Danu merasa hidupnya benar-benar di kutuk oleh Lila gadis kecil yang dulu dia rawat, empat kali sudah dia gagal memiliki pasangan hidup hingga dia di juluki Perjaka Tua di kampus di mana dia mengajar.
"Siang Pak Dosen" Suara itu benar-benar Danu hafal, siapa lagi kalau bukan Lila si Pengutuk kecil.
"Ada apa?"
"Pak saya ada masalah, mohon bantuan"
"Bantuan apa? apa ada materi yang sulit di fahami?" Danu mencoba bersikap professional.
"Ada pak"
"Materi apa?"
"Materi tentang bagaimana cara menjadi istri Pak Danu Pramana"
'Uhuk uhuk'
Danu sampai tersedak mendengar Lila kembali berulah.
"Lila ....."
Lila langsung berlari keluar setelah menaruh buku tugasnya di meja kerja Danu.
Akankah Lila berhasil mendapatkan cinta sang Dosen? yuk kepoin cerita serunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
"Jam berapa? Aku bisa"
Lila menatap pesan yang baru saja dia kirim ke Ryan. Ryan mengajak nya pergi sarapan bersama, setelah itu mencari baju couple untuk acara besok. Lila tentu langsung menolak ajakan itu. Dan karena pesan dari Ryan ia jadi punya ide untuk membuat nasi goreng untuk sarapan mereka.
Tapi setelah keseruan tadi, Lila sangat kecewa mendengar Danu yang bilang kalau dia tidak menyukai dirinya. Benar-benar munafik kan? mana ada tidak suka tapi suka nyosor? Kalau memang Danu tidak suka, mana mungkin banyak tanda merah di tubuhnya?
Karena sikap Danu juga Lila jadi berubah pikiran, dia menerima tawaran Ryan yang mengajak nya pergi. Kita lihat bagaimana reaksi Mas Danu.
Lila membenarkan rambutnya, dia juga mencoba tersenyum sebelum kembali ke ruang tamu.
"Mas Danu, Lila pamit ya?"
"Kog buru-buru? Bukannya hari ini libur?" Tanya Yuda, karena hari ini memang tanggal merah.
"Lila ada janji sama seseorang"
Lila sengaja mengatakan itu dengan lantang agar Danu mendengarnya.
"Wah ada janji? Tumben. Biasanya juga mengekor di belakang Danu"
"Ada yang nggak suka di ekorin Pak"
'uhuk uhuk'
Danu langsung tersedak air minumnya,apa tadi Lila mendengar pembicaraan mereka?
"Hati-hati kalau minum Dan"
Lila biasanya gercep membantunya, namun kali ini Lila melipir begitu saja melewati mereka tanpa mau menoleh apalagi menanyakan keadaannya.
Harusnya Danu senang, tapi dia merasa ada yang hilang. Danu segera berdiri, ingin melihat Lila keluar dengan siapa.
"Lu mau kemana?" Tanya Yuda ke Danu.
"Mau ke depan, lihat mobil sebentar" Dusta Danu. Yuda geleng-geleng kepala sendiri, baru di abaikan sedikit saja Danu sudah resah begitu, masih bilang tidak suka. Mungkin dia hanya gengsi atau terlalu rendah diri karena Lila masih begitu muda.
Sampai di depan, Danu pura-pura mengelap mobil, dia melihat sebuah motor terparkir di depan halaman Lila. Seketika darah Danu mendidih, apa Lila akan keluar bersama seorang lelaki?
Danu meremas lap mobil dengan agak kasar, sesekali dia melirik ke arah rumah Lila untuk melihat siapa yang akan keluar dengannya. Tak berselang lama Lila nampak keluar dari sana, ternyata anak muda yang waktu itu memberi Lila bunga di acara kelulusan sekolah.
"Bukankah waktu itu,lelaki itu dapat beasiswa ke luar negeri? Kenapa dia bisa di sini?"
Danu terus menatap Ryan dengan tatapan tidak suka. Haruskah dia mengikuti mereka? Tapi apa yang akan dia jelaskan pada Lila jika dia ketahuan membuntuti mereka? Lila bisa saja besar hati dan mengira dia juga menyukai Lila.
Tidak tidak tidak, Lila masih terlalu muda, dia tidak pantas.
Saat Lila keluar, gadis muda itu terlihat begitu fresh, Bau parfum nya bahkan tercium sampai di hidung Danu.
"Bawa parfum berapa kilo dia,hingga aromanya tercium sampai ke sini"
Dengan kesal Danu kembali pura-pura mengelap mobil, padahal mobilnya sudah kinclong sekali.
"Yuk berangkat"
Danu bisa mendengar perkataan Lila, karena rumah mereka memang hanya berbatas pagar setinggi perut.
"Ayo!"
Ryan menaiki motor itu, jok belakangnya begitu tinggi, Danu yakin tubuh Lila akan langsung menempel di badan Ryan jika memakainya.
Lila baru saja akan naik, namun urung dia lakukan saat Danu berteriak begitu lantang.
"Tunggu!"
Lila bingung, kenapa Mas Danu memintanya menunggu, namun Lila tetap patuh, dia tidak jadi naik.
Danu segera membuka pintu mobil, di ambilnya tas kerjanya dan berjalan ke rumah Lila dengan melompati pagar pembatas.
'Whoa'
Lila sangat tercengang,atraksi apa itu tadi? Benar-benar membuat Lila takjub.
"Cepat naik Lil" Ryan tak mau Danu menggagalkan kencannya dengan Lila, mereka harus segera pergi.
Lila pun naik, tepat saat itu Danu menyelipkan Tasnya di antara tubuh Ryan dan Lila agar mereka tidak saling menempel.
"Titip tas saya, kamu harus membawanya pulang dengan selamat"
Baik Lila ataupun Ryan sama-sama heran, kenapa Lila harus menjaga tas Danu?
Danu kini bisa tersenyum melihat tubuh Lila terhalang tas miliknya.
"Cepat pergi! Ingat jangan ganti posisi tas saya, di dalam ada cctv nya, jadi saya bisa tahu"
Lila makin garuk-garuk kepala, sebenarnya apa mau Mas Danu? Apa dia cemburu? Apa dia tidak suka melihat dirinya dekat dengan Ryan? Apa Mas Danu mulai kebakaran jenggot saat dia dekat dengan seorang laki-laki? Sepertinya ini adalah sebuah kemajuan.
"Lila akan menjaga tas Mas Danu dengan sepenuh hati" Jawab Lila.
Danu jadi canggung sendiri kala Lila bicara demikian,apa dia terlalu ikut campur? Ah sudahlah, sudah terlanjur juga.
"Ayo Ian kita pergi"
*****
Danu terus menatap jam di dinding, hatinya mendadak resah, dia bahkan menolak ajakan Yuda untuk mancing bareng.
Danu begitu hawatir dengan Lila, bagaimana jika Ryan menggoda Lila? Bagaimana kalau mereka melakukan apa yang pernah Danu lakukan dengan Lila? Pikiran-pikiran itu terus menghantui Danu.
Danu terus menunggu Lila di ruang tamu dengan resah. Namun tiba-tiba dia mendengar suara yang begitu dia kenal, bukankah itu suara Lila?
"Wah sudah punya pacar baru ya Lila? Ganteng juga pacar kamu"
"lelaki tadi temen Lila Tante, bukan pacar"
"Kamu panggil saya apa hah!"
"Tante, memang kenapa?"
"Saya masih belum terlalu tua, harusnya kamu panggil saya Mbak"
"Idih ogah"
"Dasar anak tidak sopan ke orang tua!"
"Kan benar apa kata Lila, Tante Lula aja ngaku kalau sudah jadi orang tua, kenapa nggak mau Lila panggil Tante"
Kedua wanita itu terus berdebat hingga Danu menghampiri mereka.
"Eh mas Danu, kog di rumah aja?" Tanya Lula janda muda depan rumah dengan nada begitu lembut dan di buat-buat manja. Rasanya Lila ingin sekali muntah mendengarnya.
"Saya sedang jaga rumah, takut ada maling, tapi sepertinya malingnya juga bakal takut mendengar suara kalian"
"Dia dulu yang mulai mas, masak dia manggil saya Tante"
"La kan situ memang sudah Tante-tante"
"Lihat mas, dia bicara seenaknya ke saya"
"sudah sudah, kalau mau bertengkar di dalam rumah saja, jangan di sini, saya mau istirahat"
Lila akhirnya pulang, Bu Lula pun sama. Namun saat sampai didepan pintu, Lila memastikan janda satu anak itu sudah masuk. Begitu dia melihat pintu rumah Bu Lula tertutup rapat, Lila buru-buru berjalan ke rumah Danu.
Lila bahkan nyelonong masuk begitu saja tanpa permisi.
Danu tahu Lila akan ke rumahnya, jadi dia sengaja bersembunyi di belakang pintu.
Dan dugaan nya benar, Danu tersenyum kala melihat Lila mengendap-endap masuk mencari dirinya.
"Ngapain kamu di sini?"
Lila melompat kaget, hampir saja dia jantungan.
"Mas Danu ngagetin Lila deh!'
"Kenapa kamu di sini? bukannya tadi mau keluar dengan Ryan? Baru juga satu jam"
"Lila sudah pulang Mas, Ini Lila bawakan oleh-oleh"
Lila tadi membelikan atasan baju yang senada dengan bajunya. Dia sengaja agar besok saat di acara ulang tahun putri pak Rektor, mereka bisa couple an. Lila senyum-senyum sendiri tidak sabar menantikan hari esok.