Judul: Napas Terakhir Lumina
Dunia Aethelgard yang damai terusik saat Anya, sebuah entitas mekanis "cacat" dengan perasaan, jatuh ke pelukan keluarga Sena dan Elara. Dianggap saudara oleh Alisha, Anya mulai memahami arti jiwa. Namun, masa lalu Anya sebagai aset eksperimen antar dimensi memicu perang besar. Demi menyelamatkan keluarga yang memberinya cinta, Anya harus bertransformasi menjadi Lumina dan memberikan napas terakhirnya untuk menyegel kehancuran. Apakah pengorbanannya akan membebaskan dunia organik selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panqeran Sipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Badai di Puncak Pegunungan Serigala
Fajar menyingsing di atas cakrawala Pegunungan Serigala, namun cahayanya tidak membawa kehangatan yang biasanya dinanti oleh para pengembara. Langit justru berubah menjadi warna merah tembaga yang suram dan berat, seolah-olah awan itu sendiri telah ternoda oleh darah yang tumpah dari masa lalu. Sena berdiri di garis paling depan, membiarkan angin gunung yang tajam menyayat wajahnya yang letih. Jemarinya meremas hulu pedangnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar. Bukan hanya karena dingin, tapi karena tekanan batin yang nyaris tak tertahankan.
Di sampingnya, Elara menatap puncak gunung dengan napas yang beruap di udara dingin. Setiap hembusan napasnya tampak seperti kabut tipis yang cepat hilang ditelan kegelapan. Ia bisa merasakan denyut jantungnya sendiri di ujung jemarinya, berpacu dengan ketakutan yang berusaha ia tekan sedalam mungkin.
Benteng Zarthus berdiri tegak di sana—sebuah monolit batu hitam yang tampak tumbuh secara tidak alami dari tebing curam yang seolah menantang langit. Aura yang terpancar darinya begitu pekat, berbau karat dan kematian, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang terus meremas dada siapa pun yang berani mendekat, mencuri oksigen dari paru-paru mereka sebelum mereka sempat bernapas.
“Rasakan itu?” bisik Rhys, suaranya parau dan kering, seakan tenggorokannya dipenuhi pasir. “Hutan di sini sudah tidak lagi bernapas. Pohon-pohon ini mati bukan karena usia, Sena. Mereka mati karena ketakutan.”
Benar saja, pepohonan di sekitar jalan setapak itu meliuk-liuk dalam posisi yang menyakitkan, seperti jemari raksasa yang membusuk dan memohon pertolongan yang tak pernah datang. Tidak ada kicauan burung, tidak ada desis serangga. Hanya suara angin yang melolong melewati celah-celah batu yang tajam, terdengar seperti jeritan jiwa-jiwa yang tersiksa dalam keabadian.
Tembok Kematian
Saat mereka mencapai gerbang utama yang terbuat dari besi hitam pekat, keheningan yang mencekam itu pecah berkeping-keping. Dari atas menara-menara runcing yang mencuat seperti taring serigala, sosok-sosok berjubah hitam muncul. Mereka mengenakan baju zirah yang seolah terbuat dari bayangan cair, memantulkan cahaya merah langit dengan cara yang mengerikan.
Tanpa peringatan, tanpa teriakan perang, panah-panah yang diselimuti api ungu—api yang tidak panas namun membekukan jiwa—menghujani barisan Penjaga Cahaya.
“Perisai ke atas! Jangan biarkan barisan terputus!” teriak Sena, suaranya menggelegar mengalahkan deru angin.
Dentuman logam bertemu logam memenuhi udara. Sena menerjang maju dengan otot paha yang terasa panas karena kelelahan, namun tekadnya tetap teguh. Pedangnya berpendar terang, membelah kegelapan saat ia menebas anak panah yang melesat ke arahnya. Bau belerang dari api ungu itu mulai memenuhi indera penciumannya, membuatnya pening.
“Rhys, tahan sayap kiri! Jangan biarkan mereka mengepung kita! Elara, sekarang! Hancurkan segel gerbangnya atau kita semua akan mati terjepit di sini!”
Elara memejamkan mata, mencoba memutus suara bising pedang dan teriakan kesakitan di sekelilingnya. Ia memusatkan seluruh energi dari kristal di lehernya yang kini bergetar hebat. Telapak tangannya yang halus namun penuh luka gores menyentuh permukaan besi gerbang yang sedingin es. Sihir hitam di gerbang itu bergetar, mencoba menolak keberadaan cahaya Elara.
Dengan satu teriakan penuh tekad yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam, cahaya putih murni meledak dari tangan Elara. Benturan energi itu menciptakan gelombang kejut yang membuat debu-debu kuno beterbangan. Simbol kegelapan di gerbang itu retak, lalu hancur berkeping-keping seperti kaca yang dipukul palu godam. Pintu raksasa itu terayun terbuka dengan suara geraman besi yang memekakkan telinga, seolah-olah monster batu sedang terbangun dari tidur panjangnya.
“Masuk! Jangan menoleh ke belakang!” teriak Sena sambil mendorong beberapa prajurit yang ragu.
Konfrontasi di Balairung Hitam
Mereka bertempur melewati koridor yang gelap dan sempit. Suasananya pengap, berbau debu dan pembusukan. Di sudut-sudut langit, bayangan-bayangan hidup tampak merayap di dinding, mencoba menarik kaki mereka ke dalam lantai batu yang lembap. Setiap langkah kaki terasa sangat berat, seolah-olah gravitasi di dalam benteng ini bekerja dua kali lipat lebih kuat.
Begitu mereka mencapai balairung utama, suasana mendadak sunyi. Kesunyian ini jauh lebih mengerikan daripada hiruk-pikuk perang di luar gerbang tadi. Di ujung ruangan yang luas, di atas sebuah altar yang dikelilingi oleh tumpukan tengkorak manusia yang telah menguning, Zarthus berdiri menunggu.
Zarthus jauh lebih mengerikan dari bayangan dalam mimpi buruk mana pun. Tubuhnya tinggi dan sangat kurus, terbungkus jubah yang tidak terbuat dari kain, melainkan asap cair yang terus bergerak. Wajahnya tertutup bayangan, namun matanya—dua lubang merah menyala—menyimpan kebencian yang telah dipupuk selama berabad-abad.
“Selamat datang, tikus-tikus kecil,” suara Zarthus bergema, dingin dan bergetar seperti gesekan belati pada batu nisan. “Kalian datang tepat waktu untuk melihat dunia yang kalian cintai memudar menjadi abu.”
“Hentikan omong kosong ini, Zarthus!” suara Elara menggema, meski sebenarnya kakinya gemetar hebat di balik jubahnya. “Kekuatanmu hanyalah pinjaman dari kegelapan yang pada akhirnya akan menelanmu juga!”
Zarthus tertawa, suara tawa yang kering tanpa ada sedikit pun rasa humor di dalamnya. Ia mengangkat tongkat tulangnya, dan seketika itu juga, ledakan energi hitam menghantam lantai. Gelombang kejut itu begitu kuat hingga melempar para Penjaga Cahaya ke dinding batu dengan suara benturan yang menyakitkan.
Pengorbanan dan Cahaya Terakhir
Pertempuran itu bukan lagi sekadar adu kekuatan, melainkan tarian maut yang brutal. Sena bergerak seperti kilat perak di tengah kegelapan, mencoba mencari celah di balik jubah asap Zarthus. Namun, setiap tebasan pedangnya hanya menembus udara kosong atau tertahan oleh dinding sihir yang tak terlihat.
Zarthus bukan sekadar penyihir; dia adalah manifestasi dari kehampaan itu sendiri. Dengan satu lambaian tangan, ia menciptakan pusaran kegelapan di tengah ruangan yang mulai menghisap oksigen. Sena jatuh bertumpu pada satu lutut, paru-parunya terasa terbakar, memohon udara yang sudah tidak ada. Pandangannya mulai berputar, namun ia melihat Zarthus mulai melayang mendekati Elara yang terpojok di sudut altar.
“Gadis malang... cahaya kecilmu yang menyedihkan akan padam di sini, di tanganku,” desis Zarthus sembari mengangkat tangan yang dipenuhi kuku-kuku hitam tajam.
Sena merasakan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan ketakutan akan pedang yang menembus jantungnya, tapi ketakutan melihat Elara—harapan terakhir mereka—lenyap di depan matanya. Dengan sisa tenaga yang seharusnya sudah habis, Sena meraung, suara yang keluar dari rasa sakit yang murni. Ia berlari dengan sisa kekuatannya, menabrakkan dirinya tepat ke depan Elara sesaat sebelum kilatan sihir hitam yang mematikan meluncur.
Blar!
Sena terlempar hebat, menghantam pilar batu raksasa hingga retak berkeping-keping. Darah segar merembes dari balik zirah peraknya yang kini hancur di bagian dada. Pandangannya mengabur, warna merah darah menutupi matanya, namun ia menolak untuk menutup mata.
“Elara... sekarang... lakukan!” ia terbatuk, darah menghiasi sudut bibirnya yang pucat.
Sena memaksakan diri berdiri, meski kakinya sudah tidak terasa lagi. Ia membentuk penghalang cahaya terakhir dengan sisa-sisa energinya. Perisai itu tampak rapuh dan retak di bawah tekanan sihir Zarthus, namun Sena tidak bergeming sedikit pun. Pengorbanan Sena yang nekat itu memberi Elara celah yang ia butuhkan—celah yang tidak boleh disia-siakan.
Elara bangkit, amarah karena melihat Sena terluka dan kesedihan karena penderitaan dunia menyatu menjadi satu kekuatan murni. Ia tidak lagi sekadar menggunakan sihir sebagai alat; pada saat itu, ia menjadi cahaya itu sendiri.
“Untuk semua nyawa yang telah kau hancurkan! Untuk Lumina!” teriaknya dengan suara yang menggetarkan seluruh benteng.
Cahaya putih menyilaukan meledak dari jantung Elara, menembus dada Zarthus tepat di mana jantung manusia seharusnya berada. Sang penyihir berteriak—suara yang tidak lagi terdengar seperti suara makhluk hidup, melainkan jeritan ribuan arwah yang mencoba melepaskan diri dari tubuhnya. Tubuh asap Zarthus mulai retak, terbakar dari dalam oleh cahaya murni yang tidak bisa ia tahan lagi.
Dalam sekejap yang sangat terang, Zarthus hancur menjadi debu hitam yang langsung tertiup angin gunung, meninggalkan hanya tongkat tulangnya yang patah menjadi dua di atas lantai batu yang kini dingin kembali.
Kemenangan yang Getir
Keheningan kembali menyelimuti Pegunungan Serigala, namun ini bukan keheningan damai. Sena jatuh terduduk, bersandar pada bahu Elara yang juga sudah sangat lemas. Napas Sena pendek-pendek dan terasa berat di dada.
“Kita... kita benar-benar melakukannya, El?” tanya Sena pelan, mencoba tersenyum meski wajahnya penuh luka.
“Ya, Sena. Dia sudah pergi. Kamu aman sekarang,” bisik Elara, air mata mengalir deras di pipinya yang kotor oleh abu. Ia menggunakan sisa kekuatannya yang tinggal setetes untuk menutup luka di dada Sena, meski tangannya sendiri terus gemetar.
Namun, kemenangan itu terasa hambar dan dingin. Kata-kata terakhir Zarthus yang berbisik di udara sebelum ia lenyap terus terngiang-ngiang di telinga mereka: “Kegelapan tidak bisa dibunuh sejati, ia hanya menunggu saat kalian lengah...”
Kepulangan mereka ke Hutan Lumina beberapa hari kemudian memang disambut dengan sorak-sorai penduduk desa, namun bagi Sena dan Elara, perang sesungguhnya terasa baru saja dimulai. Di dalam tidurnya yang tidak nyenyak, Elara mulai melihat bayangan yang jauh lebih besar—sesuatu yang lebih tua dari Zarthus, sesuatu yang selama ini bersembunyi di balik tirai dunia.
“Mimpi itu datang lagi, Sena,” kata Elara suatu malam saat mereka berjaga di perbatasan hutan, menatap langit malam yang terlalu sunyi. “Api, kehancuran... dan sesuatu yang menatap kita dari langit dengan mata yang tak berkedip.”
Sena memegang erat tangan Elara, menatap kegelapan di luar batas hutan yang entah kenapa tampak semakin pekat setiap harinya. “Kalau begitu, kita tidak akan pernah meletakkan pedang kita. Jika kegelapan ingin kembali, ia harus melewati kita terlebih dahulu. Kita adalah napas terakhir Lumina, dan kita tidak akan berhenti berdenyut.”
Di kejauhan, jauh di ufuk yang paling gelap di mana manusia tak berani menginjakkan kaki, sebuah kilat merah menyambar tanpa suara. Sesuatu yang jauh lebih mengerikan telah bangkit dari tidurnya, dan Hutan Lumina tidak akan pernah sama lagi.
jangan lupa mampir jg ya🙏😍😍😍😍😍
semoga sampai tamat 🙏
mampir juga ketempat saya kak.