NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Elva

Rumah Untuk Elva

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: elanut

Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.

Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”

Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

BAB 19: Udara Pagi yang Hangat dan Bayang-Bayang Masa Lalu

Sinar matahari pagi yang lembut menerobos masuk melalui celah gorden sutra kelabu di lantai teratas apartemen penthouse mewah milik Zayn Dominic. Udara Jakarta di awal pekan ini terasa sedikit lebih sejuk, menyisakan aroma tanah yang basah akibat siraman gerimis semalam. Di dalam kamar tidur yang luas, Elva Ileana sudah terbangun sejak jarum jam menunjuk angka enam.

Elva berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya dengan senyuman tipis yang tulus. Rona pucat dan tatapan penuh trauma yang dulu selalu menghiasi wajahnya kini telah menguap tanpa sisa. Sebagai gantinya, sepasang mata bulatnya kini memancarkan binar kehidupan yang cerah. Pagi ini, dia tidak mengenakan seragam sekolah atau gaun brokat pemberian keluarga Dominic.

Elva tampil kasual dengan setelan baju olahraga—sepotong jaket hoodie rajut berwarna putih bersih yang sedikit kebesaran, dipadukan dengan celana legging hitam nyaman dan sepatu olahraga berwarna senada.

Jemari lentiknya bergerak menyentuh lehernya. Di sana, kalung perak murni dengan liontin inisial 'Z' dan 'E' yang saling bertautan erat berkilau indah diterpa cahaya fajar. Hadiah ikatan resmi dari Zayn dua malam lalu tidak pernah dia lepaskan sekalipun.

Elva melangkah keluar kamar dengan gerakan pelan, mencoba tidak menimbulkan suara berisik. Saat melewati ruang tengah, dia melirik ke arah sofa beludru besar. Di sana, Zayn masih tertidur lelap dengan posisi tengkurap, sebelah lengan kekarnya menggantung di sisi sofa dan rambut hitam acak-acakan nya menutupi sebagian dahi. Cowok itu tampaknya kelelahan setelah semalaman terjaga untuk memeriksa laporan berkas OSIS sekolah.

Melihat wajah tertidur Zayn yang tampak begitu damai dan kehilangan kesan ket ketatnya, Elva tidak tega untuk membangunkannya. “Aku cuma mau joging sebentar di taman depan kompleks apartemen. Tiga puluh menit juga sudah balik,” batin Elva dalam hati. Dia mengambil selembar kertas kecil di atas konter dapur, menuliskan memo singkat agar Zayn tidak panik saat terbangun nanti, lalu meletakkannya tepat di samping ponsel pintar cowok itu.

Dengan langkah ringan dan hati yang dipenuhi kedamaian, sang mentari kecil itu melangkah keluar dari pintu utama apartemen, siap menyambut udara segar di luar sana.

...----------------...

Taman kencana yang terletak hanya beberapa ratus meter di luar gerbang utama kompleks apartemen mewah itu tampak cukup ramai pagi ini. Beberapa lansia terlihat sedang melakukan jalan santai di atas jalur refleksi, sementara beberapa pekerja kantoran memanfaatkan waktu sebelum berangkat kerja untuk berlari kecil mengelilingi danau buatan di tengah taman.

Elva menyumbat kedua telinganya dengan earphone putih, memutar alunan musik instrumental lembut yang menenangkan. Dia mulai melakukan joging kecil, menyusuri jalan setapak berbatu yang dipayungi oleh deretan pohon mahoni yang rindang. Setiap kali embusan angin pagi menerpa wajah polosnya yang tanpa polesan kosmetik, Elva menghirup napas dalam-dalam.

Rasa bebas yang luar biasa mengalir di dalam dadanya. Belasan tahun hidup terkekang dan penuh cacian di rumah keluarga Ileana membuat momen sesederhana joging di taman seperti ini terasa seperti kemewahan yang tak ternilai harganya.

Setelah dua putaran mengelilingi danau, peluh tipis mulai membasahi dahi dan tengkuk leher Elva. Dia menurunkan kecepatan langkahnya menjadi jalan santai, lalu memutuskan untuk beristirahat di sebuah bangku taman kayu yang menghadap langsung ke arah air danau yang tenang memantulkan cahaya matahari pagi.

Elva melepas earphone-nya, membiarkan suara kicau burung merdu menggantikan alunan musik. Dia menyandarkan punggungnya, menikmati detak jantungnya yang beritme konstan. Namun, kedamaian pagi itu mendadak terusik saat sebuah bayangan tegap tiba-tiba runtuh di depannya, menghalangi kehangatan sinar mentari yang menerpa wajahnya.

Elva mendongak, dan dalam sekejap, seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah tersedot habis. Warna di wajahnya lenyap, digantikan oleh kekakuan yang amat sangat.

Narendra Ileana.

Pria paruh baya yang merupakan ayah kandungnya itu berdiri tepat di hadapan Elva. Penampilan Narendra pagi ini benar-benar mengenaskan, jauh dari citra pengusaha properti angkuh yang dulu selalu mengenakan setelan jas puluhan juta rupiah. Kemeja bergaris yang dipakainya tampak kusam dan tidak disetrika dengan rapi, matanya cekung dengan kantung mata hitam yang tebal menunjukkan bahwa dia tidak tidur selama berhari-hari, dan janggut tipis yang tidak terawat tumbuh di sekitar rahangnya.

"Elva..." suara Narendra terdengar sangat serak, bergetar hebat saat memanggil nama putrinya.

Tubuh Elva refleks menegang sempurna. Jemari tangannya mencengkeram erat pinggiran bangku kayu taman. Kilatan memori tentang gudang bawah tanah yang gelap kembali mencoba menyerang kepalanya, namun Elva dengan cepat meremas liontin kalung di lehernya. Sentuhan dingin dari inisial nama Zayn di dadanya mendadak memberikan aliran keberanian yang baru. Dia tidak boleh runtuh lagi di depan pria ini.

"Mau apa lagi, Papa?" tanya Elva, suaranya terdengar begitu dingin, jernih, dan penuh dengan jarak. Dia tidak lagi memanggil pria itu dengan nada manja atau ketakutan.

Narendra langsung menjatuhkan dirinya, berlutut di atas hamparan rumput basah tepat di depan kaki Elva. Tindakan impulsif dari mantan konglomerat itu memicu perhatian beberapa orang yang sedang melintas di sekitar taman.

"Elva, Papa mohon... tolong Papa, Nak. Rumah kita... rumah kita sudah disita oleh bank kemarin sore. Perusahaan Papa dinyatakan pailit total. Semua rekan bisnis Papa memutus kontrak, dan tidak ada satu pun bank yang mau memberikan pinjaman dana."

Narendra meraih ujung sepatu olahraga Elva dengan tangan yang gemetar. "Hanya kamu satu-satunya harapan Papa, Elva. Tolong bicaralah pada Zayn. Katakan pada anak itu untuk meminta ayahnya, Alexander Dominic, mencabut pemblokiran bisnis Papa. Papa tahu Zayn sangat mendengarkan ucapanmu. Satu katamu saja bisa menyelamatkan keluarga kita dari gelandangan, Elva!"

Elva menatap pria yang sedang mengemis di bawah kakinya dengan pandangan mata bulat yang sarat akan rasa getir dan kekecewaan yang mendalam. Tidak ada rasa dendam yang membara, yang ada hanyalah rasa hampa yang teramat sangat.

"Uang, bisnis, dan perusahaan," bisik Elva lirih, menggelengkan kepalanya perlahan.

"Bahkan di saat Papa berlutut seperti ini di depanku, hal pertama yang Papa tanyakan dan cemaskan adalah tentang harta Papa. Papa sama sekali tidak bertanya bagaimana kondisiku setelah seminggu ini, Papa tidak peduli apakah memar di pipiku akibat tamparan Mama sudah sembuh atau belum."

Narendra tertegun, wajahnya pias seketika mendengar ucapan putrinya. "Elva, Papa... Papa minta maaf soal kejadian malam itu. Papa terpaksa lakukan itu karena panik—"

"Cukup, Papa," potong Elva tegas, berdiri dari bangku taman sehingga Narendra terpaksa melepaskan pegangannya. Elva mundur dua langkah, menatap Narendra dari ketinggian dengan ketegasan yang mutlak.

"Aku sudah bilang di lobi apartemen hari itu, hubungan darah di antara kita sudah selesai sejak kalian mengurungku seperti binatang di gudang bawah tanah. Aku tidak akan pernah meminta Zayn untuk membantu orang-orang yang sudah menghancurkan masa kecilku."

"ELVA! KAMU ANAK DURHAKA YA!" Sebuah teriakan melengking yang sangat familier tiba-tiba terdengar dari arah belakang pohon mahoni.

Larasati berjalan terburu-buru dengan wajah yang penuh amarah yang tertahan, diikuti oleh Dion di belakangnya. "Kita sudah menurunkan harga diri kita untuk datang ke sini mencari kamu, tapi kamu malah belagu! Ingat Elva, kamu itu keluar dari rahim Mama! Tanpa darah keluarga Ileana, kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengan cowok kaya seperti Zayn!"

Larasati maju, tangannya terangkat bersiap untuk melayangkan tamparan keras ke wajah Elva seperti yang biasa dia lakukan di rumah.

Elva memejamkan matanya, bersiap menerima hantaman fisik tersebut. Namun, tamparan itu tidak pernah tiba.

SREKK!

Sebuah cengkeraman tangan yang sangat kekar dan kuat mendadak menangkap pergelangan tangan Larasati di udara dengan akurasi yang luar biasa tepat. Bunyi gemertak halus terdengar saat cengkeraman tangan itu mengencang tanpa belas kasihan.

"Gue rasa tangan lo udah bosan utuh ya, sampai berani diangkat di depan cewek gue lagi," sebuah suara bariton yang sangat rendah, dingin, dan memancarkan aura membunuh yang luar biasa pekat mendadak menggema kuat, membekukan seluruh atmosfer di taman kencana pagi itu.

Elva membuka matanya dengan cepat.

Di depannya, Zayn Dominic sudah berdiri kokoh bagai benteng pertahanan yang tak tertembus. Zayn hanya mengenakan celana tidur hitam dan kaus oblong abu-abu tipis yang dipadukan dengan jaket denim kasual—menandakan bahwa cowok itu langsung melompat dari tidurnya dan berlari kencang menuju taman begitu membaca memo dari Elva. Napas Zayn tampak sedikit memburu, dan sepasang mata elangnya berkilat memancarkan kemarahan murni yang sangat mengerikan.

Zayn menghempaskan tangan Larasati dengan kasar hingga wanita paruh baya itu terhuyung ke belakang dan ditangkap oleh Dion yang ketakutan setengah mati.

"Z-Zayn..." cicit Narendra, langsung berdiri dari berlututnya dengan tubuh yang gemetar melihat kehadiran sang penguasa muda.

Zayn tidak memedulikan Narendra. Dia membalikkan tubuh tegapnya menghadap Elva, lalu meraih kedua pundak mungil gadis itu lembut. Mata elangnya meneliti setiap jengkal tubuh Elva, memastikan tidak ada satu pun luka baru yang tercipta.

"Lo nggak apa-apa? Ada yang sakit?" tanya Zayn, suaranya mendadak melunak seratus delapan puluh derajat khusus hanya untuk Elva.

Elva menggeleng kecil, sebuah senyuman lega terbit di bibirnya saat merasakan kehangatan tangan Zayn. "Aku nggak apa-apa, Zayn. Kamu datang tepat waktu."

Zayn menghela napas panjang, merapikan anak rambut Elva yang berantakan dengan telaten sebelum memutar tubuhnya kembali menghadap keluarga Ileana. Sifat posesif dan protektifnya yang berbahaya kembali keluar seutuhnya. Zayn maju satu langkah, menyembunyikan tubuh kecil Elva seutuhnya di balik punggung bidangnya.

"Dengar baik-baik" ucap Zayn, suaranya begitu tenang namun sarat akan penekanan yang mutlak yang membuat bulu kuduk siapa pun meremang.

"Gue sengaja nggak memenjarakan lo berdua atas tindakan kekerasan pada anak minggu lalu karena Elva yang meminta. Tapi kalau lo semua masih berani menginjakkan kaki di radius satu kilometer dari apartemen gue atau berani muncul di depan muka Elva lagi... gue bersumpah demi nama besar Dominic, gue sendiri yang akan memastikan sisa hidup lo semua berakhir di balik jeruji besi dingin tanpa ada celah untuk keluar. Sekarang, angkat kaki dari taman ini sebelum pengawal pribadi gue datang menyeret lo semua ke jalanan!"

Ancaman mutlak dari Zayn tidak menyisakan ruang untuk negosiasi. Narendra yang sadar bahwa posisi mereka telah kalah seutuhnya langsung menarik lengan Larasati dan Dion untuk buru-buru pergi dari taman dengan langkah kaki yang terburu-buru dan wajah yang dipenuhi oleh rasa malu yang teramat sangat. Istana kertas mereka telah hancur, dan kini mereka harus membayar harga dari kejamnya perlakuan mereka di masa lalu.

Setelah tiga sosok itu menghilang dari pandangan, Zayn membalikkan badannya kembali menghadap Elva. Wajah tampannya langsung ditekuk kesal, bibirnya sedikit maju menandakan sifat cemburu dan posesifnya yang menggemaskan kembali keluar karena merasa waktu pagi mereka telah dirusak.

"Gue udah bilang kan, jangan pernah keluar sendirian tanpa gue," omel Zayn ketus, sambil membuang muka ke arah danau dengan kesal.

Elva tertegun sejenak, lalu tawa kecil yang sangat renyah dan manis lolos dari bibirnya. Dia mengulurkan tangan kecilnya, menyelinap di antara lengan tegap Zayn lalu menggenggam jemari hangat cowok itu dengan erat.

"Iya, maaf ya Zayn. Tadi aku cuma mau joging sebentar kok. Aku nggak tahu kalau mereka bakal nunggu di sini."

Elva mendongak, menatap mata elang Zayn dengan ketulusan yang murni.

"Makasih ya udah selalu jadi perisai terbaik buat aku."

Mendengar ucapan polos dan melihat senyuman manis Elva, pertahanan dinding es di wajah kaku Zayn seketika runtuh tanpa sisa. Dia menghela napas pendek, lalu menarik tubuh mungil Elva ke dalam pelukan dadanya yang hangat dan bidang. Zayn mendekap pinggang Elva erat-erat di bawah pendaran cahaya matahari pagi taman kota.

1
anggita
like👍 iklan☝, Elva... Zayn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!