NovelToon NovelToon
Dijual Teman Laknat, Dibeli Mantan Minus Akhlak

Dijual Teman Laknat, Dibeli Mantan Minus Akhlak

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:21.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dfe

Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?

Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!

Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai harus apa?

Kilau masih terpaku menatap layar ponselnya. Jemarinya gemetar saat melakukan scrolling cepat pada portal berita bisnis yang baru saja meledak. Di sana, tertulis dengan jelas: Indeks saham Adiwijaya Group (ADWJ) terjun bebas hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB) hanya dalam hitungan menit pasca pembukaan sesi perdagangan kedua.

Namun yang lebih membuat jantungnya seakan berhenti berdetak adalah baris kalimat selanjutnya, yaitu : Konsorsium asing yang terafiliasi dengan dana abadi misterius dilaporkan telah mengakuisisi 45% saham MahaTech secara masif lewat pasar negosiasi

"Enggak mungkin..." bisik Kilau. "Dai, ini nggak masuk akal. Gue direktur di MahaTech, gue pemegang saham mayoritas bareng papa gue. Gimana bisa hampir setengah saham MahaTech pindah tangan tanpa ada Rapat Umum Pemegang Saham? Tanpa ada pemberitahuan ke gue?"

Kilau menatap Dai dengan tatapan menuntut bingung. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia teknologi dan korporasi, dia tahu transaksi sebesar ini biasanya memakan waktu berbulan-bulan untuk uji tuntas atau due diligence. Tapi ini? Ini seperti sihir yang jauh lebih mengerikan.

Dai mencoba menenangkan Kilau, senyum tipis itu muncul bersamaan dengan kalimat santai dibarengi dengan kegiatan menyesap tehnya yang sudah mulai dingin. "Mungkin pemegang saham yang lain lagi butuh uang tambahan, Ki. Atau mungkin... mereka lebih takut miskin daripada takut sama peraturan administrasi berbelit seperti katamu tadi."

"Dai, jangan bercanda! Ini bukan angka kecil tapi soal uang triliunan Dai! Dan Adiwijaya... beberapa hari ini mereka terus nekan gue, dan sekarang mereka hancur?"

"Oke, masa bodoh sama Adiwijaya tapi MahaTech? Kenapa bisa kayak gini? Ini nggak mungkin kerjaan orang iseng kan, Dai?" Imbuh Kilau tampak diserang kepanikan.

Baru saja Dai hendak membuka mulut untuk kembali melontarkan bualan jenakanya, pintu ruang tamu diketuk, ada Arga di sana. Tetap berdiri di sebelah pintu yang terbuka menunggu atasannya mengizinkannya masuk ke dalam sana.

"Nona Kilau," panggil Arga sambil menunduk.

"Iya, ada apa lagi, Ga? Soal saham itu?" tanya Kilau cepat.

Arga menggeleng. "Bukan nona. Tuan besar, Papa Anda, terus-menerus menghubungi saya. Beliau memerintahkan anda untuk segera pulang ke rumah utama sekarang juga. Keluarga Adiwijaya juga ada di sana, mereka mengamuk dan menuduh keluarga nona melakukan sabotase tingkat tinggi."

Kilau memejamkan matanya rapat-rapat. Dia bisa membayangkan kekacauan yang sedang terjadi di rumahnya. Arang dan orang tuanya pasti sedang histeris meratapi harta mereka yang menguap dalam sekejap.

"Gue nggak mau pulang, Ga," ujar Kilau tegas. Suaranya bergetar namun penuh tekad. "Kalau gue pulang, gue cuma bakal dijadiin bahan negosiasi lagi. Gue mau di sini."

Kilau menoleh ke arah dapur, di mana Ambar dan Senja sedang sibuk menata camilan. Suasana rumah ini begitu hangat, begitu manusiawi. Sangat kontras dengan rumah megahnya yang dingin dan penuh dengan hitung-hitungan untung rugi. Di sini, dia merasa menjadi Kilau, bukan sekadar Direktur MahaTech atau aset keluarga.

"Tapi Non, Tuan Besar bilang kalau Anda tidak pulang, beliau yang akan datang menjemput," tambah Arga dengan nada khawatir.

Dai, yang sedari tadi diam, meraih kruknya dan berusaha berdiri. "Kilau nggak mau pulang, Ga. Biarin aja dia di sini. Seenggaknya di sini dia nggak dapet tekanan apapun dan dari siapapun."

Kilau tersenyum haru mendengar ucapan Dai. Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa menit.

Suara derit ban mobil yang mengerem mendadak di depan rumah Dai memecah keheningan sore itu. Tidak hanya satu, tapi terdengar suara beberapa pintu mobil yang tertutup dengan dentuman keras. Ambar keluar dari dapur dengan wajah bingung. "Siapa, Dai? Teman kamu? Kok bawa mobil banyak kayak gitu.."

Belum sempat Dai menjawab, pintu depan rumahnya terbuka tanpa diketuk. Sosok pria paruh baya dengan setelan jas mahal yang tampak kontras dengan kesederhanaan ruang tamu itu melangkah masuk. Di belakangnya, berdiri empat orang pria berbadan tegap dengan seragam safari gelap, pengawal pribadi keluarga Kilau.

"Papa..." Kilau berdiri kaku.

Pria itu, Djiwa Maharaja, lelaki dengan garis wajah tegas dan tampan pada masanya. Dia menatap sekeliling rumah Badai, rumah sederhana yang bahkan tak pernah ada di mimpi Djiwa akan berkunjung ke bangunan seperti ini.

"Kilau, pulang." Dua kata itu terdengar penuh tuntutan. Tegas dan dingin.

"Pa, aku nggak mau pulang kalau hanya dijadikan alat negosiasi atau orang yang terus disalahkan atas sesuatu yang nggak pernah aku lakukan."

Djiwa diam sesaat. Matanya menatap Dai dan Ambar, lalu pandangan itu jatuh pada kruk yang menyangka ketiak Dai.

"Pulang sekarang, Kilau. Kamu tahu? Adiwijaya telah hancur bahkan tak ada apapun yang bisa diselamatkan dari perusahaan besar tersebut! Dan entah bagaimana, perusahaan kita sekarang disandera oleh investor asing. Seseorang mengatasnamakan dirinya sebagai BAD, mengakuisisi perusahaan kita secara besar-besaran. Bijak lah dalam bertindak, perusahaan kita sedang genting. Ini masalah serius, Kilau."

Dai yang mendengar inisial namanya disebut, hanya bisa mengeraskan rahang. Dia ingin sekali berteriak bahwa dialah pemilik nama itu. BAD.. Badai Ananta Dewa. Tapi dia melihat ibunya, Ambar, yang kini berdiri gemetar di sudut ruangan. Dia tidak ingin ibunya tahu bahwa dia telah berhubungan kembali dengan 'monster' dari masa lalu mereka di Jepang.

"Aku nggak mau pulang, pa. Papa terus-menerus menjodohkan ku dengan Arang. Aku nggak mau!" balas Kilau tak kalah keras.

"Tidak ada perjodohan lagi! Adiwijaya bukan lagi emas, mereka sampah! Sekarang masalahnya lebih besar, Kilau. Kita harus mencari tahu siapa BAD ini sebelum dia menendang kita dari perusahaan kita sendiri!" Djiwa memberi isyarat pada para pengawalnya. "Bawa dia ke mobil. Paksa jika perlu."

"Jangan ada yang berani menyentuh dia," suara Dai tiba-tiba merendah, namun penuh penekanan yang membuat para pengawal itu sempat ragu sesaat.

"Dai, jangan..." Kilau menoleh pada Dai, matanya berkaca-kaca. Dia melihat ayahnya yang tampak gelap mata. Dia tahu, jika dia terus melawan di sini, ayahnya tidak akan segan-segan menghancurkan rumah kecil ini atau bahkan mencelakai Dai yang sedang tidak berdaya. Djiwa adalah orang yang akan melakukan apa saja demi ambisinya.

Kilau mendekati Dai, memegang lengan lelaki itu lembut. "Dai, gue pulang ya."

"Ki, lo nggak perlu kayak gini.."

"Gue harus, Dai. Bukan buat mereka, tapi buat lo, buat tante Ambar, buat Senja," bisik Kilau sangat pelan agar tidak terdengar ayahnya. "Gue nggak mau mereka bikin rusuh di sini. Kondisi lo lagi sakit. Gue bakal beresin ini, gue janji."

Dai menatap mata Kilau, mencari keraguan di sana, tapi yang dia temukan hanyalah pengorbanan. Hatinya perih. Dia punya kekuatan untuk menghancurkan Adiwijaya dalam sekejap, tapi dia belum punya kekuatan legal untuk melindungi Kilau dari keluarganya sendiri tanpa membongkar identitasnya yang akan menghancurkan ketenangan hidup ibunya.

"Janji sama gue, jangan biarkan mereka tekan lo lagi," kata Dai serius.

Kilau mengangguk kecil. Dia berbalik menatap ayahnya. "Aku pulang. Tapi biarkan para pengawal Papa keluar dari rumah ini sekarang juga. Jangan sentuh apapun di sini."

Djiwa mendengus, namun dia memberi kode agar anak buahnya mundur ke mobil. "Cepat. Kita tidak punya waktu untuk drama picisan ini."

Kilau berjalan menuju pintu, namun sebelum benar-benar keluar, dia menoleh ke arah Dai. "Makasih buat tehnya, Dai.. Dan semangat! semoga lo cepat sembuh ya.." Kilau memberikan semangat dengan mengepalkan tinju ke udara untuk Dai, padahal di sini dia lah yang butuh disemangati.

Dai hanya terdiam menatap punggung Kilau yang menghilang di balik pintu mobil mewah yang kemudian melesat pergi. Ruang tamu itu mendadak terasa sangat hampa dan dingin.

Ambar mendekati putranya, memegang bahu Dai dengan cemas. "Badai... Ada apa sebenarnya? BAD, itu bukan inisial nama mu kan?"

Dai memejamkan mata, berusaha mengatur napasnya yang sesak oleh amarah dan rasa bersalah. Dia menoleh ke arah ibunya, mencoba memaksakan sebuah senyum tipis.

"Bukan, bu. Cuma kebetulan mirip. Mana mungkin aku bisa membeli sebuahperusahaan. Duit dari mana coba?" bohong Dai.

Ambar memandang anaknya dengan perasaan campur aduk. Ketika berbohong, Dai akan menyangkalnya dengan menggigit bibir bawahnya lama. Dan sekarang, Dai melakukan hal itu tanpa mau menatap ke arah ibunya.

'Apa yang sedang kamu sembunyikan, nak?'

1
Bulan-⁶
dibobol juga tabungan rindu nya
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
🤣🤣🤣kecolongan Dai kamu mati2an jadi budak dinegri sakura lha dia malah rujuk pinter berati bapakmu Dai bujuk emakmu buat mau balikan🤣🤣🤣
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
oleh Dai oleh babat wes mumlung ketemu yokan kokopan Sampek dower juga oleh
Dewi kunti
sok nanya lagi,dilarang jg pasti tetep ngokop
Badai pasti berKilau
Boleh gak ya ☺
Badai pasti berKilau
Miyako 🤣

Cosmos ada ?
Badai pasti berKilau
Santet aja Thor, ehh Kil, gemez lama-lama sama Dai Badai 😌
Badai pasti berKilau
Cemburu ya abang Badai 🤣🤣
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
klo udah di kamar dan ngbrol sama Kilau, auto jadi anak kucing ya Dai😅
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
ini otor keknya penasaran aja klo gak bikin pembacanya mewek dah
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
tobat makanya tobaaaatttt..
masih ae mikirin harta aja udah nyungkep krna ketamakan sendiri juga
Bulan-⁶
bapak si raja kejam
Badai pasti berKilau
Dihh manjanya ko Badai 🤣
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
sabar Xylas resiko ngadepin arek bucin gak ada obatnya emang
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
bapak durjanahhh🤣🤣🤣
anaknya suruh kerja dia mepet emaknya 🤣🤣
Dewi kunti
haaaiiiii ky judul film🤭🤭🤭🤭
Bulan-⁶
paham pak djiwa????!!!!!
Bulan-⁶
gak usah nantangin kamu dai bisa2 kelabakan sendiri nantinya
Bulan-⁶
kopi dangdut🤣🤣🤣
Dewi kunti
hai hai hai main kokop aj, bodyguard Kon nunggoni wong kokopan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!