Cakrawala Dirga Samudra adalah seorang Pangeran kerjaan Nirlata yang dibuang kedalam jurang saat umurnya baru menginjak 6 tahun. namun bukannya mati, di dalam sana ia justru bertemu sosok misterius yang membuat dirinnya menjadi penyihir gila. 7 tahun berlalu ia kembali dengan kekuatan baru untuk menuntut balas, merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya, dan mengungkap rahasia di balik tembok istana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AbdulRizqi60, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lah?
"Terimakasih..." ucap Samudra dengan wajah pucat.
"Apa yang sebenarnya ada diotakmu itu?! Sudah aku katakan lendirnya itu beracun, kenapa kau justru memasukan kepalamu kedalam mulutnya? Kau benar-benar bodoh!" Ucap Punjungsari kesal.
"Aku penasaran dengan kumis panjang hewan itu, aku mencabutnya kupikir untuk dijadikan sapu lidi atau ujung joran pancing sangat bagus, namun ternyata hewan itu belum benar-benar mati dan malah menggigitku.."
"Kau memang bodoh...!!! Aku benar benar tidak menyangka ada penyihir sebodoh dirimu. Kau berani mengorbankan nyawamu hanya karena sesuatu yang konyol!" Ucap Punjungsari tak habis pikir.
Setelah menyembuhkan Samudra Punjungsari langsung terbang pergi, "segeralah pergi! Disini sangat berbahaya untuk penyihir lemah sepertimu." Ucap Punjungsari yang masih berada diudara kemudian terbang menjauh.
"Punjungsari.. nama yang unik? Murid Nyai Serunting.. Bukankah Nyai Serunting teman ayah, hmm... jadi dia muridnya." Batin Samudra.
Grr..!!!
Dua serigala hitam yang tadi terbaring lemah tiba-tiba bangkit dan menerjang kearah Samudra.
Samudra melambaikan tangan kirinya...
Swusssshhh...!!!
Angin langsung menyapu kedua serigala itu.
"Sudah cukup main mainnya ya, aku pergi dulu.." ucap Samudra dan terbang menjauh.
Samudra pun terbang menuju ke Negara Garuda lagi.
Sekitar jarak 500 meter dari tempat awalnya ia justru melihat Punjungsari dibawah sedang berjalan mengendap endap kesebuah arah.
Samudra yang penasaranpun segera menghampiri Punjungsari.
Punjungsari menyadari kehadiran Samudra, ia memberikan kode jangan berisik keSamudra.
Hap!
Samudra mendarat dibelakang Punjungsari.
"Ada apa?" Tanya Samudra penasaran.
"Lihat itu..." Samudra melihat jejak jejak manusia digenangan lumpur dan jejak jejak itu mengarah kesebuah gubuk.
"Mmm.. eemm... emmm..." suara erangan tertahan samar-samar terdengar jelas digubuk itu.
"Sepertinya ada yang tidak beres dengan gubuk itu, bagaimana kalau kita kesana?" Tanya Samudra.
Punjungsari mengangguk, "ayo.." Punjungsari memimpin dan berjalan mengendap endap.
Semakin mereka mendekat suara erangan tertahan seseorang terdengar semakin jelas, membuat Punjungsari marah, ia berpikir ada seorang gadis yang sedang dirudapaksa oleh pria bejat didalam gubuk itu.
"Keparat!! Sepertinya ada laki-laki bejat yang sedang merudapaksa gadis didalam sana." Punjungsari langsung terbang dan mendobrak pintu gubuk tersebut.
"Lepaskan gadis itu atau aku ak-- Lahh???!!!" Punjungsari tercengang matanya sampai melotot.
Samudra juga langsung menghampiri, "Laaaahhhh???!!!" Ia juga terkejut bukan main, matanya melotot dan hidungnya mimisan.
"Sialan! Siapa kalian?!! Mengganggu sekali!"
"Hei bocah, pergi sana jangan ikut campur urusan kami!"
Tampak didalam gubuk itu seorang pria yang tidak lain adalah Atmo tampak terikat dengan mulut yang disumpal, dan disekeliling Atmo berdiri 4 wanita muda cantik yang hanya mengenakan pakaian minim dan sedang meraba tubuh Atmo..
"Ka.. ka.. kalian?!!" Punjungsari tidak bisa berkata-kata, kejadian ini benar-benar diluar nalarnya.
"He.. hei... hei... lepaskan pria jelek itu, sepertinya dia tidak mau dan merasa tersiksa.. gantikan aku saja!" Ucap Samudra.
Tuk..!!!
"Bodoh! Dasar mesum.." ucap Punjungsari yang langsung menjitak kepala Samudra.
"Baiklah... hmm... kau gadis dada jeruk segera pergi dari sini tinggalkan laki laki itu atau kami akan membunuhmu." Ucap salah satu wanita muda disana.
"Dada jeruk?" Samudra menahan tawanya.
"Hei.. hei... sadarlah, kalian ini masih muda dan cantik! Kalian masih bisa dapat laki laki yang lajang dan tampan! Mengapa kalian harus menggilir laki laki dekil berkulit tanah sengketa itu? Bahkan kalian ingin menggilir laki-laki disampingku ini? Apakah mata kalian buta.."
"Diam..!! Kau tidak perlu mengajari kami dada jeruk! Jangan ikut campur urusan kami, urus urusanmu sendiri! Ini peringatan terakhir dari kami, segera pergi atau kami akan membunuhmu!!"
"Aku akan pergi jika kalian melepaskannya.. aku tidak layak menjadi penyihir apabila aku gagal menyelamatkan laki-laki dekil itu."
"Baiklah... jika itu pilihanmu!"
Ketiga wanita muda itu melesat kearah Punjungsari, Punjungsari pun terbang mundur membuat jarak, sementara Samudra lari keluar terbirit-birit.
Punjungsari dan ketiga wanita itu bertarung dihalaman depan gubuk itu yang dipenuhi dengan lumpur.
BAAMM...!!!
BAAAAMMM...!!!
Adu pukul terjadi antara Punjungsari melawan ketiga gadis itu, tampak Punjungsari terdesak namun ia tidak mundur.
BAAM...!!
Satu pukulan mendarat diperut Punjungsari membuat tubuh Punjungsari terhempas. Punjungsari segera menyeimbangkan tubuhnya dan melesat melewati satu pohon.
Punjungsari memutar tubuhnya dan meninju pohon hingga tumbang dan mengarah keketiga gadis yang melesat menyerang kearahnya.
Swusshhh...
Ketiga wanita itu langsung terbang berpencar..
Punjungsari tersenyum tipis, ia langsung terbang menuju kesalah satu wanita yang terbang sendirian.
"Rasakan ini wanita ganas..!!" Teriak Punjungsari sambil mengarahkan tinjunya.
Wanita yang diincar Punjungsari menyilangkan tangannya.
BAAAMM...!!!
Swussshhh...
Craaaakkk...!!!
tubuh wanita itu terhempas dan menabrak lumpur dengan keras hingga lumpur terciprat kemana-mana.
"Hmm... serangan ketiga wanita itu sangat kompak, mereka pasti sudah sangat lama bertarung bersama namun kemampuan Punjungsari memang tidak bisa diremehkan." Batin Samudra yang tampak bersembunyi ketakutan dibelakang pohon.
"Apa yang kau lakukan Cakra? Kenapa kau hanya berdiri melongo disitu? Cepat bantu aku!" Teriak Punjungsari.
Samudra berjalan dan tiba tiba berjoget, membuat Punjungsari semakin kesal.
"Apa yang kau lakukan, bodoh??!!!" Teriaknya kesal.
"Kulit putih bersihku nanti akan terluka jika harus membantumu. Aku akan berjoget bikki bikki untuk menyemangatimu, berjuanglah.. " teriak Samudra.
"Kulitmu sama sekali tidak putih bodoh..!!!" Balas Punjungsari kesal.
Swussshh...
Swusssshh...
Swussshhhh...
Ingin rasanya Punjungsari memukul Samudra namun ia mengurungkan niatnya kala menyadari dua wanita yang tersisa melesat kearahnya.
Pertarungan pun kembali terjadi...
Samudra tiba tiba berhenti berjoget, ia berjalan tenang memasuki gubuk kecil dimana Atmo berada.
Terlihat satu wanita yang tersisa sedang menindih Atmo dan meraba-raba tubuh Atmo dengan tangannya.
"Hei nona cantik, lepaskan dia..." ucap Samudra dengan tenang.
Wanita itu berhenti dan menoleh kearah Samudra dengan tatapan menggoda.
"Kemarilah nak, bergabung denganku..." ucap Wanita itu mengedipkan satu matanya.
"Tentu saja itu memang tujuanku." Balas Samudra.
Begitu pula dengan wanita itu, ia meninggalkan Atmo dan mendekati Samudra.
Wanita itu menjilat bibirnya..
Ia mulai mendekati bibirnya kebibir Samudra. wajah mereka berdua kini mulai saling mendekat, Baik Samudra dan wanita itu memejamkan matanya.
Wanita itu membuka mulutnya sedikit, begitu pula dengan Samudra.
"Ayolah... Ciuman Kematian..." lirih Wanita itu dan mencium bibir Samudra.
Tampak aliran energi sihir keluar dari mulut Samudra dan masuk kedalam mulut wanita itu.
Semakin lama aliran sihir tersebut semakin cepat memasuki mulut wanita itu.
Ekspresi wanita itu tampak puas..
Namun tiba tiba...
Bhuuusss...
Tubuh Samudra meledak menjadi pasir..
"Apa?!!" Pekik wanita itu sambil mundur kebelakang dan mengucek matanya.
Ketika butiran pasir itu sudah menghilang wanita itu melihat 5 sosok Samudra yang berjoget bikki bikki didepannya.
"Hixixixixi.... sayang sekali nona kau gagal..." ucap salah satu Samudra diiringi tawa yang lainnya.
"Ngomong ngomong bibirmu sangat lembut." Sahut Samudra yang lainnya.