NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN SANDERA: MEMPELAI PENGGANTI SANG MILIARDER

PERNIKAHAN SANDERA: MEMPELAI PENGGANTI SANG MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Naya terpaksa menggantikan kakak tirinya yang kabur beberapa jam sebelum pernikahan dengan Adrian, seorang CEO dingin yang lumpuh akibat kecelakaan misterius.

Bagi Adrian, Naya hanyalah pengganti yang harus menanggung dosa keluarganya. Di rumah mewah yang terasa seperti penjara, Naya dipaksa menjalani kehidupan penuh penghinaan dan penderitaan.

Namun Adrian tidak mengetahui satu kebenaran besar.

Wanita yang selama ini ia benci adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari maut tiga tahun lalu.

Saat perlahan rahasia itu mulai terungkap dan hati Adrian mulai luluh, Naya justru memilih pergi.

Kini Adrian harus menghadapi satu pertanyaan yang terus menghantuinya:

Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum wanita yang dicintainya menghilang untuk selamanya? ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 : Mereka Mengincar Keluargaku

Malam menyelimuti kediaman Amarta dengan tenang.

Lampu-lampu taman memancarkan cahaya keemasan yang lembut, sementara angin malam berembus perlahan membawa aroma bunga melati dari halaman belakang.

Di kamar utama, Naya telah tertidur pulas.

Wajahnya terlihat damai.

Satu tangannya berada di atas perut yang kini memasuki usia kandungan tujuh bulan lebih.

Adrian duduk di samping ranjang.

Tatapannya tak lepas dari wajah sang istri.

Sudah cukup lama ia berada di sana.

Namun ia tidak merasa bosan.

Justru setiap kali melihat Naya dan calon anak mereka, hatinya selalu dipenuhi ketenangan yang sulit dijelaskan.

Perlahan Adrian mengusap anak rambut yang jatuh di dahi istrinya.

"Aku akan menjaga kalian."

Suaranya sangat pelan.

Nyaris seperti bisikan.

Namun janji itu begitu kuat tertanam dalam hatinya.

Tiba-tiba ponselnya bergetar.

Nama Dimas muncul di layar.

Adrian segera mengangkat panggilan tersebut.

"Ada apa?"

Suara Dimas terdengar serius.

"Tuan, kami menemukan sesuatu."

Tatapan Adrian langsung berubah tajam.

"Katakan."

"Kami berhasil melacak rekening yang digunakan untuk membayar pria bayaran yang tertangkap beberapa hari lalu."

"Siapa pemiliknya?"

"Bukan Lukas Surya."

"Lalu?"

"Rekening itu terdaftar atas nama sebuah yayasan fiktif."

Alis Adrian berkerut.

"Yayasan fiktif?"

"Ya, Tuan. Semua dokumennya palsu."

Keheningan sesaat terjadi.

"Itu berarti orang yang kita hadapi tidak sembarangan."

"Benar, Tuan."

Dimas melanjutkan.

"Kami juga menemukan rekaman CCTV dari sebuah restoran di kota sebelah."

"Apa yang terlihat?"

"Nyonya Dahlia bertemu seorang pria muda beberapa kali."

Jantung Adrian berdegup lebih keras.

"Usianya?"

"Kurang lebih tiga puluh tahun."

Tatapan Adrian berubah dingin.

Instingnya langsung mengarah pada satu nama.

Lukas Surya.

"Kirimkan fotonya."

"Baik, Tuan."

Beberapa detik kemudian sebuah foto masuk ke ponselnya.

Seorang pria mengenakan topi hitam dan jaket gelap duduk di sudut restoran.

Wajahnya tidak terlihat sepenuhnya jelas.

Namun sorot matanya cukup untuk membuat Adrian tidak menyukainya.

Tatapan itu penuh kebencian.

Tatapan seseorang yang menyimpan dendam bertahun-tahun.

"Terus awasi."

"Siap, Tuan."

Panggilan berakhir.

Namun malam itu Adrian tidak lagi merasa tenang.

Seseorang sedang bergerak.

Dan orang itu mengincar keluarganya.

---

Keesokan paginya.

Naya bangun dalam suasana hati yang baik.

Hari ini adalah jadwal pemeriksaan rutin kandungan.

Sejak mengetahui dirinya hamil, Adrian hampir tidak pernah melewatkan satu pun jadwal kontrol.

Bahkan rapat penting sering kali ia tunda demi menemani istrinya.

"Mas sebenarnya tidak perlu ikut terus."

Naya tersenyum sambil merapikan hijabnya.

Adrian yang sedang mengenakan jas abu-abu langsung menatapnya.

"Aku tidak perlu ikut?"

Naya mengangguk.

"Dokter juga bilang kondisi bayi sehat."

"Aku tetap ikut."

"Mas..."

"Aku tetap ikut."

Naya terkekeh.

Tidak ada gunanya berdebat.

Adrian selalu keras kepala jika menyangkut dirinya dan bayi mereka.

Satu jam kemudian mereka tiba di rumah sakit.

Pemeriksaan berlangsung lancar.

Dokter kandungan tersenyum puas setelah melihat hasil USG.

"Kondisi ibu dan bayi sangat baik."

Naya mengembuskan napas lega.

"Alhamdulillah."

Dokter lalu menoleh ke arah Adrian.

"Sepertinya calon ayah lebih tegang daripada pasien saya."

Naya langsung tertawa.

Sementara Adrian hanya berdeham pelan.

Dokter ikut tersenyum.

"Tenang saja, Tuan Adrian. Semuanya berjalan sesuai perkembangan yang diharapkan."

Barulah Adrian sedikit merasa lega.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Saat mereka keluar dari ruang pemeriksaan, Adrian menangkap sesuatu.

Di ujung koridor.

Seorang pria berdiri memandangi mereka.

Tatapannya lurus mengarah kepada Naya.

Dingin.

Mengamati.

Seolah sedang memastikan sesuatu.

Insting Adrian langsung bekerja.

Dalam sekejap ia menggeser posisi kursi rodanya dan menempatkan diri di depan Naya.

Melindunginya.

Pria asing itu tampak terkejut.

Lalu segera berbalik pergi.

"Dimas."

"Ya, Tuan."

"Ikuti dia."

Tanpa banyak bicara, Dimas segera bergerak.

Naya memandang suaminya.

"Ada apa?"

"Tidak ada."

Namun wajah Adrian berkata sebaliknya.

---

Dua puluh menit kemudian.

Mobil keluarga Amarta meninggalkan rumah sakit.

Sementara itu Dimas masih mengejar pria misterius tersebut.

Namun saat tiba di area parkir belakang, orang itu sudah menghilang.

Yang tersisa hanya sebuah amplop cokelat di atas jok motor tua.

Dimas mengambilnya.

Lalu membukanya perlahan.

Isi amplop itu membuat wajahnya berubah.

Di dalamnya terdapat sebuah foto.

Foto Naya.

Diambil saat keluar dari rumah sakit beberapa menit sebelumnya.

Di balik foto itu terdapat tulisan tangan berwarna merah.

"Jaga baik-baik keluargamu, Adrian Amarta."

Dimas langsung menghubungi Adrian.

"Tuan."

"Ada apa?"

"Kami menemukan pesan."

Suasana di dalam mobil mendadak hening.

"Apa isinya?"

Dimas membacakan tulisan tersebut.

Semakin lama wajah Adrian semakin dingin.

Sangat dingin.

Aura berbahaya yang selama ini menghilang perlahan kembali muncul.

"Aku ingin seluruh tim bergerak."

"Siap."

"Cari siapa pun yang mengirim pesan itu."

"Baik, Tuan."

"Dan temukan Lukas Surya."

"Segera."

Panggilan berakhir.

Naya yang duduk di samping Adrian mulai merasa cemas.

"Mas..."

Adrian menggenggam tangannya erat.

"Kamu tidak perlu takut."

"Tapi siapa mereka?"

Untuk sesaat Adrian terdiam.

Lalu ia menatap istrinya.

"Seseorang sedang bermain-main."

"Siapa?"

"Aku belum tahu."

Tatapannya berubah tajam ke arah luar jendela.

"Tapi aku akan menemukannya sebelum dia sempat menyentuh kalian."

---

Di sebuah gedung tua yang menghadap pusat kota, seorang pria berdiri dalam bayangan malam.

Jemarinya mengusap perlahan foto keluarga Adrian yang terpampang di layar ponselnya.

Foto itu menampilkan Adrian, Naya, dan calon anak mereka yang belum lahir.

Senyum tipis muncul di bibir pria tersebut.

Namun senyum itu sama sekali tidak hangat.

Hanya ada kebencian.

Hanya ada dendam.

"Nikmati kebahagiaan kalian selagi masih bisa."

Matanya menyipit menatap foto Naya.

"Karena sebentar lagi semuanya akan berubah."

Layar ponsel dimatikan.

Angin malam berembus kencang.

Dan tanpa disadari siapa pun...

permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Bersambung...

1
falea sezi
😒 telat lu bangke
Dinatha: saya follow ya🙏
total 4 replies
Satisuci Ituaku
mksih kk
Rani Saraswaty
knp cpt bgt tau sih??? 🤭
Satisuci Ituaku: mksih udah mampir kk
total 1 replies
Rani Saraswaty
kan kaya...mudah tuh cari yg bw lari uangnya...knp repot2...seluruh kluarga bs msk sel
Satisuci Ituaku
siap kk mksih udh mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!