Sequel Langit Senja Galata
Pernikahan adalah suatu hal sakral untuk menyatukan dua hati dalam satu ikatan janji suci. Lalu bagaimana jika pernikahan tersebut terjadi antara dua orang yang tidak pernah akur satu sama lain? Alvin adalah CEO yang dingin, sedangkan Nana adalah gadis yang terlihat sempurna tapi memiliki gangguan duck syndrome. Baik Alvin maupun Nana memiliki ke hidupan lain di balik layar, tanpa ke duanya tahu bahwa mereka adalah musuh bebuyutan di dunia cyber.
Adik Lunara Ayzel Devran tersebut tanpa pikir panjang menujuk gadis yang sedang duduk di samping sang kakak adalah calon istrinya. Hanya demi menghindari kehidupannya diusik oleh sang kakek yang telah membuat hati sang kakak banyak tersakiti.
“Aku akan menikah dengan Nana,” ucap Alvin.
Nana yang sedang minum terkejut, dia tidak sengaja menyemburkan minumannya.
“Onty jolok! Baju Ezza jadi bacah,”
Apa alasan Nana akhirnya menyetujui permintaan Alvin? Lalu bagaimanakah kehidupan ke duanya setelah menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu! Ayo menikah!
Alvin membawa Nana ke sebuah coffee shop yang ada di lantai satu mall tersebut, lebih tepatnya di luar mall. Coffee shop yang masih jadi satu dengan mall, dia memilih tempat duduk yang tidak terlalu banyak orang agar bisa bicara lebih nyaman dengan Nana.
“Mau pesan apa?” tanya Alvin.
Nana melihat buku menu, mereka tadi habis makan siang. Jadi Nana hanya ingin dessert dan minuman saja.
“Aku mau butterscoth sama lava cake dan air mineral dingin,”
Alvin mengangguk. “Kamu tunggu di sini! Aku pesan dulu,” ucap Alvin diangguki Nana.
Alvin beranjak dari tempat duduknya, dia menuju kasir untuk memesan sekaligus membayar. Tidak lama kemudian dia kembali dengan membawa minuman dan dessert yang mereka pesan. “Ini pesananmu,” Alvin menaruh es butterscoth dan lava cake di hadapan Nana, sementara dia sendiri hanya memesan es americano.
“Terimakasih,”
“Sama-sama,”
Nana lantas mencoba kopi yang dia pesan, ada senyum cerah mengembang setelah mencicipi minuman dan cake tersebut. Alvin memperhatikan Nana yang begitu senang menikmati kopi dan cake yang dia pesan, hanya kopi dan lava cake. Namun bisa membuat gadis itu tersenyum tulus.
“Baru pertama mencoba?” Alvin penasaran.
Nana menggeleng. “Bukan pertama, tapi ini yang paling enak. Dari semua yang pernah aku coba,” jawabnya, Nana kembali fokus dengan lava cake dan kopinya. Gadis itu sejenak lupa bertanya kenapa Alvin membawanya ke sana.
“Kamu bisa pesan lagi kalau mau,”
Alvin membiarkan Nana menikmati es kopi dan cakenya sebelum dia bicara serius, dia masih cukup punya hati untuk tidak membuat Nana jadi bad mood.
Setelah lava cakenya hampir habis, Nana baru ingat untuk bertanya. Kenapa Alvin membawanya ke sana, padahal dia ingin bermain dengan Altezza dan Haziel di play ground. Tapi pria yang duduk di hadapannya itu merusaknya, dan berakhirlah dia ada di coffee shop bersama dengan Alvin.
“Sebenarnya ada perlu apa? Harus banget bicara menjauh dari kak Alvaro dan mbak Zeze, ya?” tanya Nana.
Alvin meletakkan ponselnya, tadinya pria dingin itu sedang membalas pesan dari sang asisten.
“Kamu! Ayo menikah,”
“Byuur” Nana menyemburkan kopinya, untung saja dia sempat memalingkan wajah. Jadi kopi tersebut tersembur pada lantai.
“Ck...hobi banget buang minuman,” sahut Alvin.
“Dari pada situ? Hobi banget bikin orang jantungan,” kesal Nana.
Alvin tetap dengan wajah datar dan dinginnya, dia menatap lekat dan tajam Nana. Merasa di tatap seperti itu, membuat Nana jadi merasakan hawa-hawa dingin menyerbu seluruh tubuhnya.
“Kenapa jadi dingin bin horor begini,” gumamnya tak terdengar.
Alvin masih menatap Nana, dia menunggu jawaban dari gadis itu. Sayangnya, Nana hanya diam saja. Dia bingung, isi kepalanya mendadak kosong. IQ diatas rata-ratanya seperti lenyap begitu saja.
Ctak
Alvin menjentikkan ke dua jarinya di hadapan wajah Nana. “Jadi apa jawabanmu, Na? Yang jelas aku tidak menerima penolakan,” ucap Alvin.
Nana menggerutu. “Bertanya apa jawabanku, tapi tidak menerima penolakan. Lalu apa gunanya bertanya?”
“Aku memberitahumu,” jawab Alvin.
Nana menatap Alvin, dia mencari celah untuk bisa memukul mundur pria yang duduk di hadapannya tersebut. Percuma! Karena Nana tidak menemukan celah di sana, justru Alvin yang menemukan celah pada Nana.
“Bukannya kamu ingin bebas dari ibu dan saudari tirimu? Menikah denganku membuatmu bisa bebas dari mereka,” ucap Alvin santai.
Nana membelalak. “Ka-kamu. Bagaimana bisa tahu kalau aku...”
Alvin mencondongkan tubuhnya ke depan. “Sepertinya kamu lupa, nona. Siapa yang menemukan peneror mbak Zeze beberapa tahun lalu,” Alvin menaik turunkan alisnya.
“Si al. Aku lupa kalau dia yang menemukan koordinat lokasiku dulu,” batin Nana. “Jangan sampai dia tahu tentang K.Nara,” lanjutnya dalam hati.
“Ck...itu namanya me...ilegal akses namanya,” Nana hampir saja keceplosan tentang istilah cyber yang mungkin bisa membuat Alvin curiga tentangnya, mengingat Alvin adalah CEO Jazganara Tech. Selain itu pria itu juga paham tentang komputer, hanya satu yang belum Nana tahu. Bahwa mereka ber dua adalah musuh di dunia cyber, apa jadinya jika dua hacker hebat bersatu menjadi suami istri? Galaxy Cosmic vs K.Nara.
“Ilegal akses?” Alvin tertawa saat mendengar ucapan Nana tentang ilegal akses, Nana sampai terkesiap. Baru pertama kali dia melihat Alvin tertawa. “Dia tampan kalau seperti itu, kalau dia friendly...pasti banyak perempuan yang langsung nemplok,” batin Nana.
“Apa namanya kalau bukan itu? Kamu mencari semua informasi tentangku, tidak minta ijin pula. Nikahin anak orang seperti mau ngajak jalan-jalan,” gerutu Nana, bibirnya sudah di monyong-monyongkan karena kesal.
Alvin memasukkan ke dua tangannya pada saku celana, kemudian dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan kaki yang menyilang bertumpu pada kaki yang satunya. “Aku beri waktu kamu berpikir. Besok pagi berikan jawaban!" Alvin lantas beranjak dari tempat duduknya.
“Yaaa! Mana ada kasih waktu sesingkat itu, memangnya mau beli permen. Tinggal ambil bayar,” pekiknya.
Alvin berhenti dan menoleh ke belakang. “Mau pulang atau aku tinggal di sini?” tanyanya datar.
Nana langsung beranjak bergitu saja, tidak lucu kalau dia harus pulang sendiri ke rumah keluarga Devran. Sudah pasti dia takut kesasar nanti jika harus pulang sendiri, akhirnya dia berjalan di belakang Alvin. Nana sudah seperti anak ayam yang takut di tinggal sang induk, IQ nya merosot total gara-gara ucapan Alvin. Kalau toh dia kesasar tinggal telepon Alvaro atau Ayzel, kakaknya tersebut sudah pasti bergegas menjemputnya. Ada aplikasi juga yang Alvaro taruh di ponsel Nana, Alvaro menaruhnya dengan tujuan agar sepupunya tersebut tidak kesulitan saat di Indo.
***
Nana pulang dengan menebeng mobil Alvin, tadinya dia berharap kakak sepupunya masih di mall agar tak perlu pulang semobil dengan Alvin. Sayangnya harapannya pupus, karena Azyel bilang mereka sudah keluar dari mall setengah jam yang lalu.
“Masih mau tetap di situ? Aku pulang kalau begitu,” Alvin melewati Nana yang masih berdiri diam.
Nana buru-buru membuka pintu mobil, dia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang bagian tengah.
“Turun!” titah Alvin. “Tadi katanya suruh naik. Sekarang malah suruh turun,” gerutu Nana.
"Kamu pindah duduk di depan! Aku bukan supirmu,” jawab Alvin.
“Oh! Kirain,” Nana pindah duduk di depan.
Alvin melajukan mobilnya pulang ke rumah, suasana di dalam mobil benar-benar hening. Pikiran dan isi hati Nana campur aduk saat itu, dia sesekali menoleh kearah Alvin. Namun pria itu tetap datar dan hanya fokus mengemudi da menatap lurus arah jalanan.
“Apa aku harus menerimanya? Tapi kalau terima, kita belum cinta. Kalau di tolak, bagaimana aku bisa lepas dari bayang-bayang appa dan si ulat bulu. Bagaimana ini,” kembali hati dan pikirannya berperang.
Nana dengan segala overthinkingnya, hingga dia tidak sadar kalau mobil yang di kendarai Alvin sudah sampai di rumah.
Alvin mendengar Nana berkali-kali menghela napas, gadis itu belum sadar kalau mobil sudah berhenti.
Pletak
Alvin menjitak kening Nana. “Mau ngelamun sampai kapan, hmm? Sampai lebaran mo nyet, atau sampai kiamat?” ucapnya membuyarkan lamunan Nana.
“Ish...belum menikah sudah jitak-jitakin kening,” Nana mengusap keningnya yang sakit.
“Mau di sayang sekarang? Bisa, ayo!” tantang Alvin.
Nana kicep, dia langsung turun dari mobil dan lari masuk ke dalam rumah. Dia menyapa penghuni rumah, di sana ada semua orang termasuk bunda Anara.
“Nana kenapa lari-lari begitu, nak?” tanya bunda.
Nana menggeleng. “Bunda bisa masukin bang Alvin ke dalam perut lagi tidak? Tuker tambah saja sama yang bisa senyum, bun. Tidak sedingin kutub es,” ucap Nana dengan polosnya.
“Haah?” bingung bunda Anara, Alvaro dan Ayzel sampai menahan tawa mendengar ucapan Nana.
“Kamu apain Nana, Vin?” tanya ayah Devran saat melihat Alvin masuk ke dalam ruang keluarga.
“Aku ajak nikah sekarang,” ucap Alvin santai.
“Tuh kan, bun. Masukin lagi saja ke dalam perut, bun. Ganti sama min yongi saja, Eh? Tapi min yongi juga sedingin kutub," ucap Nana.
“Wajahku ini mirip min yongi, Na. Kamu sepertinya butuh kacamata,” balas Alvin.
Bunda Anara dan ayah Devran saling tatap, mereka tersenyum melihat perdebatan ke dua anak muda tersebut. Ayah Devran lantas mengacungkan jempol kearah sang istri, bunda Anara mengangguk paham. Dia belum pernah melihat Alvin bicara sampai sebanyak itu, dan Nana bisa memancing Alvin mengeluarkan kosa kata lebih banyak.
tapi aku suka gaya Nana sih
moga kena stroke 🤣🤣🤣🤣
ga bisa nolak 🤣🤣🤣