NovelToon NovelToon
ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Dokter / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:651
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.

Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.

Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEMAKAMAN DAN JANJI

Sinar matahari pagi menerpa lembut melalui dedaunan pepaya yang tumbuh di sekitar kuburan keluarga. Evan berdiri di depan makam Kakek Darmo, membawa sebuah baskom kecil berisi bunga-bunga putih yang ia petik sendiri dari kebun obat leluhurnya – melati, kembang sepatu, dan bunga kantil yang selalu menjadi favorit Kakek Darmo.

Ia menyebarkan bunga-bunga tersebut dengan hati-hati di atas tanah yang masih lembut di sekitar batu nisan. Setiap gerakan dilakukan dengan penuh rasa hormat, seolah Kakek Darmo masih bisa melihat dan merasakan setiap sentuhan nya. Di sebelahnya, berdiri orang tua nya, Rina yang telah datang dari kota untuk menemani nya, dan beberapa tetangga kampung yang paling dekat dengan Kakek Darmo.

Setelah menyelesaikan penyebaran bunga, Evan mengambil kotak kayu yang berisi warisan leluhur dan meletakkannya sementara di atas batu nisan yang tertulis nama lengkap Kakek Darmo: DARMO SAPUTRA – PENYEMBUH DAN PELINDUNG KAMPUNG. Ia berdiri tegak dengan sikap yang tegas namun penuh kesedihan, kemudian mulai berbicara dengan suara yang jelas dan terdengar oleh semua orang yang hadir.

"Kakek Darmo – leluhur yang saya cintai dan hormati," ujar Evan dengan suara yang sedikit bergetar namun tetap tegas. "Hari ini, di hadapan keluarga, teman-teman, dan seluruh warga kampung Cibuntu, saya ingin membuat janji yang akan saya pegang sepanjang hidup saya."

Ia melihat ke arah setiap orang yang hadir sebelum kembali menatap makam Kakek Darmo. "Kakek telah memberikan saya sesuatu yang tidak ternilai harganya – warisan ilmu beladiri dan pengobatan tradisional yang telah diwariskan selama berabad-abad oleh leluhur kita. Ilmu ini telah membawa banyak manfaat bagi masyarakat kampung ini, menyembuhkan yang sakit, melindungi yang lemah, dan menjaga kedamaian di sekitar kita."

Evan mengambil keris pusaka dari dalam kotak kayu dan mengangkatnya dengan hati-hati ke arah langit. Cahaya matahari memantul dari bilah keris yang bersih, seolah memberikan kesaksian pada janji yang akan ia ucapkan.

"Saya, Evan Saputra, dengan ini berjanji di depan makam Kakek saya dan di hadapan alam semesta:"

"Pertama – Saya akan menjaga dan melestarikan warisan ini dengan segenap hati saya. Saya akan merawat setiap buku, catatan, dan benda pusaka dengan penuh rasa hormat. Saya akan memastikan bahwa ilmu ini tidak akan pernah hilang atau disalahgunakan, dan akan tetap ada untuk dinikmati oleh generasi mendatang."

"Kedua – Saya akan menggunakan ilmu beladiri yang saya pelajari hanya untuk kebaikan. Saya akan menggunakan nya untuk melindungi diri saya sendiri, melindungi orang yang tidak berdaya, dan menjaga keadilan serta kedamaian. Saya tidak akan pernah menggunakan nya untuk menyakiti orang tanpa alasan yang benar atau untuk mendapatkan keuntungan pribadi."

"Ketiga – Saya akan menggunakan ilmu pengobatan tradisional dengan rasa tanggung jawab yang tinggi. Saya akan menyembuhkan yang sakit dengan hati yang tulus, tidak akan pernah meminta imbalan yang berlebihan, dan akan selalu menyarankan bantuan medis modern jika diperlukan. Saya akan terus belajar dan mengembangkan ilmu ini agar bisa memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat."

"Keempat – Saya akan mengejar impian kita berdua untuk menggabungkan ilmu tradisional dengan ilmu modern. Saya akan melanjutkan studiku untuk menjadi dokter yang menghargai kedua ilmu tersebut, dan akan bekerja keras untuk menciptakan cara pengobatan yang lebih komprehensif dan manusiawi bagi semua orang."

"Kelima – Pada waktunya yang tepat, saya akan memilih penerus yang layak untuk meneruskan warisan ini. Saya akan memilih seseorang yang memiliki hati yang baik, rasa tanggung jawab yang tinggi, dan tekad yang kuat untuk menggunakan ilmu ini untuk kebaikan – sama seperti yang telah dilakukan Kakek saya dan leluhur kita sebelum nya."

Setelah menyampaikan janjinya, Evan menurunkan keris pusaka dan memasangnya kembali ke dalam kotak kayu. Ia kemudian mengambil kalung batu giok dari lehernya dan menyentuhnya dengan lembut sebelum melanjutkan.

"Kakek – saya tahu bahwa Anda sedang menyaksikan saya dari tempat yang lebih baik sekarang. Saya tidak akan pernah melupakan semua pelajaran yang Anda berikan padaku, baik tentang ilmu maupun tentang kehidupan. Saya akan bekerja keras setiap hari untuk membuat Anda bangga, dan akan selalu mengingat bahwa warisan ini bukan milik saya sendiri melainkan milik seluruh masyarakat yang membutuhkan."

Ia menekan kedua tangan nya pada batu nisan, merasakan kehangatan yang seolah masih ada dari tubuh Kakek Darmo. "Saya berjanji akan kembali ke kampung ini setiap kesempatan yang saya punya. Saya akan merawat kebun obat Anda, membersihkan rumah Anda, dan membantu warga kampung dengan ilmu yang Anda ajarkan padaku. Kampung ini akan selalu menjadi rumah saya, dan Anda akan selalu menjadi guru dan panutan saya."

Pada saat itu, angin lembut menyapu melalui pepohonan di sekitar kuburan, membawa aroma bunga yang telah disebarkan Evan. Seolah alam juga memberikan persetujuan pada janji yang telah dibuatnya. Rina mendekat dan menjabat tangan Evan dengan erat, mata nya penuh dengan dukungan dan kagum.

"Kita semua percaya padamu, Evan," ujar Rina dengan suara yang penuh perhatian. "Kakek Darmo pasti sangat bangga denganmu. Dan saya akan selalu ada di sini untuk membantu kamu mewujudkan semua janji ini."

Orang tua Evan juga mendekat dan memeluknya dengan erat. Ayahnya menepuk bahu nya dengan lembut. "Kita tahu bahwa kamu akan menjadi orang yang luar biasa, anak kita," ujar ayahnya dengan suara yang penuh kebanggaan. "Kakek Darmo telah memilih penerus yang tepat, dan kita akan selalu mendukungmu dalam setiap langkah yang kamu ambil."

Setelah itu, semua orang yang hadir mengambil bagian untuk menyebarkan bunga di sekitar makam Kakek Darmo, masing-masing dengan doa dan pesan sendiri untuk leluhur yang telah banyak membantu mereka. Pak Jono membawa seikat tanaman pegagan yang akan ia tanam di sekitar kuburan, sementara Mbok Siti membawa nasi tumpeng kecil sebagai persembahan tradisional untuk leluhur.

Ketika acara pemakaman resmi selesai dan tamu mulai pulang, Evan memilih untuk tetap berada di dekat makam Kakek Darmo sendirian. Ia duduk bersila di atas tanah yang hangat, mengambil buku kecil yang merupakan buku harian Kakek Darmo dan mulai membacanya dengan hati-hati. Setiap halaman yang ia baca semakin memperkuat tekad nya untuk memenuhi janji yang telah dibuatnya.

"Sampai jumpa lagi, Kakek," bisik Evan ketika matahari mulai naik lebih tinggi dan ia harus berangkat kembali ke kota. Ia menyimpan buku dengan hati-hati dan mengambil kotak kayu yang berisi warisan leluhur. "Saya akan segera kembali. Dan ketika saya kembali lain kali, saya akan membawa kabar baik tentang kemajuan saya dalam mengejar impian kita berdua."

Dengan langkah yang mantap dan hati yang penuh tekad, Evan berjalan meninggalkan kuburan keluarga, menyadari bahwa ia tidak lagi hanya seorang anak muda yang belajar dari leluhurnya – ia adalah penjaga warisan, pelaku impian, dan harapan baru bagi masa depan yang lebih baik. Dan meskipun Kakek Darmo sudah tidak lagi ada di sisinya secara fisik, Evan tahu bahwa leluhurnya akan selalu ada di dalam hatinya, membimbingnya dan memberinya kekuatan untuk menghadapi segala tantangan yang akan datang di jalan hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!