Namanya Anna.. Dia anak yang polos namun tangguh, berjiwa bebas dan baik hati.. ia terlahir di sebuah gubuk sederhana di dalam hutan yang jauh dari pemukiman warga, meski hidup sederhana, ia merasa hari harinya selalu dipenuhi kebahagiaan.
Hingga sampai suatu waktu, tragedi menimpa keluarga kecilnya dengan tragis.. Ternyata ayahnya adalah seorang putra mahkota, dan Anna pun tiba tiba menjadi seorang Putri.
bisakah Anna beradaptasi di kehidupan barunya??
Lika liku percintaannya dimulai..inilah kisah Princess Anna..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyah_ell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mari akhiri hubungan kita
"Permisi Yang Mulia.." Aaron membuka sarung tangan Anna memeriksa telapak tangannya, keduanya sudah lecet lecet terkena kukunya sendiri.
"Tolong jangan melukai diri anda sendiri Yang Mulia Putri.." gumam Aaron sembari mengoleskan salep di lukanya.
Semakin berlalunya waktu semakin gelisah Anna dibuatnya..
"Sir Aaron.. Tolong cari tahu apa yang terjadi dengan Leonard yaa kumohon.."
Melihat wajah sang Putri yang sedih Aaron menganggukkan kepala kemudian bergegas pergi mencari informasi..
Namun di depan pintu ia bertemu dengan Axel.. "Kakakku ada di dalam?" tanya Axel.
"Benar Yang Mulia.. Saya diperintahkan mencari informasi tentang keberadaan Duke muda, kalau begitu saya permisi.."
"Tunggu!!"
"Kenapa Yang Mulia?"
"Aku dan Kaisar sudah tahu, orang itu tidak akan datang!" ucap Axel geram.
"Maksud anda?"
"Keluarganya kecelakaan kereta kuda tadi malam dan baru tadi pagi Leonard stephanos menyusul ke lokasi kecelakaan, katanya Duke dan Duchess meninggal di tempat lalu keadaan adik perempuannya saat ini kritis"
PRAANGGGG!!!! Anna tidak sengaja menjatuhkan gelas di tangannya saat mendengar Alex dari balik pintu yang setengah terbuka.
"Kakak" ucap Alex yang melihat Anna di belakang pintu.
Aaron segera menghampiri Anna yang merasa syok "Yang Mulia.. Anda baik baik saja? Hati hati pecahan gelasnya!"
Sylvana tak menghiraukan lagi apa yang dikatakan Aaron dan Alex, ia berlari keluar dari aula dengan raut wajah yang sedih membuat semua orang kebingungan.
Anna terus berlari namun Alex berhasil mengejarnya, ia menarik tangan Anna. "Kak! Tenanglah!" Teriak Alex.
"Jangan halangi aku Alex!" ucapnya dengan suara bergetar.
"Kakak mau kemana?!"
"Aku mau ke rumah Leo sekarang juga! Lepas!"
"Kakak harus tenang dulu! Aku antar ya.."
"Pestanya belum selesai Alex, ini juga pestamu! Kembalilah.."
Saat itu Aaron berhasil menyusul mereka yang sedang berdebat.
"Anda tidak boleh pergi sendirian! Aaron antar kakakku ke kediaman Duke!"
"Baik Yang Mulia!"
Alex melihat keduanya pergi menjauh. Sementara Aaron terus berlari mengikuti langkah Anna.
"Yang Mulia.. Kereta kuda bukan di sebelah sana!" ucapnya seraya terengah-engah.
"Kandang kuda! Lebih cepat!" Mereka pun sampai di kandang kuda.
"Tapi Yang Mulia..anda akan kesulitan naik karena pakaian anda?" ucap Aaron.
"Aku akan merobeknya!" Anna segera memegang dress bawahnya namun Tangan Aaron menghentikannya.
"Jangan yang Mulia! Ayo naik satu kuda bersama saya!" Anna pun mengangguk.
Anna duduk menyilang di depan Aaron "Pegangan yang erat Yang Mulia.. saya akan membuat kuda berlari kencang!" Anna mengangguk.
Setelah cukup lama kuda berlari akhirnya mereka berhenti di depan kediaman Duke Yang megah. Aaron turun terlebih dahulu kemudian mengulurkan tangannya membantu Anna turun dengan mudah.
Kedatangannnya disambut dengan lesu oleh kepala pelayan paruh baya. Disana sudah berkumpul para kerabat Duke dan Duchess yang menyambut kedatangan putri Anna dengan ucapan sopan namun dengan raut wajah acuh.
"Ini semua terjadi karena Leo bersikeras ingin menikahi wanita itu! Aku sangat membencinya!" ucap Adik perempuan Duchess dengan pelan. Langkah Anna sejenak terhenti karena mendengar ucapan itu. Begitu Aaron menoleh dengan menatap tajam wanita itu segera menutup mulutnya.
Anna diarahkan langsung ke kamar Elisia..
Tok..tok..tok!! "Tuan muda, disini Tuan Putri Sylvanna datang berkunjung!" ucap kepala pelayan.
Tanpa menjawab Leo membukakan pintu, wajah dan penampilannya terlihat sangat kacau,saat Aaron mulai melangkah Leo meliriknya.
"Ksatria pengawal tak perlu sampai menemani masuk juga kan?" ucapnya dengan suara dingin.
"Tunggulah disini Sir Aaron!" ucap Anna.
"Baik Yang Mulia.."
Begitu Anna masuk Leo menutup pintunya kemudian kembali duduk di samping Adiknya yang tubuhnya dipenuhi perban.
"Bagaimana keadaan Nona Elisia?" ucap Anna.
"Yaah.. Seperti yang anda lihat" ucapnya dingin.
"Duke dan Duchess apa benar mereka...?" ucapannya terhenti.
"Benar! Sekarang kami yatim piatu!"
Anna mendekatinya, menyentuh bahunya dengan hati-hati karena ingin sedikit menghiburnya, tapi Leo menepis tangannya dengan kasar hingga membuat Anna kaget.
"Saya tidak membutuhkan penghiburan atau belas kasihan anda! Pergilah tinggalkan saya sendiri"
"Tapi Leo.."
"Kita akhiri saja hubungan ini Yang Mulia.. Saya tidak sanggup jika harus kehilangan Elisia juga.." ucapnya lirih.
"Apaa?"
"Ini bukan kecelakaan, seseorang sudah memperingati saya akan membuat saya menyesal jika saya nekat bertunangan dengan anda, saya yang sombong dan naif ini tak menghiraukan peringatan itu dan akhirnya saya kehilangan orang tua.. saya bukannya tidak bisa mencari tahu siapa pelakunya tapi saat ini saya benar benar tidak bisa melakukan apapun selain menjaga adik saya yang susah payah berhasil diselamatkan. Saya sudah bersalah! Ini lah akibat dari keegoisan saya selama ini.. Saya merasa semakin berdosa setiap mengingat anda apalagi bertemu seperti ini, saya merasa amat sangat tersiksa berada dekat dengan anda seperti ini, tolong tinggalkan saya.. ayo kembali ke saat saat kita tak saling mengenal, saya akan mengakhiri hubungan ini secara resmi dengan Baginda Kaisar" ucapnya seraya menunduk.
Kata katanya sangat menghancurkan hati Anna.. "Aku mengerti..Maaf" ucapnya lirih.
Anna keluar ruangan dengan perasaan yang berkecamuk, ia merasa semua yang terjadi kepada keluarga Duke adalah salahnya.
Dari balik pintu Aaron mendengar semuanya, ia sangat marah karena dia berbicara seolah olah menyalahkan semua yang menimpanya kepada Putri Anna. Aaron melihat wajah Anna yang pucat.
"Anda baik baik saja Yang Mulia?" tanya Aaron khawatir. Anna mengangguk.
"Ayo pergi Sir Aaron.."
"Baik Yang Mulia" Aaron mengikuti di belakangnya.
Sepanjang perjalanan kembali ke istana Anna hanya terdiam, hanya terdengar suara kuda dan suara hentakan Aaron yang mengemudikannya.
Sekembalinya mereka ke Istana pesta telah usai, Anna berjalan ke kamarnya dan Aaron masih mengikuti di belakang.
"Anda bisa istirahat hari ini Sir Aaron..saya hanya akan berada di dalam kamar" ucap Anna sebelum membuka pintunya.
"Saya akan menghadap Baginda Kaisar terlebih dahulu lalu kembali ke sini, beritahu saya jika anda membutuhkan sesuatu"
"Baiklah.." rasanya ia sudah tak lagi memiliki energi bahkan hanya untuk berbicara.
Anna masuk ke kamarnya lalu berbaring dan menutupi dirinya rapat rapat dengan selimut.
Sedangkan Aaron sudah ditunggu oleh Kaisar dan Putra mahkota di ruang kerja.
"Apakah Duke dan Duchess benar benar meninggal?" tanya Kaisar begitu Aaron duduk di hadapannya.
"Benar Baginda, katanya itu bukan kecelakaan biasa, seseorang sengaja membuat kecelakaan kereta kuda"
"Lalu? Bocah itu tidak menyalahkan semua penyebab kecelakaan itu terjadi karena Sylvanna kan?"
"Yang saya dengar sepertinya Duke muda akan mengakhiri hubungan dengan Tuan Putri karena kejadian ini"
"Aapahh!! Kurang ajar!!" Kaisar menjadi sangat geram.
"Pasti Kakak sangat sedih Ayah, saya akan menemuinya dulu" ucap Alex.
"Tidak Alex.. Ayo temui Sylvanna besok, sekarang biarkan dia menenangkan pikirannya sendiri dulu.. Aaron terus lindungi Putri dari dekat!"
"Baik Baginda"
Bersambung