NovelToon NovelToon
Dosenku Canduku

Dosenku Canduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Remaja01

Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.

.

.

Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.

"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.

.

.

"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.

.

.

"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Phanraya khun sway, Khong pom.

Piknik yang seharusnya menyenangkan berubah jadi drama. Adam terpaksa membawa Sarah ke klinik untuk mendapatkan perawatan. Dokter bilang, Sarah tidak apa-apa, cuma kakinya saja yang terkilir.

Huh! Dasar dia aja keganjenan

Sejak dari air terjun menuju klinik, hingga pulang ke rumah bibi Ria sebelum kerumah Oma, aku diam seribu bahasa.

"Untung ada Adam. Entah apa yang terjadi pada cucu Oma yang satu itu kalau Adam ndak ada," ucap Oma dengan raut cemas ketika kami berada di rumah.

Adam hanya tersenyum sambil melihat padaku yang masih mendiamkannya.

Jujur, aku tak tahu bagaimana perasaanku saat ini. Cemburu, ada. Marah, juga ada. Tapi empati pada Sarah, sedikitpun tidak ada. Aku merasa, Sarah sengaja melakukan hal gila itu, karna dia tahu Adam ada disana dan akan menolong.

"Kamu masih marah?" tanya Adam padaku yang sedang berbaring.

Selesai makan malam, aku lansung masuk kamar. Sempat kudengar suara bibi Ria di luar dan mereka mengobrol di ruang tamu cukup lama. K

"Winda, kamu tahu kan, niat saya tadi hanya ingin menolong saja? Lagian dia bukan orang lain. Dia sepupu kamu." Suara Adam lembut membujukku.

Aku berdebat dengan perasaanku sendiri. Sampai kapan aku akan diam seperti ini? Bisakah masalah ini selesai dengan aku mendiamkan diri?

Perlahan aku bangun dan bersandar pada sandaran ranjang. Kupandang Adam yang masih duduk di sisi ranjang. "Kalau aku bilang, Sarah sengaja melakukan itu untuk menarik perhatianmu. Apa kamu percaya?" ucapku mengungkap apa yang terbesit di hati.

Kening Adam berkerut. "Kenapa dia harus mengambil resiko itu?"

"Karna dia punya motif. Aku tahu, dia masih dendam padaku atas kejadian 5 tahun lalu. Sekarang coba kamu pikir, pertama aku memergoki dia sedang mengintipmu yang sedang mandi dan dia berhasil. Sekarang dilanjutkan dengan menenggelamkan diri hanya untuk berhubungan intim denganmu dengan memberinya pernapasan dari mulut ke mulut!"

"Tapi itu hanya bantuan pernapasan, bukan ciuman, sayang." Adam berdalih. Tapi sebenarnya itu bukan dalih, aku tahu Adam jujur. Yang jadi masalahnya cewek keganjenan itu pasti merasa berhasil karna telah mendapat ciuman Adam.

"Ya, itu benar. Tapi bukan buat cewek putus asa itu yang sanggup menenggelamkan diri semata-mata hanya mencari perhatianmu," balasku sambil melipat tangan ke dada.

Adam tersenyum dan perlahan menggeser duduk lebih dekat padaku.

"Winda..." Adam maraih satu tanganku dan aku mendesis kesakitan karna tangannya tak sengaja menyentuh luka di punggung tanganku akibat jatuh di sungai tadi. "Sayang, ini kenapa?" tanyanya penuh ke khawatiran sambil memperhatikan luka itu.

"Gak apa-apa. Cuma lecet dikit waktu di sungai tadi." Aku coba menarik tanganku lagi, tapi Adam menghalanginya. Dai malah menarik tanganku kemulutnya. Di tiup dan di cium lukaku itu penuh kasih.

"Tunggu sebentar, saya ambil obat dulu."

Tanpa menunggu jawabanku, Adam sudah berlari keluar kamar. Tidak sampai semenit, dia sudah kembali dengan sebotol minyak Tawon. Minyak itu di oleskan ke lukaku dan di tiup lembut.

"Winda," panggilnya. Mungkin ingin melanjutkan obrolan tadi. "Saya tidak peduli dengan apa yang Sarah pikirkan. Yang terpenting bagi saya, istri saya tahu kalau yang saya lukan tadi hanya bentuk pertolongan saja. Tidak lebih."

"Istri kamu gak tau tuh, gimana aksi mulut yang kamu lakukan tadi pada Sarah," bantahku.

Lantas Adam menngambil tanganku dan membukanya, lalu di dekatkan ke bibirnya. Pipinya mengembung saat nafasnya di hembus kuat ke telapak tanganku, hingga terdengar seperti bunyi kentut.

Dan aku tertawa dengan apa yang di lakukannya itu.

"Begitulah yang saya lakukan pada Sarah, tapi harus saya lakukan kemulutnya karna ingin memberikan nafas bantuan," ucap Adam tersenyum nakal. "Kamu mau mau tahu bagaimana kalau saya memberi nafas buatan untuk istri saya?"

Seketika tawaku terhenti di ganti dengan deguban jantung berdetak tak menentu. Tanpa sadar aku menggigit bibir bawahku, karna pikiran malah membayangkan itu semua.

Adam tidak menunggu jawabanku. Dengan masih memegang sebelah tanganku, dia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan menangkupkan sebelah tapak tangannya ke leherku.

Dan entah kenapa mulutku malah terbuka menantu bibir merahnya.

Satu kecupan lembut singgah di mulutku membuat mataku lansung terpejam. Lidahnya di julurkan mengusap dinding bibirku dan tanganku reflek naik memeluknya. Menariknya agar lebih mendekat lagi padaku.

Seakan mengerti kemauanku, Adam melepaskan sebelah tanganku yang di genggamnya dan dan menarikku agar lebih dekat juga. Bibirnya masih berada di bibirku, di nikmati dengan rakus.

Tubuhku semakin menekan ketubuhnya, hingga dada kami saling bersentuhan. Begitupun kedua tangannya memeluk erat tubuhku, sedikitpun tidak memberi ruang untuk menjauh.

Aku pun tidak ingin jauh, tubuh semakin ketekan lebih dekat lagi. Dan gairah dalam diri semakin bergelora.

Ketika Adam melepaskan bibirku dan tangannya perlahan mengurai pelukan, nyaris aku merengek meminta dia melakukan lagi. Tercagup-cagup aku mengambil nafas, sedang Adam menempelkan keningnya ke keningku.

"Begitulah cara saya mencium satu-satunya phanraya khun sway."

Keningku berkerut, tidak mengerti dengan kata-kata terakhir yang di ucapkannya. Ini kali ketiga Adam bicara menggunakan bahasa yang aku tak mengerti.

"Phanraya khun sway. Artinya istri yang cantik," sambungnya seolah tau kebingunganku.

Senyumku mengembang, dan entah kenapa hatiku berbunga. Aku tahu, apa yang di lakukan Adam pada Sarah sore tadi hanya bentuk bantuan pernafasan saja, tapi aku juga tidak bisa rasa cemburu yang hadir menyaksikan bibirnya menyentuh bibir wanita, apalagi itu bibir Sarah.

"Kamu gak akan melakukan  itu pada wanita selain... Phun...raya..khun..swuy, kan?" tanyaku sambil mengulang kata asing yang di ucapkannya tadi.

Adam tersenyum mungkin merasa lucu dengan pengucapan kata asing yang kusebut tadi. Kemudian dia menggeleng dan bicara, "tidak, saya tidak akan melakukannya. Itu janji saya."

Adam menjuahkan wajahnya dan senyum lagi. "Phanraya Khun sway." Kata itu kembali di ulang dan aku hanya tersenyum karna menyadari kesalahan dalam pengucapan tadi.

"Jadi, my phanraya Khun sway masih marah saya lagu tidak?" tanyanya sengaja menggodaku.

"Sebenarnya aku gak marah, cuma kesal aja sama Sarah," jawabku sambil membenarkan posisi bantal untuk kembali berbaring dan Adam turut berbaring di sebelahku.

"Saya tidak tahu apa yang terjadi antara kamu dan Sarah dulu, tapi apapun itu, saya paham cara kamu menganalisis situasi sekarang," gumam Adam berbisik di sebelahku.

Aku berbalik dan memandang kedalam matanya. Adam tidak tahu masalah aku dan Sarah yang sebenarnya.

"Kalau kamu ingin tahu. Dulu hubungan aku dan Sarah begitu dekat. Kami saling menyayangi dan pantang bertemu, kalau sudah ketemu pasti lupa waktu. Maklum lah, dia satu-satunya sepupu dari pihak Papa." Aku nemulai cerita. Adam mengangguk di sebelahku, memintaku kembali melanjutkan.

"4 tahun lalu, setelah tamat SMA, Papa dan Mama mengantarkan aku kesini. Waktu itu, Sarah akan bertunangan dengan Iksan, anak kampung sini juga. Tapi pada hari pertunangan, Iksan seperti menunjukkan sukanya padaku." Aku menjeda sesaat, milhat Adam yang masih diam menyimak ceritaku.

"Jujur aku merasa serba salah. Aku sayang pada Sarah dan aku gak mau dia kecewa di kemudian hari. Jadi diam-diam aku coba mendekati Iksan dengan niat ingin mencari bukti kalau dia memang menyukaiku. Tapi ternyata iksan orangnya pintar, dia seperti senagaja gak mau berhubungan denganku lewat ponsel. Jadi aku pun gak bisa menunjukkan bukti." Aku kembali menjeda.

"Suatu hari, Iksan mengajakku ketemuan, katanya ingin meluahkan perasaan. Aku pikir itu adalah satu kesempatan yang baik untuk mendapatka bukti. Dan kami pun janjian di pondok kebun milik orang tuanya. Seperti yang aku rencanakan, aku berhasil merekam pembicaraannya saat dia menyatakan perasaan padaku. Dia terang-terangan mengatakan, cinta aku dan akan memutuskan hubungan dengan. Sarah." Rasa kecewa dan marah kembali hadir, seolah kejadian lama itu baru saja terjadi. Wajah Adam juga sedikit berubah, entah apa yang dia pikirkan saat ini.

"Setelah itu, dia minta aku membuktikan kalau aku juga cinta dia. Tanganku di ambil dan di tarik kedalam pelukannya. Sumpah, waktu itu aku panik banget, Adam. Kejadian itu di luar prediksiku. Dan saat itu aku benar-benar buntu. Antara harus memberitahukan rencanaku yang pura-pura padanya atau meralat lagi ucapan yang telah kusampaikan? Aku benar-benar gak tau harus bagaimana, Adam." Aku menghela nafas panjang. Kulihat wajah Adam samakin ketat.

"Belum sempat aku memutuskan, Sarah dengan beberapa pemuda kampung datang. Awalnya aku merasa lega, karna aku pikir remcaku telah berhasil, Sarah akan menyaksikan sendiri kalau Iksan gak setia. Tapi aku salah, sebaliknya aku lah yang terperangkap." Aku kembali bangun. Emosi ini bergejolak lagi kala ingat semua itu.

"Ini gak adil, Adam. Mereka mengira aku ini wanita murahan. Aku sudah coba jelaskan baik-baik pada Sarah tentang rencana yang kubuat, tapi dia gak percaya. Aku juga tunjukan obrolanku dengan Iksan padanya, tapi Sarah marah bilang kalau pertemuan aku dengan Iksan hari itu adalah rencana dia. Jadi akhirnya, aku lah yang terperangkap. Aku yang di tuduh mau merebut Iksan darinya."

Adam ikut bangun dan duduk di hadapanku.

"Semua orang gak ada yang percaya padaku termasuk Oma. Berita itu sempat viral di kampung ini. Papa dan mama juga tau dan mereka marah, hingga mengirim aku ke London. Rencana pertunangan Iksan dan Sarah juga di batalkan. Kalau saja aku tau akhirnya begini, lebih baik aku biarkan saja dia bertunangan atau bahkan menikah sekalian dengan buaya darat itu!" Kupandang Adam dan meraih kedua tangannya, mendesaknya agar percaya padaku.

"Adam, aku berani sumpah, sedikitpun aku gak ada perasaan pada si Iksan itu. Aku juga gak ada niat merebut dia dari Sarah. Gak semudah itu buatku melupakan cinta pertamaku," ucapku meyakinkan Adam agar percaya padaku.

"Cinta pertama?" tanya Adam yang kubalas dengan anggukan kepala.

"Namanya Virgo. Aku kenal dia waktu masih SMA. Kami berkenalan di dunia maya, meskipun gak pernah bertemu secara lansung, tapi aku merasa dia lah cinta pertamaku." Aku tersenyum kala ingat kenangan itu.

"Apa yang terjadi antara kamu dan dia?" tanya Adam. Entah kenapa dia seperti tertarik dengan kisah cinta pertama. Panjang lebar aku bercerita tentang Sarah malah cerita ini yang menarik perhatiannya.

"Tapi sekarang dia sudah gak ada. Dia mengalami kecelakaan saat kami janjian akan ketemuan setelah hasil kelulusan keluar. Tepatnya sebelum papa mengantar aku kesini. Aku sangat terpukul mendengar kabar itu, bibi Ria menyarankan agar membawaku kesini  dengan harapan Sarah bisa mengobati kesedihanku."

Adam memandang mataku, seolah ada sesuatu yang ingin dia katakan. Tapi akhirnya dia hanya meraih tanganku dan menghadiahkan senyum kecil. "Saya paham dan saya percaya padamu."

"Ka-kamu percaya yang kuceritakan?" tanyaku seakan tak percaya. Di saat semua orang tidak ada yang mempercayaiku, hanya Adam satu-satunya yang bilang percaya dengan semua yang kuceritakan.

Aku terharu.

"Ya, saya percaya. Saya paham bagaimana perasaanmu, baru di tinggal cinta pertama, tidak mungkin semudah itu kamu jatuh cinta pada Iksan."

"Jadi sekarang kamu mengerti kan, kanapa saya bilang Sarah punya motif untkuk merebutmu dari saya. Dia ingin balas dendam."

Adam tersenyum dan mengangguk.

"Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, tidak ada orang lain dalam hati saya selain kamu. Kamu cinta pertama saya, Winda. Sama sepertimu, saya juga tidak mudah mencintai wanita lain," ucap Adam sambil menangkup kedua pipiku.

Jujur, aku terharu mendengar pengakuan Adam barusan. Rasanya tidak percaya, jika aku cinta pertamanya.

"Meski bidadari sekalipun yang datang?" Aku mengujinya.

"Kalau bidadari ya?" Adam tersenyum, ragu untuk menjawab.

"Tuh, kan!" rungutku memasang wajah cemberut.

"Iya, Winda. Tidak ada satupun yang bisa menggantikan kamu. Hanya kamu satu-satunya Phanraya Khun sway Khong pom. Istri saya yang cantik."

Aku mengulum senyum, wajah masih jutek. Lalu Ada.menarik sudut bibirku ke samping.

"Smile, phanraya khun sway Khong pom."

1
Nopi Agustin
ini???
Rike
cerita ny semakin bgung
Sasa Sasa: Kalau kakak bacanya gak loncat-loncat gak akan bingung.. Karna bab sebelumnya panjang. Mungkin kakak gak ngikutin yang sebelumnya, makanya bingung.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!