NovelToon NovelToon
Melodi Yang Tidak Tersentuh

Melodi Yang Tidak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:499
Nilai: 5
Nama Author: Yumine Yupina

Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.

Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?

Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 — Tatapan yang Selalu Dihindari

Beberapa hari setelah itu, Airi perlahan mulai membaik.

Bukan karena lukanya benar-benar sembuh. Luka itu masih ada—diam, tersembunyi, dan mudah tersentuh. Namun Hinami dan Mei tidak pernah membiarkannya sendirian. Mereka datang bergantian, membawa makanan kecil, cerita receh, atau sekadar duduk di lantai kamarnya tanpa tuntutan apa pun. Kadang mereka bicara. Kadang tidak sama sekali.

Dan untuk Airi, itu sudah lebih dari cukup.

Dunia tetap berjalan seperti biasa.

Hanya saja, Airi tidak lagi melangkah di ritme yang sama.

Hari itu, ia kembali masuk kuliah.

Langkahnya rapi, seperti sebelumnya. Rambut terikat sederhana. Seragamnya bersih, nyaris tanpa cela. Dari luar, tidak ada yang tampak berubah. Senyum tipisnya masih ada—cukup untuk membalas sapaan, cukup untuk menghindari pertanyaan.

Namun di dalam dadanya, napasnya tidak pernah benar-benar penuh.

Studio musik kembali menjadi tempat yang harus ia datangi.

Dan di sanalah Ren berada.

Airi tahu itu bahkan sebelum matanya benar-benar menangkap sosoknya.

Ada tekanan halus di dadanya. Seperti udara yang tiba-tiba menjadi lebih berat. Saat pintu studio terbuka, refleksnya bekerja lebih cepat dari pikirannya—kepala menunduk, pandangan mencari lantai.

“Siang.”

Suara Ren terdengar.

Pelan. Dijaga. Seolah ia takut suaranya sendiri bisa melukai.

Airi membalas dengan anggukan kecil.

“Siang.”

Tidak lebih.

Ia segera berjalan ke tempatnya, menaruh tas, meraih mikrofon. Jemarinya sedikit gemetar saat menyambungkan kabel. Ia menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri.

Latihan dimulai.

Mei tidak ikut hari itu—ada urusan lain. Studio terasa sedikit lebih kosong, seolah satu sudut penting ikut hilang.

Semua berjalan normal.

Terlalu normal.

Musik mengalir. Nada-nada tersusun rapi. Suara Airi terdengar stabil, bersih, seperti yang seharusnya. Jika seseorang tidak benar-benar memperhatikan, mereka akan mengira tidak ada yang salah.

Namun setiap kali Ren bergerak.

Setiap kali petikan gitarnya masuk terlalu jelas ke telinganya.

Setiap kali langkahnya terdengar agak terlalu dekat.

Tubuh Airi menegang.

Ia tidak menatap Ren.

Bukan karena marah.

Bukan karena benci.

Karena takut.

Takut kenangan itu muncul tanpa izin.

Takut tubuhnya membeku lagi.

Takut ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.

Ren tahu.

Ia menjaga jarak. Tidak mendekat. Tidak memanggil nama Airi kecuali benar-benar perlu. Kata-katanya pendek, seperlunya. Seolah ia sedang berjalan di lantai yang retak dan tidak ingin menambah retakan baru.

Latihan berakhir tanpa apa pun yang terlihat salah.

Saat semua mulai berkemas, Haruto berdiri di tengah ruangan, berbicara soal jadwal dengan nada yang berusaha terdengar ringan.

“Tinggal tiga minggu,” katanya. “Masih bisa dikejar kok. Asal kita fokus.”

Ren ikut menanggapi, sesekali memberi pendapat.

Namun Yukito—dari balik drum—justru memperhatikan Airi.

Ia menghampirinya dengan langkah santai.

“Airi,” katanya. “Kamu nggak buru-buru, kan?”

Ren sempat melirik ke arah mereka, tapi segera mengalihkan pandangan saat Haruto kembali mengajaknya bicara. Ia tahu batasnya. Dan ia menaatinya.

Airi sedikit terkejut, lalu menggeleng.

“Nggak.”

“Temenin aku beli minum, ya?”

Airi ragu sesaat. Lalu mengangguk kecil.

Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor. Tidak ada obrolan di awal. Yukito tidak memaksa suasana. Langkah mereka bergema pelan, dan entah kenapa, itu membuat Airi merasa sedikit lebih ringan.

“Kalau aku nanya sesuatu,” kata Yukito akhirnya, “kamu boleh kok nggak jawab.”

Airi melirik sekilas, lalu kembali menunduk.

“Iya.”

“Kamu kelihatan capek,” katanya pelan. “Bukan capek badan.”

Airi meremas tali tasnya.

“Aku bukan Ren,” tambah Yukito cepat, suaranya tetap lembut.

“Aku nggak mau maksa kamu cerita. Aku cuma pengin kamu tahu… aku ada.”

Langkah Airi melambat.

Ada kehangatan di suara itu. Tidak mengasihani. Tidak menuntut. Aman.

“Aku… aku nggak apa-apa,” katanya lirih.

Yukito tersenyum kecil.

“Oke.”

Ia tidak membantah.

Saat mereka berpisah, Yukito berkata satu kalimat pelan, hampir seperti bisikan,

“Kalau suatu hari kamu pengin cerita ke aku, aku dengerin.”

Airi tidak menjawab.

Namun malam itu, kalimat itu terngiang lebih lama dari yang ia kira.

Hari-hari berikutnya, Haruto mulai mendekat—perlahan. Tidak mendesak. Tidak memaksa.

Bukan lewat pertanyaan.

Bukan lewat tatapan penuh selidik.

Melainkan lewat hal-hal kecil.

“Air,” katanya sambil menyodorkan botol minum.

“Minum dulu.”

“Terima kasih.”

“Kamu duduk aja. Nanti beres-beresnya aku.”

Ia menjaga jarak. Cukup dekat untuk menunjukkan perhatian, cukup jauh untuk tidak menekan.

“Aku tahu,” katanya suatu sore, menatap lantai, “kadang orang kelihatan baik-baik aja… padahal nggak.”

Airi terdiam.

“Aku nggak tahu apa yang kamu alami,” lanjut Haruto, jujur,

“dan aku nggak mau nebak-nebak. Tapi kalau aku bikin kamu nggak nyaman, bilang, ya.”

Airi cepat menggeleng.

“Enggak. Kamu nggak salah.”

Haruto mengangguk.

“Oke.”

Ia tidak melanjutkan.

Dan justru karena itu, Airi merasa sedikit lebih aman.

Meski begitu, pikirannya masih sering berlari terlalu cepat. Setiap senyum yang terlalu lama, setiap jarak yang terasa terlalu dekat, selalu memicu ketakutan kecil yang belum bisa ia jelaskan.

Ia belum siap bercerita.

Takut disalahpahami.

Takut dianggap lemah.

Takut dilihat berbeda.

Malam-malamnya kembali sunyi.

Ia duduk di kamar, memeluk lutut, memutar musik tanpa lirik. Kadang pikirannya melayang ke Ren—ke suaranya, ke caranya menahan diri, ke kesalahan yang tidak sepenuhnya bisa ia benci.

Namun setiap kali bayangan itu muncul, tubuhnya langsung menegang.

Ia belum siap.

Suatu sore, saat studio hampir kosong, Ren berdiri di dekat pintu.

“Airi.”

Langkah Airi terhenti.

Ia tidak menoleh.

“Aku cuma mau bilang…” suara Ren terdengar lebih rendah dari biasanya,

“aku minta maaf.”

Airi menahan napas.

“Aku nggak akan nyentuh kamu lagi,” katanya cepat, seolah takut terlambat.

“Aku janji.”

Jantung Airi berdetak kencang.

“Aku tahu, Ren,” katanya pelan.

Itu bukan kebohongan.

Namun tahu dan merasa aman tidak pernah sama.

Ren tidak mendekat.

“Kalau kamu belum bisa lihat aku,” katanya lirih,

“aku tunggu.”

Airi menggigit bibirnya.

Ia tetap tidak menatap Ren.

Namun untuk pertama kalinya…

ia tidak ingin melangkah pergi.

Tangannya sedikit gemetar di sisi tubuhnya.

Dan untuk sepersekian detik—

ia bertanya-tanya,

apa yang akan terjadi jika suatu hari nanti ia benar-benar menoleh.

Di sisi lain kampus ada sesosok dosen baru berumur 30 tahunan di depan gerbang.

Dengan senyum yang memanipulasinya berkata.

"Ahh kampus lamaku, setelah beberapa tahun aku lulus dari sini aku bisa menjadi dosen musik di sini."

Luka hati yang menyembuhkan diri tak sepenuhnya kering.

1
Esti 523
suemangad nulis ka
mentari anggita
iihh hati aku ikut panas dan sesak. Amarah Ren kerasa nyata, tapi lebih sakit lagi waktu dia harus berhenti demi Airi dan orang tuanya. 😭
Huang Haing
Semangat kak, penulisan nya bagus banget! 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!