NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Bos Mafia Yang Disegani Dunia

Suamiku Ternyata Bos Mafia Yang Disegani Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Liora dipaksa menikah dengan Arkan demi menyelamatkan perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut. Ia mengira Arkan hanyalah pengusaha kaya biasa yang dingin dan tertutup. Kehidupan baru Liora dimulai di kediaman megah namun penuh ketatapan. Pelan tapi pasti, Liora mulai melihat keanehan-keanehan: pengawal yang selalu berjaga, orang-orang yang menunduk takut saat melihat Arkan, dokumen rahasia, hingga pembicaraan tentang organisasi bernama Bayangan Hitam.

Liora perlahan mengetahui kenyataan pahit: suaminya bukan sekadar pengusaha, melainkan pemimpin mafia paling berkuasa yang menguasai jalur perdagangan gelap, ekonomi bawah tanah, dan memiliki koneksi hingga ke pejabat tinggi negara. Dunia Liora berantakan, rasa takut bercampur kagum. Di sisi lain, Arkan yang awalnya menganggap Liora hanya kewajiban kontrak, mulai tertarik pada ketulusan dan keberanian gadis itu yang tidak pernah lari meski sudah tahu siapa dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengenal Struktur Kekuasaan

Beberapa hari telah berlalu sejak aku pertama kali masuk ke pusat kendali di Sayap Barat. Kini, aku menghabiskan sebagian besar waktuku di sana, duduk di samping Arkan, belajar banyak hal yang dulu hanya aku dengar dalam bisikan atau tebakan.

Arkan menjadi guru terbaikku. Ia menjelaskan semuanya dengan sabar, mulai dari hal yang paling mendasar hingga strategi paling rumit yang digunakan organisasi Bayangan Hitam.

Dari penjelasannya, aku akhirnya paham betapa luas dan besarnya kekuasaan yang dimiliki suamiku. Organisasi Bayangan Hitam bukan sekadar geng kriminal biasa. Itu adalah jaringan raksasa yang menjangkau hampir seluruh benua di dunia.

Mereka bergerak di berbagai sektor, mulai dari perdagangan barang selundupan, keamanan swasta, perbankan gelap, hingga memiliki pengaruh besar dalam politik dan ekonomi banyak negara.

Arkan menjelaskan bahwa kekuasaan ini dibangun bukan dengan kekerasan semata, melainkan dengan prinsip: Kekuatan, Kekayaan, dan Kesetiaan.

"Bayangan Hitam itu seperti kerajaan, Liora," jelas Arkan sambil menunjuk peta besar di dinding yang ditandai dengan berbagai warna.

"Setiap wilayah memiliki pemimpin cabang yang bertanggung jawab penuh. Mereka seperti gubernur atau adipati di zamanku.

 Mereka berkuasa di wilayahnya masing-masing, tapi mereka semua tunduk dan patuh pada satu perintah pusat... perintahku."

Ia menunjuk titik di benua Asia.

"Ini markas besar kita, di negara kita sendiri. Di sini kita memegang kendali penuh. Tidak ada polisi, tidak ada organisasi lain, atau kekuatan apa pun yang bisa mengganggu kita. Hukum di sini adalah hukumku."

Kemudian ia menunjuk ke arah Eropa, Amerika, hingga ke Timur Tengah.

"Di sana ada sekutu dan ada musuh. Ada yang tunduk karena takut, ada yang tunduk karena berutang nyawa padaku, dan ada yang tunduk karena kerja sama bisnis yang saling menguntungkan.

Tapi ingat satu hal, Liora. Di dunia ini, tidak ada persahabatan abadi. Yang ada hanyalah kepentingan abadi. Hari ini dia teman, besok bisa jadi musuh jika ada keuntungan besar yang dipertaruhkan."

Aku mengangguk paham, mencoba menyerap semua informasi berat itu.

"Jadi, kau tidak pernah percaya pada siapa pun sepenuhnya, Arkan? Bahkan pada orang kepercayaanmu sendiri?"

Arkan menatapku tajam, lalu perlahan tangannya bergerak menyentuh pipiku.

 "Hanya ada satu orang yang kupercaya sepenuhnya, tanpa syarat dan tanpa ragu. Dan orang itu ada di depanku sekarang. Kau, Liora. Hanya kau satu-satunya orang yang kuberikan kepercayaan penuh.

Bagi yang lain... kepercayaan itu diberikan secukupnya saja, selalu diikuti dengan pengawasan ketat dan ancaman hukuman jika mereka berkhianat."

Kalimat itu membuat hatiku menghangat sekaligus terasa berat. Kepercayaan yang ia berikan padaku adalah anugerah sekaligus tanggung jawab besar.

Aku berjanji dalam hati, aku tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan itu, tidak akan pernah menyakiti pria ini, apa pun yang terjadi.

Siang itu, Arkan mengundang para pemimpin cabang dari berbagai wilayah untuk pertemuan rutin. Ini adalah pertama kalinya aku akan bertemu langsung dengan orang-orang berkuasa yang berada di bawah komando Arkan.

Jantungku berdebar kencang saat kami berjalan menuju ruang pertemuan utama. Ruangan itu luas dan mewah, berjejer kursi kulit hitam mengelilingi meja bundar besar yang terbuat dari kaca tebal.

Saat kami masuk, semua orang yang sudah duduk di sana—sekitar sepuluh orang pria berwajah keras dan berwibawa—langsung berdiri tegak. Mereka menundukkan kepala hormat, namun mata mereka semua tertuju padaku dengan rasa penasaran yang besar.

"Silakan duduk," ucap Arkan datar, lalu ia berjalan menuju kursi utama di ujung meja. Ia menarik kursi di sebelah kanannya, menatapku lembut.

"Duduklah di sini, Liora. Di tempatmu."

Aku duduk dengan tenang, berusaha menampilkan wajah yang tenang dan berwibawa seperti yang diajarkan Arkan. Aku tahu, saat ini ada banyak mata yang menilai, banyak mata yang ingin melihat apakah aku pantas berada di posisi itu.

Arkan duduk di sebelahku, lalu menatap para pemimpin itu satu per satu. Suasananya seketika menjadi berat dan menegangkan.

"Kalian pasti bertanya-tanya mengapa Nyonya Liora ada di sini, duduk sejajar denganku," buka Arkan dengan suara rendah namun menusuk.

"Selama ini, kalian hanya mengenalku sebagai pemimpin tunggal. Kalian hanya mendengarkan suaraku, perintahku, dan keputusanku. Tapi mulai hari ini, segalanya berubah."

Arkan meletakkan tangannya di atas meja, jari-jarinya saling bertaut.

"Wanita yang duduk di sebelahku ini adalah istriku. Dia adalah separuh jiwaku, pemegang saham terbesar dalam hidupku, dan Ratu bagi kita semua. Mulai detik ini, setiap keputusan besar, setiap rencana, dan setiap langkah organisasi akan diketahui dan dipertimbangkan bersamanya.

Apa pun yang dia katakan, apa pun yang dia minta, itu sama persis dengan perintahku. Tidak ada pengecualian."

Salah satu pria paruh baya dengan bekas luka di wajahnya, pemimpin cabang wilayah Barat bernama Hadi, memberanikan diri berbicara. Suaranya berat dan ragu.

"Maafkan keberanian saya, Tuan Arkan. Kami tidak meragukan pilihan Tuan. Tapi... Nyonya masih muda, dan sepertinya belum terlalu paham dengan dunia kita. Apakah... apakah tidak berisiko jika melibatkan dia dalam urusan strategi dan kekuasaan?"

Pertanyaan itu wajar, namun nadanya sedikit meremehkan. Aku bisa merasakan suasana ruangan menegang. Arkan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Hadi dengan tatapan yang sangat dingin, tatapan yang membuat nyali si pria besar itu menciut seketika.

"Berisiko?" ulang Arkan pelan, namun ada bahaya yang mengancam di balik kata itu.

 "Hadi, kau sudah bersamaku lebih dari lima belas tahun. Kau tahu bagaimana cara kerjaku. Kau tahu aku tidak pernah melakukan hal bodoh atau berisiko."

Arkan bersandar di kursinya, tetap menatap tajam ke arah Hadi.

"Kau pikir aku menyeret istriku ke sini sembarangan? Kau pikir aku membiarkan dia duduk di sini hanya sebagai hiasan? Kau salah besar."

Arkan menoleh ke arahku, matanya melembut sekejap, lalu kembali menatap para pemimpin itu.

"Liora bukan hanya istriku. Dia adalah bagian dari diriku sendiri. Kecerdasannya, ketenangannya, dan keberaniannya jauh melampaui apa yang kalian bayangkan.

Aku melibatkannya bukan karena dia istriku, tapi karena dia mampu. Dan ingat baik-baik... siapa pun yang meragukannya, sama saja meragukanku. Siapa pun yang tidak patuh padanya, sama saja mengkhianatiku.

Apakah kau masih merasa berisiko, Hadi?"

Keringat dingin mulai membasahi dahi Hadi. Ia langsung berdiri dan membungkuk dalam-dalam.

"Maafkan saya, Tuan! Maafkan saya, Nyonya! Saya salah bicara. Saya menerima dan akan patuh sepenuhnya."

Arkan mengangguk puas. "Bagus. Sekarang kita mulai pertemuannya. Liora, dengarkan baik-baik. Ini adalah laporan rutin dari seluruh wilayah kita."

Selama dua jam berikutnya, aku duduk diam mendengarkan. Aku mendengar pembahasan tentang perputaran uang miliaran rupiah, masalah dengan bea cukai yang disogok, perselisihan wilayah antar geng kecil, hingga rencana ekspansi bisnis ke negara tetangga.

Awalnya aku merasa pusing dan takut, tapi lama-kelamaan aku mulai mengerti pola pikir mereka. Di balik segala kekerasan dan legalitas itu, mereka menjalankan organisasi ini seperti perusahaan korporasi raksasa. Teratur, terstruktur, dan sangat efisien.

Aku juga menyadari satu hal penting: nama Arkan adalah kekuatan terbesar mereka. Hanya dengan menyebut namanya, masalah besar bisa selesai. Hanya dengan ancaman dari namanya, musuh bisa mundur. Arkan benar-benar dewa di dunia ini.

Di akhir pertemuan, saat semua orang sudah kembali hormat dan mengakui posisiku, Arkan berdiri dan menutup rapat.

"Pertemuan selesai. Ingat pesanku. Jaga stabilitas wilayah masing-masing. Bersihkan masalah sebelum menjadi besar. Dan yang paling penting... lindungi nama Nyonya Liora seolah itu adalah nyawa kalian sendiri.

Jika ada satu saja helai rambutnya yang jatuh karena ulah musuh, kalian semua akan tahu betapa mengerikannya amarahku."

Semua orang pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah tergesa dan penuh rasa hormat. Tinggalah aku dan Arkan di sana. Arkan langsung menarikku ke dalam pelukannya, mencium keningku panjang dan dalam.

"Kau hebat, Liora," bisiknya bangga. "Kau duduk di sana dengan tenang, seolah kau sudah terbiasa melakukan ini seumur hidup. Kau membuatku bangga."

Aku tersenyum bangkit di dalam pelukannya.

 "Terima kasih, Arkan. Aku hanya berusaha menirumu. Dan... aku senang akhirnya kau mempercayaiku sepenuhnya."

"Tidak ada yang lebih kupercaya selain kau," jawabnya tegas.

Namun, di balik kebahagiaan itu, aku tidak menyadari bahwa di antara para pemimpin yang hadir tadi, ada satu orang yang diam-diam memandangku dengan pandangan iri dan niat buruk. Itu adalah Raka, pemimpin cabang wilayah timur.

Pria yang ambisius, licik, dan merasa dirinya lebih pantas menjadi pemimpin utama. Ia tidak berani melawan Arkan secara langsung, tapi ia sangat benci melihat seorang wanita—apalagi wanita biasa sepertiku—duduk di posisi tinggi itu.

Dan kehadiran Raka inilah yang akan menjadi awal dari masalah besar yang mengancam keharmonisan dan keselamatan kami di masa depan. Benih pengkhianatan sudah tertanam, dan kami belum menyadarinya.

1
Dhatu Lukita
aku kasih ⭐ 5 y biar semangat
Tri Wahyuni: Terimakasih
total 1 replies
Dhatu Lukita
halo thor, ceritanya menarik yaa😍.
jangan lupa mampir ya thor 💗, tinggalin jejak oke 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!