Perayaan empat tahun pernikahan Laura, seorang pemimpin perusahaan muda dirayakan begitu meriah bersama suaminya yang juga yang juga temannya saat SMA. Hubungan mereka begitu harmonis, layaknya pasangan suami istri sempurna di mata publik yang melihatnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika di rusak oleh sebuah pesan dari seseorang misterius yang seolah tak suka dengan pernikahannya.
Dia pun mencari tahu sendiri kebenarannya, dan menguak kenyataan yang lebih mencengangkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
Satu bulan berlalu dengan keadaan yang masih sama. Dave terkadang datang memohon pada Laura untuk memaafkannya. Namun jawaban Laura tetap sama, tak bisa bersama jika dia tak bisa melepaskan Mona.
Berat rasanya jika harus melepas salah satu, karena rasa sayang Dave pada keduanya sama besar.
"Bagaimana? Apa Laura belum juga memaafkanmu?" Tanya Mona pada Dave yang baru datang ke apartemen.
"Untuk sementara aku harus bersabar. Karena aku yakin Laura pasti akan memaafkan kita, dan menerima semuanya," jawab Dave yang terlalu percaya diri. Mona pun tersenyum, dan menyandarkan kepalanya pada dada pria itu.
"Kau sepertinya sangat lelah, mau ku pijat?" Tawar Mona dengan nada menggoda. Dave tentu saja mengiyakan dan menerima pijatan tangan Mona yang membuat staminanya terisi kembali.
"Selama empat tahun menikah, Laura tak pernah memijatku."
Perkataan Dave membuat Mona tersenyum sinis. Dia pun mulai meraba tubuh Dave dan membuat libido pria itu naik.
"Kau senang kan jika seperti ini, bagaimana jika kita lanjutkan di kamar?" Goda Mona yang pastinya di setujui Dave tanpa ragu.
Mona terlihat cemberut setelah kegiatan ranjang mereka berakhir. Teringat nama yang keluar dari mulut Dave di tengah peraduan mereka.
"Laura... "
Nama itu yang sejak awal menjadi baru sandungan atas hubungan mereka yang sudah terjalin sebelum Dave dan Laura menikah.
"Kenapa aku harus terlahir dari keluarga miskin? Mungkin Dave tak akan malu memperkenalkanku pada keluarganya," gumamnya sambil melihat ke arah Dave yang sudah tertidur pulas.
Di tempat lain, Laura sedang mencoba beberapa baju hamil yang dia beli di online shop. Dia tak sabar menanti janinnya tumbuh dan menunjukan baby bump.
"Hai nak, cepat tumbuh dan sehat dalam rahim mama," ucapnya sambil mengusap perut yang masih rata.
Raut wajahnya yang bahagia seketika berubah, mengingat kedatangan Dave sore tadi.
"Bagaimanapun, pria tak tahu malu itu ayah dari anak yang aku kandung."
Laura membuka ponselnya dan melihat pesan dari beberapa kolega bisnisnya. Namun tersempil nama seseorang yang membuatnya teringat masa kuliah.
"Damian, tumben sekali dia mengirim pesan padaku."
Laura pun membalas pesan dari teman masa kuliahnya yang kini berada di luar negeri.
"Hmm, dia sedang di Indonesia. Dan ingin bertemu denganku juga Dave?" Gumamnya yang tak mungkin memberitahukan temannya jika rumah tangganya sedang bermasalah.
"Akan ku minta dia datang ke kantor saja, dan makan siang di sana. Dan akan ku beritahu jika Dave sedang sibuk."
Laura pun membalas pesan Damian dan mulai intens saling membalas pesan. Namun, dia tetap menjaga batasannya karena Damian pun tahu jika Laura sudah menikah.
Esok harinya, seorang pria blasteran datang ke kantor Laura. Dia pun di antar oleh seorang pekerja menuju ruang kerja Laura.
"Masuklah," titah Laura yang justru terkejut setelah pintu terbuka. Dia melihat sosok yang sangat dia kenal tengah berdiri sambil tersenyum padanya.
"Laura, how are you?" Sapanya sambil menyodorkan tangan untuk berjabat.
"Fine, and you? I can see if you really fine," canda Laura yang membalas jabat tangan Damian.
Keduanya pun berbincang membicarakan kenangan masa kuliah. Laura pun memesan makan siang dan memilih untuk makan di ruangannya.
"Aku akan pesan kan makan siang kesukaanmu saat kuliah. Ayam geprek dan teh manis," ucap Laura yang membuat Damian tertawa.
"Aku sangat rindu ayam geprek, di Melbourne sangat sulit mencari ayam geprek," jawab Damian yang antusias ingin segera menyantap makan siangnya.
***
Sebuah mobil berhenti di depan kantor Laura. Dave turun dari mobil sembari membawa makan siang untuk Laura. Dengan percaya diri dia yakin jika Laura akan menerima kehadirannya.
Saat pintu terbuka, raut wajah Dave seketika berubah melihat Laura yang tengah tertawa dengan seorang pria sambil menyantap makan siangnya. Amarahnya meledak, tangannya dengan ringan melayang ke wajah pria yang ternyata dia kenal.
"Damian?" Gumam Dave yang terkejut ketika melihat wajah teman kuliahnya memar karena pukulannya.
"Dave, apa yang kau lakukan?" Bentak Laura yang segera menghampiri Damian.
"Hah, ternyata kau sama saja Laura. Kau menyalahkanku dan mengusir ku karena menikah dengan Mona. Sedangkan kau berbuat zina di kantormu sendiri!"
"What? Are you kidding? Marry other woman when you have Laura as your wife? Crazy," gerutu Damian yang tak menyangka dengan perbuatan Dave.
"Lalu kau apa? Pria yang datang ke kantor wanita yang merupakan istri temannya. Kau juga sama rendahnya denganku."
"David, kau terlalu berlebihan kali ini. Sebelum aku mengirim pesan pada Laura, aku justru menghubungimu lebih dulu. Tapi kau sama sekali tak menjawab atau pun membaca pesanku," jelas Damian yang membuat Dave mengecek ponselnya.
Perkataan Damian bukanlah omong kosong, Dave terlihat malu setelah membuat keributan di kantor istrinya.
"Dan kau harus tahu jika Laura begitu menjaga kehormatan dengan tidak membongkar aibmu. Tapi kau sendiri yang justru membukanya."
Dave semakin tertunduk malu mendengar ucapan Damian. Dia pun menatap Laura dengan sendu, berharap adanya rasa iba pada hati Laura.
Namun, Laura memalingkan wajahnya dengan sinis saat Dave menatapnya. Pria itu pun memilih keluar dan pergi kembali ke kantornya.
"Damian, sorry," ucap Laura yang merasa bersalah pada temannya. Datang kembali ke Indonesia justru mendapat kesan tak baik dari temannya karena salah paham.
"He cheating on you, but you still keep your marriage?" Tanya Damian yang tak menyangka jika Laura masih mempertahankan pernikahannya.
"Ada sesuatu yang membuatku tak bisa berpisah darinya."
***
Dave melampiaskan kemarahannya di ruang kerjanya. Harga dirinya hancur di hadapan teman dan juga istrinya sendiri. Harapan untuk bersatu semakin jauh dan Laura pasti semakin membencinya.
"Ya, jika memang harus seperti ini. Maka akan ku buat kau yang cemburu padaku."
Jam pulang kerja, Dave dengan cepat menuju apartemen. Dia meminta Mona untuk sedikit berdandan dan memakai gaun yang cukup cantik.
Dave berencana untuk membawa Mona pada keluarga besarnya dan memperkenalkannya sebagai istrinya.
Mona begitu sumringah mendengar rencana Dave. Dia terlihat gugup sepanjang perjalanan menuju rumah keluarga Kusuma.
"Kau terlihat cantik, apalagi Larissa," puji Dave yang membuat Mona tersipu.
Kini keduanya sampai di rumah keluarga besarnya. Tangan Mona melingkar pada lengan Dave dan juga Larissa yang di pangku oleh Dave.
"Selamat Malam..." Sambut ibu Dave yang juga terkejut melihat Mona di samping putranya.
"Ma, aku membawa ibu dari putri kandungku untuk makan malam di sini," ucap Dave yang membuat semua anggota keluarga terkejut mendengarnya.
Mau tak mau keluarga Kusuma menerima kehadiran Mona walau terasa canggung. Tak ada obrolan saat makan malam, yang membuat Dave kesal pada seluruh keluarganya.
"Aku mohon bersikap baiklah pada Mona, karena dia juga istriku."
terlalu lucu klo laura harus bersaing dgn gundiknya.... yg g ada levelnya
🤣🤣