NovelToon NovelToon
Clara Ingin Bercerai Dari Suaminya

Clara Ingin Bercerai Dari Suaminya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saskiah Khairani

Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Wajah Rio tampak emosional, sikapnya pun menjadi dingin. Dia merasa Clara ingin mendapatkan perlakuan khusus karena statusnya.

"Bu Clara, mohon jaga sikapmu dan tetap bekerja secara profesional. Kamu pikirin di rumahmu?" Ucap Rio dengan nada tinggi.

Sikap Clara tidak berubah, siapa mengambil tasnya sambil berkata, "kalau kamu nggak suka, pecat aja aku sekarang."

"Kamu!"

Sebelum ini, video sempat mendampingi Edward ke Latvin. Sebagai sekretaris pribadi, dia tahu soal pengajuan pengunduran diri Clara.

Meski yang saya maksud orang kepercayaan Edward, dia tidak berhak begitu saja memutuskan memecat Clara.

Terlebih lagi nenek anggasta sangat menyukai Clara. Masalah akan semakin panjang jika Clara mengadu pada nenek keluarga anggasta meski yakin Edward akan lindunginya, dia tetap akan dirugikan.

Clara tak memedulikan Rio dan berjalan melewatinya begitu saja.

Rio yang merasa diabaikan semakin emosional. Dia meninggalkan divisi sekretariat dengan kesal.

"Ada masalah apa?" Tanya farel saat lihat v

Rio kesal.

Rio pun menceritakan semuanya.

Farel dibuat terkejut saat mendengarkan.

Selama ini, dia yang sering berinteraksi dengan Clara.

Dia paham bagaimana watak Clara, yah meski sedikit.

"Clara nggak mungkin seperti itu, apa mungkin ada salah paham?" Hanya farel penasaran.

"Enggak, kejadiannya memang seperti itu. Kalau menurutku sih dia memang ingin diperlakukan khusus. Aku rasa dia nggak sebaik yang kamu ceritakan,"menjawab Rio ketus.

Farel terdiam sejenak lalu berkata, "apa mungkin karena dia mau unduhkan diri dan mulai menyerah?"

Namun, kinerja Clara akhir-akhir ini masih bagus, tidak ada bedanya dengan dulu.

Tepat pada saat ini, tampak Edward berjalan mendekat. "Ada masalah apa?" Tanyanya singkat.

"Mengenai Bu Clara, kerjaan belum selesai tapi sudah pulang," jawab Rio.

"Kalau memang seperti itu, pecat saja sesuai aturan perusahaan." ucapkan Edward.

Tampaknya dia memang tak memedulikannya.

Farel dan Rio lantas tercengang saat mendengarnya.

Bukan karena masalah sikap Edward pada Clara selalu dingin.

Tapi tentang apa yang dikatakan Edward barusan, sekolah tak tahu kalau Clara sudah mengajukan pengunduran dirinya .

Bukankah Clara mengundurkan diri atas perintah Edward?

Apa mungkin mereka salah mengira?

Saat mereka ingin menjelaskan, ponsel Edward berdering.

Telepon dari Vanessa.

Edward tak lagi memperhatikan mereka. Dia berjalan melewati mereka menuju lift sambil mengangkat telepon.

"Ya, ini aku udah selesai, bentar lagi sampai."

Farel dan gio Salim menatap satu sama lain.

"Mungkin pak Edward lupa?"

"Ya, bisa jadi."

Bagaimanapun, Edward tidak pernah peduli dengan urusan Clara.

.....

Di sisi lain.

Hubungan Elsa dan nenek keluarga hermosa sangatlah dekat.

Sebelum ini, asalkan Elsa ada di rumah, Clara pasti akan membawanya pergi bersama ke kediaman keluarga hermosa.

Namun sekarang berbeda. Elsa memang sudah kembali ke marola, tapi belum menghubunginya beberapa hari ini. Gadis kecil itu justru menghubungi Vanessa tiap hari dan akan rindu jika tidak bertemu selama beberapa hari.

Kalau memang sudah seperti itu, Clara tidak perlu memaksanya.

Terlebih lagi, hubungan Elsa dan Vanessa begitu dekat sekarang. Nenek pasti akan marah besar jika mengetahuinya.

Yah, apa boleh buat. Kedatangannya kali ini ke kediaman hermosa hanya seorang diri. Meski Elsa sudah kembali, dia tidak akan menjemputnya.

Jalanan sore itu terbilang cukup padat. Dia baru tiba di kediaman diagnosa sekitar pukul setengah enam malam.

Begitu melihat Clara, senyum di wajah nenek lenyap. "Kamu kurusan, Clara?" Ucap nenek sambil menyentuh lembut wajah Clara dengan penuh kasih sayang.

"Air air ini sibuk banget, Nek banyak kerjaan." Jawab Clara dengan pendek.

Nenek tampak mahela nafas panjang lalu berkata, "meski sibuk, kamu harus makan teratur."

"Iya, Nek. Aku ngerti."

Lagi duduk di samping sambil menyandarkan wajahnya ke bahu nenek. Dia ingin merasakan kehangatan dari kasih sayang nenek.

Daging kambing sudah matang, nenek lantas memerintahkan pelayan untuk membawakan semangkuk sup kambing untuk menghangatkan tubuh Clara.

Perhatian nenek pada Clara begitu besar. Hal itu membuat Clara berlinang air mata begitu teringat masalah yang terjadi belakangan ini.

Clara takut nenek akan khawatir jika tahu tentang masalahnya. Jadi dia segera menenangkan diri dan berkata, "apa bibi sama yang lain belum kembali dari liburan, nek?"

"Belum, mereka asik liburan. Mereka malah bilang seminggu lagi baru pulang."

"Mana dengan paman, Nek? Masih sibuk sambut klien?" Lanjut Clara.

"Begitu tahu kamu ke sini, pamanmu langsung atur ulang jadwalnya. Dia ingin ikut makan malam bersama kita. Mungkin, sebentar lagi dia datang."

"Baik, Nek."

Baru saja dibicarakan, Bagas Hermosa pun tiba. "Wah, Clara sudah datang, toh!" Ucapnya sembari yang menatap Clara dengan tersenyum.

Namun tak lama, dia langsung mengerutkan keningnya, lalu berkata, "kamu kok kurusan sekarang? Jarang makan?"

"Sebelumnya terlalu sibuk... Kelak aku bakal makan lebih banyak deh," ucapkan sambil tersenyum.

Begitu pelayan menghidangkan masakan di atas meja makan, Bagas langsung mengambil daging dan memberikannya kepada Clara.

Saat Bagas mengatakan dirinya kurus, sebenarnya kau juga melihat wajah pamannya tampak kelelahan.

Meski tidak bekerja di hermosa group, Clara tahu bisnis keluarganya itu sedang memburuk. Paman sibuk mengurus perusahaan tiap hari, tapi tetap tidak membuahkan hasil.

Selama ini, sebenarnya ada beberapa proyek. Asalkan Edward mau membantu, hermosa group tidak akan jatuh hingga ke titik ini.

Edward hanya pernah membantu mereka dua kali, itupun atas perintah nenek keluarga anggasta.

Clara berpikir dalam benaknya. Berdasarkan kesalahpahaman Edward pada dirinya, jika bukan karena nenek keluarga anggasta, edwap bukan hanya tidak membantu, bisa jadi pria itu akan menghancurkan keluarga harmosa.

Senyum pahit terpancar di wajah Clara saat memikirkannya. Rasa daging kambing yang lezat tiba-tiba berubah hambar.

Bagas sendiri tidak pernah meminta bantuan Clara untuk membujuk Edward. Dia tahu keponakannya itu sudah banyak menderita.

Selesai makan, saat nenek terlelap sebentar, Clara menyerahkan sebuah kartu ATM yang berisikan uang seratus empat puluh miliar.

"Clara, Paman gak perlu..."

"Nggak ada gunanya aku simpan paman." Clara menyalakan kartu ATM itu pada Bagas, lanjut berkata. "Aku nggak bisa bantu apa-apa, aku cuman bisa bantu ini."

Sejak kecil, memang benar Clara biasa menjadi juara kelas. Dia juga mampu melakukan penelitian dan pengembangan. Hanya saja, dia tidak cocok untuk berbisnis.

Untungnya, Clara tidak berhasil mendapatkan beberapa hak paten dalam kecerdasan buatan atau AI di awal tahun dirinya berkarir.

Saat itu, dia dan dylan mendirikan perusahaan teknologi. Tiap tahun, perusahaan tentunya akan membagikan dividen. Jika ditotal, dividen yang dia dapatkan mencapai ratusan miliar atau bahkan trio triliunan meski hanya berbaring tanpa melakukan apa-apa

Bagas merasa malu pada Clara.

"Kamu sudah kasih uang berkali-kali, tapi perusahaan malah...."

Hampir pailit

"Maafkan pamanmu ini, Paman memang gak kompeten."

"Wajar kalau perusahaan melakukan investasi lebih banyak dalam proses transformasi. Jangan jadikan hal ini sebagai beban paman," Hibur Clara.

Pada titik ini, Clara teringat apa yang dikatakan dylan padanya hari itu. "Perkembangan AI sangat cepat. Kalau saja kamu nggak buru-buru nikah waktu itu, dengan kemampuan dan terobosanmu, ditambah dengan kemampuan operasionalku, perusahaan kita pasti punya nilai pasar ribuan triliun dan menjadi perusahaan teknologi nomor satu di marola. Untungnya, AI punya banyak ruang untuk dikembangkan sekarang. Kita masih punya kesempatan, aku harap kamu segera kembali."

....

Saat Edward tiba di rumah, waktu sudah lewat pukul sepuluh malam.

Elsa mengusap matanya berkata, "ayah sudah pulang?"

"Ya," jawab Edward terlalu berkata.

"Kalau ngantuk, cepat tidur sana."

"Ya, selamat malam ayah!"

"Selamat malam."

"Elsa naik ke atas dan langsung pergi tidur. Setelah minum air yang diberikan pelayan, Edward juga bergegas naik ke atas.

Kamar tidur utama masih dalam keadaan

Gelap.

Seperti tidak ada penghuni.

Edward menghentikan langkahnya sejenak, lalu menyalakan lampu.

Enak saja tidak ada seorangpun di dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!