Neysa seorang gadis cantik, terperangkap menjadi pelayan karena suatu alasan. Siapa sangka Anak Majikannya, Darren akan jatuh hati padanya. Seribu cara ia lakukan, agar Neysa jatuh ke tangannya. Namun siapa yang tahu, Neysa yang biasa saja, wanita yang selalu terpojok oleh keadaan itu menyimpan sesuatu hal yang besar. Ternyata ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
[Rahasia di balik cinta]
---
Darren masih berdiri di tempatnya. Bukannya tergoda, ia malah memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan kepada Neysa. Namun, ia memilih diam, mencoba mengendalikan emosi sepenuhnya demi menjaga anak yang tengah dikandung Istrinya tetap aman.
Darren mengembuskan napas berat, menatap Neysa sejenak. "Tidurlah. Aku akan tidur di kamar sebelah," ucapnya tegas.
Neysa terkekeh kecil, seperti menertawakan keputusan Darren. Ia memiringkan tubuhnya di atas ranjang, menatap Darren yang masih berdiri tegak dengan ekspresi dingin.
"Kau akan kembali ke kamar ini, Darren. Cepat atau lambat," katanya dengan nada penuh keyakinan.
"Aku memuji keyakinanmu."
Neysa tersenyum lebar. "Tentu saja. Aku tahu kau tidak bisa jauh-jauh dariku."
"Sudahlah! Kau harus menjaga kesehatanmu. Itu yang terpenting sekarang. Demi anakku," jawabnya habis kesabaran.
"Anak kita."
"Ya, anak kita. Kau puas?" timpalnya.
Namun, Neysa tidak menggubris ucapannya. Ia memasang raut sedih," sangat menyedihkan, melihatku hanya sebagai wadah untuk mengandung anak keluarga Barnes."
Darren memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan dirinya. Ia mendekati Neysa dan menatapnya serius.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanyanya dengan nada rendah.
Neysa bangkit dari ranjang, membuat Darren sedikit terkejut. Ia bergerak terlalu cepat, dan Darren khawatir sesuatu bisa terjadi pada bayinya. Neysa menghampirinya, melingkarkan tangannya ke leher Darren, membuat Darren tidak punya pilihan selain menatap langsung ke matanya.
"Aku tidak ingin kita tidur berpisah. Aku ingin kau tetap di sini," bisiknya.
Neysa kemudian melanjutkan dengan nada serius, "Kau tahu, saat aku menyuruhmu menikah dengan keluarga Lawrence, maksudku adalah menikah denganku. Bukan bekerjasama dengan Derrick."
Mendengar itu, Darren mengerutkan dahi. "Benarkah? Apa itu ada bedanya? Bagiku, kalian berdua sama-sama g i la nya," ucapnya.
"Tentu berbeda, tapi .... seharusnya aku bertanya, kenapa kau tidak menemui keluarga Kanneth. Padahal sebelum menikah kita sudah membuat perjanjian kalau kau akan membantu keluarga Kanneth," balas Neysa penuh selidik.
"Darimana kau tahu aku belum menemui keluarga Kanneth?"
Neysa terkekeh. "Tentu saja tahu, kalau kau sudah menemuinya mungkin akan tahu kalau aku bukanlah anaknya. Tidak sulit menemukan foto anak keluarga Kanneth di rumahnya. Termasuk di ruangan pribadi Ayahnya."
Darren bergeming. Kata-kata Neysa memukul logikanya. Ia memikirkan semua langkah yang telah ia ambil, mencoba mencari celah di mana ia mungkin telah membuat kesalahan.
Neysa kemudian berputar, berdiri di belakang Darren. Ia menunjuk punggung lelaki itu dan menekannya perlahan dengan ujung jarinya.
"Dan aku tahu," ucapnya pelan, nyaris berbisik, "kenapa kau tidak mau mengatakan kalau putri keluarga Kanneth ada di Barnes."
Darren menoleh sedikit, tetapi Neysa menahannya. "Karena kau khawatir," lanjutnya, senyumnya berubah tajam. "Kau takut aku akan meninggalkan keluarga Barnes. Kamu takut aku tidak akan kembali padamu."
Darren terkekeh getir, tetapi ada nada lelah di dalam tawanya. "Pikiranmu terlalu jauh, Neysa," balasnya dingin. "Aku memang belum ada rencana bertemu dengan keluarga Kanneth."
Namun, Neysa tidak membiarkan Darren berhenti di situ. Ia melangkah ke depan, berdiri di hadapan Darren, memaksa lelaki itu untuk menatapnya langsung.
"Lagipula, keluarga Kanneth sedang terpuruk saat itu. Mereka butuh sokongan dana. Aku tahu keluarga Lawrence tidak akan pernah membantu, jadi aku memutuskan mungkin Keluarga Barnes tidak akan keberatan, selama kau mendapatkan keuntungan. Jadi, aku pikir, tidak ada salahnya memanfaatkanmu."
Darren menarik napas panjang, mencoba menahan emosinya yang semakin memanas. "Kalau begitu, kenapa kau setuju menikah?" tanyanya, suaranya penuh rasa penasaran sekaligus kekecewaan.
Neysa berjalan pelan menuju ranjang, lalu duduk di tepinya. Ia memainkan ujung rambutnya, seolah sedang memikirkan jawaban. "Awalnya aku tidak mau menikah denganmu," jawabnya akhirnya. "Aku punya rencanaku sendiri. Aku hanya membutuhkan tempat berlindung sementara waktu. Dan keluarga Barnes memberikannya."
Ia mendongak, menatap Darren dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Tapi siapa yang menyangka, Darren? Kau justru terus mengikutiku, seperti bayangan yang tidak pernah pergi."
Darren hanya diam. Namun Neysa tidak selesai. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, suaranya kini lebih tegas. "Masalahmu, Darren, bukan karena kau tidak memiliki kemampuan. Masalahmu adalah kau tidak punya keberanian. Kau terlalu takut keluar dari zona nyamanmu. Kau terlalu berhati-hati, sampai kau tidak sadar kalau keluarga Barnes perlahan-lahan terperosok."
Ucapan itu menusuk hati Darren seperti belati. Ia menatap Neysa dengan pandangan kosong, lalu berbalik tanpa mengatakan apa-apa. Langkahnya tegas, meninggalkan kamar tanpa melihat ke belakang.
Neysa hanya bisa memandang pintu yang kini tertutup rapat. "Lelaki keras kepala," gumamnya, tetapi ada nada getir di balik senyumnya.
---
Darren duduk di ruang kerja, menatap jendela yang memantulkan kegelapan malam. Ingatannya melayang ke masa kecilnya, ketika ayahnya sering memberinya nasihat.
"Darren, kau tidak perlu bersaing dengan dunia luar," suara ayahnya terngiang di telinganya. "Yang perlu kau lakukan adalah menjaga keluarga Barnes tetap aman. Jangan biarkan ego sesaat menghancurkan segalanya."
Darren kecil tidak mengerti sepenuhnya waktu itu. Tetapi kini, kata-kata itu menjadi beban yang terus menghantuinya.
"Ayah, apa kau akan marah jika kali ini aku membawa keluarga Barnes keluar dari sangkarnya?" gumam Darren pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Keluarga Barnes sudah banyak kehilangan karena kami terus mengalah."
---
Di kamar, Neysa terbaring sendirian. Matanya menatap langit-langit dengan kosong. Tangannya mengusap tempat kosong di sebelahnya, merasakan dinginnya ranjang yang tidak dihuni.
Ia tahu Darren akan bersikap seperti ini. Setelah semua yang ia katakan malam ini, mungkin kebencian Darren padanya semakin dalam. Tapi tetap saja, Neysa tidak bisa mengabaikan rasa kehilangan yang tiba-tiba menyeruak di hatinya.
Ketika ia hampir terlelap, tiba-tiba ranjang di belakangnya bergerak. Neysa mematung ketika merasakan Darren berbaring di sana, tubuhnya terasa begitu dekat. Ia ingin berbalik, tetapi tangan Darren menahan bahunya.
"Tetap seperti ini," bisik Darren.
Neysa terdiam. "Kenapa kau kembali?" tanyanya pelan.
Darren tidak segera menjawab. Setelah beberapa saat, ia berkata, "Mungkin aku hanya ingin mencoba lagi. Tapi itu tidak berarti aku tidak membencimu."
Kata-kata Darren membuat Neysa terdiam. Ia menutup matanya rapat-rapat, menahan segala emosi yang ingin keluar. Kini, hanya keheningan yang menyelimuti mereka berdua.
B e r s a m b u n g ....
Darren bimbang mau jauh, tapi ya cinta, kalau deket bawaannya emosi mulu wkwk
Jangan lupa tinggalkan jejak, guys! Biar Mimin tetap semangat, makasih(^^)