Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Pukul sepuluh pagi, suasana kantor sedang sangat sibuk Karena sedikit mengantuk, Hendra memutuskan untuk beranjak sejenak ke arah pantry.
Kepalanya berdenyut memikirkan drama di rumah tadi pagi, dan hanya secangkir kopi hitam tanpa gula yang menurutnya bisa sedikit menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
Ia baru saja menuangkan air panas ke dalam cangkirnya saat ia menyadari kehadiran seseorang di belakangnya. Belum sempat Hendra menoleh, sebuah benturan sengaja yang cukup keras terjadi.
"Aaakh!" Rima menjerit kecil.
Cangkir di tangan Hendra yang berisi kopi panas itu tumpah tepat mengenai bagian dada kemeja putih yang dikenakan Rima.
Cairan cokelat itu merembes cepat, meninggalkan noda besar pada pakaiannya yang agak tipis.
"Astagfirullah! Rima! Maaf, maaf sekali, aku tidak sengaja!" Hendra panik luar biasa. Ia segera meletakkan cangkirnya di meja marmer dan menyambar beberapa lembar tisu.
Hendra refleks membantu mengelap noda di bagian dada kemeja Rima. Fokusnya hanya satu, memastikan kulit Rima tidak melepuh karena panasnya kopi tersebut.
Hendra melakukannya dengan terburu-buru, tanpa menyadari bahwa tangan kiri Rima yang tersembunyi di balik tubuh sedang menggenggam ponsel dengan posisi kamera aktif, merekam setiap gerak-gerik Hendra yang terlihat seolah sedang menyentuh bagian sensitifnya dengan sangat dekat.
"Mas, pelan-pelan... perih," bisik Rima dengan nada yang dibuat sendu.
Saat Hendra sedang sangat dekat, Rima tiba-tiba menarik kerah baju Hendra dan mengecup pipinya.
Cup!
Hendra terkesiap dan langsung menarik tangannya menjauh. "Rima! Apa yang kamu lakukan?!"
Rima segera menyembunyikan ponselnya ke dalam saku rok ketatnya. Lalu ia memasang wajah penuh penyesalan.
"Maaf, Mas... maaf. Aku nggak sengaja. Habisnya, kamu perhatian sekali sama aku. Aku jadi terbawa suasana," ucap Rima.
Hendra menarik napas panjang, mencoba meredakan detak jantungnya yang berpacu kencang. Ia merasa sangat tidak nyaman. Apalagi melihat noda kopi yang masih basah di dada Rima.
"Sudahlah, tidak masalah soal itu. Sekarang yang penting bajumu. Kopi itu panas sekali, Rima. Apa kulitmu terluka?" tanya Hendra dengan khawatir.
Rima tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan rencana licik. Rekaman di ponselnya sudah lebih dari cukup untuk membuat Hendra kehilangan harga diri di depan Aisya jika ia mau.
"Panas banget, Mas. Kayaknya aku harus buka kemeja ini sebentar buat dibersihkan," ujar Rima dengan nada menantang.
Tanpa menunggu persetujuan Hendra, Rima mulai jemarinya yang lentik membuka kancing kemejanya satu per satu. Satu kancing terlepas. Kemudian kancing kedua.
Karena kemeja itu sudah basah oleh kopi, kainnya menempel ketat pada kulit, dan saat dua kancing atas terbuka, nampaklah pemandangan yang sanggup meruntuhkan pertahanan pria mana pun.
Dua bongkahan kenyal yang putih dan berisi seolah hendak melompat keluar dari balik pakaian dalamnya yang berenda.
Rima sengaja membusungkan dadanya sedikit, membuat belahan itu terlihat semakin jelas dan menggoda tepat di hadapan mata Hendra.
"Sakit, Mas..."
Hendra tertegun. Sebagai pria normal, ia tidak bisa membohongi penglihatannya. Rima memang sangat menggoda, ia memiliki tubuh yang sangat terawat, kulit yang bersih.
Godaan itu begitu nyata, menyerang egonya sebagai pria yang selama ini hidup dalam tekanan dan kekurangan. Namun, di tengah bayangan kemolekan itu, tiba-tiba wajah sendu Aisya saat menangis di lantai ruang tamu terlintas di benaknya.
Hendra ingat pada air mata istrinya. Ia ingat bagaimana Aisya selalu menunggunya pulang dengan tulus meski hanya dengan menu sederhana.
Hendra segera memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Mas, bantu aku dong. Kok malah diam?"
"Rima, cukup! Kancingkan kembali bajumu!" tegur Hendra dengan suara berat.
"Kenapa, Mas? Takut tergoda? Kamu laki-laki. Aku tahu apa yang kamu duka. Kenapa harus pura-pura jual mahal?"
"Aku tidak pura-pura, aku punya harga diri!" Hendra kembali menatap Rima, namun hanya fokus pada matanya, bukan dadanya. "Cepat rapikan pakaianmu atau aku yang akan keluar dari sini."
Rima melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma napasnya terasa di leher Hendra.
"Mas, coba pikirkan sekali lagi. Apa yang bisa dikasih Aisya buat kamu? Selain tangisan dan kemandulan? Di depanmu ada aku, yang siap kasih kamu segalanya. Kesenangan, kekayaan bahkan keturunan. Semua ada dalam diriku."
Hendra mundur satu langkah dengan wajah mengeras.
"Mungkin kamu punya segalanya, Rima. Tapi kamu tidak punya apa yang Aisya miliki."
"Apa? Kemiskinan?" cibir Rima.
"Cinta yang tulus!" jawab Hendra singkat. "Sekarang, permisi. Aku harus kembali bekerja."
Hendra berbalik dan melangkah keluar dari pantry dengan langkah cepat, meninggalkan Rima yang berdiri dengan kemeja terbuka dan amarah yang membara.
Rima merogoh ponsel di sakunya, menatap layar yang menunjukkan rekaman pendek tadi.
"Cinta ya, Mas?" gumam Rima. "Mari kita lihat, seberapa kuat cinta itu bertahan setelah istrimu melihat video suaminya sedang bermain dengan wanita lain di kantor."
Rima menyunggingkan senyum kemenangan. Baginya, penolakan Hendra barusan hanyalah bumbu pelengkap sebelum ia benar-benar menghancurkan rumah tangga pria itu.
apa Sarah nama tengah belakang atau samping 🤣