menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13 : kekuatan yang menolak untuk menyakiti
Suasana di dalam ruangan istana menjadi semakin dingin dan tegang. Semua mata, baik itu dari para Perajurit Bayangan yang diam maupun dari Gargoyle yang tetap waspada, tertuju pada sosok Raja Xavier yang berdiri sendirian di hadapan singgasana.
Elara masih menatapnya dengan tatapan kosong namun tajam, seolah berusaha menembus kedalaman jiwa pria itu. Ia telah melihat ribuan orang datang dan pergi, dan semuanya pada akhirnya menunjukkan sifat asli mereka. Ia yakin, orang di hadapannya ini juga tidak berbeda. Cuma soal waktu saja sebelum topengnya terlepas.
"Kenapa kau diam saja?" desis Elara, suaranya makin dingin. "Apa kata-kataku tidak cukup jelas? Atau apakah kau sedang menyusun kebohongan yang lebih indah untuk menipuku? Katakan saja apa yang kau inginkan, dan selesaikan semuanya ini."
Xavier hanya tersenyum lembut. Senyum yang hangat, tulus, dan tidak ada sedikit pun rasa takut atau marah di dalamnya. Ia menundukkan kepala sedikit, dan menjawab dengan nada yang tenang dan lembut.
"Aku sudah menjawabnya, Yang Mulia. Tapi aku mengerti kenapa kau terus bertanya. Aku tahu apa yang pernah kau alami. Aku tahu berapa kali hatimu dirobek oleh orang-orang yang kau percayai. Aku tahu betapa sakitnya itu..."
Kalimat itu baru saja terucap, dan seketika aura di sekeliling Elara meledak menjadi ganas. Kabut hitam pekat berputar-putar di sekitar tubuhnya, dan suhu udara turun drastis hingga kristal-kristal es mulai tumbuh di permukaan lantai dan dinding.
"Kau berani membicarakan hal yang tidak kau ketahui!" bentak Elara, nada suaranya kini berisi amarah yang terpendam ribuan tahun lamanya. "Apa kau pikir kau tahu segalanya tentang aku? Semua orang yang datang ke sini selalu berbicara manis seperti ini! Tapi pada akhirnya, mereka hanya ingin mengambil apa yang aku miliki! Mereka ingin membunuhku, atau memanfaatkanku!"
Elara mengangkat tangan putihnya perlahan. Dari ujung jari-jarinya, muncul tali-tali sihir yang terbuat dari kabut hitam yang padat dan berkilau. Tanpa ada peringatan, tali-tali itu melesat cepat menuju ke arah Xavier.
SWUUUSHH!
Dalam sekejap, tubuh Xavier terikat rapat dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tidak ada celah sedikit pun untuk bergerak. Dan seketika itu juga, ia terangkat melayang di udara, terangkat tinggi hingga posisinya setinggi singgasana tempat Elara duduk.
"Lihatlah dirimu sekarang!" ucap Elara dingin, matanya menyala dengan cahaya gelap. "Jika kau benar-benar tidak menginginkan apa pun, mengapa kau tetap datang? Mengapa kau berani menempuh bahaya yang begitu besar? Manusia tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan, tidak pernah!"
Elara menatapnya dengan tatapan yang tajam dan menusuk.
"Kau pikir dengan bersikap tenang dan tersenyum saja, aku akan percaya padamu? Ribuan orang sudah melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan sekarang! Dan mereka semua berakhir menjadi debu di bawah kakiku! Apa kau juga ingin berakhir seperti mereka? Katakan saja kebenarannya, atau aku akan menghancurkanmu sekarang juga!"
Ancaman itu diucapkan dengan nada yang datar, seolah membicarakan hal yang paling sepele. Di belakangnya, Gargoyle juga menggeram pelan, siap untuk menerkam jika ada perintah dari tuannya.
Namun, apa yang dilihat Elara membuatnya makin bingung.
Bahkan saat terikat dan terangkat di udara, bahkan saat nyawanya di ujung tanduk, wajah Xavier tetap tenang. Senyum lembut itu tidak pernah hilang dari bibirnya. Tatapannya tetap lembut dan penuh rasa sayang, tidak ada sedikit pun rasa takut, tidak ada rasa marah, tidak ada rasa dendam. Ia tidak berusaha melawan, tidak berusaha membebaskan diri, seolah ia menerima apa pun yang akan terjadi padanya.
"Yang Mulia..." ucap Xavier pelan, suaranya tetap jelas dan tenang meski dalam posisi seperti itu. "Jika membunuhku bisa membuat hatimu merasa lebih baik, maka lakukanlah. Aku tidak akan melawan. Aku tidak akan marah. Karena aku tahu, semua ini terjadi bukan karena kau jahat, tapi karena kau pernah terluka terlalu dalam."
"Kau... kau..." Elara terdiam sejenak. Rasa bingung mulai muncul di hatinya. "Kau benar-benar orang gila! Tidak ada orang yang berbicara seperti ini saat nyawanya terancam!"
Ia kembali mengangkat tangannya, kekuatan sihir kematian mulai berkumpul di telapak tangannya. Cahaya hitam yang mematikan itu bersinar terang, siap untuk dilepaskan dan melenyapkan Xavier dalam sekejap mata.
"Berhenti bermain-main! Aku akan membunuhmu sekarang juga jika kau tidak mau berbicara jujur!" teriak Elara, amarahnya meluap-luap. Ia sudah terbiasa melakukan hal ini. Sudah ribuan kali ia menghabisi nyawa orang-orang yang datang dengan maksud buruk. Ini hal yang biasa baginya.
Namun...
Saat ia hendak melepaskan kekuatan itu, sesuatu yang aneh terjadi.
Tangannya berhenti bergerak. Cahaya kekuatan di telapak tangannya perlahan memudar dan menghilang dengan sendirinya. Ia mencoba memanggil kekuatannya kembali, mencoba melepaskan serangannya, tapi tidak bisa. Kekuatan yang selama ini ia kendalikan sepenuhnya, kini seolah menolak untuk mematuhi perintahnya.
Elara terkejut. Ia mencoba lagi, berkali-kali, tapi hasilnya tetap sama. Semakin ia berusaha, semakin ia merasakan ada sesuatu yang menahan dirinya. Ada sesuatu yang melarangnya untuk menyakiti orang yang ada di hadapannya itu.
Ia merasa ada sesuatu yang menghubungkan dirinya dengan Xavier. Seutas benang yang tidak terlihat, tapi terasa sangat nyata, terikat erat di jantungnya dan juga di jantung orang itu. Benang itu terasa hangat, lembut, namun sangat kuat, seolah telah ada sejak awal penciptaan dunia.
Elara merasakan hal yang aneh. Saat ia melihat mata Xavier, ia tidak bisa melihat musuh, tidak bisa melihat ancaman. Yang ia lihat hanyalah seseorang yang telah lama ia cari, seseorang yang telah lama ia nantikan, meski ia tidak pernah menyadarinya sebelumnya. Rasa ingin menyakiti itu hilang begitu saja, digantikan oleh rasa yang asing namun akrab—rasa rindu yang dalam, rasa damai, dan rasa yang membuat hatinya yang telah membeku selama ribuan tahun mulai terasa berdenyut kembali.
Elara menatap tangannya sendiri dengan tatapan bingung. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi padanya. Selama ini, ia bisa membunuh siapa saja tanpa ragu, tanpa perasaan apa pun. Tapi sekarang, menghancurkan orang ini terasa seperti menghancurkan dirinya sendiri. Rasanya sakit, sangat sakit, hanya dengan membayangkannya saja.
"Kenapa... kenapa aku tidak bisa..." gumam Elara pelan, suaranya tidak lagi berisi amarah, melainkan kebingungan yang mendalam. "Siapa dirimu sebenarnya...? Mengapa aku tidak bisa menyakitimu...?"
Ia menatap Xavier kembali, dan kali ini tatapannya tidak lagi dingin dan penuh kecurigaan. Ada rasa bingung, ada rasa ingin tahu, dan ada sedikit rasa takut akan perasaan baru yang muncul di dalam dirinya.
Tali sihir yang mengikat Xavier perlahan-lahan melepas ikatannya dan menghilang dengan sendirinya, dan tubuhnya perlahan diturunkan kembali ke lantai dengan lembut, seolah tangan yang tidak terlihat sedang memeluknya dengan hati-hati.
Elara menatapnya lama, dan untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, ia tidak tahu harus berbuat apa. Semua pengalaman pahitnya, semua pembelajaran yang ia terima, semua perasaan yang ia bangun selama ini... semuanya seolah runtuh begitu saja hanya dengan kehadiran orang ini.
"Jelaskan padaku..." ucap Elara dengan nada yang jauh lebih lembut dari sebelumnya, meski masih ada sisa kewaspadaan di dalamnya. "Apa yang telah kau lakukan padaku...? Mengapa aku tidak bisa berbuat apa-apa padamu..."
Xavier tersenyum makin lembut, dan menjawab dengan suara yang hangat dan menenangkan.
"Ini bukan karena aku melakukan sesuatu padamu, Yang Mulia. Ini karena takdir yang telah menuliskan ini jauh sebelum kita lahir. Kita terhubung satu sama lain. Dan hati kita tahu, meski pikiran kita masih ragu."
Bersambung...