kecil.
“Damai...” bisik Kirana.
Momen itu...
Momen di mana dua orang yang kemarin masih berdebat...
Sekarang saling meminta maaf dalam jarak yang sangat dekat.
Pagi itu...
Tidak ada kata “kontrak”.
Tidak ada kata “batas”.
Tidak ada kata “jarak”.
Hanya ada dua orang yang saling menatap.
Saling memahami.
Saling... mulai mengakui perasaan yang selama ini disembunyikan.
“Arga...” panggil Kirana pelan.
“Ya?” jawab Arga pelan juga.
Kirana menunduk lagi. Pipinya masih merah.
“Terima kasih... sudah menenangkanku tadi malam..”
Arga mengangguk.
“Kirana... terima kasih... sudah mau memelukku...” ucap Arga pelan.
Kirana tersentak.
Dia tidak menyangka Arga akan berkata seperti itu.“Kamu... kamu senang dipeluk aku?” tanya Kirana pelan.
Arga terdiam sejenak.
Lalu dia mengangguk pelan.“Ya... aku senang.” jawab Arga jujur.
“Untuk pertama kalinya... aku tidak merasa kesepian.”
Kalimat itu membuat mata Kirana berkaca-kaca lagi.Tapi kali ini... bukan karena takut.Tapi karena... haru.
“Arga...” bisik Kirana.
Arga menatapnya.
Kirana tersenyum kecil. Senyum yang tulus. Senyum yang pertama kali Arga lihat sejak mereka menikah.
“Pagi ini... berbeda.” ucap Kirana pelan.
Arga mengangguk.
“Ya... sangat berbeda.” jawab Arga pelan.
Mereka saling tersenyum.
Senyum yang tidak perlu kata-kata.Senyum yang hanya bisa dipahami oleh dua hati yang mulai saling dekat.
Di luar, sinar matahari mulai masuk melalui celah jendela. Menerangi kamar itu.
Menerangi dua hati yang perlahan... mulai mencair.
[BERSAMBUNG...]
jadi orang kaya gak perlu sombong.
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"