Rumah tangga Puann hancur seketika saat wanita dari masa lalu suaminya datang membawa kabar kehamilan, ditambah lagi fitnah bertubi-tubi yang membuatnya dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri.
Di saat kepercayaannya sudah habis dan ia mulai bersandar pada laki-laki lain yang jauh lebih tulus, Bahlil, suaminya berjuang membuktikan bahwa semua itu hanyalah jebakan. Namun, kebenaran tentang masa lalu dan trauma besar yang disembunyikan Bahlil justru membuka luka yang jauh lebih dalam.
Di ambang perceraian dan di tengah pengakuan yang hampir menyatukan mereka kembali, sebuah skandal video pun muncul dan mematikan segala harapan.
Apakah cinta yang penuh kebohongan dan rasa sakit ini layak diperjuangkan, atau lebih baik diakhiri selamanya sebelum hati mereka benar-benar hancur lebur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Pergi Lagi
Puann berlari keluar gedung itu sekuat tenaga. Air matanya mengalir deras hingga pandangannya kabur.
Pemandangan di ruangan itu terus terbayang di benaknya. Ia yakin hal itu membuktikan suaminya kembali menjalin hubungan dengan masa lalunya.
Puann pulang ke kontrakan dengan perasaan hancur. Begitu masuk, ia langsung mengunci pintu dari dalam ruangan. Ia duduk memeluk lutut di sudut ruangan. Segala rasa percaya yang baru tumbuh lenyap, digantikan rasa benci, kecewa, dan ketidakberdayaan.
Langkah kaki Bahlil terdengar mendekat saat malam semakin larut. Pintu diketuk berulang kali, namun Puann diam saja. Ia enggan bertemu atau mendengar penjelasan apa pun. Menurutnya, semua alasan hanyalah kebohongan belaka.
"Puann, buka pintunya ya. Aku tahu kamu ada di dalam. Kita ngomong sebentar saja," pinta Bahlil dari luar, suaranya terdengar lelah tapi lembut.
"Pergi sana! Ngomong apa lagi? Ngomongin enaknya makan malam berdua sama dia? Atau mau bohong lagi kalau itu cuma urusan kerjaan?!" seru Puann dari dalam, suaranya parau menahan tangis.
Pintu akhirnya terbuka karena Bahlil memiliki kunci cadangan. Ia masuk dan melihat istrinya dengan wajah bengkak serta tatapan penuh kebencian. Bahlil menghela napas panjang. Ia menyadari bahwa persoalan ini tidak akan selesai dengan mudah.
"Kamu ngintip aku di kantor ya? Puann, dengerin aku, itu semua salah paham. Arifatul datang mendadak, dia bawa makanan, dan kita bahas masalah perusahaan saja. Nggak ada yang lain, percayalah sama aku," jelas Bahlil segera, berusaha mendekat.
Puann bangkit berdiri lalu mundur menjauh. Ia tertawa getir sambil menunjuk dada Bahlil dengan tangan gemetar.
"Salah paham? Semuanya selalu salah paham menurut kamu! Kamu tahu nggak rasanya jadi aku? Rasanya jadi istri yang nggak selevel, nggak pantas, dan kalah telak sama masa lalu suaminya sendiri?!" bentak Puann, emosinya meledak sepenuhnya.
"Orang-orang ngomong aku matre, keluargaku sendiri dukung dia, dan kamu? Kamu sibuk sama dia, kamu makan enak sama dia, kamu ketawa ketiwi sama dia! Sementara aku di sini? Aku diomongin orang, aku nangis sendirian, aku takut kehilangan kamu setiap detiknya! Kamu nggak pernah ngerti rasanya cemburu sama suami sendiri, rasanya ngerasa kalah sama perempuan lain hah!" tambah Puann, kalimatnya meluncur deras bersama air mata yang tak terbendung.
Bahlil terdiam kaku. Ia baru menyadari betapa berat beban yang dipikul Puann sendirian selama ini.
Ia mengira masalah sudah selesai setelah membela Puann. Padahal, rasa sakit dan ketidakamanan itu masih ada dan makin parah akibat kehadiran Arifatul serta pandangan orang lain.
"Aku nggak pernah nganggep kamu kalah, Puann. Di mata aku, Arifatul itu nggak ada apa-apanya dibanding kamu. Dia datang karena dia punya hak saham, aku terpaksa terima dia karena urusan bisnis orang tua, tapi hati dan perhatian aku tetap di sini, sama kamu," jawab Bahlil berusaha menjelaskan, matanya pun mulai memanas.
"Hak saham atau hak milik, buatku sama saja! Kamu masih berhubungan dekat, kamu masih kasih dia waktu, dan kamu bikin aku merasa asing di rumah tangga sendiri! Aku capek, Mas. Aku capek selalu takut, selalu curiga, selalu ngerasa kalah sama bayang-bayang masa lalu kamu," Puann mengusap kasar air matanya, rasa lelah mendalam terlihat di wajahnya.
"Kamu pikir aku nggak takut? Kamu pikir aku tenang-tenang aja gitu? Aku juga takut, Puann. Aku takut kamu beneran pergi karena ngerasa nggak dihargai. Aku takut semua usaha aku buat nebus kesalahan dulu nggak cukup buat bikin kamu percaya lagi," ucap Bahlil dengan suara berat, ia akhirnya mengakui ketakutannya juga.
Bahlil melangkah maju. Kali ini, Puann tidak mundur lagi menjauh. Ia menatap lekat-lekat wajah istrinya. Di balik sorot mata yang marah, ia melihat rasa cinta yang masih tersimpan kuat.
"Aku diam soal Arifatul karena aku pikir aku bisa selesaikan sendiri biar kamu nggak kepikiran. Tapi aku salah. Aku lupa kalau ada apa-apa harusnya kita hadapi bareng-bareng. Maafin aku ya, karena bikin kamu ngerasa sendirian dan ngerasa tersaingi," kata Bahlil pelan, tangannya berani menyentuh bahu Puann.
"Masalahnya bukan cuma Arifatul. Setiap ada perempuan deket kamu, setiap kamu bohong soal sesuatu, aku langsung mikir buruk. Aku cemburu, aku marah, aku takut... dan itu semua karena aku ternyata sayang banget sama kamu, lebih dari yang aku kira," pekik Puann jujur, suaranya melembut tapi masih bergetar.
Bahlil perlahan tersenyum tipis. Senyum itu terasa lega dan memiliki makna yang mendalam.
Ia mengusap pipi Puann. Sisa air mata di wajah istrinya dihapusnya dengan gerakan lembut.
"Kamu tahu nggak? Kalau kamu marah, kalau kamu cemburu, kalau kamu takut kehilangan... itu artinya kamu masih sayang sama aku. Itu artinya aku masih punya tempat paling besar di hati kamu," ucap Bahlil pelan tapi yakin.
Ia menarik tubuh Puann mendekat lalu memeluknya dengan erat. Sikapnya seolah takut istrinya akan hilang jika ia melepaskan sedikit saja.
Di dalam dekapan itu, kemarahan Puann perlahan hilang. Perasaan itu berganti menjadi rasa rindu dan rasa aman yang selama ini ia cari.
"Kamu boleh cemburu, kamu boleh marah, kamu boleh curiga. Tapi ingat satu hal, Puann. Sampai kapan pun, di mana pun, sama siapa pun... cuma kamu satu-satunya wanita yang aku cari dan aku pertahankan. Cemburu itu boleh, tapi jangan sampai rasa itu bikin kamu lupa kalau aku milik kamu seutuhnya," bisik Bahlil tepat di telinganya.
Puann memejamkan mata dan bersandar lemas di dada suaminya. Meski belum sepenuhnya tenang dan masalah Arifatul belum selesai, setidaknya malam ini mereka saling mengakui rasa takut dan kasih sayang masing-masing.
Malam semakin larut, namun suasana di dalam kamar tidak lagi dingin atau penuh kemarahan. Pelukan erat itu masih terjalin, keduanya khawatir jarak akan kembali terbuka jika saling melepaskan.
Puann memejamkan mata dan mendengarkan detak jantung Bahlil yang berdegup tenang. Untuk pertama kalinya sejak kedatangan Arifatul, ia merasa benar-benar aman dan diakui sepenuhnya.
"Aku minta maaf ya, kalau selama ini aku bikin kamu ngerasa nggak dihargai, ngerasa kalah, atau ngerasa sendirian. Semua itu nggak aku sengaja, percaya deh sama aku," bisik Bahlil pelan, suaranya terdengar berat namun tulus.
Puann mengangguk pelan sambil meremas ujung baju kemeja suaminya. Ia mengangkat wajah dan menatap mata Bahlil yang terlihat samar dalam keremangan ruangan.
"Aku juga minta maaf kalau aku terlalu sensitif, gampang curiga, dan sering bikin kamu pusing sama emosiku. Tapi aku nggak bisa bohong, Mas. Aku takut banget kehilangan kamu, apalagi sekarang setelah aku tahu betapa berharganya kamu dan betapa banyaknya perempuan yang pengen ada di posisiku," jawab Puann jujur, suaranya masih sedikit serak.
Bahlil tersenyum tipis. Ia mengusap rambut Puann dengan lembut, menyisir helai demi helai dengan penuh kasih sayang.
"Berharga atau nggak nya aku itu tergantung siapa yang punya, Puann. Buat orang lain, aku mungkin orang besar, orang kaya, atau orang yang mereka inginkan. Tapi buat aku sendiri? Aku cuma laki-laki biasa yang bahagianya cuma bisa lengkap kalau ada kamu di samping aku," ucap Bahlil tegas.
Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan bicaranya dengan nada yang makin serius dan mendalam.
"Dulu aku salah karena nyembunyiin segalanya, aku salah karena mikir harta dan jabatan itu lebih penting dibanding rasa percaya kamu. Kepergian kamu waktu itu bikin aku sadar, kalau semua kemewahan di dunia ini nggak ada artinya kalau pulang ke rumah nggak ada kamu yang nungguin, nggak ada kamu yang ngomel, nggak ada kamu yang senyum sama aku."