Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
“Bentar ya, Bi. Coba aku telepon Mama dulu, soalnya dari tadi aku telepon nggak dijawab-jawab nih. Bentar ya.”
Alia pergi menjauh dari bibinya. Walau bagaimanapun, bibinya sebenarnya orang yang bisa dipercaya juga oleh Alia. Tapi, Alia merasa nggak nyaman kalau harus berbicara kepada bibinya, karena ini adalah hal paling aneh yang pernah dia lihat dan dia dengar.
Telepon Mama
“Ma, Mama ke mana aja sih? Dari tadi Alia telepon kok nggak dijawab-jawab sih, Ma?”
“Emang ada apa? Kenapa kamu telepon Mama terus? Kayaknya penting banget sampai berkali-kali telepon.”
Alia benar-benar tidak habis pikir, mamanya bisa berbicara santai kepadanya seperti itu.
“Mama, yang bener aja. Masa aku disuruh nginep di rumahnya Arnold? Mama nggak salah bicara, kan?”
“Loh, kenapa? Katanya kalian bentar lagi bakal jadi besanan, bakal jadi suami-istri. Terus kenapa harus malu? Ya belajar aja dulu, kenapa nggak?”
Alia makin tidak paham kenapa mamanya berkata demikian. Apakah ini hukuman dari Mama dan Papanya karena dia sering berbuat bandel tanpa sadar?
“Mama tuh kenapa sih? Aku sama dia itu kan baru pacaran, kok tiba-tiba jadi nikah? Orang kita masih lama kok nikahnya, tunggu aku lulus dulu baru nikah.”
“Kamu yakin bisa nikah sama dia? Kayaknya dia udah keduluan sama cewek lain deh. Daripada nunggu kamu, mendingan sama cewek lain, nggak sih?”
Sekarang mamanya malah menghina Alia, seakan kalau Alia tidak bisa mendapatkan Arnold karena terlalu lama menunda pernikahan.
“Coba deh kamu tanyain ke Arnold. Dia mau nggak nikah sama kamu? Nanti kalau kamu udah nunggu-nungguin dia, terus ternyata dia udah sama cewek lain, gimana?”
“Ya udah, kalau dia nggak mau emang kenapa? Harus disalahin? Lagian banyak kok cowok lain. Emang harus dia doang, ya? Aku juga nggak terlalu gimana-gimana banget sama dia.”
“Kalau nggak gimana-gimana, kenapa mau bolos bareng dia? Walaupun kamu bilang nggak suka, berarti kamu bohong kan sama Mama? Ayo ngaku!”
Semakin lama mamanya meledek, semakin Alia merasa benar-benar tertekan dengan ucapan itu.
“Udah ah, Ma. Jangan bercanda kayak gitu, nggak lucu tahu! Lagian kalau mau bercanda tuh yang agak masuk akal. Masa iya Mama suruh aku tinggal di rumah dia? Emang Mama sama Papa mau ke mana?”
“Emangnya kalau kamu tinggal sama Mama dan Papa, kamu masih mau dengerin kita? Kamu selalu bandel terus, kata Papa.”
“Kok Mama bicaranya gitu sih? Walau bagaimanapun aku pasti dengerin lah apa yang Mama sama Papa katain. Emang aku pernah ya selalu nggak dengerin?”
“Kalau kamu beneran dengerin, nggak mungkin kamu tadi dipanggil sama kepala sekolah. Kamu gimana sih? Kamu lupa sama kejadian tadi pagi? Atau perlu Mama ulang lagi? Belum sampai satu hari loh, kamu udah lupa.”
Telepon pun tertutup begitu saja.
Alia merasa kesal kepada mamanya, tapi dia tidak mau mengakui rasa kesal itu. Akhirnya, ia mencoba mencari sesuatu yang bisa membuat perasaannya lebih baik.
Alia menghampiri bibi yang sedang makan di pintu belakang. Tapi karena merasa nggak enak mengganggu, akhirnya Alia mencoba untuk masak sendiri.
“Masak apa ya? Aku kan nggak pernah masak, jadi bingung. Apa pesan makan online aja, ya? Tapi makanan online gitu-gitu aja, gimana ya...”
Tak lama, bibi pun keluar dari pintu belakang dan melihat ke arah Alia. Alia kaget begitu melihat bibi ada di depannya.
“Loh, bibi udah selesai makan? Kok cepat banget sih? Apa gara-gara aku berisik, jadi bibi cepet-cepet makan? Dikirain ada maling?”
“Awalnya bibi juga mikir ada maling, Non. Nggak tahunya malingnya secantik Non. Kalau malingnya secantik Non mah, bibi juga nggak bakal berani, orang bibi mah kalah saing cantiknya.”
“Duh, bibi bicara apa sih? Mana ada aku cantik. Kalau aku cantik, harusnya cowokku banyak. Nyatanya cuma satu, itu pun kayaknya dia kasihan doang sama aku.”
Bibi merasa bingung dengan ucapan Alia. Walau bagaimanapun, Alia sebenarnya memiliki kecantikan yang tidak dimiliki orang lain. Tapi kenapa Alia merasa dirinya kurang cantik?
“Kata siapa Non nggak cantik? Non cantik kok. Walaupun nggak cantik kayak orang pada umumnya, tapi Non tetap berkarisma, loh.”
“Bibi lagi coba menghibur aku ya? Emang sih, Bi. Hari ini hidup Alia berat banget. Kayaknya emang butuh hiburan-hiburan kayak yang bibi katakan deh.”
“Emangnya kenapa, Non, kalau bibi boleh tahu? Kalau pun nggak boleh tahu juga nggak apa-apa. Bibi kan nggak bisa maksa, lagian Non ini majikan bibi.”
Alia menghela napas, bingung ingin memulai dari mana, karena terlalu panjang dan berisiko untuk diceritakan.
“Jadi, Papa dan Mama marah sama aku, Bi, gara-gara aku sudah punya pacar.”
“Oh ya, Non? Bagus dong. Bibi senang dengarnya. Pacarnya siapa Non?”
“Ada, Bi, satu sekolah juga sama aku. Ya udah deh Bi, aku masak dulu ya.”
“Nggak usah, Non. Biar bibi aja yang masak. Non mau makan apa? Biar bibi yang masakin.”
Alia jadi bingung mau makan apa, karena setiap disuruh pilih makanan dia selalu bingung.
“Apa aja deh, Bi. Aku percayakan ke bibi aja soal makan. Aku tahu tangan bibi tangan emas, enak masak makanan apa pun.”
Bibi hanya tersenyum mendengar perkataan Alia. Walau bagaimanapun, Alia memang bukan anak yang pemilih soal makan. Tapi, dia bisa saja tidak mau makan kalau sedang banyak masalah atau habis dimarahi orang tuanya.
Di sisi lain, bibi sudah mengenal Alia sejak sebelum lahir hingga sekarang. Karena itu, bibi kenal banget dengan Alia.
Setelah selesai masak, akhirnya makanan disajikan di meja makan.
“Non, makanannya udah siap. Tinggal makan aja. Kalau ada butuh apa-apa, panggil bibi, nanti bibi samperin Non.”
“Aku lagi butuh teman makan, Bi. Temani aku, ya. Soalnya aku nggak bisa makan sendirian. Kan bibi tahu biasanya aku makannya sama Mama dan Papa.”
“Tapi Non, bibi nggak enak kalau makan di sini. Soalnya ini meja makan bapak sama ibu. Nanti kalau bibi duduk di sini, jadinya nggak sopan.”
“Nggak papa, Bi. Biar nanti aku yang tanggung jawab. Kalau pun mereka marah, aku yang marahin balik. Lagian ini salah mereka juga. Siapa suruh mereka ninggalin aku, pergi ke Bali. Ada-ada aja orang-orang itu.”
Bibi kaget mendengar ucapan Alia, sampai tidak bisa berkata apa-apa.
“Apa, Non? Bapak sama ibu lagi di Bali? Kok Non nggak diajak?”
“Ya kan bibi kaget? Aku aja kaget, apalagi bibi. Udah sampai bawa-bawa cowok aku segala macam lagi. Padahal aku masih muda loh, Bi, masih boleh bandel. Tapi Papa Mama marahnya kebangetan banget, sampai aku nggak bisa berkata apa-apa.”
Bibi yang mendengar itu jadi sadar kalau sekarang Alia sudah dewasa. Dulu marahnya cuma karena nggak dibelikan mainan, tapi sekarang marahnya karena urusan pacaran.
“Loh, bibi kok ketawa? Ada apa, Bi?”
“Sabar, Non. Lagi lucu aja. Kalau dulu Non marah gara-gara nggak dikasih mainan, sekarang marahnya gara-gara nggak boleh pacaran. Jadinya lucu kalau lihat perkembangan Non.”
“Emang lucu dari mana, Bi? Padahal nggak ada yang lucu loh. Aku aja sampai sedih, karena ditinggalin Mama Papa ke Bali. Harusnya aku boleh ikut, tapi gara-gara aku lagi dihukum, jadinya aku nggak boleh ikut. Emang kadang nggak adil ya, Bi.”
“Ya udah, Non. Nggak apa-apa. Kan masih ada bibi yang bisa temenin. Kalau misalkan Non butuh yang lain, ya suruh aja pacar Non datang ke rumah.”
Seketika pikiran itu terlintas di kepala Alia. Tapi dia sudah janji pada mamanya untuk tidak berbuat ulah lagi. Walau begitu, karena tidak punya teman lain, akhirnya hanya bisa mengandalkan bibi. Tapi tetap saja, rasanya nggak enak kalau harus merepotkan bibi.