NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Bel istirahat berbunyi nyaring, namun suasana di kantin SMA Pelita Bangsa tidak seperti biasanya. Di tengah ruangan, Tasya berdiri dengan angkuh di depan meja Maya, sementara teman-temannya di geng The Roses tertawa mengejek. Tasya baru saja menyiram jus jeruk ke atas buku catatan Maya.

"Ups, sori. Gue kira itu tempat sampah, soalnya isinya tulisan anak beasiswa yang nggak berguna," cetus Tasya dengan nada meremehkan.

Maya hanya menunduk, bahunya bergetar menahan tangis. Namun, sebelum Tasya sempat melanjutkan makiannya, sebuah tepuk tangan pelan terdengar dari arah pintu masuk kantin.

Naura berjalan santai mendekati kerumunan, kembali dengan wajah "gadis ceria" miliknya. "Wah, Tasya! Kreatif banget ya cara lo kasih warna di buku Maya. Tapi kayaknya ada yang lebih berwarna deh di layar besar itu."

Naura menunjuk ke arah layar proyektor raksasa di tengah kantin yang biasanya digunakan untuk pengumuman sekolah.

Tiba-tiba, layar itu menyala. Bukannya menampilkan jadwal ujian, layar itu justru menampilkan rekaman suara dan tangkapan layar percakapan grup rahasia The Roses.

Suara Tasya terdengar jelas dari speaker "Tenang aja, foto editan si anak beasiswa itu aman di folder bokap gue. Dia nggak bakal berani lapor kalau nggak mau bokapnya gue bikin dipecat."

Seketika, seluruh kantin senyap. Ratusan pasang mata kini menatap Tasya dengan pandangan menghina.

"Apa-apaan ini?! Siapa yang berani?!" teriak Tasya panik, wajahnya memucat seketika.

"Gue nggak tahu siapa yang kirim, Tas. Tapi denger-denger, data itu juga udah terkirim otomatis ke email Dewan Komite Sekolah dan... oh, ke akun media sosial bokap lo juga,"

 Naura tersenyum sangat manis, namun matanya memancarkan kepuasan.

Tasya mencoba meraih ponselnya, namun tangannya gemetar. Ia melihat ke arah Arkan yang berdiri tidak jauh dari sana, berharap mendapatkan pembelaan. Namun, Arkan hanya menatapnya dengan pandangan datar, seolah sedang melihat serangga yang terjepit.

"Itu... itu fitnah! Itu editan!" jerit Tasya.

"Data digital nggak pernah bohong, Tasya. Sama kayak silet yang gue temuin di loker Maya tadi pagi dengan inisial nama lo di kotaknya," sahut Naura lantang. "Kayaknya jabatan bokap lo nggak bakal cukup buat nutupin skandal perundungan dan upaya pengancaman ini."

Melihat situasi yang sudah tidak terkendali, Tasya lari keluar kantin sambil menangis histeris, diikuti oleh teman-temannya yang kini ketakutan akan ikut terseret.

Naura menghampiri Maya, memberikan tisu, dan membantunya berdiri. "Gue bilang kan, jangan nunduk. Balonnya udah meledak."

Di sudut lain, Arkan melirik jam tangannya. Ia memberikan anggukan kecil yang hampir tak terlihat ke arah Naura, sebuah kode bahwa bagian pertama rencana mereka sukses besar.

Kini, tinggal satu urusan lagi: pertemuan di kafe jam tujuh malam nanti.

......................

Tepat pukul tujuh malam, suasana Kafe Risa terasa lebih tenang dari biasanya. Musik jazz instrumen mengalun rendah, menciptakan atmosfer yang seharusnya sempurna untuk pembicaraan serius. Arkan sudah duduk di meja pojok yang sama, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku.

Naura datang tak lama kemudian. Ia melepas trench coat kremnya, menampakkan kaus putih polos dan celana jeans hitam. Ia duduk dengan gerakan sigap, matanya langsung mengunci mata Arkan.

"Sesuai janji. Gue duluan atau lo?" tanya Naura tanpa basa-basi.

Arkan meletakkan cangkir kopinya. Wajahnya terlihat sangat serius, jauh lebih intens daripada saat mereka di sekolah. "Gue bakal mulai dari alasan kenapa gue tahu nama asli lo. Nama lo ada di manifes operasional..."

Baru saja Arkan hendak mengucapkan kalimat kunci, lonceng pintu kafe berdenting dengan sangat keras.

"WOI! LIAT TUH SIAPA YANG POJOKAN!"

Suara cempreng Rio menggelegar, menghancurkan keheningan kafe. Arkan memejamkan mata rapat-rapat, rahangnya mengeras karena frustrasi. Naura langsung kembali ke mode "gadis ceria" dalam sekejap, meski tangannya di bawah meja mengepal kuat.

Bimo dan Rio berlari menghampiri meja mereka dengan wajah penuh seringai jahil.

"Wah, wah, wah... pantesan tadi ditanya di grup bilangnya ada urusan keluarga," ledek Bimo sambil menarik kursi dari meja sebelah dan duduk tanpa diundang. "Urusan keluarga Amira maksud lo, Kan?"

"Gila, Arkan! Gercep juga lo ya. Kemarin perang dingin, sekarang udah dinner romantis aja," timpal Rio sambil menyambar camilan kentang goreng milik Arkan. "Halo, Naura! Sori ya, kita nggak bermaksud ganggu kencan kalian... eh, tapi kayaknya kita ganggu banget ya?"

Naura tertawa renyah, tawa khasnya yang bisa menipu siapa saja. "Duh, kalian ini apaan sih? Kita lagi bahas konsep panggung pensi tahu! Arkan tuh kaku banget, makanya gue paksa ketemu di luar biar otaknya agak encer dikit."

"Masa sih? Bahas pensi kok tatapannya kayak mau lamaran gitu?" Rio menyenggol bahu Arkan yang masih terdiam membeku. "Kan, jangan galak-galak dong sama cewek cantik. Nanti dia kabur lho."

Arkan menatap Rio dengan tatapan yang bisa membunuh seketika. "Cabut. Sekarang."

"Waduh, si bos marah!" Bimo berdiri sambil mengangkat kedua tangan. "Oke, oke. Kita cabut ke meja depan. Tapi pesenannya Arkan yang bayar ya sebagai pajak jadian!"

Kedua teman Arkan itu akhirnya pindah ke meja yang agak jauh, namun mereka tetap sesekali menoleh sambil berbisik-bisik dan tertawa kecil, membuat suasana benar-benar tidak kondusif untuk membongkar rahasia negara.

Naura mengembuskan napas panjang setelah kedua orang itu menjauh. "Gagal total," bisiknya ketus.

Arkan memijat pelipisnya. "Mereka pengganggu paling efektif di dunia."

Naura mencondongkan tubuh, suaranya kini nyaris tak terdengar. "Lo bilang tadi... manifes operasional. Operasional siapa, Arkan?"

Arkan melirik ke arah teman-temannya yang masih mengawasi, lalu kembali menatap Naura. Ia mengambil selembar tisu, menuliskan sesuatu di sana dengan pulpen, lalu menggesernya ke arah Naura.

Di tisu itu tertulis sebuah kode singkat: [UNIT-X: SECTOR 7]

Mata Naura membelalak. Ia segera meremas tisu itu dan menyembunyikannya di dalam saku. "Lo... dari pihak mereka?"

"Nggak," jawab Arkan tegas namun lirih. "Gue yang dikirim buat ngawasin mereka. Dan lo... lo adalah anomali yang harusnya nggak ada di misi ini."

......................

Arkan melangkah masuk ke dalam sebuah bangunan tua yang dari luar tampak seperti gudang distributor suku cadang kendaraan.

Namun, di balik pintu baja ganda yang hanya bisa dibuka dengan pemindai retina, terdapat pusat komando Unit-X: Sector 7.

Udara dingin dari pendingin ruangan yang dipasang maksimal menyambutnya. Wajah Arkan jauh lebih dingin dari suhu ruangan itu.

Rahangnya mengeras, dan tatapannya setajam belati. Percakapannya dengan Naura di kafe tadi meninggalkan residu kecurigaan yang membara di kepalanya.

Di ruang tengah yang dipenuhi layar monitor raksasa, pemandangan kontras tersaji. Bimo dan Rio, yang tadi terlihat seperti remaja konyol di kafe, kini duduk tegak di depan konsol enkripsi data. Di sudut lain, Najam sedang sibuk memeriksa laras panjang laras pendek dengan presisi seorang ahli senjata.

"Balik juga lo, Kan," ujar Bimo tanpa menoleh, jemarinya menari di atas keyboard. Nada suaranya tak lagi cempreng, melainkan rendah dan profesional. "Sori soal di kafe. Kita harus jaga cover lo di depan umum, meski harus kelihatan kayak orang tolol."

Arkan tidak menyahut. Ia berjalan lurus menuju ruang kaca di lantai atas.

"Arkan," panggil Najam. Arkan berhenti, namun tidak berbalik. Najam meletakkan senjatanya dan berjalan mendekat. "Gue tahu apa yang lo pikirin. Soal Naura."

"Lo membiarkan warga sipil masuk ke zona merah, Najam. Itu pelanggaran protokol tingkat satu," desis Arkan dingin.

Najam tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini terlihat penuh rahasia. "Dia bukan sekadar warga sipil, dan lo tahu itu. Naura punya caranya sendiri untuk bertahan hidup. Tapi malam ini, situasinya berubah."

Lampu merah di atas pintu ruang komandanya berkedip. Direktur Operasional memanggil.

Di dalam ruangan yang remang-remang, seorang pria paruh baya dengan bekas luka di pelipisnya menatap layar hologram.

"Duduk, Arkan," perintahnya.

Arkan berdiri tegak, tangannya di belakang punggung. "Lapor. Target 'Anomali' terkonfirmasi. Naura berada di bawah pengawasan langsung."

"Lupakan soal pengawasan sementara," potong sang Direktur. Ia menggeser sebuah file digital ke tengah meja. Muncul logo organisasi lawan The Black Ledger, kelompok intelijen tentara bayaran internasional.

"Kami baru saja menyadap transmisi dari faksi sebelah. Mereka sudah mengendus keberadaan Naura. Bagi mereka, Naura bukan hanya seorang gadis SMA, tapi pemegang kunci enkripsi data yang dicuri dari pusat data pusat setahun lalu. Identitas aslinya adalah aset yang ingin mereka musnahkan atau miliki."

Arkan menyipitkan mata. "Maksud Anda?"

"Misi lo berubah, Arkan. Mulai detik ini, tugas utama lo bukan lagi sekadar menyelidiki atau menetralisir dia."

Direktur itu menatap Arkan dengan sangat serius.

"Jaga Naura. Jangan biarkan kelompok intelejen lain menyentuhnya. Jika dia jatuh ke tangan mereka, seluruh Sector 7 akan terekspos. Gunakan cara apa pun. Jadilah bayangannya, jadilah pelindungnya, atau jadilah dinding yang menghalangi mereka."

Arkan terdiam sejenak. "Dia nggak akan suka dikawal."

"Maka lakukan tanpa dia sadari. Dan Arkan..." Direktur itu menambahkan sebelum Arkan keluar. "Jangan sampai emosi pribadi lo mengaburkan fakta bahwa dia sama berbahayanya dengan orang-orang yang mengejarnya."

Arkan keluar dari ruangan dengan aura yang lebih mencekam. Di aula bawah, Bimo, Rio, dan Najam sudah bersiap. Mereka kini mengenakan rompi taktis di balik jaket mereka.

"Jadi?" tanya Rio singkat.

Arkan mengambil sebuah alat komunikasi kecil earpiece dan memasangnya. "Misi perlindungan aktif. Najam, pantau koordinat rumah lo 24 jam. Bimo, bersihkan semua jejak digital Naura di sekolah. Rio, lo ikut gue."

Arkan meraih kunci motornya, tatapannya lurus ke depan. Di kepalanya, terngiang ucapan Naura di kafe “Gue selalu tahu kapan harus pakai nama pena, dan kapan harus jadi diri sendiri.”

"Gue harap lo siap, Naura," gumam Arkan pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!