NovelToon NovelToon
Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:907
Nilai: 5
Nama Author: Ulfah_muna

Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Omongan pedas

Rhea menyandarkan punggungnya ke kursi kayu kecil.

Tatapannya masih mengikuti Mireya yang sibuk melipat beberapa pakaian lama dan memasukkannya ke dalam tas.

Lalu ia membuka terminal hologram di tangannya.

Cahaya biru tipis memantul di wajah tegasnya.

“Baiklah.”

“Lakukan sesukamu.”

Nada suaranya tetap datar, tapi kali ini tidak sekeras sebelumnya.

Ia mengetuk layar beberapa kali, lalu kembali berbicara.

“Oh ya, ada satu hal yang harus kuberitahu.”

Mireya yang sedang merapikan laci berhenti.

“Hm?”

Rhea mengangkat pandangan.

“Proses pembatalan kontrak dengan agensi jelek itu membutuhkan waktu.”

Mireya langsung menegang.

“Jadi… belum selesai?”

“Belum sepenuhnya.”

Rhea menjelaskan dengan tenang.

“Denda dan biaya pemutusan kontrak sudah dikirim.”

“Pihak hukum dari keluarga Ardevar juga sudah turun tangan.”

“Tapi tetap harus menunggu persetujuan akhir dari mereka.”

Mireya menggigit bibir bawahnya.

Agensi itu…

Ia tahu betul betapa liciknya mereka.

Rhea melanjutkan.

“Manajer lamamu kemungkinan besar belum tahu.”

“Beberapa artis di sana juga tidak mungkin tahu kalau kamu sudah pindah.”

Mireya menoleh cepat.

“Jadi… besok aku harus masuk?”

Rhea menggeleng.

“Tidak.”

Tatapannya tajam tapi menenangkan.

“Besok hari Senin.”

“Kamu tidak akan ke sana.”

Mireya berkedip.

“Hah?”

Rhea mengetuk terminalnya lagi.

“Besok fokus mu adalah mengurus pindahan.”

“Barang-barang besar akan dipindahkan.”

“Dan kemungkinan besar…”

ia berhenti sebentar, lalu menatap Mireya dengan ekspresi tipis yang sulit dibaca.

“Tunanganmu akan mengajakmu membeli furnitur untuk kamar pribadimu.”

Mireya langsung membeku.

“F-furnitur?”

Rhea mengangkat alis.

“Ya.”

“Apa kau mau tidur di kamar sebesar itu dengan beberapa space kosong?”

Pipi Mireya langsung memanas.

Entah kenapa membayangkan pergi bersama Zevran membuat jantungnya berdegup aneh.

Rhea hampir tersenyum melihat reaksinya.

Hampir.

“Setelah semua itu selesai…”

Ia menutup terminalnya.

“Baru kita pergi ke agensi baru.”

“Perusahaan hiburan yang dikelola keluarga Ardevar.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Mireya menatap Rhea lama.

Agensi baru.

Hidup baru.

Karier baru.

Perlahan, jemarinya menggenggam pakaian di tangannya.

Seakan sedang menggenggam harapan.

“Baik…”

Ia mengangguk kecil.

“Aku mengerti.”

Rhea berdiri dari kursinya.

“Bagus.”

“Karena mulai minggu ini, hidupmu akan berubah sangat cepat.”

Dan untuk pertama kalinya…

Mireya benar-benar percaya itu.

...****************...

Rhea menutup terminal hologramnya lalu menatap Mireya yang masih sibuk merapikan beberapa barang.

Tatapannya tajam.

Profesional.

“Prioritasmu nanti adalah ikut tes terlebih dahulu.”

Mireya berhenti melipat baju dan menoleh.

Rhea melanjutkan dengan nada tenang.

“Aku akan mengecek sejauh mana kemampuanmu.”

“Ilmu apa saja yang pernah kamu pelajari.”

“Akting, ekspresi kamera, modeling, pembawaan tubuh, cara bicara, improvisasi…”

Ia menyilangkan tangan di dada.

“Apapun yang pernah diajarkan oleh agensi lamamu.”

Mireya menegang sedikit.

Mengingat cara mereka dulu mengajar…

setengah hati.

asal-asalan.

Rhea menghela napas kecil.

“Aku perlu tahu apa yang paling cocok untukmu.”

“Supaya nanti aku bisa mencari proyek yang tepat.”

Tatapannya sedikit melunak, tapi tetap tegas.

“Kalau ternyata kemampuanmu lebih buruk dari perkiraanku…”

ia berhenti sejenak, lalu menatap Mireya lurus.

“Maaf.”

“Aku tidak akan memberimu proyek besar hanya karena hubunganmu dengan Tuan Zevran.”

Kalimat itu jujur.

Tidak manis.

Namun justru terasa adil.

Rhea melanjutkan.

“Tapi aku tetap akan memastikan kariermu stabil.”

“Setidaknya kau tetap terlihat.”

“Tidak lagi menjadi bayangan di belakang orang lain.”

Jantung Mireya berdegup.

Ia menggenggam kain di tangannya sedikit lebih erat.

Lalu menatap balik dengan mata yang jauh lebih tegas.

“Baiklah, Kak.”

“Aku mengerti kekhawatiran Kakak.”

Suaranya pelan.

Tapi penuh keyakinan.

“Namun aku akan menunjukkan kemampuanku sendiri saat tes nanti.”

Rhea menatapnya.

Beberapa detik.

Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

Bagus.

Ia suka mata seperti itu.

Mata yang masih punya api.

“Baiklah.”

“Semangatmu cukup tinggi.”

Nada suaranya sedikit lebih rendah sekarang.

Hampir seperti pujian.

“Aku menantikan hari saat kau membuat mereka tercengang.”

Mireya membeku.

Rhea melanjutkan, kali ini dengan nada yang lebih dalam.

“Karena menurutku…”

“kau adalah bibit unggul.”

Tatapannya jatuh pada wajah Mireya.

“Yang hampir rusak karena diinjak-injak agensi busuk.”

Kalimat itu membuat dada Mireya menghangat.

Untuk pertama kalinya…

ada seseorang dari dunia ini yang melihat potensinya.

Bukan sekadar wajah.

Bukan sekadar figuran.

Tapi seseorang yang masih bisa bersinar.

Mireya tersenyum kecil.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama—

senyum itu dipenuhi harapan.

...****************...

Mireya berdiri di tengah ruang tamu kecil rumah lamanya.

Pandangan matanya menyapu sekeliling sekali lagi.

Lemari kayu tua di sudut ruangan.

Kulkas mini yang suaranya kadang mendengung keras di malam hari.

Rak elektronik kecil tempat terminal lama dan kipas portabel disimpan.

Semua itu terasa begitu akrab.

Ia menarik napas pelan, lalu menoleh ke arah Rhea.

“Baiklah, Kak…”

“Kurasa ini sudah semua yang penting.”

Ia menatap beberapa koper kecil dan dua tas besar yang sudah disusun di dekat pintu.

“Untuk sisanya… barang berat seperti lemari, kulkas mini, dan barang elektronik lainnya…”

Mireya menggigit bibir bawahnya sebentar.

“Menurutku itu harus tetap dibawa.”

“Kalau dibiarkan di sini lalu rusak, sayang banget.”

Rhea mengangguk kecil.

“Itu nanti akan diurus tim pindahan.”

“Robert assisten pria itu, sudah mengatur semuanya.”

Mireya menghela napas lega.

“Syukurlah…”

“Jadi aku tinggal menyerahkan kunci saja?”

Rhea melirik pintu rumah.

“Kurang lebih.”

Lalu ia menambahkan dengan nada datar.

“Atau jika perlu, pintunya akan dibuka dengan akses teknologi dan dikembalikan seperti semula.”

Mireya langsung menatapnya kaget.

“Hah?! Dibobol?!”

Rhea memutar mata tipis.

“Dengan teknologi.”

“Bukan dengan tendangan.”

Mireya langsung salah tingkah.

“Oh…”

Beberapa menit kemudian, Mireya mencoba mengangkat koper kecilnya.

Lalu satu tas.

Lalu tas lain.

Wajahnya mulai memerah karena berat.

“Aduh…”

Rhea yang sedari tadi berdiri sambil menyilangkan tangan akhirnya memutar mata dengan malas.

“Serahkan.”

“Hah?”

Tanpa banyak bicara, Rhea mengeluarkan sebuah alat kecil dari saku jasnya.

Bentuknya seperti cakram logam tipis dengan cahaya biru di tengah.

Mireya membeku.

Matanya melebar.

“Itu…”

Rhea mengarahkan alat itu ke koper dan tas-tas di lantai.

Cahaya lembut memindai seluruh barang.

Sret—

dalam sekejap, semua koper dan tas menghilang.

Masuk ke dalam ruang penyimpanan dimensi.

Mireya melongo.

“A-astaga…”

“Itu kan barang mahal…”

Rhea memasukkan kembali alat itu ke sakunya.

“Iya.”

Nada suaranya santai sekali, seolah benda itu biasa.

“Yang versi murah saja hampir sejuta.”

Mireya hampir tersedak ludahnya sendiri.

“SEJUTA?!”

Rhea mengangguk datar.

“Ruangnya juga cuma beberapa meter.”

“Meskipun teknologinya sudah ada sejak lama, harga benda ini memang sengaja dibuat tinggi.”

Mireya masih mematung.

“Kenapa…”

Rhea mulai berjalan ke arah pintu sambil menjelaskan.

“Karena terlalu berguna.”

“Kalau dijual terlalu murah, industri jasa pindahan dan pengangkutan bisa hancur.”

Ia melirik Mireya sebentar.

“Produsen dan penyedia jasa dibuat seimbang agar tidak berbenturan.”

Mireya menatap punggung Rhea dengan kagum.

Dunia ibu kota memang benar-benar berbeda.

Di tempatnya, uang sejuta bisa untuk hidup berbulan-bulan.

Sementara di sini…

itu hanya harga alat penyimpan barang.

Rhea menoleh sedikit.

“Jangan terlalu terkejut.”

“Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan dunia seperti ini.”

Mireya menatap rumah kecilnya sekali lagi.

Lalu mengangguk pelan.

“Iya, Kak…”

Namun jauh di dalam hatinya— ia berjanji tidak akan pernah melupakan dari mana ia berasal.

...****************...

Udara malam di kawasan itu terasa lebih dingin.

Mireya dan Rhea berjalan berdampingan di trotoar kecil menuju restoran sederhana yang masih buka.

Restoran itu bukan tempat mewah.

Namun cukup bersih, hangat, dan yang paling penting—

Mireya sudah mengenalnya sejak lama.

“Di sini enak, Kak.”

“Murah juga…”

Kalimat terakhirnya ia ucapkan pelan, nyaris malu.

Rhea hanya mengangguk.

“Yang penting makanannya layak.”

Mereka baru beberapa langkah lagi menuju pintu restoran ketika sebuah suara nyaring memanggil.

“Eh?”

“Mireya?”

Langkah Mireya langsung terhenti.

Dadanya seketika mengencang.

Ia menoleh.

Seorang perempuan berdiri tak jauh dari sana.

Rambutnya sedikit berantakan, riasannya tebal tapi mulai luntur, dan sorot matanya penuh rasa ingin tahu yang tidak menyenangkan.

Mireya langsung mengenali wajah itu.

Teman SMA lamanya.

Seseorang yang dulu memang terkenal bermulut tajam.

“Lina…”

Perempuan itu menyeringai.

“Ya ampun, beneran kamu.”

Tatapannya naik turun menilai Mireya dari kepala sampai kaki.

Lalu berhenti pada Rhea yang berdiri di sampingnya dengan aura dewasa dan berkelas.

Senyumnya langsung berubah jadi senyum miring.

“Oalah…”

“Sekarang aku paham.”

Mireya mengerutkan kening.

“Paham apa?”

Perempuan itu terkekeh kecil.

“Masih miskin tapi tetap cantik ya kamu.”

“Jangan-jangan…”

ia mendekat sedikit, suaranya penuh nada merendahkan.

“kamu sekarang dipelihara?”

Jantung Mireya seperti jatuh.

Pipinya langsung memanas karena marah.

“Apa maksudmu?”

Tatapan perempuan itu beralih pada Rhea.

“Oh, atau ini sugar mommy-mu?”

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Mireya membeku.

Malu.

Marah.

Tersinggung.

Semua bercampur jadi satu.

Ia bahkan belum sempat membuka mulut ketika satu langkah maju terdengar dari sampingnya.

Tap.

Rhea berdiri tepat di depan Mireya.

Menghadang tubuhnya.

Tatapannya dingin menusuk.

“Apa urusanmu?”

Suara Rhea datar.

Namun justru itu yang membuatnya terasa tajam.

Perempuan itu terdiam sesaat.

Lalu mencoba tertawa.

“Eh, saya cuma bercanda—”

Rhea memotong.

“Kalau hidupmu buruk, jangan jadikan orang lain pelampiasan.”

Wajah perempuan itu langsung berubah.

Rhea melanjutkan, suaranya tetap tenang.

“Urus dirimu sendiri.”

“Rumah tanggamu saja terdengar lebih kacau daripada hidup orang yang sedang kau hina.”

Mata perempuan itu langsung melebar.

Mireya ikut kaget.

Pedas.

Tapi tepat sasaran.

Rhea melirik sekilas pada penampilan perempuan itu.

Tatapan penuh analisis.

“Kau tampak lelah.”

“Tidak terawat.”

“Dan sangat sibuk iri pada orang lain.”

Sudut bibirnya naik tipis.

“Sayang sekali.”

Perempuan itu langsung memucat.

“K-kamu—”

Rhea melangkah setengah langkah lebih dekat.

“Aku sarankan berhenti menilai orang dari penampilan.”

“Karena bahkan dalam keadaan sulit, Mireya masih terlihat jauh lebih bersinar daripadamu.”

Mireya sampai hampir menahan napas.

Perempuan itu menggertakkan gigi, malu karena beberapa orang mulai melirik.

Akhirnya ia mendengus kesal.

“Cih. Dasar sok kaya.”

Lalu pergi dengan langkah cepat.

Sunyi kembali.

Mireya masih berdiri diam.

Matanya sedikit melebar.

Lalu perlahan menoleh ke arah Rhea.

“Kak…”

Rhea mendengus kecil.

“Kenapa diam saja?”

“Kalau ada yang menyerangmu, balas.”

Mireya menunduk sedikit.

“Maaf…”

Rhea menatapnya.

Lalu nada suaranya sedikit melunak.

“Cantik itu bukan dosa.”

“Jangan biarkan orang yang iri merusak caramu memandang dirimu sendiri.”

Kalimat itu membuat hati Mireya terasa hangat.

Sangat hangat.

Untuk pertama kalinya malam itu—

ia merasa ada seseorang yang benar-benar berdiri di sisinya.

...****************...

Restoran kecil itu hangat.

Lampu kuning temaram memantul di meja kayu sederhana.

Aroma makanan rumahan memenuhi udara.

Mireya yang sejak tadi duduk di seberang Rhea malah lebih sibuk daripada makan.

“Kak, makan ini…”

Ia mendorong piring lauk ke arah Rhea.

“Tambah nasi lagi ya?”

Belum menunggu jawaban, ia sudah setengah berdiri.

“Lauknya kurang nggak? Aku ambilin lagi—”

Rhea yang tadinya sedang makan akhirnya meletakkan sendoknya sedikit lebih keras.

Ctak.

“Mireya.”

Nada suaranya tegas.

Mireya langsung berhenti.

Rhea menghela napas.

“Kamu ngapain sih?”

“Duduk.”

“Aku bisa ambil sendiri.”

Mireya membeku di tempat.

Tangannya yang tadi memegang teko air langsung turun pelan.

“T-tapi…”

“Aku cuma pengen berterima kasih…”

Suaranya mengecil.

Sangat kecil.

Dan saat itulah—

Rhea melihat mata Mireya mulai berkaca-kaca.

Setetes air mata jatuh ke pipinya.

Rhea langsung terdiam.

Ia berkedip pelan.

Apa aku terlalu galak?

Tanpa banyak kata, ia mengambil tisu dari meja dan menyodorkannya.

“Nih.”

“Lap matamu.”

Nada suaranya masih datar, tapi jauh lebih lembut.

“Maaf.”

“Kali ini aku yang salah.”

Mireya menatapnya kaget.

Rhea menoleh sedikit, seolah agak canggung.

“Aku terlalu galak.”

“Aku tidak melihat kalau itu caramu berterima kasih.”

Kalimat itu justru membuat air mata Mireya semakin turun.

Ia buru-buru mengusap wajahnya.

“Bukan…”

“Aku cuma…”

Suaranya bergetar.

“Jarang ada orang yang baik sama aku…”

Rhea terdiam.

Mireya menggenggam tisu itu erat.

“Dari dulu…”

“nggak ada yang benar-benar mau temenan sama aku.”

Matanya kembali memerah.

“Karena aku miskin.”

Suasana meja langsung berubah sunyi.

Mireya menunduk.

“Orang-orang bilang siapa pun yang dekat sama aku selalu sial.”

Ia tertawa kecil, pahit.

“Bahkan ada yang ngejek ibuku…”

Suara Mireya mulai pecah.

“Mereka bilang ibuku ketemu orang kaya, ditolong, tapi hidup kami malah makin merosot…”

“Mereka bilang kami pembawa sial.”

Rhea perlahan mengerutkan kening.

Mireya melanjutkan sambil menahan tangis.

“Padahal itu semua cuma takdir…”

“Namanya hidup ya kadang naik turun…”

Ia menatap meja.

“Tapi karena itu aku di jauhin.”

“Di sekolah juga…”

Mireya tersenyum tipis, tapi senyum itu sedih.

“Banyak yang suka ngatain aku.”

“Karena aku cantik, banyak yang suka ngedeketin…”

“Terus kalau ada yang nembak dan aku nolak baik-baik…”

Ia menggigit bibir.

“Mereka malah ngomong dari belakang.”

> sok mahal

> maunya orang kaya

> cantik doang

Suara Mireya semakin lirih.

“Aku juga nggak terlalu pintar di pelajaran.”

“Kalau akting, modeling, ekspresi… aku cepat belajar.”

“Itu duniamu, kan?”

Rhea menyambung pelan.

Mireya mengangguk.

“Iya…”

“Tapi kalau pelajaran sekolah biasa…”

Ia tertawa pahit.

“Aku jelek.”

“Jadi orang-orang suka bilang aku cuma modal cantik.”

“Cantik doang nggak guna.”

Sunyi.

Rhea menatap Mireya lama.

Lalu perlahan meletakkan sendoknya.

Tatapannya tajam.

Namun kali ini bukan marah pada Mireya.

Melainkan marah pada dunia yang memperlakukannya seperti itu.

“Dengar aku.”

Mireya mengangkat kepala.

Rhea bersandar sedikit ke depan.

“Cantik bukan kesalahan.”

“Tidak pintar akademik juga bukan berarti tidak berguna.”

Nada suaranya tenang, tapi tegas.

“Setiap orang punya bidangnya sendiri.”

“Kamu hidup di dunia akting.”

“Di situ kamu bersinar.”

Ia menatap lurus mata Mireya.

“Jangan pernah biarkan omongan orang yang iri menentukan nilai dirimu.”

Kalimat itu menghantam tepat ke hati Mireya.

Air matanya kembali turun.

Namun kali ini bukan karena sakit.

Melainkan karena akhirnya…

ada seseorang yang benar-benar memahaminya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!