Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan Baru
King Crishtoper bangkit berdiri, rahangnya mengeras oleh amarah yang meledak.
“Berani-beraninya kau menginterupsi perintahku!” Suara King Cristopher menggema di seluruh aula.
Keheningan langsung mencekam. Tidak satu kali pun, ada yang berani menyela ketika raja penakluk itu sedang memberi titah.
Satu pengawal pribadi Cristopher maju dengan cepat. Pedangnya terangkat, ujungnya diarahkan tepat ke leher Putri Lily.
Lily menyeka air matanya, menatap pengawal itu tajam. Tanpa aba-aba, kakinya menginjak keras kaki sang pengawal. Sebelum siapa pun sempat bereaksi, tangannya mencengkeram gagang pedang itu lalu memutar arah bilahnya.
Slash!
Satu tebasan akurat dan tangan pengawal itu terlempar di depan Cristopher. Darahnya memercik ke lantai singgasana. Teriakan kesakitan menggema, memecah keheningan yang menyesakkan.
Kecepatan, ketepatan, ketegasan tanpa ragu.
Seluruh aula terdiam membatu. Bahkan di bawah ancaman ratusan pedang Kingdom Conqueror, banyak mata tak kuasa untuk tidak melirik gadis itu. Gadis dengan gaun sederhana, kaki telanjang, namun gerakan yang mematikan.
Lima pengawal lain segera maju, membentuk setengah lingkaran.
“Aummmmmm…!”
Suara auman mengguncang udara, seolah tahu tuannya dalam bahaya. Seekor singa masuk dari pintu lalu melompat ke depan. Ia mendarat di hadapan Lily dengan taring terbuka, membuat para pengawal refleks mundur setapak.
“Aummmmm….” Eri merunduk dan memeluk kaki sang putri, melindunginya sepenuh jiwa.
Pasukan Kingdom Conqueror terpaku. Singa, sang penjaga hutan tunduk pada seorang gadis? Apa ini nyata?
Seer, pria tua di sisi King Cristopher, peramal takdir Kingdom Conqueror menegang. Wajahnya yang biasanya tenang kini pucat. Matanya bergetar, menatap Lily dan singa itu seakan melihat sesuatu yang telah lama menghantui mimpinya.
Ia melangkah maju, lalu menunduk hormat di depan Cristopher.
“Your Majesty…”
King Cristopher menoleh, alisnya berkerut. “Bicaralah!”
“Gadis itu…” ia mengangkat wajahnya, menatap Lily penuh keyakinan dan ketakutan sekaligus.
“…dialah gadis dalam ramalan itu, Your Majesty.”
Seer memejamkan mata, “Ratu pilihan Kingdom Conqueror.”
Aula bergemuruh oleh desahan kaget.
Putri Aster terbelalak, menoleh ke ibundanya. Erivana membeku, darahnya terasa surut dari wajahnya.
“Ratu… pilihan?” bisik Aster nyaris tak terdengar.
King Cristopher menatap Putri Lily lama. Meski ada sesuatu yang asing di sorot matanya, tapi penampilannya ...begitu kotor dan lusuh. Keraguan melintas di mata sang raja penakluk.
“Perkataanmu menyangkut masa depan Kingdom Conqueror,” ucap Cristopher dingin, pandangannya beralih pada Seer. “Apakah kau benar-benar yakin dengan ucapanmu ini?”
Seer menunduk dalam, lalu mengangguk tanpa ragu.
“Hamba yakin, Your Majesty. Dialah Putri Hutan itu, ratu masa depan yang telah ditakdirkan.”
Keheningan menyelimuti aula.
“Kalau begitu,” kata Cristopher datar, “bawa dia ke Kingdom Conqueror.”
Lily menoleh pada Cristopher, menatapnya tanpa rasa takut. “Aku lebih baik mati daripada ikut bersama orang-orang yang telah menghancurkan kerajaanku.” ucapnya lantang
Napas prajurit Conqueror tertahan. Tidak ada seorang pun yang berani menatap mata King Cristopher, apalagi menantangnya secara terbuka.
“Hidup dan matimu ada di tanganku,” balas Cristopher, suaranya rendah namun mengandung ancaman mutlak.
“Hanya jika aku bersedia,” jawab Lily tanpa gentar.
Cristopher mengangkat pedangnya, “Kalau begitu bersiaplah untuk mati di tanganku.”
“Your Majesty,” Seer menyela cepat, nada suaranya penuh kecemasan. “Gadis itu adalah ratu pilihan yang telah kita cari selama puluhan tahun.”
Ia menyatukan kedua tangannya di dada, memohon demi kerajaan yang ia cintai dengan nyawanya. “Ampuni kelancangan hamba, Your Majesty. Demi kejayaan Kingdom Conqueror, mohon pertimbangkan kembali keputusan Anda.”
Meski sedang hancur, Putri Lily menyadari perubahan atmosfer itu. Ia tahu, posisinya saat ini berada di atas garis pedang.
“Aku akan bersedia ikut, tapi dengan dua syarat.”
Cristopher menatap gadis di depannya dingin sekaligus penasaran. Ia menyadari gadis ini bukan sekadar berani, ia cerdas dan tahu cara bernegosiasi.
“Katakan apa syarat yang kau inginkan,” kata Cristopher memecah keheningan.
“Kembalikan singgasana Agartha kepadaku, dan berikan aku waktu tiga hari untuk menyelesaikan semua kekacauan ini.”
“Baiklah, kau akan mendapatkannya.” jawab Cristopher tanpa ragu sedikit pun. Bagi Kingdom Conqueror, Imperial Agartha hanyalah setitik debu di peta kekuasaannya.
Putri Lily melangkah maju, melewati prajurit Conqueror, hingga berdiri tepat di depan singgasana kekaisaran.
“Sesuai kebijakan peperangan Benua Barat,” ucapnya tegas, mengangkat dagunya dengan anggun. “Kesepakatan baru telah ditentukan. Sekarang, silakan duduk dan menempatkan posisi Anda sebagai tamu.”
Beberapa prajurit Conqueror saling berpandangan. Gadis ini mengetahui tatanan hukum wilayah asing. Itu bukan pengetahuan yang bisa dimiliki sembarang orang.
Seer tersenyum tipis, tidak ada kesalahan dalam ramalannya. Inilah dia, Ratu pilihan Kingdom Conqueror.
King Cristopher mengepalkan tangannya, menahan diri untuk pertama kalinya. Rahangnya mengeras, gadis ini telah melampaui batas keberanian seseorang yang kerajaannya sudah lumpuh. Sang Raja Penakluk, pada akhirnya duduk dengan terpaksa di kursi tamu atas perintah seorang gadis asing.
Putri Lily berlutut di hadapan kedua kakak kembarnya. Tangannya membuka ikatan di pergelangan mereka satu per satu. Begitu tali itu terlepas, ketiganya langsung berpelukan erat, sarat kehilangan yang tak sanggup diucapkan dengan kata-kata.
Ia berdiri kembali dan menoleh tajam pada prajurit di dekatnya.
“Lepaskan mereka semua!”
Prajurit itu menunduk hormat.
“Baik, Tuan Putri.”
Putri Lily melangkah kembali ke depan singgasana. Pangeran Lian dan Pangeran Leo berlutut di sisi Lexus, menopang tubuh ayah mereka yang seolah kehilangan penyangga jiwa. Lexus masih memeluk tubuh Anastasia yang dingin, sementara kedua putranya menunduk, menangisi ibunda yang tak akan pernah membuka mata lagi.
Putri Lily mengambil mahkota Kaisar Imperial Agartha dari sisi singgasana.
“Aku,” ucapnya lantang, suaranya menggema di aula yang hancur, “Putri Liliane Thalasse Serene, Putri yang telah menerima mandat kuasa atas Imperial Agartha…”
Tangannya terangkat lebih tinggi, mahkota itu kini sejajar dengan wajahnya.
“…dengan ini mengembalikan tahta kekaisaran kepada Yang Mulia Kaisar Lexus, dan kepada Permaisuri Isolde Anastasia.”
Suaranya menggelegar, namun getaran duka merambat jelas di setiap katanya.
“Tidak bisa! Ini tidak adil!” teriak Erivana histeris.
“Erivana!” bentak Alexius. “Tutup mulutmu.”
Ia melangkah maju dengan tertatih. “Aku sudah sepantasnya melepaskan mahkota itu. Aku gagal menjadi kaisar, gagal menjadi suami, gagal menjadi ayah. Aku tidak layak lagi menyandang gelar itu.”
Putri Lily menoleh tajam pada Erivana.
“Apakah aku meminta pendapatmu, Nyonya?” ucap Lily menusuk.
Tanpa menunggu jawaban, Lily berjalan ke arah ayahandanya. Dengan tangan yang bergetar, ia meletakkan mahkota Kaisar di kepala Lexus. Air matanya jatuh membasahi pipi, namun punggungnya tetap tegak.
Setelah itu ia meraih tangan Erivana kuat, mengambil paksa mahkota permaisuri dari atas kepalanya. Erivana tersentak, namun tak bisa memberontak.
"Kau! Gadis hutan tidak tahu etika." teriaknya kehilangan kendali.
Lily sama sekali tidak peduli. Ia kembali berlutut di hadapan tubuh Anastasia. Dengan penuh penghormatan dan cinta, ia memasangkan mahkota itu di kepala ibundanya.
“Siapkan upacara pemakaman untuk Yang Mulia Permaisuri Imperial Agartha,” perintah Putri Lily.
“Dilaksanakan, Putri.” sahut para pengawal serempak.
Di akhir hidupnya, Lily ingin mempersembahkan satu hadiah pemakaman yang penuh penghormatan meski harus mengorbankan dirinya sendiri.
nenek sihirny nanti Menjelma jdi Cinderelaa Loh CiLLLL🤣