Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Sampai di Desa Ketajen Tumapel
Perjalanan terasa begitu panjang namun terasa singkat karena dipenuhi obrolan dan harapan yang membara di dada masing-masing anggota keluarga. Konvoi kecil itu melaju tenang meninggalkan hiruk-pikuk kota Surabaya, masuk ke wilayah Sidoarjo, perlahan mendekati tujuan yang sudah Faris impikan dan persiapkan diam-diam berbulan-bulan lamanya. Matahari mulai condong ke barat, sinarnya keemasan menyinari hamparan sawah hijau yang membentang luas di kanan kiri jalan, angin sore berhembus sejuk membawa aroma tanah basah dan padi yang mulai menguning.
Faris yang mengendarai motor GL Herk warna pink melaju di paling depan, matanya menatap lurus ke jalan di depan, tapi hatinya berdebar kencang. Di belakangnya, truk pengangkut barang berjalan pelan diikuti Guntur dan Ali yang naik berboncengan, sesekali mereka berseru kagum melihat pemandangan yang jauh lebih asri dan tenang dibandingkan tempat tinggal lama mereka. Di dalam kabin truk, Bapak Wijaya dan Ibu Arum Sari duduk tenang, ditemani si kembar Maya dan Miya yang dari tadi tak berhenti menengok ke luar jendela, matanya berbinar-binar melihat suasana baru yang indah ini.
"Sebentar lagi sampai, Pak... Bu... Sabar ya, jalannya sudah mulai masuk wilayah Desa Ketajen, Tumapel," ucap Faris saat menepi sebentar agar truk bisa sejajar, suaranya lantang terdengar di balik suara mesin. Senyumnya mengembang lebar, hatinya penuh rasa syukur.
Bapak Wijaya mengangguk pelan, tangannya yang gemetar menepuk lutut pelan. "Iya, Nak... Bapak ingat jalan ini dulu. Dulu waktu Bapak masih muda, sering lewat sini. Dulu masih rawa-rawa dan sawah saja, sekarang sudah mulai banyak bangunan, tapi tetap asri. Bagus tempatnya, tenang, jauh dari kebisingan kota. Pilihanmu memang selalu pas, Faris."
Tak lama kemudian, sampailah mereka di sebuah jalan tanah yang sudah diperkeras, masuk sedikit dari jalan raya utama, persis seperti yang Faris gambarkan kemarin. Di kiri kanan masih banyak tanah kosong, pepohonan besar rindang berdiri gagah, dan di kejauhan terlihat petani-petani yang baru pulang dari sawah. Truk berhenti pelan di depan sebuah pekarangan yang cukup luas, dikelilingi pagar tembok setinggi pinggang, di dalamnya berdiri sebuah bangunan rumah sederhana tapi kokoh, catnya masih baru berwarna krem, dan di sebelahnya ada bangunan panjang terbuka yang jelas disiapkan untuk tempat usaha atau bengkel.
Semua kendaraan mati mesin. Keheningan sejenak menyelimuti, diganti dengan napas panjang rasa lega. Maya dan Miya langsung melompat turun dari kabin, berlari kecil ke tengah halaman yang luas itu, berputar-putar kegirangan merasakan tanah yang empuk dan udara yang sangat sejuk.
"Wiiih... Luas banget! Besar banget! Bang... ini tempatnya bagus banget lho! Adem, nggak panas, nggak berisik!" seru Miya sambil mengangkat tangannya memeluk angin sore.
Ibu Arum Sari turun perlahan dibantu Guntur dan Ali. Wanita itu berdiri terpaku di depan gerbang, matanya meneliti setiap sudut pekarangan yang luas itu, rumah yang rapi, dan bangunan di sampingnya. Ia mengusap dadanya yang terasa sesak oleh rasa haru dan takjub.
"Ya Allah... Indah sekali tempat ini... Luas sekali, Nak Faris... Kita sewa tempat ini berapa lama? Biayanya pasti mahal sekali ya? Bagus sekali bangunannya, seolah baru saja dirapikan," tanya Ibu pelan, suaranya bergetar. Ia masih mengira ini hanya tempat sewaan biasa, sama seperti rumah-rumah kontrakan mereka sebelumnya.
Faris tersenyum misterius, ia membantu Bapak Wijaya turun dan duduk di bangku kayu yang ada di bawah pohon rindang di pinggir halaman. Ia mengeluarkan sebatang rokok Gajah Baru Kertek, menyulutnya pelan, menghisap dalam-dalam sambil matanya menatap lekat-lekat wajah orang tuanya dan kedua adiknya yang masih memandang takjub sekeliling. Guntur dan Ali juga sibuk melihat bangunan bengkel yang panjang itu, matanya berbinar membayangkan betapa nyamannya bekerja di tempat seluas ini, jauh lebih luas dan lebih lengkap dibandingkan bengkel sempit di Surabaya dulu.
"Tenang saja dulu, Bu... Pak... Nikmati dulu udaranya, nikmati kesejukannya... Istirahat sebentar, lepas lelah perjalanan," kata Faris dengan nada tenang dan berat, gaya bicaranya yang selalu santai tapi memerintah, penuh wibawa. "Barang-barang nanti kita turunkan pelan-pelan saja, nggak usah buru-buru. Sore masih panjang, matahari belum terbenam. Nikmati dulu momen sampai di sini, sampai di tempat baru yang insyaallah membawa berkah seribu kali lipat buat kita semua."
Ia berjalan mendekati pagar, menunjuk ke arah belakang rumah yang terlihat hamparan sawah yang hijau membentang sampai ke kaki bukit kecil di kejauhan.
"Lihat itu... sawah luas, udara bersih, air melimpah, tetangga-tetangga di sini orangnya ramah-ramah semua, sederhana dan jujur. Cocok sekali buat kita, Bu... Pak... Di sini kita akan bangkit lagi, di sini kita akan tulis lembaran baru kehidupan kita. Nanti di bangunan panjang di sebelah sana, kita jadikan bengkel yang lebih besar, lebih lengkap, lebih rapi dari sebelumnya. Dan di depan rumah ini, di teras yang luas ini, Ibu bisa buka warung, jual gorengan, jual apa saja, pasti laris manis karena jalannya ramai dilewati orang desa dan kendaraan yang lewat ke jalan raya."
Bapak Wijaya mengangguk puas, matanya menyipit menatap bangunan itu. "Iya... Bagus sekali, Faris. Sangat strategis. Ibu benar, bangunannya seolah baru saja diperbaiki, catnya masih baru, gentengnya rapi. Kamu pintar sekali cari tempat sewaan, harganya pasti pas dan masuk akal ya? Jangan sampai membebani kita, Nak. Kita mulai lagi dari bawah, pelan-pelan saja."
Faris hanya tersenyum, mengembuskan asap rokoknya pelan ke udara, matanya berbinar jenaka namun ada keseriusan mendalam di sana. Ia belum mau bicara, ia masih ingin menahan rasa penasaran mereka sedikit lebih lama, menyimpan kejutan terbesar itu sebagai puncak kebahagiaan sore ini. Ia menatap Guntur dan Ali yang sudah bersiap mau menurunkan barang.
"Gun... Ali... Santai dulu... Duduk sini sebentar, kumpul semua dulu. Ada hal penting yang mau Abang bicarakan sebelum kita bergerak lagi," panggil Faris tegas. Suaranya berubah menjadi serius, membuat semua orang menoleh dan mendekat, merasakan ada sesuatu yang besar dan penting hendak disampaikan oleh anak sulung, oleh pemimpin keluarga kecil ini.
Mereka semua duduk melingkar di atas tikar yang sempat dibentangkan di bawah pohon. Matahari mulai turun perlahan, memancarkan cahaya jingga yang indah menyinari wajah-wajah penuh harapan itu. Faris menatap mereka satu per satu, mulai dari Bapak, Ibu, Guntur, Ali, hingga si kembar Maya dan Miya. Ia menelan ludah sejenak, merasakan tenggorokannya sedikit kering karena rasa haru yang mulai memuncak. Ini saatnya... saat yang sudah ia tunggu dan persiapkan begitu lama.