Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Perut Zayyan dan Alin mulai lapar, setelah sesi rekonsiliasi yang panas dan penuh emosi di kamar. Lapar adalah musuh yang tak terkalahkan, bahkan setelah berjam-jam olahraga panas.
Zayyan yang masih telanjang dada hanya memakai celana pendek longgar, menoleh ke istrinya yang bersandar lemas di headboard dengan selimut menutupi tubuhnya hingga dada.
"Tunggu di sini dulu ya, sayang. Aku mau ambil makanan di dapur," ucap Zayyan sambil mengecup kening Alin sekilas.
"Aku ikut ya..." pinta Alin manja, wajahnya masih merah. Dia merasa malu kalau harus makan di kamar. Tidak enak dengan mertuanya, juga iparnya.
Zayyan langsung tersenyum lebar, matanya nakal. "Jangan. Itumu pasti masih sakit dan bengkak, sayang. Biar aku aja yang ambil makanan. Nanti kita makan berdua di kamar, enaknya sambil aku suapin."
Alin langsung manyun, pipinya memerah semakin parah. "Zayyan... kamu ini! Ngomongnya pelan-pelan dong, nanti kedengaran orang!"
Tapi Zayyan hanya tertawa kecil dan mengacak rambut istrinya sebelum keluar kamar.
Sementara itu, di lantai bawah...
Zayyan berjalan santai melewati ruang tengah yang ternyata masih ramai oleh keluarga besarnya. Begitu dia muncul semua mata langsung tertuju padanya. Suasana langsung berubah jadi arena komedi dadakan.
"Kirain tidak bakal keluar sampai malam," sindir Zelia, sambil nyengir lebar sambil memegang remote TV. "Rupanya masih ada tenaga buat jalan."
"Iya, Daddy kira kamu mau bulan madu terus di kamar sampe besok pagi," timpal Adam, dengan suara berat tapi penuh godaan. "Pantesan dari siang nggak kedengaran suara kalian... eh, maksudnya... suara TV."
Zevanya, angsung nyengir jail. "Kasihan kak Alin... pasti di siksa terus sama Bang Zay. Aku dengar dari kamar sebelah tadi siang ada suara jerit-jerit minta ampun. Kasian banget, kayak lagi diinterogasi polisi."
Kiandra, malah tertawa riang sambil mengaduk-aduk tehnya. "Biarin aja, biarin aja! Mommy malah senang. Semakin sering mereka berolahraga, semakin cepat Mommy dapat cucu. Kerja bagus, boy! Jangan kasih kendor!"
Zayyan hanya mengendikkan bahunya dengan cuek, wajahnya datar tapi telinganya sedikit memerah. Ia mengambil piring dan mangkuk dari dapur tanpa menjawab ledekan keluarganya.
"Apa sih, ada-ada aja. Daddy sama mommy ini kayak nggak pernah nikah," gumamnya pelan.
Adam langsung nyengir lebar. "Kami nikah dulu, tapi nggak sampai bikin istri susah jalan dua hari berturut-turut, ya."
Zelia menambahkan dengan nada dramatis, "Kasian kak Alin... besok-besok kita harus beliin kursi roda buat dia di rumah ini."
Zevanya tertawa ngakak. "Atau tongkat! Tongkat jalan buat mantan perawan rumah tangga!"
Zayyan hanya geleng-geleng kepala sambil mengambil nasi goreng, ayam goreng, sayur, dan beberapa camilan ke dalam nampan besar. Sebelum pergi, ia menoleh ke keluarganya dengan ekspresi datar tapi bibirnya berkedut menahan senyum.
"Kalau kalian terus godain, besok aku sama Alin pindah ke hotel lagi. Bulan madu jilid dua. Kali ini seminggu penuh."
"Sekalian aja ke Eropa, nggak keren banget cuma di bawa ke hotel doang, tanpa liburan. Mommy sih kalau jadi Alin, ogah." seru Kiandra.
Zayyan hanya tertawa kecil dan berbalik naik ke atas dengan nampan makanan di tangan. Begitu masuk kamar, ia mendapati Alin yang sudah duduk manis di tempat tidur dengan wajah penasaran.
"Kenapa lama? Ketemu siapa di bawah?" tanya Alin.
Zayyan meletakkan nampan di meja samping kasur, lalu naik ke tempat tidur sambil tersenyum lebar."Ketemu komedian-komedian keluarga. Katanya aku siksa kamu sampe susah jalan. Mommy malah dukung supaya cepat kasih cucu."
Alin langsung menutup muka dengan kedua tangannya, malu setengah mati. "Ya ampun... mereka dengar apa sih?!"
Zayyan tertawa sambil menarik tangan Alin dan mengecupnya. "Sudah, nggak usah dipikirkan. Sekarang buka mulutmu, biar suami yang suapin. Ini sebagai ganti atas siksaan tadi."
Alin manyun, tapi tetap membuka mulutnya menerima suapan dari Zayyan. Di antara suap-suapan, Zayyan sesekali mencuri ciuman di bibir atau lehernya, membuat suasana kamar kembali hangat dan penuh tawa kecil.
Meski keluarga di bawah sedang heboh menggodanya, di dalam kamar ini, Zayyan hanya punya satu fokus, memanjakan istrinya yang masih cedera karena ulahnya sendiri.
Malam semakin larut. Di dalam kamar utama yang hangat, Zayyan dan Alin masih asyik makan berdua di atas tempat tidur. Zayyan dengan sabar menyuapi Alin nasi goreng dan ayam, sesekali mencuri ciuman di bibir istrinya yang penuh minyak. Suasana kembali manis setelah drama sore tadi.
Tapi di tempat lain, di sebuah apartemen mewah di kawasan elit, badai sedang terjadi.
Lolly duduk di sofa putihnya sambil memegang gelas wine merah. Ia membuka chat dengan Zayyan untuk kesekian kalinya, tapi pesannya hanya menunjukkan centang satu. Ia mencoba menelepon langsung masuk ke voicemail.
"Apaan sih ini?!" geram Lolly kesal.
Ia mencoba mengirim pesan lagi, tapi tetap saja tidak bisa. Bahkan foto profilnya kosong.
Wajah cantik Lolly yang biasanya anggun langsung memerah karena amarah. Ia melempar bantal sofa dengan kasar hingga jatuh ke lantai.
"Berani-beraninya Zayyan memblokirku?!" bentaknya sendirian di ruangan kosong. Suaranya bergema.
Lolly bangkit berdiri dan mondar-mandir seperti singa betina yang terluka. Rambut panjangnya yang dicat cokelat terbang ke sana kemari.
"Dulu dia mengejarku mati-matian. Melamarku dengan segala romantisnya. Sekarang karena sudah menikah dengan perempuan biasa itu, langsung sok suci dan memblokirku? Kurang ajar!"
Ia mengambil ponselnya lagi dan mencoba dari nomor baru, nomor cadangan yang biasa ia pakai untuk urusan kerja. Tapi hasilnya sama saja. Zayyan rupanya sudah memblokir semua nomornya.
Lolly tertawa sinis, tapi matanya menyala penuh dendam."Oh... jadi gitu ya mainnya? Kamu pikir aku akan diam saja?"
Dengan jari-jari yang masih gemetar karena marah, Lolly membuka media sosial Zayyan yang lain. Ia mencari akun Zayyan, namun ternyata jarang aktif.
Ia mengetik pesan panjang ke Dm media sosial Zayyan.
"Kamu pikir dengan memblokir aku semua masalah selesai? Kamu lupa siapa yang dulu kamu kejar sampai ke ujung dunia, Zayyan? Sekarang karena istri baru kamu, kamu buang aku begitu saja? Aku tahu kamu masih sayang aku. Jangan sok bahagia. Aku akan buktikan bahwa pernikahan kalian nggak akan bertahan lama."
Lolly tersenyum puas setelah mengirim pesan itu. Tapi amarahnya belum reda. Ia menuang wine lagi ke gelasnya hingga hampir penuh.
"Alin... wanita biasa yang tiba-tiba jadi nyonya rumah tangga besar. Aku yang pantas berada di sisi Zayyan. Bukan dia." gumam Lolly tidak tahu malu.
Dia menatap layar ponsel dengan senyum dingin. Ia sudah mulai merencanakan langkah selanjutnya. "Main api dengan ku, Zayyan? Siap-siap saja kau akan terbakar"
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥