NovelToon NovelToon
Dibuang Suami, Dicintai Presdir Tampan.

Dibuang Suami, Dicintai Presdir Tampan.

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Penyesalan Suami
Popularitas:24.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.

Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

“Pak Arven…” ucapnya pelan.

“Saya tahu Anda mau bicara apa,” potong Arven cepat. “Tapi saya bisa jelaskan situasinya.”

Klien itu mengangguk sopan.

“Silakan.”

Arven menarik napas.

“Hubungan saya dengan Winata Group memang sedang ada masalah, tapi itu tidak mengubah fundamental perusahaan kami. Proyek kita tetap bisa berjalan. Cashflow tetap stabil. Semua kontrak aman.”

Klien itu menatapnya lama lalu membuka map di tangannya.

“Pak Arven… dengan segala hormat.”

Arven langsung menegang.

“Jangan bilang—”

“Maaf. Kami harus menarik kerjasama perusahaan kami dari perusahaan Mahendra.” ujar klien bisnis itu yang membuat Arven menatapnya tidak percaya.

“Proyek ini sudah berjalan dari tahun lalu.”

“Iya.”

“Dan kalian mau berhenti begitu saja?”

Klien itu mengangguk pelan.

“Karena risiko reputasi terlalu besar.”

Arven berdiri.

“Reputasi? Atas dasar apa kalian bilang reputasi saya rusak?”

Klien itu tidak marah ataupun tersinggung dengan perkataan Arven, justru mereka terlihat prihatin dengan apa yang terjadi dengan perusahaan Mahendra.

“Pak Arven, di dalam dunia bisnis kita tidak perlu mementingkan soal benar atau salah. Tapi soal siapa yang sedang jatuh.”

Arven terdiam.

“Dan sekarang, perusahaan yang anda tangani sedang jatuh.”

Kalimat itu tidak keras tapi cukup untuk memutus sesuatu di dalam kepala Arven.

Klien itu berdiri lalu merapikan jasnya.

“Semoga kita bisa kerja sama lagi di waktu lain.”

Lalu ia pergi dan Arven hanya berdiri di tempatnya. Tidak mengejar, tidak memanggil dan tidak melakukan apa pun. Di sisi lain gedung, Pak Damar sedang menerima kabar yang sama dari tiga arah berbeda. Investor keluar, kontrak dibatalkan, dua klien besar menunda tanpa kepastian dengan satu kalimat yang terus diulang oleh semua pihak:

“Setelah konflik dengan Winata Group…”

Pak Damar duduk di kursinya lalu mengusap wajahnya pelan.

“Ini gila…”

Asistennya berdiri di depan meja.

“Pak, kita harus ambil langkah cepat. Kalau tidak, arus keluar ini akan semakin besar.”

Pak Damar menatapnya.

“Langkah cepat apa? Apakah kau tidak lihat mereka memilih untuk berhenti berhubungan dengan perusahaan ku?!”

Asisten itu ragu.

“Saya minta anda harap tenang pak, di situasi saat ini, kita tidak seharusnya merasa panik, justru seharusnya kita mencari investor baru.”

Pak Damar tertawa kecil.

“Dalam kondisi seperti ini? Apa kau yakin mereka akan mau bekerjasama dengan perusahaan ini?!”

Asisten pak Damar tidak menjawab karena semua orang tahu jawabannya. Sulit dan hampir mustahil. Sementara itu, di gedung Winata Group, suasana justru terasa seperti dunia yang berbeda. Suasana di perusahaan itu terasa tenang, teratur dan hanya ritme kerja yang tetap berjalan seperti biasa, seolah tidak ada badai di luar sana. Di ruang rapat yang berada di lantai atas, Kanisha duduk dengan tenang di meja panjang. Di depannya, seorang pria berpakaian formal dengan map hitam tebal baru saja duduk. Orang itu adalah pengacara.

“Dokumen sudah saya siapkan, Nona Kanisha.” ucapnya sopan.

Kanisha tidak langsung mengambilnya. Matanya menatap map itu cukup lama lalu

pelan bertanya,

“Ini surat cerai?”

“Benar.” Pengacara itu membuka halaman pertama. “Ini adalah surat pernyataan perceraian yang akan diajukan ke pihak Arven Mahendra. Setelah ditandatangani, proses hukum bisa langsung berjalan.”

Kanisha terdiam beberapa detik. Tidak ada emosi di wajahnya, hanya kelelahan yang sudah terlalu dalam untuk diungkapkan.

“Papa yang minta semua ini?” tanya Kanisha pelan yang membuat Pengacara itu mengangguk.

“Dan sudah disetujui oleh beliau.”

Kanisha menarik napas pelan.

“Baik.”

Kanisha mengambil pulpen, menutup matanya sebentar lalu menandatangani surat perceraiannya dengan Arven tanpa ragu. Kanisha tidak bergerak selama beberapa detik setelah tanda tangannya selesai mendarat di atas kertas itu. Tinta hitam yang masih basah di atas surat perceraian terasa seperti sesuatu yang lebih berat daripada sekadar tanda tangan administratif. Lebih seperti garis pemisah yang benar-benar memotong satu bagian hidupnya tanpa bisa disambung lagi. Ruangan rapat di lantai atas Winata Group itu tetap sunyi, hanya suara pendingin udara yang terdengar pelan, seperti tidak berani mengganggu keputusan yang baru saja diambil.

Pengacara di depannya menutup map hitam itu dengan hati-hati.

“Terima kasih, Nona Kanisha,” ucapnya sopan. “Setelah ini, dokumen akan saya bawa dan saya serahkan kepada pihak Arven Mahendra untuk ditandatangani oleh beliau. Setelah itu, proses hukum akan langsung diajukan ke pengadilan.”

Kanisha mengangguk pelan. Tidak ada emosi yang meledak, tidak ada air mata. Yang ada hanya keheningan yang terlalu dalam, seperti seseorang yang sudah terlalu lama berdiri di tengah badai sampai akhirnya tubuhnya tidak lagi bereaksi terhadap angin.

“Cepatkan saja prosesnya,” jawabnya singkat.

Pengacara itu sedikit terdiam, mungkin tidak mengira jawaban perempuan itu akan sesederhana itu.

“Baik, Nona.”

Ia berdiri, memberi hormat kecil, lalu membawa map itu keluar dari ruangan. Pintu tertutup pelan di belakangnya, meninggalkan Kanisha sendirian. Kanisha menatap tangannya sendiri. Tangan yang tadi menandatangani sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali. Ia mengepalkan tangannya pelan, lalu mengendurkannya lagi, ia merasa tubuhnya sudah berjalan terlalu jauh tanpa sempat beristirahat. Di luar jendela besar ruang rapat itu, kota Jakarta masih terlihat seperti biasa. Gedung-gedung tinggi berdiri tegak, kendaraan tetap berlalu lalang. Dunia tidak akan berhenti hanya karena satu hubungan runtuh dan mungkin itu yang paling menyakitkan.

Sementara itu, jauh dari Jakarta—melintasi lautan, di sisi lain Asia Timur—sebuah gedung raksasa berdiri menjulang di tengah distrik bisnis paling modern di Seoul.

MIRAE GLOBAL HOLDING.

Gedung itu bukan hanya tinggi. Ia seperti simbol kekuasaan yang tidak perlu diperkenalkan. Dinding kaca dari atas ke bawah memantulkan langit sore Korea yang mulai berubah keemasan. Struktur bangunannya modern, minimalis, tapi sangat tegas—seolah setiap garis arsitekturnya sengaja dibuat untuk menunjukkan satu hal: perusahaan ini tidak bermain-main. Di bagian puncaknya, logo MIRAE Global Holding menyala tipis di antara panel kaca, tidak mencolok, tapi cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya langsung tahu bahwa ini bukan perusahaan biasa.

Di dalamnya, suasana terlihat berbeda dengan hiruk pikuk perusahaan lain. Tenang, teratur dan aman terkendali. Semua karyawan bergerak cepat tapi tanpa suara berlebihan. Semua tampak seperti sudah terbiasa bekerja di bawah standar yang sangat tinggi. Lantai marmer mengilap, dinding kaca di setiap sisi ruangan memberikan pemandangan kota Seoul yang luas—gedung-gedung pencakar langit, sungai Han yang terlihat jauh di kejauhan, dan lampu kota yang mulai menyala satu per satu. Di lantai eksekutif, seorang pria muda berjalan cepat menyusuri koridor panjang sambil membawa tablet di tangannya. Namanya Park Min-jae, dialah asisten pribadi CEO MIRAE GLOBAL HOLDING.

1
Rain Aricia
Iya pak gasskan lagii, keluarkan semua biar mampus tuh bapak sama anak
Rain Aricia
Prettt, keluarga kau blg matamu lah keluarga
Rain Aricia
Mendadak apanya? Makanya tanyakan sama anak kesayanganmu itu
Rain Aricia
Coba pikir baik2
Rain Aricia
Iya bener, ngapain kasih dana ke org yg ga becus
Rain Aricia
Kanisha kalau sama bapaknya jadi kayak putri kecil kesayangan🥰
Rain Aricia
Lu mau ngeles kah nanti?
Noey Aprilia
Pdhl cma dngr crta hdpnya doang,tp udh ga sbr ya bang pgn ktmu....😁😁😁....
d jmin bkln jth cnta kl udh ktmu lngsng,scra kanisha cntk plus hebat bgt.....
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: pastinya kak😄
total 1 replies
Rain Aricia
Hahha mampus lu, biar bapakmu tau gmb sebenarnya kelakuan busukmu
Rain Aricia
Yah mampuslah kalian bangkrut
Rain Aricia
Oi pak, anakmu noh selingkuh sampe punya anak. Pecat aja lah dia itu
Rain Aricia
Hah? Statement dari mana itu kamu ambil? Harusnya kebalikannya anjai
Putri Sylvia
menyesal kan Lu sekarang ven
Putri Sylvia
atas dasar perselingkuhan kamu
Putri Sylvia
syukurin, orang lagi frustasi tapi masih bisa bisanya menggatal🤣🤣🤣🤣
Putri Sylvia
salah besar kamu Arven kl berpikiran seperti itu
Putri Sylvia
musuh bebuyutan
Putri Sylvia
puas banget aku liat Arven digebukin pak Rendra/Doge/
Putri Sylvia
muak sama orangnya tapi doyan sama uangnya 🤣🤣🤣🤣
Putri Sylvia
malu maluin aja anakmu pak damar/Yawn//Yawn//Yawn/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!