Eliza Mahendra adalah seorang gadis dengan julukan "Gadis Berhati Dingin" atau "Kulkas Berjalan" di sekolah elitnya, SMA Nusa Bangsa. Sebagai Ketua OSIS, ia menjalankan tugasnya dengan kedisiplinan tanpa kompromi, dihormati sekaligus ditakuti karena sifatnya yang misterius, irit bicara, dan tatapan tajamnya. Kehidupannya yang teratur dan dingin berbanding terbalik dengan kembarannya, Elzia, yang dua jam lebih muda. Meskipun memiliki wajah yang serupa, Elzia memancarkan kehangatan dan dikenal sebagai gadis yang lebih "bar-bar" dari gadis seusianya, bahkan diam-diam menyandang gelar "Queen Racing" di dunia balap.
Cerita ini mengandung unsur kekerasan, konflik mafia, dan ****** ******. Harap bijak dalam membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ropha M.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Kehilangan Nyawa
Pagi harinya dimana pesta itu sedang berlangsung dan banyak kolega bisnis yang datang
Arkana dan para sahabatnya pun juga datang
"Wih ternyata pernikahan nya mewah juga" Ucap Deon kagum
" Ye kaya gak pernah liat aja lo " Ucap Dava menyindir
" Ya serah gue lah, apa urusannya dengan anda." jawab Deon sinis, sedangkan Arkana, Rayan,dan Dimas hanya menggeleng kan kepalanya melihat kelakuan kedua orang ini, Astaga tidak bisakah keduanya tidak bertengkar sehari saja batin ketiganya,
" Oh ya ngomong-ngomong si Elzia nya mana ya " Ucap Dimas melihat sana kemari sedangkan yang lainnya hanya menggeleng kan kepalanya tanda tidak tau
" Baiklah untuk para tamu undangan silahkan nikmati hidangan yang telah di sajikan " Ucap mic di atas panggung
" Baiklah silahkan keluarga pengantin untuk naik ke atas panggung " Ucap mic tersebut
Elzia pun mulai menaiki panggung banyak tamu undangan yang kagum akan kecantikan nya yang anggun padahal aslinya kek Reog wkkw
"Wah ternyata anaknya perempuan nya pak bara memang cantik "
"Iya ku dengar pak bara mempunyai anak kembar "
"Aku belum pernah melihat wajah anak pak bara yang satunya "
" Aku tak tau ini Elzia nya atau Eliza nya "
"Iya sungguh sulit untuk membedakan keduanya "
Banyak lagi celotehan para tamu undangan
lainya
Sedangkan di tempat Arkana dan para sahabat nya, mereka juga terpukau dengan kecantikan Elzia. 1
' Cantik ' batin seseorang dengan senyum tipis di wajah tampannya
" Tenyata nona Elzia memang sangat cantik " Ucap Dimas dengan mata yang tak pernah lepas dari Elzia
" Iya ya jika saja Nona Eliza hadir pasti akan sulit untuk membedakan keduanya
" Baiklah untuk keluarga pengantin silahkan untuk berfoto " Ucap mic tersebut
Sedangkan disisi yang sama tapi beda tempat terlihat beberapa orang dengan pakaian formalnya tapi di dalam pakaian mereka tersebut terlihat beberapa senjata kecil.
" Ini kenapa Queen menyuruh kita untuk menjaga pesta ini? " Tanya seseorang
" Aku tidak tau, apa hubungannya Queen dengan keluarga ini? "
"Diamlah jangan sampai orang lain mendengar ucapan kalian berdua, ikuti saja perintah Queen jika kalian tidak ingin mendapatkan hukuman darinya " Ucap seseorang yang sejak tadi diam dan menikmati minumannya
Kedua pemuda itu melotot kan matanya mendengar kata Hukuman
" Aku tidak ingin di hukum " Ucap salah satu pemuda. Sambil bergidik ngeri
" Ya aku juga " Ucap satunya
" Makanya diamlah dan nikmati hidangan yang sudah di sajikan" Ucap pemuda yang masih menikmati makanan nya
Kedua pemuda itu memutar bola matanya malas ' dasar tukang makan' batin keduanya
_________________________________________
Acara pun selesai dengan baik tanpa ada gangguan kini keluarga baru tersebut sudah pulang ke mansion dan berkumpul di Ruang tamu
" Baiklah mulai sekarang kalian tinggal disini " Ucap Bara pada ibu dan anak tersebut
" Paman"
"Panggil daddy atau papa boy " Ucap Bara menyela kalimat angga
"Ya daddy apakah boleh aku mengajak temanku untuk berkumpul dirumah ini " Ucap angga meminta izin
"Tentu saja boleh boy ini sudah menjadi Rumahmu sendiri " Ucap Bara tersenyum
Kemudian Bara menatap Elzia yang sedari tadi diam
" Kalian boleh berkenalan boy" Ucap Bara pada angga, sedangkan angga sedikit kikuk
" Aku Elzia senang bisa menjadi saudarimu " Ucap Elzia memulai perkenalan
" Aku Anggara kak " Ucap Angga pada Elzia, sedangkan Elzia hanya mengangguk paham
" Jangan sungkan jika ingin meminta sesuatu " Ucap Elzia lagi, sedangkan Angga hanya mengangguk paham
" Pa aku izin kekamar ingin istirahat " Ucap Elzia meminta izin pada Bara sedangkan Bara hanya mengangguk
_________________________________________
Sementara itu di belahan bumi lain, malam yang tenang berubah menjadi ladang pembantaian yang mengerikan. Rentetan suara tembakan menyalak saling bersahutan, memutus urat nadi kehidupan satu per satu musuh di dalam gedung tua itu.
Di tengah kekacauan tersebut, seorang gadis berdiri tegak tanpa riak. Moncong pistol di tangannya masih berasap, kontras dengan ekspresi wajahnya yang sedingin es.
"Queen, semuanya sudah beres," lapor seorang pemuda yang baru saja datang, menundukkan kepala dengan penuh rasa hormat.
"Hmm," dehem gadis itu pelan, terdengar acuh tak acuh seraya memasukkan kembali senjatanya ke dalam holster.
Sudah biasa bagi mereka jika mendapat jawaban yang kurang memuaskan dari Queen mereka sendiri, ingin protes tapi takut nyawa melayang jadi diam adalah jalan yang paling aman
Ponsel di saku celananya itu bergetar hebat, memecah keheningan ruangan dengan suara drrtt... drrtt... yang konstan. Gadis itu meraihnya, lalu menggeser layar tanpa berniat melihat nama si penelepon.
"Hm," responsnya singkat saat menempelkan ponsel ke telinga.
Ia mendengarkan suara di seberang sana dengan saksama. Tatapannya lurus menembus jendela kaca, datar tanpa ekspresi.
"Hm," dehemnya lagi, memotong penjelasan si penelepon yang terdengar terburu-buru.
Sebelah tangannya yang bebas bergerak mengetuk-ngetuk meja secara ritmis, menghitung detik demi detik informasi yang masuk ke indra pendengarannya.
"Malam ini," potongnya mutlak, memberikan perintah yang tidak bisa diganggu gugat.
Sejenak, suara di seberang sana kembali menyahut, memberikan konfirmasi akhir.
"Hmm." Hanya deheman berat itu yang menjadi penutup, sebelum ia menjauhkan ponsel dan menekan tombol end call. Suara tut pendek menandakan panggilan telah terputus secara sepihak.
Telepon tersebut dimatikan
" Siapkan penerbangan karena aku ingin pulang malam ini " Ucapnya Datar
"Baik Queen" Ucap mereka serempak
" Kumpulkan mayat yang berserakan, lalu bakar tempat ini jangan sampai ada yang tersisa kalian paham? " Ucapnya lagi
" Paham Queen" Ucap mereka serentak
Di mansion mahendra ternyata cukup Ramai karena kedatangan sahabat angga mereka sedang bermain ps atau yang lainnya.
Terlihat Arumi sedang membawa camilan untuk teman putranya
" Silahkan dinikmati" Ucap Arumi sambil menyodorkan piring makanan
" Iya aunty, jangan khawatir nggak ditawar juga makanan nya bakal habis " Ucap Rendi sambil tertawa
" Yaudah silahkan dilanjutkan tante mau ke kamar dulu " Ucap Arumi sambil berjalan kearah tangga, sedangkan yang lainnya hanya mengangguk
Tap.. Tap... Tap...
Suara langkah kaki mengalihkan perhatian ketiga manusia yang berada di ruang tamu
" Kak kau habis darimana? " Tanya Angga pada Elzia
" Dari tempat vitri " Jawab Elzia seadanya
Sedangkan Angga hanya mengangguk paham, begitu juga teman Angga sedari tadi terus menatap Elzia tanpa berkedip. Angga menoleh ke belakang
" Hai kak" Ucap Rendi melambaikan tangannya
" Mereka temanku kak " Ucap Angga se akan tau apa yang ingin di ucapkan Elzia
Sedangkan Elzia hanya mengangguk paham
" Kalo gitu silahkan kalian lanjutkan " Ucap Elzia sambil berjalan menuju tangga
Sedang Angga dan teman-temannya langsung melanjutkan permainan yang sempat tertunda tadi. Setelah beberapa menit mereka bermain tak terasa malam semakin larut hingga menunjukkan pukul 23.00
" Lebih baik kita tidur aja deh ini udah malam juga " Ucap Rangga pada temannya
" Hm benar juga kata lo, yaudah kalian berdua bisa tidur di ruang tamu " Ucap Angga pada kedua temannya sedangkan mereka berdua hanya mengangguk dan menuju kamar masing-masing.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 02.45 , Rendi bangun dari tidurnya karena merasa haus ia pun berjalan menuju ke dapur untuk mengambil minum. Tapi langkahya terhenti karena melihat seseorang yang menggunakan baju serba hitam dan berjalan menuju tangga
"Berhenti! Siapa lo?!" gertak Rendi. Langkahnya melebar, menghadang sosok misterius di hadapannya. Orang itu mengenakan topi rendah dan masker hitam yang menutup rapat seluruh wajahnya, menyisakan sepasang mata yang dingin.
Namun, peringatan Rendi dianggap angin lalu. Sosok itu terus melangkah lurus menuju tangga, mengabaikannya sepenuhnya.
"Lo mau maling, ya?!" tuduh Rendi, mulai tersulut emosi. "Jangan macam-macam di rumah sahabat gue. Mending lo pergi dari sini sekarang selagi gue masih baik hati!"
Lagi-lagi, keheningan yang menjawab. Langkah kaki sosok bertopi itu tetap berirama konstan, menaiki anak tangga satu demi satu tanpa keraguan.
"WOI! LO BUDEK YA KA—"
Wusss!
Kata-kata Rendi terputus di udara. Sebuah desingan tajam menyambar secepat kilat, memotong aliran oksigen di sekitarnya.
Jlebbb!
Jantung Rendi serasa berhenti berdetak. Detik itu juga, seluruh tubuhnya membeku. Hanya berjarak beberapa milimeter dari pelipisnya, sebilah belati perak yang berkilat tajam kini menancap dalam-dalam di batang tanaman hias di belakangnya.
Jika terlambat menghindar satu milidetik saja karena refleksnya yang lambat, belati itu dipastikan sudah menembus tengkorak kepalanya. Keringat dingin langsung mengucur deras di punggung Rendi.
" Ada apa ren? " Ucap Rangga tiba-tiba datang karena teriakan Rendi tadi membuat nya terbangun begitu juga dengan Angga yang turun ke lantai satu
" Itu ada orang asing masuk " Ucap Rendi sambil menormalkan detak jantung nya karena lemparan tiba-tiba tadi
Mendengar ucapa Rendi mereka menoleh ke arah orang asing tersebut begitu juga dengan Angga yang memang dekat dengan orang tersebut
Karena teriakan Rendi tadi semua maid terbangun mereka melihat ke arah teman tuan mudanya dan orang asing
Pada akhirnya orang asing tersebut membuka suara khasnya
" Siapa Mereka? " Ucapnya pada para maid tersebut
Sedangkan para maid yg ada disana membelalakkan matanya
"N-nona pertama!" Ucap mereka gugup mereka sudah hafal suara dingin nona kedua mereka ini sedangkan Angga dan temannya cukup terkejut karena para maid memanggil orang asing tersebut dengan sebutan nona pertama, berarti orang asing yang berada di depan mereka ini adalah Eliza anak pertama dari pak bara, batin ketiganya
"Kutanya sekali lagi, siapa mereka?"
Pertanyaan dingin itu membuat atmosfer di ruangan seketika merosot drastis. Pelayan di hadapannya langsung memutuskan kontak mata, tak berani menatap sepasang manik mata yang menghunus lurus ke arahnya.
"P-Pria yang berdiri di barisan depan itu adalah saudara tiri Anda, Nona Muda," ucap pelayan itu dengan napas yang tertahan.
"Sementara empat orang di sampingnya adalah sahabat-sahabat dekat Tuan Muda Angga nona"sambungnya lagi
Sedangkan Eliza hanya mengangguk kemudian berbalik dan menaiki tangga ke lantai dua
Setelah kepergian Eliza tadi para maid mulai membubarkan diri ke belakang
" Jadi dia Eliza anak pertama papah tiri lo " Ucap Rangga tak percaya
"Kurasa kalian kau tidak tuli Rang" Ucap Angga datar pada temannya ini
" Hehe kan cuma mastiin aja " Ucap Rangga nyengir kemudian ia menatap ke arah Rendi yang pucat pasi
" Lo kenapa Ren muka lo kaya pucat gitu " Ucap Rangga pada Rendi dan Angga juga ikut menoleh
" Huft kalian nggak tau apa yang aku alami barusan " Ucap Rendi pada keduanya, sedangkan Angga dan Rangga hanya menggeleng tanda tidak tau
Sedangkan Rendi berjalan menuju ke arah tanaman yang berada di belakangnya lalu mengambil sebuah belati yang menancap pada batang tanaman tersebut