Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.
Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.
Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Darah & Nama
Suara berat itu menggantung di udara, menembus keheningan hutan yang lembap. Dewa dan Naura terpaku di tempat, napas mereka tertahan. Kalimat terakhir pria tua itu aku tahu siapa ayah kandungmu yang sebenarnya, Naura berdengung keras di telinga mereka, seolah menghancurkan seluruh pemahaman yang mereka miliki selama ini.
Dewa melangkah maju sedikit, menatap tajam sosok yang berdiri di balik bayangan pohon besar itu. Pria tua itu berjalan perlahan mendekat, cahaya matahari yang menerobos celah dedaunan menyinari wajahnya yang penuh kerutan namun berkarisma. Di dadanya, lencana keamanan tua itu berkilau samar. Tidak ada keraguan lagi, ini adalah Pak Wahyu orang yang disebut Bi Inah, orang yang menghilang sepuluh tahun lalu membawa segudang rahasia.
"Pak Wahyu..." gumam Dewa, suaranya rendah dan bergetar. "Kau... kau masih hidup. Semua orang mengira kau sudah pergi jauh atau bahkan meninggal."
Pria tua itu tersenyum tipis, senyum yang sarat kepahitan dan kelelahan. "Aku hidup, Tuan Muda. Hidup dalam bayang-bayang, mengawasi, menunggu waktu yang tepat untuk bicara. Jika aku muncul lebih dulu, kalian tidak akan percaya. Dan jika aku bicara sebelum kalian melihat kejahatan Sera dan pengkhianatan Raga dengan mata kepala sendiri, kalian akan mengira aku pembohong."
Pak Wahyu menatap keduanya bergantian, lalu memberi isyarat tangan agar mereka mengikutinya lebih dalam ke semak belukar, menjauh dari arah vila dan kemungkinan ada mata-mata lain.
"Cepat ikut aku. Di sini masih terlalu dekat. Mereka punya pengintai di setiap bukit. Ada gubuk tua di balik tebing, tempat aman untuk bicara."
Tanpa banyak tanya lagi, Dewa dan Naura saling bertukar pandang lalu mengikuti langkah pria tua itu. Di dalam hati Dewa, badai berkecamuk. Jika apa yang dikatakan Pak Wahyu benar bahwa ada rahasia soal ayah kandung Naura maka seluruh alasan kebencian, dendam, dan pernikahan mereka yang didasari kesalahpahaman itu akan runtuh sepenuhnya. Dan yang lebih mengerikan: benarkah Hadi Zafira, ayah yang selama ini dikenal Naura, bukanlah ayah kandungnya?
Perjalanan berjalan cepat namun hati-hati. Sepanjang jalan, Dewa terus memeluk bahu Naura, merasakan tubuh wanita itu yang gemetar hebat. Rasa penasaran bercampur rasa takut akan kebenaran yang akan terungkap.
Sesampainya di gubuk kayu tua yang tersembunyi di balik bebatuan besar, Pak Wahyu menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Ia duduk di bangku kayu tua, menyuruh mereka duduk di hadapannya. Wajah pria tua itu berubah serius, hilang sudah senyum tipis tadi.
"Kalian berdua sudah terjebak dalam permainan ini sejak kalian masih kecil," mulai Pak Wahyu dengan suara berat, matanya menatap lurus ke arah Dewa. "Tuan Ardi Buwana ayahmu, Dewa adalah orang paling jujur dan baik hati yang pernah aku kenal. Ia sangat percaya pada persahabatan, sangat percaya pada Hadi Zafira, dan sangat percaya pada orang-orang yang ia angkat dan ia besarkan. Tapi kebaikan itulah yang menjadi kelemahannya."
"Dia tahu ada yang tidak beres, kan?" potong Dewa, mengeluarkan selembar surat lusuh dari saku jaketnya surat terakhir ayahnya. "Dia menulis di sini... ada orang ketiga yang memecah belah, orang yang dekat dan pandai menyembunyikan niat jahat."
Pak Wahyu mengangguk pelan, menatap surat itu dengan mata berkaca-kaca. "Itu ditulis beberapa hari sebelum beliau meninggal. Saat itu, aku sudah mulai mencium bau busuk. Ada Sera... wanita muda yang tiba-tiba muncul, mengaku kerabat jauh, pintar bicara, dan selalu ada di samping Tuan Ardi. Ada Raga... anak yatim piatu yang diangkat Tuan Ardi, dididik, dan diberi kedudukan tinggi. Dan ada... Hadi Zafira."
Naura tersentak mundur, wajahnya pucat. "Ayahku... kau bilang dia sahabat baik. Kau bilang dia korban juga."
"Dia sahabat baik, Nyonya muda. Tapi dia juga manusia yang punya ambisi dan kelemahan," jawab Pak Wahyu lembut namun tegas. "Hadi Zafira mencintai kekayaan dan kekuasaan keluarga Buwana. Dia iri. Dia ingin punya apa yang dimiliki sahabatnya itu. Sera dan Raga melihat kelemahan itu. Mereka merayunya, menyuapnya, memberinya janji manis. Mereka berencana merampas aset, memecah belah, dan menyingkirkan Tuan Ardi."
"Lalu... apa yang sebenarnya terjadi sepuluh tahun lalu?" tanya Dewa, tangannya mengepal kuat. "Kau bilang kau tahu siapa yang membunuh ayahku."
"Itu bukan kecelakaan, bukan serangan jantung mendadak seperti yang diberitakan," desis Pak Wahyu, matanya menyala penuh amarah. "Malam itu, Tuan Ardi mengetahui segalanya. Dia tahu Hadi terlibat, dia tahu Sera mengatur semuanya, dia tahu Raga membocorkan rahasia perusahaan. Dia berniat melaporkan semuanya, memutuskan kerja sama, dan mengembalikan semuanya ke jalan yang benar. Tapi mereka lebih dulu bertindak. Mereka meracuni minumannya, lalu mengatur adegan seolah beliau meninggal karena sakit."
Dewa terhuyung mundur, menabrak dinding gubuk. Rasa sakit yang luar biasa menghantam dadanya. Selama sepuluh tahun ia membenci Hadi Zafira karena mengira pria itu merampas harta ayahnya, tapi ternyata... ayahnya dibunuh oleh komplotan yang melibatkan orang-orang yang ia percaya, dan Hadi hanyalah salah satu pion yang dimanfaatkan? Atau lebih buruk lagi... Hadi adalah bagian dari pembunuh itu?
"Dan sekarang..." suara Naura bergetar hebat, air matanya mulai menetes, "kau bilang ada rahasia soal ayah kandungku. Apa maksudmu? Ayahku... maksudku, Hadi Zafira... dia bukan ayahku?"
Pak Wahyu menatap wanita muda itu dengan pandangan penuh kasihan. Ia menghela napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan kata-kata yang akan mengubah seluruh hidup gadis ini.
"Naura... ibumu, Ibu Ratih, adalah wanita yang sangat mulia. Dia menikah dengan Hadi Zafira karena perjodohan, tapi hatinya tidak pernah sepenuhnya milik pria itu. Dia sangat dekat dengan Tuan Ardi Buwana. Mereka saling mengerti, saling mendukung, dan ada ikatan batin yang sangat kuat di antara mereka, jauh sebelum kau lahir."
Hening mencekam menyelimuti ruangan kecil itu. Dewa menatap Pak Wahyu dengan mata terbelalak, mulai menangkap arah pembicaraan itu, namun menolak mempercayainya.
"Apa kau..." Dewa menelan ludah dengan susah payah. "Apa kau bermaksud mengatakan...?"
"Tuan Ardi Buwana adalah ayah kandungmu, Naura," ucap Pak Wahyu tegas dan jelas, seolah melemparkan bom waktu ke tengah ruangan. "Kau bukan anak Hadi Zafira. Kau adalah anak kandung ayahmu, Dewa. Kalian berdua... kalian adalah saudara sedarah dari ayah yang sama."
Dunia seolah runtuh di hadapan mereka. Naura menjerit pelan, menutup mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya lemas seketika dan hampir jatuh ke lantai jika tidak ditangkap cepat oleh Dewa. Dewa sendiri merasa kakinya tak bertulang, ia memeluk tubuh Naura erat-erat, namun rasa kaget dan kebingungan membuat pelukan itu terasa kaku.
Tidak mungkin. Ini tidak mungkin benar. Mereka menikah. Mereka saling mencintai. Mereka berjuang bersama. Dan sekarang dikatakan bahwa mereka adalah saudara kandung? Bahwa pernikahan mereka, yang awalnya didasari dendam, kini tumbuh menjadi cinta, ternyata ada di antara saudara sedarah?
"Itu... itu bohong," gumam Dewa parau, matanya menatap tajam ke arah Pak Wahyu, bercampur marah dan keputusasaan. "Kau berbohong! Jika ini benar, kenapa tidak ada yang bilang? Kenapa ayahku tidak pernah mengakuinya? Kenapa Hadi Zafira mau membesarkan anak sahabatnya?"
"Karena itulah bagian dari perjanjian dan permainannya," jawab Pak Wahyu cepat, berusaha menenangkan mereka. "Hadi Zafira tahu kebenaran itu. Dia tahu kau bukan anaknya. Dia membenci kau, Naura, sejak kau lahir, karena kau adalah bukti perselingkuhan istrinya dengan sahabatnya. Tapi dia memelihara kau, dia menjaga kau, dan dia membuat perjanjian perjodohan itu denganmu, Dewa... karena dia ingin kau, anak kandung sahabatnya, menikahi kau, anak kandung sahabatnya juga, agar harta dan nama besar Buwana tetap terikat dalam kendalinya, dan agar dia bisa menyakiti kalian berdua selamanya dengan cara paling kejam: membuat kalian saling mencintai padahal menurut anggapan orang lain kalian adalah musuh, dan menurut rahasia ini... kalian dianggap saudara."
Pak Wahyu mengeluarkan sebuah dokumen tua dari balik bajunya, menyodorkan ke arah mereka.
"Ini bukti medis, catatan kelahiran rahasia, dan surat pengakuan dari ibumu sebelum dia meninggal. Dia menulis semua ini agar suatu hari nanti kau tahu kebenaran, Naura. Hadi Zafira bukan ayahmu. Dia hanya pria yang membenci keberadaanmu karena kau adalah bukti bahwa dia tidak pernah mendapatkan hati ibumu."
Dewa memegang kertas itu dengan tangan gemetar hebat. Tulisan tangan ibunya Naura Ibu Ratih terbaca jelas, penuh air mata dan penyesalan. Segalanya tertulis di sana. Segala rasa sakit, segala rahasia, dan pengakuan bahwa Naura adalah putri Ardi Buwana.
"Jadi..." suara Dewa pecah, ia menatap wajah Naura yang basah oleh air mata, wajah wanita yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri. "Kita... kita saudara? Kita tidak boleh bersama? Semua rasa ini, semua pengorbanan ini... ternyata harus berakhir karena darah yang sama mengalir di tubuh kita?"
Naura menatap Dewa dengan tatapan kosong namun penuh kepedihan yang tak terlukiskan. Cinta yang baru saja tumbuh kokoh, kebenaran yang baru saja mulai terungkap, harapan akan masa depan yang bahagia... semuanya hancur seketika oleh satu fakta ini.
"Kenapa... kenapa harus begini?" isak Naura, membenamkan wajahnya di dada Dewa, menangis sejadi-jadinya. "Aku pikir kita sudah melewati yang terburuk. Aku pikir kita bisa bahagia. Tapi ternyata... takdir mempermainkan kita lebih kejam dari siapa pun."
Namun, Pak Wahyu kembali bicara, suaranya memotong kesedihan mereka, membawa sedikit cahaya di tengah kegelapan yang baru saja datang.
"Tunggu dulu. Belum selesai. Ada satu hal lagi yang harus kalian tahu, hal yang bahkan Sera, Raga, maupun Hadi Zafira sendiri tidak ketahui sepenuhnya."
Pria tua itu menatap mereka berdua bergantian, matanya berkilat penuh makna.
"Benar, Naura adalah anak Tuan Ardi. Tapi Dewa... kau sendiri, Tuan Muda... kau yakin seratus persen bahwa kau adalah anak kandung Tuan Ardi Buwana?"
Pertanyaan itu membuat keduanya terdiam serentak. Dewa mengangkat wajahnya, bingung dan bercampur rasa takut baru.
"Apa maksudmu? Tentu saja aku anak ayahku. Siapa lagi ayahku kalau bukan dia?"
"Lihatlah dokumen itu lebih teliti, lihat catatan di bagian bawah," perintah Pak Wahyu pelan namun tegas. "Dan ingatlah... Sera dan kelompoknya menyusun rencana ini puluhan tahun lalu, jauh sebelum kalian lahir. Mereka memanfaatkan hubungan, memanfaatkan rahasia, dan memanfaatkan darah... tapi ada satu rahasia terbesar yang bahkan mereka belum temukan jawabannya. Rahasia tentang siapa ayah kandungmu yang sebenarnya, Dewa. Rahasia yang jika terungkap, akan mengubah segalanya, membuat kalian berdua bebas bersatu, dan menghancurkan kekuasaan Sera hingga ke akar-akarnya."
Di luar gubuk itu, angin berhembus kencang, menggoyang dahan-dahan pohon besar. Di kejauhan, terdengar suara kendaraan yang mendekat, disusul suara teriakan dan langkah kaki yang semakin banyak. Musuh sedang mendekat. Mereka menemukan jejak mereka.
Dewa dan Naura saling menatap, di tengah rasa sakit karena fakta baru, di tengah bahaya yang semakin dekat, dan di tengah misteri yang belum selesai. Jika Dewa ternyata bukan anak Ardi Buwana... jika mereka tidak memiliki hubungan darah... maka cinta mereka mungkin diselamatkan. Tapi jika benar... maka mereka terjebak selamanya.
Dan di atas semua itu, masih ada pertanyaan besar: siapa ayah kandung Dewa? Dan mengapa rahasia itu disembunyikan begitu rapat hingga kini?