Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Hening yang memekakkan telinga menyelimuti meja restoran itu setelah sosok Kaizar menghilang di balik pintu kaca. Luna masih terpaku, jemarinya meremas serbet kain hingga buku-buku jarinya memutih, kontras dengan polesan kuku merah menyalanya yang tampak sempurna. Di sekelilingnya, riuh rendah suara pengunjung lain terasa seperti dengung lebah yang menyiksa telinga.
Harga dirinya baru saja dihempaskan ke titik terendah. Diputuskan secara sepihak di tempat umum dengan alasan yang merendahkan martabatnya sebagai kekasih seorang Ravindra adalah penghinaan yang tidak bisa ia maafkan.
"Hanya teman dan tetangga?" gumam Luna lirih, suaranya bergetar oleh amarah yang mendidih di balik dadanya.
Sebuah tawa sinis bin getir lolos dari bibirnya. Luna tidak bodoh; ia melihat bagaimana mata Kaizar yang biasanya sedingin es itu berubah menjadi hangat dan penuh kecemasan setiap kali nama Zivara disebut. Ia merasakan pergeseran gravitasi di hidup Kaizar, dan ia tahu betul siapa poros barunya.
Luka akibat ditinggalkan Adrian—dalam kepingan memori yang ia simpan—terasa kembali menganga. Ia tidak akan membiarkan sejarah berulang. Jika ia tidak bisa memiliki Kaizar, maka tidak boleh ada perempuan lain yang berhak menyentuh singgasana di samping pria itu, terutama gadis ingusan seperti Zivara Arthea.
Luna meraih tas desainer miliknya, melangkah keluar restoran dengan dagu terangkat meski matanya berkilat penuh dendam. Udara Bandung yang lembap setelah gerimis menyambutnya, membawa aroma aspal basah yang entah mengapa terasa seperti bau peperangan bagi Luna.
Ia segera masuk ke dalam mobilnya dan mendial sebuah nomor di ponsel.
"Halo? Aku ingin rencana itu dilanjutkan," ucap Luna begitu panggilan tersambung, suaranya kini terdengar sangat datar dan mematikan. "Lakukan saat dia sedang berada di studio lukis sendirian sore ini."
Luna mematikan ponselnya, melemparkannya ke kursi penumpang dengan kasar. Ia menyalakan mesin, menginjak pedal gas hingga mobilnya melesat membelah kemacetan jalanan Dago. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal: jika Kaizar begitu ingin melindungi Zivara, maka ia akan memberikan alasan bagi Kaizar untuk melihat gadis itu hancur terlebih dahulu.
"Kamu ingin menjadi pahlawannya, Kai? Mari kita lihat seberapa cepat kamu bisa berlari saat dunianya mulai runtuh," bisik Luna dengan seringai yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
Rencana Luna sederhana namun keji. Ia tahu Zivara memiliki ketakutan akan ruang gelap yang sempit akibat trauma masa kecilnya. Mengunci gadis itu di gudang alat studio yang sedang direnovasi dengan sistem pengapian yang rusak akan memberikan efek jera yang luar biasa. Bukan untuk membunuh, hanya untuk memastikan Zivara tahu posisinya dan membuat Kaizar kembali memohon padanya untuk menghentikan semua teror ini.
**
Sore itu, studio DKV sudah mulai sepi. Zivara masih asyik dengan kanvasnya, tidak menyadari bahwa seseorang sedang mengawasinya dari balik celah pintu.
Tiba-tiba, lampu studio padam serentak. Zivara tersentak, mencoba meraih ponselnya di meja, tetapi sebelum tangannya sampai, sebuah tangan kasar membekap mulutnya dari belakang.
"Maaf, Nona. Ini perintah dari Ratu," bisik suara asing di telinganya.
Zivara mencoba berontak, tetapi tubuhnya yang kecil dengan mudah diseret menuju gudang di ujung lorong. Pintu besi itu berdentum keras saat tertutup, disusul suara kunci yang diputar. Di dalam kegelapan total yang menyesakkan, Zivara mulai merasakan sesak yang sangat familiar, persis seperti mimpi buruk jatuh dari gedung yang selalu menghantuinya.
**
Ruang rapat gedung sekretariat UKM itu terasa pengap oleh perdebatan program kerja yang tak kunjung usai. Di tengah keriuhan itu, Kaizar Ravindra hanya duduk terdiam, jemarinya mengetuk meja kayu dengan ritme yang tidak teratur. Fokusnya tidak berada pada tumpukan kertas di hadapannya, melainkan pada perasaan ganjil yang tiba-tiba merayapi dadanya.
Tanpa peringatan, sebuah rasa nyeri yang luar biasa menghantam ulu hati Kaizar. Sensasinya begitu tajam, seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk jantungnya secara bersamaan—sebuah getaran ikatan batin yang ia yakini sebagai sisa-sisa trauma dari time rewind. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia tahu rasa sakit ini; ini adalah sinyal bahaya yang sama yang ia rasakan dalam mimpi buruk saat melihat Zivara jatuh dari ketinggian.
"Vara..." gumam Kaizar lirih, napasnya memburu.
Ia segera merogoh saku celananya, mencari ponsel yang biasanya tak pernah lepas dari genggaman. Kosong. Sumpah serapah tertahan di ujung lidah saat ia baru teringat benda itu tertinggal di dasbor mobilnya sejak makan siang tadi.
"Sial!" umpat Kaizar, suaranya memecah keheningan rapat.
Tanpa memberikan penjelasan atau permintaan maaf, Kaizar berdiri dengan kasar hingga kursi yang ia duduki terpelanting ke belakang. Ia berlari keluar dari ruangan itu secepat kilat, meninggalkan para anggota klub yang menatapnya dengan raut bingung dan heran. Mereka belum pernah melihat seorang Kaizar Ravindra yang tenang dan terkendali kehilangan akal sehat seperti itu.
Di saat yang sama, di dalam Range Rover hitam yang terparkir di bawah pohon besar, layar ponsel Kaizar menyala terus-menerus. Nama kontak Zivara Arthea (SOS - Emergency Alert) berkedip merah dalam kegelapan kabin. Fitur pelacak itu memang sengaja dipasang Kaizar secara diam-diam beberapa malam lalu, sesaat setelah ia terbangun dari mimpi buruk tentang Zivara yang dilukai. Ketakutannya kini menjadi kenyataan yang mengerikan.
Begitu sampai di mobil, Kaizar menyambar ponselnya dengan tangan gemetar. Matanya membelalak melihat titik koordinat yang berkedip di area studio DKV yang seharusnya sudah sepi.
"Bertahanlah, Vara. Kumohon, bertahanlah," bisik Kaizar parau sembari memacu langkahnya kembali menuju gedung seni.
Sementara itu, di sudut gelap gudang studio yang pengap, Zivara sedang berjuang melawan maut. Tubuhnya yang kecil mulai melemah, namun ia tetap memaksa sisa-sisa tenaganya untuk memukul pintu besi yang terkunci rapat.
"Tolong... Siapa pun... Tolong!" teriak Zivara, suaranya nyaris hilang, berubah menjadi parau yang menyakitkan.
Dada Zivara terasa semakin sesak, oksigen di dalam ruangan sempit itu seolah menipis dengan cepat. Bayangan-bayangan gelap dari masa lalu mulai menari-nari di depan matanya, mencampuradukkan antara kenyataan dan trauma. Tubuhnya mulai merosot ke lantai, punggungnya bersandar pada pintu yang dingin, sementara air mata mulai membasahi pipinya yang pucat. Ia merasa dunianya kembali runtuh, tepat di tempat ia mencoba untuk bangkit.
Langkah kaki Kaizar bergema di lorong DKV yang sunyi. Ia mengikuti radar di ponselnya hingga berhenti tepat di depan sebuah gudang tua di ujung lorong.
Di dalam gudang, kesadaran Zivara mulai menghilang, tepat saat ia mendengar suara dentuman keras dari balik pintu.
**
Suasana di dalam unit apartemen mewah di kawasan pusat Kota Bandung itu terasa begitu sunyi, hanya ada suara detak jam dinding yang seolah berdentum lebih keras dari biasanya. Luna berdiri di dekat jendela kaca besar yang menyuguhkan kerlip lampu kota, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada pemandangan indah itu. Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi air dingin tampak bergetar pelan.
Perasaan tidak tenang mulai merayap naik, membelit dadanya seperti kabut tebal. Ini bukan pertama kalinya Luna melakukan sesuatu yang berisiko demi mendapatkan apa yang ia mau, tetapi kali ini terasa sangat berbeda. Bayangan wajah dingin Kaizar saat memutuskan hubungan mereka di restoran tadi terus menghantui setiap sudut matanya.
"Apa yang sudah aku lakukan?" bisik Luna pada dirinya sendiri, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan.
Ia meletakkan gelasnya dengan kasar ke atas meja marmer, lalu berjalan mondar-mandir di ruang tengah. Jauh di lubuk hatinya, ada ketakutan yang sangat nyata—bukan takut akan hukum, melainkan takut akan sorot mata Kaizar jika pria itu sampai tahu bahwa ialah dalang di balik hilangnya Zivara sore ini. Luna tahu betul seberapa protektifnya Kaizar belakangan ini. Jika Kaizar sampai menemukan kebenarannya, cinta yang tersisa akan berubah menjadi kebencian murni yang akan membunuh Luna secara perlahan.
Luna meraih ponselnya, hendak menghubungi orang suruhannya untuk membatalkan semuanya, tetapi jarinya mendadak kaku. Jika ia mundur sekarang, ia akan terlihat lemah dan kehilangan segalanya. Di sisi lain, jika ia melanjutkan, ia sedang bertaruh dengan satu-satunya hal yang ia miliki: keberadaannya di hidup Kaizar.
Ia mematikan lampu ruangannya, membiarkan dirinya ditelan kegelapan yang sama dengan yang kini sedang dialami Zivara di gudang studio. Ironisnya, Luna justru merasa dialah yang sebenarnya sedang terkurung dalam penjara yang ia buat sendiri. Setiap kali ia membayangkan Kaizar menyentuh Zivara dengan lembut atau menatapnya penuh khawatir, rasa cemburu itu kembali membakar sisa-sisa rasa bersalahnya.
"Kamu yang memaksaku melakukan ini, Kai. Kamu yang membuatku menjadi monster," gumamnya sembari memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengusir rasa bersalah yang terus mengetuk pintu kesadarannya.
Di luar sana, guntur mulai menggelegar di langit Bandung, menandakan badai besar akan segera tiba. Badai yang tidak hanya akan mengguyur jalanan kota, tetapi juga akan menghancurkan topeng-topeng kebohongan yang selama ini dijaga dengan rapi.
Ending Menggantung:
Tiba-tiba, ponsel Luna bergetar hebat di atas meja. Layarnya menampilkan sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal.
"Rencanamu terlalu amatir, Luna. Sayangnya, Kaizar bukan satu-satunya orang yang tahu di mana gudang itu berada. Jika kamu tidak ingin rekaman CCTV saat kamu bertemu orang suruhanmu tersebar, temui aku di tempat biasa dalam tiga puluh menit."
Wajah Luna memucat seketika. Pesan itu tidak mungkin dari Kaizar, apalagi Zivara. Hanya ada satu orang yang memiliki nyali untuk mengancamnya seperti ini adalah: Adrian Marcelino.
***
🤣🤣🤣