NovelToon NovelToon
Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.

​Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sampai di lokasi pengabdian

Hawa sejuk dari AC bus dan guncangan ritmis kendaraan di siang menuju sore itu perlahan-lahan membuat rasa kantuk Kanaya tak tertahankan. Matanya terasa semakin berat, hingga akhirnya ia benar-benar terlelap, tenggelam ke dalam tidur yang cukup nyenyak.

​Di sebelahnya, Wisnu masih terjaga. Sebagai ketua kelompok, ia merasa bertanggung jawab untuk tetap waspada, sesekali matanya memperhatikan peta digital di ponselnya untuk memastikan mereka tidak salah arah.

​Saat bus melewati sebuah tikungan tajam, tubuh Kanaya sedikit limbung. Tanpa disengaja, kepala perempuan itu perlahan merosot dan menyender pas di pundak kiri Wisnu. Rambut sebahunya yang halus sebagian mengenai leher Wisnu.

​Wisnu seketika mematung. Jantungnya berdesir hebat menerima kontak fisik yang tiba-tiba itu. Ia menoleh sedikit, menatap wajah Kanaya yang tampak begitu damai saat tertidur dari jarak sedekat ini. Alih-alih menggeser tubuhnya karena canggung, Wisnu justru perlahan menurunkan sedikit bahunya, mencoba memosisikan diri agar Kanaya merasa lebih nyaman dan tidak terbangun dari tidurnya. Sebuah senyum tipis yang tulus terukir di wajah sang ketua kelompok.

​Sementara itu, pemandangan manis di barisan depan itu tidak luput dari sepasang mata di bangku paling belakang.

​Arman, yang sejak tadi tidak bisa memejamkan mata, menyaksikan semuanya dengan dada yang terasa seperti diremas kuat. Skenario itu dulu adalah miliknya. Dulu, pundaknyalah tempat bersandar paling aman bagi Kanaya setiap kali mereka menempuh perjalanan jauh. Namun sore ini, melihat kepala Kanaya bersandar di pundak laki-laki lain, Arman dipaksa sadar sesadar-sadarnya bahwa ia telah benar-benar kehilangan hak itu.

​Arman hanya bisa memalingkan wajahnya ke arah kaca samping, mengepalkan tangan di dalam saku jaketnya, menahan perih yang kian merajam ulu hatinya di sepanjang sisa perjalanan.

Guncangan bus yang perlahan melambat dan akhirnya berhenti total membuat Kanaya perlahan membuka matanya. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya saat ia merasakan sesuatu yang asing—ia tidak menyender pada kaca jendela yang dingin, melainkan pada sesuatu yang terasa empuk dan hangat.

​Kanaya mengerjapkan mata dan seketika tersentak kecil saat menyadari bahwa sejak tadi kepalanya bersandar nyaman di bahu Wisnu.

​"Eh... Kak Wisnu? Maaf, maaf banget, Kak, aku nggak sengaja ketiduran," ucap Kanaya panik sambil buru-buru menegakkan tubuhnya. Wajahnya merona merah karena merasa tidak enak sekaligus malu atas kelancangannya yang tidak disengaja itu.

​Wisnu hanya terkekeh ramah, sama sekali tidak tampak keberatan. Ia meregangkan bahu kirinya yang memang agak kaku setelah dua jam menjadi sandaran. "Nggak apa-apa, Kanaya santai aja. Perjalanannya memang bikin capek, kok. Kebetulan kita sudah sampai di lokasi."

​Mendengar kata 'sampai', Kanaya langsung melempar pandangannya ke luar jendela. Bus mereka kini terparkir di sebuah halaman luas yang dikelilingi oleh pepohonan rindang. Di depan sana, terlihat bangunan Sekolah Dasar yang menjadi lokasi pengabdian mereka, lengkap dengan beberapa perangkat desa yang sudah berdiri menyambut di depan gerbang.

​"Yuk, teman-teman, kita turun! Barang-barangnya jangan sampai ada yang ketinggalan, ya!" seru Wisnu memberi komando kepada seluruh anggota kelompok sembari berdiri dari kursinya.

​Kanaya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir sisa rasa kantuk dan kecanggungannya. Ia merapikan rambut sebahunya yang agak berantakan, menyambar tas ranselnya, lalu bersiap melangkah turun menyambut kehidupan baru yang akan ia jalani selama satu bulan ke depan di desa ini.

​Sementara itu, dari barisan belakang, Arman hanya bisa menatap langkah Kanaya yang turun mendahuluinya, bersiap menghadapi kenyataan bahwa di tempat terpencil ini, ia harus terus menyaksikan Kanaya yang semakin menjauh dari jangkauannya.

1
Himna Mohamad
lanjut kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!