Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.
Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.
Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.
Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malapetaka Di Mall
Dimas sengaja menurunkan kecepatan, membiarkan mobil melaju pelan di antara lalu lintas Kuningan yang mulai padat. Ia tahu, Tasya butuh waktu. Butuh ruang.
Di sisi lain, Tasya menyambar beberapa lembar tisu dari dashboard, menghapus sisa air mata yang membekas di pipinya. Ia menarik napas dalam, tapi suaranya tetap bergetar saat akhirnya berkata, "Gue capek, Dim... capek banget hidup dalam tekanan kayak gini."
Ia menunduk, kedua tangannya mencengkram tisu yang sudah lecek. "Sempurna. Itu yang selalu mereka tuntut. Gue nggak boleh salah. Nggak boleh lemah."
Dimas tetap diam. Matanya fokus pada jalan, tapi pendengarannya sepenuhnya milik Tasya. Tak ada interupsi, tak ada nasihat. Hanya kehadiran yang tenang.
"Sorry... gue malah curhat," gumam Tasya, buru-buru memasang kembali kacamatanya. Ia memalingkan wajah, menyembunyikan sisa rapuh yang belum sempat ia rapikan.
"Lo beruntung, Sya." Dimas akhirnya bicara, pelan. "Selama ini lo punya sahabat yang selalu ada. Dan menurut gue, itu bukti kalau lo jauh lebih kuat dari apa yang lo pikirin."
Tasya menoleh cepat. "Maksud lo, gue kelihatan lemah gitu?" Nada suaranya meninggi.
"Bukan begitu," Dimas tergagap, menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Maksud gue... lo punya dua pundak buat sandaran."
Tasya memicingkan mata, ekspresinya berubah curiga. Ada nada geli sekaligus tajam saat ia mendekatkan wajahnya, menelisik pria di sampingnya.
"Jadi lo berharap jadi pundak berikutnya?" tanyanya, suaranya setengah mengejek, setengah mengancam.
Dimas hanya tersenyum kecil, tidak menjawab.
Tasya menatap lebih dalam, lalu berbisik tajam, "Jangan pernah mimpi buat masuk ke hidup gue."
Ia lalu menyandarkan punggung ke jok, diam. Tapi di balik nada dinginnya, ada sesuatu yang tidak dia ucapkan-keraguan, mungkin... atau rasa yang belum sempat dia kenali
________________________________________
Dimas hanya tersenyum miring saat melihat Tasya kembali meledak tanpa aba-aba. Mobil yang mereka tumpangi perlahan memasuki basement mall, cahaya temaram menyambut mereka.
Begitu parkir, Dimas membuka laci dashboard dan mengeluarkan sebuah microphone wireless. Ia menempelkannya ke ponsel, lalu mengangkatnya di depan wajah Tasya.
"Gue yang jadi kameramen lo, ya?" ucapnya santai.
Tasya mengangguk singkat, matanya masih menyisakan sisa kekesalan. Mereka melangkah menuju lobby, lalu berhenti di meja security untuk meminta izin melakukan wawancara.
"Maaf, Mbak. Kegiatan begituan harus ada surat izin dulu dari kantor," ucap salah satu petugas sambil merapikan topinya.
"Tapi kami cuma mahasiswa, Pak. Nggak lama kok, cuma ambil opini singkat dari beberapa pengunjung," jelas Tasya, berusaha tetap tenang.
"Silakan naik ke lantai tiga, ke bagian umum. Semua izin lewat situ," petugas itu menunjuk ke arah lift tanpa senyum.
Tasya mendengus dan langsung berbalik, langkahnya cepat dan berat. Dimas mengikuti dari belakang, matanya awas menyapu sekeliling lobby, seolah menakar kemungkinan bypass birokrasi.
Saat lift terbuka, seorang pengunjung perempuan keluar dengan tergesa. Dimas langsung menyergap momen itu.
"Mbak, sebentar aja. Kami mahasiswa dari Universitas Permata Bangsa. Kami sedang survei soal pengaruh budaya asing di kehidupan sosial masyarakat. Boleh satu komentar aja?" katanya sambil menyodorkan mikrofon.
Sang perempuan baru membuka mulut, tapi teriakan menggelegar dari belakang menghentikan semuanya.
"HEY! SAYA BILANG TUNGGU IZIN DULU!" Petugas yang tadi menunjuk lift kini datang dengan langkah cepat dan nada tinggi.
"Satu orang doang, Pak! Nggak nyampe semenit!" Dimas membalas, ekspresi tengilnya muncul seperti biasa.
Petugas itu langsung menyentuh handy talkie di bahunya. Dua pria berseragam muncul dari pintu masuk utama, berjalan cepat menghampiri mereka.
"Pak, kami sudah minta izin-" Tasya mencoba menjelaskan, tapi tangannya ditarik menjauh dari Dimas.
"Eh, jangan sentuh dia!" suara Dimas mengeras, tubuhnya bergerak maju.
"Saya udah bilang baik-baik, lo malah main maksa!" bentak petugas, kini berdiri dengan tangan bertolak pinggang, menatap Dimas tajam.
Dimas membalas dengan nada tak kalah keras. "Gue udah biasa wawancara di sini, Bro! Dari dulu nggak pernah ribet gini. Manager-nya aja gue kenal, namanya Pak Steven. Mau gue telpon sekarang juga?" nada suaranya menantang, sementara matanya tak lepas dari pegangan petugas yang masih mencengkram lengan Tasya
"Kurang ajar lo!" salah satu petugas melayangkan tinjunya ke arah wajah Dimas. Tapi Dimas bergerak cepat. Tubuhnya berputar ke samping, lalu mencengkeram pergelangan si petugas dan membantingnya ke lantai dengan presisi.
Dua petugas lain spontan maju, siap menyerang. Namun sebelum sempat menyentuh Dimas, suara berat menghentikan langkah mereka.
"CUKUP!"
Dari balik mobil hitam yang baru tiba, muncul sosok pria dengan jas abu dan ekspresi dingin.
"Dimas?" mata Steven melebar, terkejut melihat pemuda itu berdiri dengan napas memburu.
"Bos!" Dimas menoleh, tubuhnya masih siaga.
Steven membuka pintu mobil, menatap tajam ke arah ketiga petugas.
"Kembali ke pos kalian. Saya yang urus ini," ujarnya, suaranya tak bisa dibantah.
Petugas-petugas itu mundur tanpa kata. Salah satu dari mereka masih memegangi siku yang memar. Steven mendekat ke mereka, suaranya nyaris tak terdengar namun mengandung ancaman.
"Dengar baik-baik... kalau kalian sentuh dia lagi tanpa alasan jelas, gue pastikan nama kalian hilang dari sistem."
Dimas dan Tasya berjalan di belakang Steven menuju gedung utama. Langkah mereka berat.
"Semua kacau sekarang," gumam Tasya, suaranya nyaris seperti desahan frustrasi.
Dimas meliriknya. "Dari awal gue udah bilang, tempat ini nggak ideal buat wawancara."
"Lo pikir gue punya waktu buat gonta-ganti lokasi? Lo harus tanggung jawab, titik!" Tasya mempercepat langkah, menolak menoleh.
Di lantai 5, Steven membuka pintu ruangannya dan memberi instruksi singkat pada sekretarisnya.
"Teh hangat, dua gelas. Biar kepala mereka adem."
Tasya dan Dimas duduk tanpa saling pandang. Wajah mereka tegang, seperti dua bom waktu yang belum meledak.
Steven mengangkat alis, mengamati mereka berdua seperti sedang membaca dua halaman yang saling bertolak belakang.
"Gue kenal lo berdua dari dulu. Tapi ini kali pertama gue lihat kalian kayak mau saling gigit. Masalahnya apa?"
"Dia yang bikin ribet," Tasya menyahut lebih dulu, menunjuk ke arah Dimas. "Gue udah bilang urus izin dulu, eh dia malah sok kenal, sok bisa."
"Heh, gue udah lima tahun wara-wiri di tempat ini," balas Dimas, suara menajam. "Gue tahu ritmenya. Nggak semua harus pakai surat buat wawancara ringan."
Steven hanya tertawa kecil, lalu menarik lembar pertanyaan dari tangan Dimas. Ia menelusuri tulisan tangan Tasya dengan saksama.
"Tempat ini... agak riskan buat topik kayak begini," ucap Steven pelan, lalu memandang ke arah Tasya.
"Tasya, Pak," potong Tasya sopan.
Steven mengangguk. "Mbak Tasya... saya juga alumni Permata Bangsa. Dulu juga skripsian dibimbing Pak Sasongko."
Ia berjalan ke rak buku, mengambil sebuah dokumen, dan menyerahkannya kepada Tasya. Tesis lamanya.
Tasya membuka lembar demi lembar dengan rasa tak percaya.
Beberapa bab di dalamnya sangat mirip dengan rencana penelitiannya-hampir seperti deja vu akademik.
"Kalau lo emang serius mau lanjut, gue tahu tempat yang bisa bantu. Tapi jangan disebar, ini... semacam 'jalur belakang'. Oke?"