Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: BANGKIT DARI TANAH MERAH
BAB 14: BANGKIT DARI TANAH MERAH
Dingin yang luar biasa menyergap Arga. Di dalam peti mati itu, ia merasa tubuhnya tidak lagi menapak. Ia tidak sedang berbaring di atas kayu, melainkan seperti mengapung di dalam cairan kental yang berbau anyir melati.
Duri di telapak tangannya berdenyut semakin gila. Arga bisa merasakan akar hitam itu mulai merayap naik ke siku, lalu ke bahu, mencoba melilit jantungnya.
"Jangan menyerah... Arga... jangan..."
Sebuah suara berat membisik di telinganya. Itu suara ayahnya. Tiba-tiba, sebuah cahaya keemasan muncul dari koin emas yang tertinggal di saku celananya. Cahaya itu menembus kain sakunya dan menyinari kegelapan di dalam peti.
Melalui cahaya koin itu, Arga melihat pemandangan yang mengerikan: Di dalam peti itu, dia tidak sendirian. Ada ribuan ulat hitam kecil yang keluar dari duri di tangannya, mencoba memakan bayangan dirinya sendiri.
"Ini bukan mati sejenak," geram Arga sambil meronta. "Ini adalah proses pergantian kulit!"
Arga menyadari bahwa Gudang ini mencoba menghapus "Arga yang manusia" dan menggantinya dengan sesuatu yang lain. Dengan sekuat tenaga, ia menggenggam duri di tangannya sendiri menggunakan tangan yang lain. Ia menariknya dengan paksa.
SRET!
Duri itu tercabut, tapi bukan darah merah yang keluar, melainkan cairan hitam pekat yang mengeluarkan asap. Arga berteriak tanpa suara karena paru-parunya masih penuh dengan cairan gaib. Saat duri itu lepas, peti mati tersebut bergetar hebat seperti dipukul oleh ribuan tangan dari luar.
GEBBYARR!
Tutup peti itu hancur berkeping-keping. Arga terlempar keluar, mendarat di atas tumpukan tanah merah di area belakang gudang. Ia terengah-engah, memuntahkan cairan hitam dari mulutnya.
"Kau berhasil bangun," suara Si Pengumpul terdengar dari kegelapan. "Tapi kau terlambat sedikit."
Arga melihat ke arah langit. Ufuk timur mulai memerah, namun matahari tidak terlihat normal. Matahari itu berwarna abu-abu, seolah tertutup abu jenazah.
Ia melihat telapak tangannya. Angka 7 masih di sana, namun di bawahnya kini muncul simbol baru: Sebuah kunci kecil yang melingkar.
"Duri itu adalah kunci," Si Pengumpul menjelaskan sambil mendekat. "Sekarang kau bukan lagi kurir biasa. Kau adalah Kurir Kunci. Kau bisa membuka paket apa pun tanpa mati, tapi setiap kali kau membukanya, sepotong jiwamu akan tertinggal di dalamnya."
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari arah gudang utama. Sosok Pengawas jangkung muncul, namun kali ini ia tidak membawa nampan. Ia membawa sebuah Lonceng Perunggu.
Setiap kali lonceng itu berbunyi, jantung Arga berdegup kencang secara tidak alami.
"Tugasmu hari ini bukan mengantar barang ke manusia," ucap Pengawas itu, suaranya seperti gesekan batu nisan. "Hari ini, kau harus mengambil barang yang tertinggal di rumahmu."
"Apa?" Arga terkejut. "Tadi kalian bilang jangan pulang!"
"Tadi kau adalah mangsa. Sekarang, dengan kunci di tanganmu, kau adalah penjemput. Ambil 'Jantung Ibu' yang disimpan di bawah ubin dapur. Jika kau gagal sebelum bayanganmu hilang pukul 12 siang, maka ibumu yang asli tidak akan pernah kembali."
Arga terpaku. Jadi, sosok yang memasak kain kafan di dapur tadi bukanlah ibunya, melainkan penjaga yang menyandera jiwa ibunya.
Ia segera menyambar motornya. Namun, ada yang berbeda dengan motor itu. Mesinnya tidak lagi mengeluarkan suara knalpot, melainkan suara rintihan manusia. Speedometer menunjukkan waktu yang semakin sempit: 05:00:00.
Lima jam lagi.
Saat Arga memacu motornya kembali ke rumah, jalanan tidak lagi kosong. Ia melihat banyak orang berdiri di pinggir jalan dengan wajah rata tanpa mata. Mereka semua menunjuk ke arah rumah Arga.
Begitu sampai di depan kontrakan, Arga melihat rumahnya sudah diselimuti oleh akar-akar hitam besar yang keluar dari jendela dan pintu. Bau busuk nasi goreng yang hangus tercium sangat menyengat.
Arga turun dari motor, menggenggam simbol kunci di telapak tangannya yang mulai bersinar terang.
"Aku datang, Bu," bisik Arga.
Ia menendang pintu depan. Di ruang tengah, "Ibu Semu" itu sudah menunggu dengan posisi merangkak di langit-langit rumah, mulutnya terbuka lebar mengeluarkan cairan hitam yang siap menelan Arga bulat-bulat.
Dapatkan Arga menemukan ubin dapur dan mengambil 'Jantung Ibu' sebelum Ibu Semu menangkapnya? Dan apa sebenarnya 'Jantung' tersebut?