NovelToon NovelToon
Hidayat Bersaudara

Hidayat Bersaudara

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:682
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Berkemas Pindah ke Desa Ketajen Tumapel

Pagi itu, matahari bersinar cerah sekali, menyinari halaman rumah dan bengkel yang pagi ini terasa sangat sibuk tapi penuh semangat. Hari itu adalah hari yang sudah ditunggu-tunggu: hari berkemas semua barang, siap-siap pindah tempat tinggal dan usaha ke tempat baru. Semua anggota keluarga sudah bangun sejak subuh, sudah beres-beres barang pelan-pelan sambil berdoa minta kelancaran.

"Hayooo... semangat semuanya! Yang barang bengkel dipisah sama barang rumah ya, jangan sampai ketukar atau campur aduk nanti susah nyarinya!" seru Faris memimpin di depan, suaranya lantang dan tegas tapi penuh senyum.

Dia sudah membagi tugas rapi. Guntur sama Ali dapat bagian urus barang bengkel, karena mereka paling paham letak dan kegunaan alat-alat itu. Maya sama Miya dibantu Ibu Arum Sari urus barang-barang rumah, pakaian, peralatan masak, dan keperluan sehari-hari. Bapak Wijaya duduk santai di kursi teras, mengawasi sambil sesekali memberi petunjuk, ditemani sebatang rokok Gajah Baru Kertek dan kopi hangat kesukaannya.

Guntur dan Ali sibuk sekali di sudut bengkel. Mereka membungkus satu per satu kunci-kunci pas, obeng, tang, alat las, dan peralatan berat lainnya dengan kain bekas atau kertas tebal biar aman nggak berkarat atau hilang. Semua suku cadang, baut, mur, dan onderdil kecil dimasukkan ke dalam kaleng-kaleng bekas yang sudah diberi label tulisan kapur besar-besar biar gampang dikenali.

"Waduh... nggak kerasa ya Bang, barang kita lumayan banyak juga ternyata," kata Guntur sambil mengangkat kotak besar berisi perkakas. "Dari yang tadinya kosong melompong, sekarang berkarung-karung barang. Alhamdulillah, tanda kalau usaha kita makin berkembang."

"Iya dong. Tiap barang ini punya cerita sendiri, punya sejarah keringat kita. Jangan ada yang tertinggal, jangan ada yang rusak. Ini modal utama kita nanti di tempat baru, nanti kita susun lagi lebih rapi, lebih lengkap lagi," jawab Ali sambil menumpuk ban-ban motor dan peralatan besar ke satu sisi.

Di sisi lain, di bagian rumah, Ibu Arum Sari dan si kembar Maya Miya juga nggak kalah sibuk. Lemari pakaian sudah kosong, isi pakaian semua anggota keluarga sudah terbungkus rapi di karung-karung anyaman. Peralatan dapur: wajan, kuali, panci, gelas, piring, semuanya dibungkus hati-hati pakai kain bekas baju lama biar nggak pecah. Bahkan tungku dan alat masak tradisional kesayangan Ibu juga dibawa semua, karena Ibu berencana nanti tetap masak pakai cara biasa biar rasanya tetap sama.

"Ibu... emangnya kita bawa semuanya ya? Sampai tikar sama bantal pun dibawa?" tanya Miya sambil memegang gulungan tikar anyaman.

Faris yang lewat di situ langsung menjawab sambil tertawa. "Dibawa semua dong dik! Barang bekas pakai sendiri itu berkah, nanti di tempat baru rasanya tetap kayak di rumah lama kalau barang-barang ini ada di situ. Nanti di sana kan kita mau buka warung juga, alat masak ini bakal kepakai terus, nggak ada yang sia-sia."

Faris sendiri sibuk mengawasi dan mengemas barang-barang paling penting, termasuk berkas-berkas rahasia yang dia simpan sendiri: surat-surat tanah dan rumah baru mereka. Dia memastikan GL Herk warna Pink dan motor CB peninggalan Bapak terikat aman di bagian paling belakang nanti, siap diangkut atau dikendarai sendiri. Semua barang sudah disusun rapi di atas dua buah truk bak terbuka yang sudah dia sewa diam-diam kemarin.

Pas semuanya sudah selesai dikemas dan dimuat rapi, Faris berdiri di depan keluarganya, napasnya ditarik panjang penuh rasa syukur. Dia menjelaskan tempat tujuan yang sebenarnya supaya semua jelas.

"Nah, dengerin ya semuanya... Nanti kita langsung berangkat ke tempat baru kita. Tempatnya di Gedangan, Sidoarjo, tepatnya di Desa Ketajen, wilayah Tumapel. Jalannya enak, aspalnya mulus, lingkungannya bersih, banyak sawah dan pepohonan hijau di kiri kanan. Tempatnya masuk sedikit dari jalan raya utama, tenang, aman, udaranya sejuk banget. Nanti kalian pasti suka, tempatnya luas, lapang, enak buat dijadikan rumah sama bengkel sekaligus."

Dia sengaja sebut nama desa dan wilayahnya dengan jelas, karena itu alamat sebenarnya tanah yang sudah dia beli diam-diam itu. Dia senyum dalam hati membayangkan reaksi mereka nanti sampai di sana.

"Tenang saja, nanti sampai sana udah pas waktu Ashar, pas udara enak, nanti kita langsung atur barang-barang, istirahat sebentar, besok pagi baru kita susun ulang bengkel dan bersihin rumahnya," tambah Faris tenang.

Bapak Wijaya mengangguk puas, matanya berbinar mendengar nama tempat itu. "Desa Ketajen, Tumapel... Bapak tahu daerah itu. Tanahnya subur, orangnya ramah, jalannya ramai lancar. Pilihan tepat sekali, Faris. Nanti di sana insyaallah rezeki kita makin deras, makin lancar. Kita tinggalkan semua kesusahan dan gangguan di sini, kita bawa semangat baru ke sana."

Ibu Arum Sari mengusap peluh di dahi, wajahnya lelah tapi bahagia. "Ibu ikhlas saja ke mana pun dibawa, yang penting sama kalian semua. Rasanya seperti mimpi ya, dari kontrakan sempit mau pindah ke tempat yang lebih luas, lebih lapang. Alhamdulillah..."

Faris menahan senyum lebarnya. "Nanti Ibu bakal makin kaget kalau tahu itu rumah sendiri, tanah sendiri," batinnya bersorak riang.

Semua sudah siap. Truk sudah nyala mesin, barang terikat aman, motor-motor legendaris siap diajak jalan. Maya dan Miya sudah duduk manis di kabin depan sebelah Ibu dan Bapak. Guntur dan Ali siap naik motor boncengan mengikuti truk dari belakang.

Faris menoleh ke belakang sekali lagi, menatap rumah kontrakan lama itu, tempat mereka tumbuh, berjuang, menangis, dan tertawa bertahun-tahun. Dia mengucapkan doa pendek dalam hati, berpamitan, lalu berbalik badan dengan tegap.

"Ayo berangkat! Menuju rumah baru kita di Desa Ketajen, Tumapel, Gedangan Sidoarjo! Menuju masa depan yang lebih cerah!" seru Faris lantang.

Konvoi kecil itu pun bergerak pelan meninggalkan halaman, membelah jalanan desa, menempuh perjalanan menuju tempat baru yang menyimpan kejutan terbesar bagi keluarga Hidayat. Di depan sana, tanah milik sendiri, rumah milik sendiri, dan kesuksesan besar sudah menanti kedatangan mereka.

1
falea sezi
semangat nanti q kirim hadiah
falea sezi
author orang mana
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Sidoarjo
total 1 replies
falea sezi
bima kn otaknya kosong🤣 cm ngandalin harta orang tua nya aja😒
Ilham
BG jangan gantung gtu cerita nya npa bg
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Siap Kak Ilham
😌 Jangan khawatir… cerita ini nggak bakal jadi ,gantungan kunci doang, bakal lurus sampai garis finis persis di lintasan balap Nanti bab-babnya menyusul cepat kok 😂
total 1 replies
Ilham
lanjut bg
Ilham
lanjut bg👍
Ilham
lanjut BG jangan gantung bg
Ilham
lanjut bg
Ilham
lanjut BG cerita dari awal mantap bg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!