Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 11 PUTUS HUBUNGAN
Dimas yang mendengar pengakuan pria itu cukup terkejut. Ia membalas tatapan dingin Erlangga tidak kalah tajam.
"Jadi kamu laki-laki yang sudah menghancurkan anak saya?!"
Tanpa aba-aba lagi Dimas langsung menerjang Erlangga.
BUGH! BUGH! BUGH!
Pukulan demi pukulan dilayangkan oleh Dimas dengan amarah yang memuncak, seolah ia sedang melampiaskannya kepada Erlangga.
Di sisi lain, Erlangga tidak menghindar atau melawan. Ia tahu betul kekecewaan seorang ayah ia hanya bisa pasrah dan membiarkan itu terjadi.
Aline yang sedang terisak semakin histeris. Ia tidak pernah terbayangkan sedikit pun akan berada dalam situasi yang seperti ini. Entah dorongan dari mana ia melindungi tubuh Erlangga dengan tubuhnya agar tidak menerima amukkan ayahnya.
"Hiks... hentikan Ayah!"
"Kamu membela bajingan ini, Aline!" Dimas menghela napas kasar sebelum melanjutkan kalimatnya. Ia seperti sedang menimbang-nimbang apa yang akan keluar dari mulutnya.
"Mulai sekarang Ayah tegaskan di hadapan kamu untuk terakhir kalinya Aline... saya Dimas Prasetyo memutuskan hubungan dengan putri kandung saya sendiri. Anggap saja saya sudah mati seperti Ibumu. Jangan pernah kembali lagi di hadapan saya."
DEGH!
Tubuh Aline terhenyak, jika saja Erlangga tidak menahannya ia mungkin akan kembali terjatuh. Perkataan ayahnya seperti vonis mati yang membunuh hidupnya sendiri.
"Ayah! Pasti bercanda kan?" Aline tertawa bukan tawa senang melainkan tawa pahit mendengar kenyataan ini.
Di sisi lain, Sinta dan Nana rasanya ingin berjingkrak-jingkrak saat itu juga. Ayah dan anak itu kini sudah resmi memutuskan hubungan dan sekarang mereka bebas melakukan apapun.
"Saya tidak pernah bermain-main dengan kata-kata saya."
Setelah mengatakan itu Dimas langsung masuk ke dalam mobil diikuti istri dan anak sambungnya. Meninggalkan Aline begitu saja.
Erlangga menyeka darah di sudut bibirnya sejenak, sebelum akhirnya menatap wanita yang ia cari-cari selama ini dan kini sudah ada di hadapannya.
*
*
*
Di dalam rumah sakit, Reno tampaknya sedang tersesat dengan Luna. Gara-gara gadis itu Reno yang notabenya seorang dokter bisa-bisanya ia salah masuk ke dalam kamar mayat.
"Sialan! Gara-gara kamu nari-narik saya, malah salah masuk ruangan." geram Reno tidak habis pikir.
Luna yang tampak ketakutan hanya bisa menunduk sambil bersembunyi di belakang punggung pria itu. "Maaf Pak Dokter! Saya kira tadi melihat Kak Aline." cicit Luna.
"Terus bagaimana cara kita keluar dari sini?" keluh Reno, ia tau pasti ruangan ini hanya akan di buka jika ada mayat baru atau sedang melakukan pemeriksaan ketat.
Tiba-tiba saja, Luna semakin merapatkan tubuhnya kepada Reno saat gadis itu melihat salah satu brankar jenazah yang sedang bergerak-gerak sendiri. "Pak Dokter! Saya takut..."
Reno yang merasa jengah dengan gadis itu tiba-tiba dalam benaknya terlintas ide jahil. "Kamu tau... jika brankar itu sedang bergerak tandanya mereka sedang lapar... dan mereka sangat menyukai seorang gadis, beruntung saya laki-laki." bisik Reno dengan nada menakut-nakuti.
"Aaarrgghh!" Luna langsung menjerit histeris dan memeluk Reno, membuat laki-laki itu membeku saat mendapatkan serangan mendadak dari gadis itu.
Beruntung pintu itu akhirnya terbuka, seseorang datang sambil mendorong brankar jenazah dan dengan cepat Reno melepaskan pelukkan gadis itu.
"Kalian siapa? Kenapa ada di sini?" tanya salah satu seorang perawat.
"Kami tiba-tiba terkunci." jawab Reno singkat.
"Kalau begitu silakan keluar dari sini, tempat ini bukan untuk orang berpacaran." sindir perawat tersebut.
Luna yang wajahnya sudah pucat pasi tetap membalas sindiran pedas itu. "Kita bukan orang gila yang milih pacaran di kamar mayat, itu sih namanya sedang uji nyali."
Reno yang mendengar itu hanya menggelengkan kepala sambil mengulum senyum melihat keberanian gadis itu.
Tiba-tiba saja, Reno mendengar suara keributan dari arah parkiran dan bergegas membawa Luna menuju ke arah sumber suara tersebut.
Setibanya di sana, kedua matanya langsung membulat melihat pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan. Sahabatnya sedang memeluk wanita pujaan hatinya.
Ia seolah sedang di jatuhkan ke dasar jurang yang paling dalam. Hatinya berdenyut nyeri.
Sementara Luna yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum manis. "Kalau orang cantik mah! Beda ya, banyak yang suka." celetuk Luna.
Tanpa menghiraukan Luna. Reno langsung menghampiri sahabatnya.
Ia melihat Aline yang sedang menangis dengan bahu yang bergetar, seolah wanita itu baru saja mendapatkan guncangan hebat.
Saat Reno membuka mulut dan hendak melayangkan pertanyaan, tiba-tiba Erlangga dengan cepat menggelengkan kepalanya.
Aline yang berada dalam pelukkan Erlangga tidak mampu lagi menahan sesak di dadanya, ia menumpahkan kesedihannya kepada pria itu.
"Ayah pasti hanya sedang marah, aku tau itu! Aku harus pulang sekarang... Ayah pasti cemas kalau aku belum pulang." lirih Aline melepaskan pelukan Erlangga.
"Aku yang akan mengantarmu." putus Erlangga lembut.
Aline langsung menggeleng cepat. "Tidak... aku akan pulang sendiri."
"Dalam kondisi seperti ini?" tanya Erlangga sambil memperhatikan penampilan wanitanya yang tampak kacau. Tanpa menunggu persetujuan Aline ia langsung membawa Aline masuk ke dalam mobilnya.
Setelah memastikan Aline duduk dengan nyaman Erlangga menutup pintu mobil itu perlahan. Namun, saat ia akan masuk ke dalam kursi kemudi tangannya tiba-tiba ditarik sahabatnya.
"Apa maksud semua ini?" tanya Reno dengan nada menuntut penjelasan.
"Setelah semuanya selesai akan aku ceritakan, kali ini biarkan aku mengurusnya lebih dulu."
Setelah mengatakan itu Erlangga langsung meninggalkan Reno yang mematung di tempatnya.
Ia langsung masuk ke dalam mobil dan melajukannya meninggalkan area rumah sakit. Saat di dalam mobil suasana hening sempat menyelimuti di antara mereka.
Sesekali Erlangga melirik wanita yang ada di sampingnya melalu ujung matanya. Hingga tiba-tiba suara Aline memecah keheningan itu.
Ia mulai memberanikan diri untuk mempertanyakan apa yang tadi pria itu katakan. "Jadi kamu pria yang tidur bersamaku?"
Erlangga mengangguk mantap, sejenak ia mengalihkan pandangannya dari arah depan guna menatap wanita di sampingnya. "Dan selama ini aku selalu mencarimu."
"Untuk apa mencariku? Aku sudah melupakan semua yang terjadi di antara kita."
Mendengar kalimat yang Aline ucapkan tatapan Erlangga lebih dalam dan tegas. "Karena aku sudah merenggut sesuatu yang berharga darimu. Aline! Apa kamu tidak ingin aku mempertanggung jawabkan kesalahanku?"
Aline terdiam sejenak, mungkin dulu ia tidak peduli pria itu mau bertanggung jawab atau tidak tapi sekarang ia tidak sendirian lagi ada nyawa dalam rahimnya yang pasti membutuhkan sosok seorang ayah. Tapi ia tidak siap jika harus menikah tanpa dasar cinta, ia terlalu takut jika nanti mereka akan saling menyakiti.
Tanpa Aline ketahui ayah dari anaknya sudah lebih dulu mencintainya sejak pandangan pertama.
Aline masih belum berani menjawab hal itu, sampai tiba mobil itu berhenti di depan gerbang Villa milik ayahnya.
Seram, Erlangga seram😬😬😬😬🤣
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣