NovelToon NovelToon
Cinta Orang Kantoran : Part Satu

Cinta Orang Kantoran : Part Satu

Status: tamat
Genre:CEO / Janda / Duda / Romantis / Kehidupan di Kantor / Office Romance / Tamat
Popularitas:598.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Septira Wihartanti

Aku belum pernah bertemu atau pun berbicara dengan Komisaris di kantorku. Sampai kami bertemu di Pengadilan Agama, dengan posisi sedang mengurus perceraian masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rani yang Malang

"Ja-jadi…" aku menghentikan sejenak kalimatku karena tenggorokanku langsung terasa sangat kering. Bisa jadi aku hampir pingsan.

Jadi selama menjalani pernikahan denganku, Tommy sudah berhubungan dengan Rani lebih dulu? Kalau dilihat dari usia Rani saat mereka berhubungan itu, jadi saat kami masih masa pacaran, Tommy sudah mendua!

Sudah mengalami tragedi berulang-ulang, Tetap saja yang dinikahi secara Sah adalah aku, sementara Rani sudah menanggung malu dan malah hamil dua kali?!

Biadab kau Tommy!!

Pantas saja Rani sangat benci padaku!

Kalau aku jadi Rani, mungkin saja aku akan berbuat yang sama. Hanya saja, yang akan kusiram air keras adalah Tommy!

Jadi,

Itu sebabnya aku tidak boleh hamil? Jadi yang dia bilang kalau kita tunda dulu kehamilanku karena kondisi keuangan yang kurang lancar, soal kasihan nanti anak-anak harus hidup dalam kondisi orang tuanya pas-pasan? Itu apa maksudnya hah?!

Ternyata yang sebenarnya terjadi karena Rani sudah hamil duluan dan Tommy tak sanggup membiayai semuanya?! Karena kalau aku juga ikut hamil, dia akan kesulitan mengurus Rani?

"Rani, saya tidak tahu hal ini. Sumpah Demi Tuhan, saya tidak tahu," kataku. Suaraku terdengar gemetar. Aku berusaha keras menahan air mataku.

"Buk," penyidik berbicara ke Rani, "Ceritakan semua yang jelas. Si Tommy sudah menjanjikan kamu apa?"

"Dia bilang, kalau si bin al ini-"

"Nama saya Chintya," potongku.

"Aku nggak sudi sebut nama kamu!" Jerit Rani. Ternyata dia sama sepertiku dulu, saking bencinya tidak ingin sebut namanya.

"Ajukan pemeriksaan kejiwaan deh," aku bisa mendengar salah satu penyidik bicara begitu.

"Bu Rani, jangan ada panggilan julukan kasar yang tidak sesuai dengan identitas. Itu akan menambah masa kurungan karena ada aturannya," si Penyidik mengingatkan.

Rani menarik nafas mencoba ikhlas dengan kondisi, tapi aku tahu sangat berat di tanggungnya.

"Kata Mas Tommy… wanita ini mengambil semua uang hasil usaha. Gaji Mas Tommy sebagian besar ditransfer ke rekening istri sah. Mas Tommy kerja di perusahaan Game, harusnya gajinya dua digit. Rumah itu juga diserahkan ke istri sah, mobil dan perhiasan yang harusnya jadi milik saya diambil juga oleh istri sah. Kata ibuk, mertua saya, kalau dia sebenarnya punya kalung berlian, tapi Mas Tommy ambil. Kata Mas Tommy kalung itu diambil juga sama istri Sah. Apa nggak keterlaluan itu?! Kamu Kan juga kerja, punya penghasilan sendiri, kenapa masih ganggu-ganggu uang Mas Tommy?!"

Sampai aku tidak bisa berkata-kata mendengar penuturan nya.

Jadi selama ini Rani korban penipuan!

Aku memijat keningku sambil menggeleng. Pengacaraku mengambil alih penjelasan.

Dan epicnya, saat semua bukti dijabarkan, lalu dijelaskan secara detail, Rani diam.

Ia berdiri.

Lalu limbung dan jatuh pingsan.

**

Pikiranku masih melayang saat aku sudah tiba di kosan.

Hari ini sudah menjelang sore.

Pikiranku dipenuhi oleh Rani.

Anak sekecil itu harus menggugurkan kandungannya dua kali.

Dijanjikan macam-macam, dibohongi… Astaga!

Tuhan masih sangat sayang padaku!

Aku pun duduk di pinggir ranjang menghadap ke jendela dan mengamati jalanan di depanku. Aku tidak tahu siapa yang salah dalam hal ini.

Apa yang dipikirkan Tommy saat itu? Saat ia menghamili gadis tak berdosa. Wajar kalau Rani tergila-gila padanya!

Jadi sekarang, apa yang harus kulakukan? Aku tidak tega menuntut Rani. Kami sama-sama wanita yang disakiti.

Ting!

Ponselku bergetar.

Pesan singkat masuk.

Dari Pak Felix.

“Makan yuk?” hanya dua kata itu. Tapi sudah cukup membuat hatiku berdesir dan melupakan semua masalah.

“Jemput atau ketemuan di lokasi?” tanyaku.

“Saya di depan kosan kamu,” balasnya.

Senyumku mengembang. Aku ambil bantal, kubenamkan wajahku. Lalu teriak-teriak kegirangan seperti orang gila. Hanya suara teriakan hebohku terpendam dacron.

Oke! Berikutnya...

Aku lari ke kamar mandi, Aku mandi kilat, kuolesi tubuhku dengan sabun mahal yang kemarin dibelikan Pak Felix di Mall. Kukenakan lotion dengan wangi senada.

Sekarang masalah baju.

Jangan yang mentereng, jangan yang seksi, lebih baik yang casual saja tapi rapi karena aku tak tahu Pak Felix mau mengajakku makan di mana. Sepertinya fine dining karena dia masih mabok sama daging-dagingan di AYCE kemarin.

Jadi aku mengenakan sepatu flatku, dan dress simple hitam. Tak lupa cardigan putih.

Lalu aku keluar dari kosan dengan hati riang.

Saat aku masuk ke dalam mobil, kami bertatapan, lalu saling memperhatikan penampilan masing-masing, dan langsung tertawa berbarengan.

Masa...

Baju kami warnanya kembar sih!

Dia juga pakai celana hitam, kemeja hitam dan cardigan rajut putih ala korea!

**

Kami berjalan di sepanjang pantai sambil berpegangan tangan. Selesai makan di restoran pinggir laut, kami memutuskan jalan-jalan sebentar menikmati sunset.

Aku belum bercerita apa pun padanya, takut merusak suasana. Dia juga tidak bertanya apa pun.

Pegangan tangannya hangat. Aku baru kali ini menemukan tangan yang sesuai dengan jemariku yang panjang. Miliknya lebih panjang dariku, bisa menangkup semuanya, telapaknya agak kasar khas laki-laki tapi cara menggenggam tanganku serasa melengkapi.

Kuperhatikan tekstur tulang tangannya mirip seperti tokoh-tokoh komik.

“Bu Cin,” panggilnya.

“Ya Pak?” aku masih pasang mode kalem.

“Suasananya mendukung,”

Aku meliriknya, tak tahan untuk tidak tersenyum, “Mendukung untuk?”

“Nggak usah pura-pura bego, kamu,”

Aku tertawa.

“Memang saya bego, kok,” ujarku.

Tapi aku meletakkan dahuku di bahunya, menatap ke arahnya untuk memperhatikan rahangnya yang persegi dan alisnya yang tebal. Di suasana menjelang malam seperti ini, wajahnya terasa seperti manekin. Mulus dan tanpa cela dengan ekspresi dingin yang romantis.

Atau aku yang berlebihan menggambarkannya?

Kami sama-sama tahu perasaan masing-masing, tapi memutuskan untuk menahan diri karena masih terlalu dini untuk memulai cinta yang baru.

Bisa dibilang, saat ini kami dalam tahap menyesuaikan diri.

Aku tahu, masalahnya lebih berat dari padaku.

Ponselnya berkali-kali berdering, ia tidak hiraukan. Lebih memilih untuk men-silent suaranya dan berjalan santai bersamaku.

Tapi wajahnya tanpa ekspresi keras dan tanpa beban. Seakan semua masalah sudah dia atur pemecahannya.

Kami memandang sunset berdua. Kami hanya saling diam.

Seperti kami sedang mengistirahatkan diri dari masalah yang datang bertubi-tubi.

Di sekeliling kami banyak orang yang juga seperti kami, memperhatikan keindahan alam. Tuhan sedang menunjukkan pesonanya, yang tidak dapat ditiru manusia mana pun.

Sampai setelah matahari sudah sepenuhnya terbenam, ia menoleh ke arahku.

"Chintya," ia memanggil namaku.

"Ya pak?"

"Di sana ada hotel,"

Jantungku langsung berdebar, "hm,"

"Kita ke sana ya?" tanyanya.

Aku tak tahu harus jawab apa.

Aku sebenarnya belum siap untuk hal seperti ini.

Tapi bagaimana seandainya dia mendesakku?

Apa yang harus kuberikan padanya agar dia tidak lari dariku?

"Udah maghrib saya mau numpang solat,"

Oh…

Benar juga.

Oke.

**

1
Heni Umami
👍👍👍👍
Bakul Lingerie
kangen Geng Putus/Kiss/
Bakul Lingerie
Ga papa,, ribut aja di kantor.. dlu CEO kamu juga sering bikin heboh kantor . penggemarnya banyak yg dtg bikin rusuh🤣🤣🤣🤣
Bakul Lingerie
aku kesini lagi..
salah satu dari mininovel madam yg paling aku suka.. 😍
Dede Maesaroh
ikut nangis😭
Maya Ratnasari
ayat 250
sukensri hardiati
ngulang baca ah....
Risma Wati
bagus ceritanya..to the point,ga banyak drama.,sukaaaa
Reni Novitasary
so sweet
Nining Chili
😁😁😁
Ena Ariani
kerenn
Febi Chan😍
aq baca lagi di bulan Mei 2025
sesuka itu aq pada karyamu thor
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
wkwk bu cin mikir apaan sih 🤭
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
buset dah mokondo pedofil pula
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
njirr beda ye perlakuan cowok mateng ama abg tanpa babinu langsung hap
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
sekali" merakyat pak
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
dunia kerja keras say, diatas difitnah dibawah di injek, yang tau kerja keras kita cuma diri sendiri
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
goblok tom, si Rani juga gendeng banget dikibulin mau aja gusti 🤦🏼‍♀️
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
lah malah main ancem"an belom tau kebenarannya kek gitu
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
wow gini cara mainnya kek, pak artha ye di lepas semua dulu kalau kelilit tinggal di ambil lagi 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!