NovelToon NovelToon
Takhta Di Balik Seragam

Takhta Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Action / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:659
Nilai: 5
Nama Author: Hailwise

SMA Merdeka bukan sekadar tempat belajar. Di balik pagar tinggi dan seragam rapi, ada hierarki tak tertulis yang mengatur segalanya. Di puncak kekuasaan terdapat "Lima Raja" — pemimpin dari lima kelompok besar yang menguasai setiap sudut sekolah, dari kantin, lapangan olahraga, hingga koridor kelas. Peraturan mereka lebih ditakuti daripada peraturan sekolah, dan ketertiban di sekolah itu dijamin lewat kekuatan fisik dan kesetiaan.

Rio Adhitama, siswa pindahan dari kota lain, datang dengan niat sederhana: ingin bersekolah dengan tenang dan lulus dengan nilai bagus. Ia berjanji pada ibunya yang sedang sakit untuk tidak mencari masalah. Namun, nasib berkata lain. Penampilan Rio yang dingin, tatapan tajamnya, dan naluri bertarung yang ia sembunyikan sejak lama membuatnya menjadi pusat perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hailwise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suasana yang Aneh

Suasana kelas menjadi agak tegang saat Rio duduk di bangkunya. Siswa-siswa lain memandangnya dengan pandangan campur aduk—ada rasa kagum, rasa takut, dan rasa iba. Di tengah keheningan itu, sebuah kertas kecil terlempar pelan dan mendarat tepat di atas meja Rio. Rio mengangkatnya perlahan, membuka lipatannya. Tulisan tangan miring dan rapi:

"Hati-hati. Mereka gak cuma ngawasin lo. Mereka udah mulai ngusik orang deket lo. Dinda ditarik jadi sekretaris panitia lomba olahraga sama anak buah Raka. Bang Bara dipanggil ke ruang guru sama Pak Wali Kelas ada urusan 'pelanggaran'. Hati-hati, mereka mau pisahin lo dari perlindungan."

Tanpa menoleh ke belakang, Rio tahu pesan itu dari salah satu anggota Macan Putih yang menyamar sebagai siswa biasa di kelas ini. Ia membakar kertas kecil itu dengan korek api kecil yang ia bawa, membiarkan abunya jatuh ke lantai dan diinjak hingga hilang. Pikiran Rio mulai berputar cepat. Ternyata dugaan Bara benar. Raka tidak akan menyerang Rio secara langsung. Ia akan memisahkan Rio dari sekutunya satu per satu, membuat Rio sendirian, terisolasi, dan tidak berdaya, barulah ia akan menyerang dengan kekuatan penuh.

"Pintar banget sih bajingan itu," batin Rio mengakui kecerdikan musuhnya, meski hatinya penuh amarah. "Dia tau kalau dia nyerang rame-rame atau berantem fisik, dia bakal kena masalah sama sekolah. Dia tau kalau dia nyerang gue pas ada Bara atau Dinda, dia kalah. Jadi dia pisahin kita dulu. Dia pake aturan sekolah, pake jabatan, pake prosedur... buat ngebungkus kejahatan dia jadi hal yang resmi. Licik banget."

Jam-jam pelajaran berlalu dengan cepat, namun bagi Rio rasanya berjalan sangat lambat dan penuh tekanan. Setiap kali ia keluar kelas untuk pergi ke kantin atau kamar mandi, selalu ada saja gangguan kecil. Entah bahu ia sengaja ditabrak, tasnya tersenggol hingga isinya tumpah, atau buku-bukunya dipindahkan ke tempat yang sulit dicari. Semuanya dilakukan seolah-olah kecelakaan, seolah-olah kebetulan, sehingga Rio tidak punya alasan kuat untuk marah atau melapor. Jika ia marah, ia akan dianggap anak yang emosian, kasar, dan susah diatur—sesuatu yang pasti akan membuat ibunya kecewa. Ini benar-benar perang saraf yang melelahkan.

Saat jam istirahat kedua tiba, Rio memutuskan untuk tidak pergi ke kantin. Ia tahu kantin adalah wilayah kekuasaan Rian, ketua kelompok Serigala Abu-abu, anak buah setia Raka yang dikenal paling licik dan suka mengintimidasi di tempat ramai. Lebih baik ia menghindari masalah baru. Namun ia juga tidak bisa diam saja di kelas. Ia butuh bertemu Bara, butuh berdiskusi, butuh tahu rencana selanjutnya.

Rio berjalan keluar kelas, bergerak menuju lorong belakang yang lebih sepi, berniat memutar jalan panjang menuju markas rahasia Macan Putih di gudang peralatan olahraga bekas. Namun baru saja ia berbelok di tikungan gedung tua, langkahnya terhenti. Di hadapannya, berbaris rapi di tengah lorong yang sempit dan tertutup itu, berdiri lima orang pemuda berbadan besar, berpenampilan garang namun tidak seragam sepenuhnya. Di depan mereka, berdiri seorang pemuda bertubuh tegap, berkulit sawo matang, berotot sangat besar, dengan rambut cepak dan wajah yang datar namun mengerikan.

Itu adalah Dika, ketua kelompok Singa Hitam. Salah satu dari Lima Raja, pemimpin kelompok yang beranggotakan orang-orang terkuat dan terbesar fisiknya di sekolah. Wilayah kekuasaannya meliputi lapangan olahraga dan segala hal yang berhubungan dengan kekuatan fisik.

Rio tidak mundur. Ia berhenti tepat lima meter di hadapan mereka, berdiri tegak dan tenang. Ia tahu Dika. Ia sudah mendengar profilnya dari Bara kemarin: "Dika itu orangnya lurus, Rio. Gak sejahat Raka, gak secerdas Gilang, gak selicik Rian. Dia cuma suka kekuatan. Dia hormatin orang yang kuat, dan dia ngeremehin orang yang lemah. Dia itu pasukan utama Raka, tapi sebenernya dia gak terlalu peduli sama politik kekuasaan. Dia cuma ikut karena dia sama Raka udah temen lama."

Dika berjalan mendekat perlahan, langkahnya berat dan berirama, membuat lantai bergetar pelan. Ia berhenti tepat di depan Rio, menatap Rio dari ujung kaki sampai kepala dengan pandangan mengukur dan menilai. Tinggi badannya jauh melebihi Rio, bahunya dua kali lebih lebar. Di belakangnya, anak buahnya bersiap siaga, tangan mereka mengepal erat.

"Lo Rio?" tanya Dika singkat, suaranya berat dan serak, seperti suara harimau yang bangun tidur. "Anak baru yang ngalahin Anto sama Kevin kemarin?"

"Gue sendiri," jawab Rio tenang, menatap balik mata Dika tanpa gentar. "Ada yang bisa gue bantu, Bang Dika?"

Dika menyeringai tipis, menyilangkan tangannya yang kekar dan berurat di dada.

"Gak ada yang perlu dibantu. Gue cuma penasaran aja. Raka ngomongin lo kayak lo itu setan atau monster yang harus dimusnahin. Katanya lo bahaya banget, katanya lo ancaman terbesar. Tapi pas gue liat... lo cuma anak kurus biasa aja. Gak gede, gak berotot, gak kelihatan serem. Gue bingung, gimana caranya lo bisa ngalahin pasukan gue?"

Rio mengangkat bahu pelan. "Mungkin karena mereka meremehin gue. Mungkin karena mereka cuma ngandelin otot, bukan otak atau teknik."

Jawaban itu tidak membuat Dika marah, malah membuatnya tertawa renyah, suara tawa yang bergema keras di lorong sempit itu.

"HAHAHAHA! Bagus! Lo punya nyali juga ya ngomong gitu di depan muka gue. Gue suka!" Dika mencondongkan badannya mendekat, menatap tajam ke mata Rio. "Denger ya, Rio... gue gak benci sama lo. Gue gak peduli lo deket sama Bara atau musuh sama Raka. Politik kekuasaan itu urusan mereka berdua. Gue cuma satu: gue hormatin kekuatan. Siapa aja yang kuat, dia yang bener. Siapa aja yang lemah, dia yang salah. Itu aturan gue."

Dika berhenti sejenak, jari telunjuknya yang besar menunjuk dada Rio.

"Tapi sekarang lo dianggap musuh Raka. Dan karena gue sama Raka satu kubu, gue harus ikut ngelawan lo. Tapi gue gak mau pake cara kotor kayak dia. Gak mau nyerang dari belakang, gak mau ngusik keluarga, gak mau main halus kayak tukang fitnah. Itu semua pengecut menurut gue."

Mata Dika menyala penuh semangat bertarung.

"Gue mau ngelawan lo dengan cara laki. Cara Singa Hitam. Besok sore, habis pelajaran, di lapangan basket belakang yang udah gak dipake. Gue mau tantang lo adu kekuatan. Satu lawan satu. Gak ada bantuan, gak ada senjata, murni tenaga dan teknik. Kalau lo menang... gue bakal ngaku lo lebih kuat dari gue, gue bakal mundur dari urusan ini, dan gue gak bakal ganggu lo atau ngikut perintah Raka buat nyerang lo lagi. Tapi kalau gue yang menang... lo harus mundur, ninggalin Bara, dan gabung sama kita. Lo harus jadi anak buah gue. Gimana? Berani gak lo terima tantangan laki-laki ini?"

Rio diam sejenak, berpikir cepat. Di satu sisi, tantangan ini adalah jebakan. Raka pasti tahu sifat Dika, pasti menyuruhnya melakukan ini. Jika Rio menolak, ia akan dianggap pengecut, wibawanya runtuh, dan Dika akan makin benci. Jika Rio menerima dan menang, ia mendapatkan sekutu kuat dan rasa hormat kelompok Singa Hitam, yang berarti kekuatan Raka berkurang drastis. Jika ia kalah... ia terikat janji, dan posisinya hancur.

Ini adalah pertaruhan besar, tapi juga peluang emas. Dika bukan orang jahat, ia hanya orang yang hidup dengan aturan kekuatan. Jika Rio bisa menaklukkannya, ia baru saja merobohkan pilar terkuat benteng pertahanan Raka.

"Gue terima," jawab Rio tegas, tanpa ragu sedikit pun. "Besok sore. Gue bakal ada di sana. Dan gue kasih tau satu hal, Bang Dika... gue gak berantem buat gengsi atau kuasa. Gue berantem buat ngebuktiin kebenaran. Tapi kalau lo cuma mau ngukur siapa yang lebih kuat... ayo aja. Gue bakal bikin lo ngerti, kalau kekuatan itu bukan cuma soal seberapa gede otot lo, tapi seberapa tenang hati lo pas lagi berantem."

Dika tersenyum lebar, senyum tulus yang jarang terlihat dari seorang pemimpin geng. Ia menepuk bahu Rio cukup keras, hampir membuat Rio terhuyung ke belakang karena kekuatan pukulannya yang luar biasa.

"Pinter ngomong juga lo! Bagus! Gue makin gak sabar nunggu besok. Jangan bikin gue kecewa ya, Rio. Kalau lo ternyata cuma mulut doang... gue bakal hancurin lo sampe lo gak bisa bangun lagi. Dah, minggir sana. Gue gak mau ngalangin jalan 'calon musuh' gue lagi."

Dika memberi isyarat tangan, dan anak buahnya segera menyingkir dari jalan. Rio berjalan melewati mereka, melanjutkan langkahnya menjauh. Di belakangnya, Dika masih berdiri diam menatap punggungnya dengan pandangan kagum dan penuh antusiasme.

Setelah sosok Rio menghilang di tikungan, wajah Dika berubah kembali serius. Salah satu anak buahnya bertanya pelan.

"Bang, beneran kita biarin dia gitu aja? Terus gimana kabar yang dikasih Bang Raka? Katanya kita harus keroyok dia sekarang juga biar dia gak sempat ketemu Bang Bara?"

Dika menatap tajam ke arah anak buahnya itu, membuat pemuda itu langsung menunduk ketakutan.

"Denger ya, dan inget baik-baik..." ucap Dika dingin dan tegas. "Raka itu ketua kita, dia atur strategi, dia atur politik. Gue nurut sama dia soal itu. Tapi urusan adu kekuatan, urusan ngukur nyali... itu ranah gue. Gue gak bakal nyerang orang yang sendirian, gak bakal nyerang dari belakang, dan gak bakal nyerang orang yang punya nyali ngomong jujur kayak dia. Kalau Raka mau main kotor, suruh dia sama anak buahnya sendiri—Kevin, Rian, Gilang. Biar mereka yang jadi pengecut. Kita? Kita Singa Hitam. Kita pegang harga diri. Paham?!"

"Siap, Bang! Paham!" jawab anak buahnya serentak.

Dika menatap langit-langit koridor yang berdebu itu dengan pandangan jauh. "Rio Adhitama... entah kenapa gue ngerasa, kehadiran lo bakal ngubah banyak hal di sekolah ini. Lo bukan cuma anak baru jagoan. Lo punya sesuatu yang gak punya kita semua. Kalau lo beneran bisa ngalahin gue besok... mungkin emang lo yang pantes berdiri di puncak, bukan Raka."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!