NovelToon NovelToon
SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:923
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.

Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?

Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA PULUH

18+ be wise

Ruangan kerja yang tadinya tegang kini hanya diisi oleh dengus napas Rakha yang tertidur lelap dalam mabuknya. Ponsel yang pecah tergeletak di lantai, botol whisky tergeletak kosong, dan bayangan gelap malam menelan seluruh ruangan.

Bahkan dalam tidurnya, rahang Rakha masih mengeras-seolah mimpi buruknya pun tidak melepaskannya dari murka dan luka yang belum sempat ia pahami.

Rakha terhuyung sedikit saat berdiri dari kursi kerjanya. Kepalanya berdenyut hebat, sisa alkohol masih menguasai tubuhnya. Pandangannya buram sesaat, namun keinginan aneh mendorong langkah kakinya. Ia menapaki tangga menuju lantai atas, tempat kamar yang ia siapkan khusus untuk Maharani.

Setiap langkah terasa berat, namun juga tertarik oleh rasa penasaran yang tak bisa ia bendung. Bukan sekadar ingin memastikan, ada sesuatu yang lebih dalam-semacam dorongan untuk melihat dengan mata kepala sendiri, apakah gadis itu masih ada di sana, nyata, bukan sekadar bayangan yang menghantui pikirannya.

Tangannya menggenggam gagang pintu perlahan, memutarnya hati-hati hingga pintu berderit pelan. Rakha menahan napas, seperti seorang penyusup di rumahnya sendiri.

Cahaya lampu tidur berwarna kuning redup menyapu ruangan luas itu. Di tengahnya, di atas ranjang king size dengan seprai putih bersih, Maharani terbaring miring ke kanan. Tubuhnya tampak kecil, rapuh, nyaris tenggelam dalam luasnya kasur. Ia mengenakan baju tidur tipis berwarna pastel, lengan panjang yang longgar menutupi sebagian tubuhnya, tapi tetap menyisakan siluet halus yang terlihat samar di bawah cahaya.

Maharani tampak damai, kontras dengan tangisan dan ketakutannya tadi malam. Rambut hitamnya berantakan di bantal, pipinya masih sembab. Di pelukannya, sebuah boneka kucing putih yang memang sudah Rakha siapkan sebelumnya-hal yang tak pernah ia lakukan untuk siapa pun.

Rakha menunduk, napasnya berat, aroma alkohol masih kuat menempel di tubuhnya. Tangannya menyentuh wajah Maharani dengan tergesa, jemarinya bergetar namun sentuhannya lembut, seakan antara amarah dan kerinduan yang tak pernah ia akui berpadu menjadi satu.

Kelopak mata Maharani perlahan bergetar, lalu terbuka. Pandangannya kabur beberapa detik, sebelum akhirnya fokus pada sosok di hadapannya. Rakha.

Wajah Maharani langsung berubah tegang. Sembab bekas tangis masih jelas membekas di pelupuk matanya. Refleks, ia merapatkan selimut tipis ke dadanya, tubuhnya menegang penuh kewaspadaan.

"Pak Rakha... kenapa-" suaranya bergetar, patah di tengah kalimat.

Namun sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya, bibirnya telah dibungkam. Rakha menunduk cepat, menempelkan bibirnya pada bibir Maharani. Sebuah ciuman mendadak, penuh emosi yang tak terkendali.

Maharani terkejut. Matanya membesar, tubuhnya kaku, jantungnya berdegup kencang. Ia ingin mendorong, ingin berteriak, namun tubuhnya seakan membeku oleh kejadian yang begitu tiba-tiba.

Rakha sendiri tidak memahami apa yang ia lakukan. Alkohol, emosi, dan bayangan video terkutuk itu membuat pikirannya kusut. Ciuman itu bukan lembut penuh kasih, melainkan terdesak-sebuah pelarian dari rasa marah yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

Rakha semakin menekan tubuhnya ke arah Maharani, ciumannya kian dalam, penuh emosi yang bercampur antara amarah, luka, dan keinginan yang tak bisa ia kendalikan. Awalnya ia hanya bermaksud membungkam, melampiaskan ledakan perasaan yang tak terdefinisi. Namun saat tak ada perlawanan dari Maharani, justru semakin kuat dorongan itu.

Maharani memang kaget. Tubuhnya kaku, matanya membelalak, tangannya hanya meremas selimut tipis yang menutupi tubuhnya. Ia tidak tahu harus bagaimana-antara mendorong atau tetap diam. Segalanya terasa begitu cepat.

Rakha merasakan keheningan itu sebagai isyarat. Bibirnya menekan lebih dalam, jemarinya yang semula hanya membingkai wajah Maharani kini bergerak ke lehernya, menyapu lembut kulit yang hangat, seolah mencari pegangan. Ada nada frustrasi dalam setiap gerakannya, seakan ia ingin melawan sesuatu di dalam dirinya sendiri.

Namun di balik itu, Maharani justru semakin terhimpit. Nafasnya memburu, dadanya naik-turun, air matanya kembali jatuh meski matanya terpejam rapat. Bukan karena pasrah, melainkan karena tubuhnya tak bisa segera menolak-ketakutan, keterkejutan, dan rasa asing membuatnya kehilangan tenaga untuk melawan.

Tanpa kata, Rakha menyesap bibir Maharani dalam-dalam-seolah wanita itu adalah candu, seperti alkohol yang paling memabukkan. Setiap helaan nafasnya, setiap sentuhan bibir Maharani, membuatnya semakin kehilangan kendali. Manis, lembut... seperti buah anggur ranum yang membuatnya tak cukup hanya sekali menggigit. Ia ingin lagi, dan lagi, hingga habis tak tersisa.

Saat Maharani, entah karena kaget atau refleks, sedikit membuka mulutnya, Rakha semakin menggila. Kesempatan itu ia rebut dengan cepat, lidahnya menyusup, bertemu dengan lidah Maharani dalam tarikan nafas yang berat. Ciuman itu bukan lagi sekadar luapan emosi, tapi badai yang menghisap segalanya.

Rakha menggeram tertahan, suara rendah yang terdengar seperti desahan amarah bercampur hasrat. Kesadarannya hampir hilang, seakan semua kontrol dirinya benar-benar terampas oleh sesuatu yang sudah lama ia tekan-keinginan yang mungkin telah ia simpan selama dua belas tahun.

Namun tepat di saat itu, Maharani akhirnya bergerak. Tubuh mungilnya bergetar, kedua tangannya naik, mengguncang kuat bahu Rakha. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Maharani mendorong tubuh pria itu menjauh dari dirinya.

"Pak... cukup!" suaranya pecah, parau di sela isak yang ditahannya.

Rakha terhuyung sedikit ke belakang, nafasnya masih memburu, wajahnya tegang dan penuh gejolak.

Maharani menatapnya dengan mata basah, menggenggam selimutnya erat hingga buku jarinya memutih. Air mata jatuh satu per satu, memperjelas garis luka yang tak terlihat di wajahnya.

Rakha terdiam, dadanya naik-turun, matanya menatap Maharani dengan campuran rasa yang sulit dijelaskan-amarah, penyesalan, hasrat, sekaligus kebingungan.

Rakha terhuyung ke belakang, nafasnya masih memburu. Pandangannya kabur, bukan hanya karena sisa alkohol, tapi juga oleh kesadaran yang mendadak menghantam keras di kepalanya. Apa yang baru saja ia lakukan?

Maharani menatapnya dengan mata sembab, tubuhnya masih gemetar di balik selimut yang ia tarik erat ke dadanya. Ada ketakutan di sana, juga luka yang semakin dalam.

Rakha menutup wajahnya dengan satu tangan, meremas rambutnya dengan kasar.

"Ya Tuhan..." desisnya lirih, suaranya pecah oleh penyesalan. "Apa yang barusan... saya-"

Ia menunduk dalam, lalu akhirnya berusaha mendekat, meski dengan langkah goyah. Tatapannya tidak lagi marah, melainkan penuh rasa bersalah yang menghantam habis-habisan.

"Maharani..." suara Rakha rendah, serak, hampir tidak terdengar. "saya... saya minta maaf."

Maharani menggigit bibirnya, air matanya jatuh lagi. Ia ingin bicara, tapi suaranya tercekat.

Rakha menghela napas berat, menahan diri agar tidak menyentuh Maharani lagi. "saya... keterlaluan. Saya tidak seharusnya... menyentuhmu seperti itu. Saya kehilangan kendali, maafkan saya Maharani."

Ia menatap wajah Maharani, dan untuk pertama kalinya, sorot mata Rakha benar-benar runtuh. Tidak ada dingin, tidak ada kuasa-hanya seorang pria yang terjebak dalam pusaran emosinya sendiri.

"Maafkan saya..." ucapnya lagi, kali ini lebih lirih, hampir bergetar.

Maharani memeluk dirinya sendiri, menatap Rakha dengan campuran takut dan iba. Ia tidak menjawab, hanya diam dengan air mata yang masih terus jatuh.

Rakha akhirnya mundur selangkah, seakan menyadari kehadirannya hanya memperparah luka. Ia menunduk, lalu berbalik dengan gerakan berat, meninggalkan kamar itu tanpa kata lain.

1
jekey
up banyak"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!